Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Terbaru

MENGISLAMKAN ORANG ISLAM

Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku…”

Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.
Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi kudu yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu lihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!
Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan Kita dalam bingkai kemanusiaan untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

Life is About Moving

Imam Syafi’i pernah berkata:

“Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan.
Seandainya mengalir dia menjadi jernih,
jika tidak dia akan keruh menggenang.

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan,
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan.

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.
Anak panah jika tidak dilepaskan busur tak kan kena sasaran.

Jika saja matahari tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang”

Untuk itu..BERGERAKLAH..sahabatku !

Sekalipun besok hari kiamat,
kita diperintahkan untuk tetap bergerak dan beraktifitas.

Baginda Rasululllah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنْ قَامَتِ السَّاعَة ُوَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَة ٌفَاسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يُغْرِسَهَا فَلْيُغْرِسْهَا فَلَهُ بِذاَ لِكَ أَجْرٌ

“Jika Kiamat datang, sementara di tangan salah seorang diantaramu ada sebuah biji Kurma, lalu ia mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum Kiamat terjadi, maka hendaklah ia tanamkan, karena dengan demikian ia akan mendapatkan pahala.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Abdil ‘Aziz dlm al-Muntakhab dg isnad yg hasan dari Anas ra.
Juga kitab ‘Umdatul Qari’ fi Syarhin Shahihil Bukhari oleh Syaikh Badaruddin al ‘Aini, bab al-Hartsu waz Zira’ah)

Ketika kita bergerak, kemudian mengalami benturan “BADAI”,
itu sesuatu yang wajar sahabat…

Grace Hopper mengatakan :
“A Ship in port is safe, but this not what ships are built for!”.
Memang aman kalau kapal cuma bersandar di pelabuhan,
Namun bukan untuk itu dia diciptakan !!!

BADAI ujian adalah sesuatu yang sangat wajar,
Sebagaimana juga kita sekolah.
Maka kita juga pernah mengalami “BADAI” ujian.
Setelah badai berlalu, maka nikmat “KELULUSAN” akan kita dapatkan

Semakin banyak rintangan dalam bergerak,
Semakin TANGGUH dan TEGARLAH kita.
Semakin banyak kesedihan yang kita jumpai,
Semakin LEMBUTLAH kita…
Dan semakin banyak PAHALA, ILMU dan CAHAYA kita dapatkan.

Semakin banyak BERGERAK dan semakin banyak LULUS badai ujian,
maka juga akan membuat semakin CEMERLANG pribadi kita…
Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang BERCAHAYA…
Bukankah kita sering melihat SINAR OBOR yang begitu cemerlang…
dari para tokoh setelah mereka bergerak dan mengalami badai ujian.

Boleh jadi kita belum bisa seterang OBOR para tokoh,
Namun minimal bisa seperti KUNANG-KUNANG…
yang mampu membuat malam menjadi semakin INDAH.

Menyangga Kepercayaan Diri Dengan Operasi Plastik

Menyimak maraknya  berbagai pemberitaan tentang artis-artis kita yang gemar menjalani operasi plastik; diantaranya Krisdayanti , Titi DJ, dan yang akhir-akhir ini jadi berita gosip di sejumlah media infotainment adalah Dewi Perssik yang konon melakukan operasi plastik untuk mengembalikan selaput daranya dan operasi untuk mempermak dagu, hidung dan pipi atau Syahrini yang konon memperbesar bokongnya dan melakukan sedot lemak pada beberapa bagian tubuhnya. Tapi gosip itupun dibantah oleh keduanya.

Berbeda dengan Dewi Perssik dan Syahrini, Krisdayanti dan Titi DJ terang-terangan mengakui telah melakukan sejumlah operasi plastik serta sedot lemak disana-sini. Hal tersebut secara blak-blakan diakui oleh Krisdayanti dalam bukunya My Life My Secret yang ditulis oleh Alberthiene Endah:

Lima tahun silam saya melakukan operasi plastik di Bangkok, ditemani Anang.”

“Yang menangani Dr. Pitchet. Caranya dengan menambahkan cairan implansebanyak 320 ml. Prosesnya hanya berjalan dua jam. Dan hasilnya, saya mempunyai payudara yang indah dan menyembul.”

Lalu dalam pengakuannya yang lain:

“Ketika saya membuka baju dan bugil di depan cermin saya bersyukur. Iapi, hamil dua kali masing-masing naik 30 kilogram. Memang kemudian bisa menguruskan badan tapi ada struktur-struktur lemak yang tersisa.”

sebelum dan sesudah operasi

Operasi yang dijalaninya tidak hanya sekali, tapi berkali-kali melakukan pembenahan pada payudaranya di Singapura. Serta melakukan suntik botox pada wajahnya. Untuk sekali pembenahan pada payudaranya Krisdayanti konon merogoh kocek yang lumayan mahal untuk membeli penampilan yang terkesan dipaksakan untuk sempurna. Yah, itu sih sepenuhnya haknya dia yang mau buang-buang uang….hehehe.

Perempuan masa kini sepertinya sudah bosan tampil sederhana, apa adanya dan alamiah saja. Mereka ingin mencitrakan diri sebagai sosok yang cantik, menarik dan bercahaya.

Konotasi atau terjemahan tampil cantik, menarik dan bercahaya itu bagi perempuan adalah tampil dengan segenap kesadarannya, dengan segenap daya tarik lekak-lekuk tubuhnya yang seksi dan menawan. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya artis yang tampil seronok mempertontonkan belahan dadanya, keindahan bahunya, dada, pinggang, pinggul dan betis serta pahanya dengan tampilan yang transparan menerawang atau dengan busana yang ‘tampaknya’ kurang bahan. Bukankah dengan begitu, betis dan pahanya serta kekenyalan payudaranya jadi bersinar-sinar menawan ratusan atau ribuan mata pemirsa di kursi-kursi duduknya. Bukankah dengan begitu membuat laki-laki berdesir seraya mengakui kelebihan perempuan dalam sensualitas keindahannya?!

Hal ini pada akhirnya membawa industri kosmetika dan fashion menjadikan mereka sebagai sasaran tembak produknya. Dan tanpa disadari oleh perempuan, cara pandang yang mengedepankan kekuatan femininitas ini menggiring mereka pada pemitosan cantik bercahaya, langsing dan seksi yang sengaja diciptakan untuk mendukung struktur kapitalisme. Karena kekuatan femininitas bertumpu pada daya tarik kekenyalan, keindahan dan kelembutan garis-garis tubuh perempuan.

Dan perempuan diyakinkan dengan banyaknya iklan produk fashion dan kosmetik bahwa mereka akan cantik mempesona bila memerahkan bibirnya dengan lipstick A, atau akan tampak bercahaya dan molek bila memutihkan wajah dan tubuhnya dengan krim pemutih B. Dan rambut sebagai mahkota akan tampak lembut berkilau jika direbonding dan diwarnai dengan produk kosmetik rambut C. Bahkan banyak dari perempuan yang kepercayaan dirinya perlu disangga oleh implantasi silikon di bagian-bagian organ femininnya, bedah plastik dan suntik botox yang menelan biaya yang tidak murah. Karena penafsiran cantik pada umumnya adalah pipi bak pauh dilayang, mata bak bintang kejora, rambut bak mayang terurai, bibir merah bak delima merekah atau alis yang bak semut berbaris yang dalam istilah Jawa;’ irunge mblongkang semende’, ‘mripate mbawang sabungkul’, ‘lambene nyigar jambe’, ‘untune miji timun’, lan ‘rambute ngandhan-andhan’….dan masih banyak ungkapan untuk melukiskan makna cantik dan feminin. Dan setiap mata memandang, pasti akan terpesona dengan gemerlap fisik perempuan. Padahal secara alami, gemerlap fisik seorang perempuan adalah layaknya gemerlap riak-riak air di danau yang memantulkan cahaya bulan saat purnama.

Dalam pandangan ini, yang menentukan keindahan air itu adalah sinar bulan dan bukan air itu sendiri; apalah artinya riak air tanpa cahaya bulan? Dan pada hakikatnya, bukankah sinar bulan berasal dari pantulan sinar matahari?

Jika seseorang terpesona memandang riak air di danau seraya berteriak kagum:

Lihat air itu, alangkah indahnya!” maka hal yang wajar dilakukan. Tetapi jika seseorang memandang riak air di danau seraya berteriak: “Lihat sinar matahari itu!” pasti dia akan  dianggap gila dan tidak normal. Padahal sebenarnya mataharilah yang paling layak dan berhak untuk dikagumi karena dia sumber kekuatan yang bisa memancarkan keindahan riak air di danau.

Jadi, gemerlapnya fisik perempuan adalah kegemerlapan terlemah, karena ia sepenuhnya bergantung pada cahaya jiwa perempuan itu sendiri. Sedangkan cahaya jiwa perempuan itu bergantung sepenuhnya pada kesanggupannya memantulkan cahaya keilahian. Maka, bagaimana mungkin perempuan-perempuan itu rela menghamburkan uangnya HANYA UNTUK MENGAGUMI KELEMAHANNYA SENDIRI??

Semoga kita selalu bersyukur!

*****

Kemayoran20110906

Salam Cantik,

Malika Assaif

Bal-Balan Politik

Origin of da word POLITICS is quite funny! It’s Latin & made up of two words; ‘POLI’ means ‘many’ & …’TICS’ means ‘Blood sucking Creatures’ How True !!!

Akhir-akhir ini saya tertarik mengamati bola; bentuknya yang bundar dan gerakan fleksibel yang memantul membuat kita senang menendang dan melempar serta memainkannya. Bosen main-main dengan bola, saya ingin menonton pagelaran yang digelar di lapangan bola. Sesekali penonton berteriak; “huuuuuuu”, penonton kecewa……yang sering terjadi adalah lontaran makian dan ‘pisuhan’ melengkapi kegusaran dan kekecewaan penonton. Sesekali pula, penonton ‘ngakak’ tertawa dan bertepuk tangan jika ada badut yang badannya melebar ke seantero panggung. Dan akan bersorak kegirangan jika ada pendekar: ‘pendek-mekar’ muncul tiba-tiba…

Bahwa siapa yang tahu bahwa di balik itu terjadi pementasan yang sesungguhnya???

Pada hari itu sebuah kongres sebuah federasi di Pekanbaru dilaksanakan. Sebuah kongres dari sebuah federasi yang sangat sangat korup dan banyak unsur politis bernama PSSI. Sejak awal, saya memang tak respek dengan adanya kongres ini. Dari mulai sosok ketum yang ‘ngeyel’, pemilihan tempat yang memberikan kesan adanya kekhawatiran akan adanya “kelompok reformis”, timbulnya fitnah, pelanggaran aturan pasal statuta, hingga dugaan adanya back up-an dari salah satu orang nomor satu sebuah parpol besar.

Entah kenapa, kongres yang seharusnya berjalan aman, tertib, dan damai itu dirusak oleh suatu skenario. Sebuah skenario yang memang sengaja dibuat untuk melanggengkan kekuasaan kubu Nurdin Halid cs. Dugaan adanya praktek suap di salah satu kamar hotel menjadi pemicunya. Dan apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan kita sebagai insan sepakbola Indonesia. Muncullah orang-orang berjumlah 78 orang, yang hari ini kita kenal sebagai Kelompok 78 atau K78, yang menginginkan adanya perubahan di tubuh PSSI. Bahkan waktu itu, saking paranoidnya kubu Nurdin cs, maka ke-78 orang itu harus rela berteriak-teriak di luar hotel karena hak mereka dicabut.

Puncaknya, kongres ricuh. K78 yang haknya diambil oleh kubu statusquo, masuk ke dalam hotel untuk menuntut kebenaran yang mereka bawa, agar pasal statuta PSSI diubah sehingga Nurdin tidak menyalonkan diri lagi. Untuk diketahui, K78 memperjuangkan hak mereka untuk mengubah statuta PSSI yang menyatakan bahwa “… seseorang dapat menjadi Ketua Umum PSSI apabila tidak terkait tentang hukum pidana pada saat berlangsungnya kongres …” yang sama sekali berbeda dari statuta FIFA, yang menghendaki bahwa seorang narapidana ataupun mantan narapidana memimpin sebuah federasi sepakbola. Ini yang saya sebut sebagai dualisme sikap FIFA.

Pro kontra bermunculan. Media-media milik statusquo mulai menyebar berita bahwa orang-orang militer adalah penyebab kekacauan di kongres PSSI di Pekanbaru. Bahkan ada yang benar-benar memelintir berita, yang mengatakan bahwa Nurdin tetap bisa maju sebagai calon Ketua Umum PSSI. Sementara media-media netral lain, menanggapi hal secara obyektif.

Cara pandang obyektif memang jarang kita dapati dalam banyak pemberitaan media. Karena memang media-media itu berusaha membangun opini publik seolah-olah kelompok 78 adalah public enemy dengan menjuluki mereka sebagai gerombolan pengacau, deadlockers, malah yang ekstrim menganggap mereka teroris. Saya mencoba berasumsi, yakni: Pertama, uang yang ada di PSSI terlalu besar sehingga statusquo ingin lama-lama berkuasa. Kedua, ada indikasi dan target tertentu dari seseorang atau golongan untuk merebut kursi kepemimpinan RI di tahun 2014 dengan cara menduduki PSSI terlebih dahulu. Sah-sah saja wong namanya asumsi. Kecurigaan-kecurigaan tersebut tentu saja beralasan. Kan tema utama kita adalah: MISTERI.

Jumat (21/5), terjadi kembali sebuah Kongres PSSI. Namun dengan wayang yang berbeda. Agum Gumelar, yang dipercaya FIFA sebagai Ketua Komite Normalisasi, memimpin Kongres PSSI. Ada juga perwakilan FIFA, Thierry Regenass dan juga perwakilan dari AFC, yang datang sebagai observer.

Kongres yang semestinya selalu menuruti keinginan peserta konggres, malah dilanggar sendiri oleh Agum Gumelar, sang tokoh utama dalam cerita ini. Apa yang menjadi pokok pembicaraan untuk mencapai sebuah kebenaran, selalu dialihkan. Ini malah menyebabkan pamor dan kharisma seorang Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi sekaligus sebagai ketua sidang merosot drastis. Tampaknya ada sebuah skenario besar di balik semua ini.

Pertama, saya menyesalkan sikap dari komplotan statusquo (ini sama artinya dengan kata ‘Gerombolan 78′ ala Cocomeo News) yang tidak mau legowo untuk menyerahkan kursi-kursi yang mereka duduki di PSSI ke orang lain. Bukti yang ada sudah di depan mata. Kita lihat calon ketua umum PSSI, belakangan ini semakin tercium aroma statusquo. Achsanul Qosasih, Agusman Effendy, dan lain-lain adalah antek setia era Nurdin Halid. Pun demikian dengan anggota Exco. Mayoritas suara yang didapat lebih besar untuk komplotan statusquo macam Iwan Budianto, Yosep Erwiyantoro, dan lain-lain.

Yang membuat saya penasaran, bagaimana seorang Agum Gumelar bisa disetir oleh kelompok tertentu? Lebih penasaran lagi dengan alasan Agum adalah alasan Agum untuk mengganti 5 anggota Komite Normalisasi dengan alasan terlibat LPI (Liga Primer Indonesia), namun pada kenyataannya LPI, pada surat FIFA, harus dirangkul oleh Komite Nasional. Hal ini menguatkan asumsi bahwa dengan kelompok statusquo masih berniat dan masih mencari cara untuk tetap berada di tubuh PSSI.

Kedua, penolakan kandidat Arifin Panigoro dan George Toisutta jelas tak bisa dijadikan alasan untuk tak bisa bersaing di panggung bursa Ketua Umum PSSI. Kalau berkaca pada statuta FIFA, tidak pernah ada ceritanya seseorang yang “menciptakan” liga breakaway, ditolak untuk menjadi calon ketua umum sebuah federasi, di manapun itu berada. Justru jika kita melihat pada negara-negara yang pernah menciptakan liga breakaway seperti Australia, Inggris, dan Jepang, FIFA akan menyoroti kinerja federasinya. Apa yang salah dengan federasi tersebut, sehingga menimbulkan rasa tidak puas oleh anggotanya dan membentuk liga breakaway. Namun kenapa tidak bisa terjadi di Indonesia? Justru seorang Nurdin Halid pun terkesan dilindungi FIFA walaupun saat itu jelas-jelas melanggar statuta FIFA dengan memimpin PSSI dari balik jeruji besi.

Dan dalam catatan saya George Toisutta, tidak termasuk orang yang terlibat dalam liga breakaway (LPI). Nama George Toisutta baru mencuat ke permukaan selama 4-5 bulan terakhir ini. Tidak pernah ada ceritanya GT mengurusi LPI. Namun, pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat FIFA sekelas Thierry Regenass itu saya pikir cukup menimbulkan suatu tanda tanya besar. Bahkan yang bisa membuat saya geli adalah, Regenass yang notabene pejabat teras di FIFA, seharusnya cukup hafal tentang pasal-pasal Statuta FIFA dan Electoral Code FIFA pun tidak bisa memberikan jawaban tentang statuta mana dan electoral code bagian mana yang dilanggar oleh pasangan GT-AP. Dan Regenass hanya garuk-garuk kepala. Lalu mantan pimpinan Kopassus seperti Agum menghentikan kongres secara sepihak dengan alasan yang konyol : tidak kuat lagi menghadapi peserta kongres yang menuntut haknya dipenuhi.

Skenario selanjutnya, ini yang perlu kita waspadai. Kelompok statusquo yang diback up oleh sebuah partai besar, kali ini mulai menggiring opini publik lewat media-media yang dimilikinya untuk memusuhi K78 yang berniat menghilangkan segala kekotoran yang ada dalam tubuh PSSI. K78 yang semula berniat untuk merevolusi PSSI, dan mencegah agar akar-akar dari komplotan Nurdin tidak kembali merajai PSSI, kini malah diputarbalikkan faktanya menjadi sebuah kelompok yang perusak, sok reformis, dan terkesan perusuh serta pemecah belah sepakbola nasional. Penggiringan opini publik ini tampaknya akan menuju ke sebuah keberhasilan di mana saat ini banyak tokoh mulai simpatik ke salah satu televisi yang dimiliki salah satu orang yang mencalonkan diri maju ke Pilpres 2014. Beritanya mulai tidak berimbang, bombastis, dan provokatif. Menggelar talk show pun yang diundang adalah orang-orang yang pro terhadap pemberitaan mereka. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, masyarakat kini mulai diajak untuk memusuhi K78, menjadikannya sebagai public enemy, memusuhi Arifin Panigoro dan George Toisutta yang pernah jadi orang yang membuka pintu masuk kepada kita untuk merevolusi PSSI dengan dalih tidak legowo, terlalu ambisius, dan lain-lain.

Maka menjadilah K-78 sebagai pubic enemy yang selalu dikaitkan dengan yang namanya sanksi. Padahal tuntutan sanksi itu bagi saya sama sekali tidak mendasar karena tidak ada sama sekali pasal Statuta FIFA maupun Electoral Code FIFA yang dilanggar Indonesia.

Saya menganalogikan sanksi itu seperti menakut-nakuti anak kecil tanpa memberikan alasan logis yang jelas; misalnya: “adik jangan main jauh-jauh lho ya, bahaya!” Dan media pro statusquo terus-terusan menggembar-gemborkan sanksi….sanksi sanksi….seolah-olah sanksi itu ‘momok’ menakutkan dan penyebabnya adalah gerombolan pengacau K78. Aneh!!! Betul-betul aneh bin ajaib! Ada yang bilang di televisi; “demi kepentingan bersama sebaiknya kelompok 78 mundur!”……Kepentingan bersama siapa? Lalu mereka beralasan; kalau sanksi benar-benar dijatuhkan, kasihan rakyat dong! Mereka tak bisa jualan kaos, jualan bakso, dan lain-lain….hahaha…sangat lucu! Toh saya lihat, para penjual kaos maupun bakso sehari-hari juga bisa jual kaos di sekitar stadion atau pasar rakyat di Tugu Pahlawan. Lalu yang disebut kepentingan rakyat itu yang mana? Rakyat yang mana? Setelah puas menakut-nakuti rakyat, Agum Gumelar tampil sebagi pahlawan yang seolah-olah menjadi pendekar yang meloby FIFA supaya tidak menjatuhkan sanksi. How smart!

Lebih tidak logis lagi karena K78 tidak sopan, melontarkan kata-kata kasar pada utusan FIFA dan tidak beretika. Maka kalau boleh dijawab: ini kan bukan KONGRES ETIKA! Memang hal ini kelemahan K78 tapi apa yang mereka lakukan tidak pernah menyalahi statuta FIFA.

Dari sejumlah Negara yang pernah mengalami sanksi FIFA, penyebab jatuhnya sanksi karena:

(1)    pelanggaran statuta

(2)    intervensi pemerintah

Dan sebenarnya, masalah sanksi itu masalah lobi saja. Di tahun 2007, sewaktu Nurdin Halid menjabat dari balik jeruji besi, seharusnya Indonesia terkena sanksi. Tetapi karena lobi-lobi yang kuat dari kelompok Nurdin, maka sanksi itu tidak terjadi. Bahkan kemarin sewaktu Pemerintah melalui Menegpora ikut mengintervensi PSSI, seharusnya juga kan kita kena sanksi. Tapi nyatanya? Nothing!!

Padahal, jika toh memang kita disanksi FIFA, maka gugatan CAS (Komite Arbitrase Olahraga) akan masuk, yakni menggugat FIFA sebesar 500 juta Euro per hari. Tentunya FIFA juga tidak bodoh dengan sembarangan memberi sanksi untuk Indonesia karena benar-benar tak ada aturan yang dilanggar. Bahkan FIFA sendiri yang melanggar aturan tersebut dengan menolak pencalonan GT-AP tanpa dasar.

Konggres PSSI tempo hari benar-benar menyisakan banyak tanda tanya. Silakan mengambil kesimpulan sendiri dan mari kita tunggu pertunjukan selanjutnya!

***********

Kemayoran,20110528

Malika Assaif

Melembutkan Hati

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.

Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.

Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda,
namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya.

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan
merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.

Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan anda

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.