Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

LAG-LAGI, Penjahat Kelamin!


Memperbincangkan PK (Penjahat Kelamin) sudah tentu tidak akan ada habisnya. Beberapa hari yang lalu seorang klien minta ditemui di sebuah restoran dengan ruang karaoke. Maksudnya tentu saja pengin ngajak makan siang sekalian berkaraoke. Tetapi syaratnya saya ngga boleh bawa PR alias sendirian. Tanpa prasangka buruk, sayapun berangkat hanya diantar sopir kantor. Tanpa prasangka buruk karena Bapak ini terdengar baik-baik saja ditelepon, jadi saya okey saja ketika beliau bilang, “okey, mbak bisa ketemu saya nanti di Nur Pacific sekalian makan siang, nanti bisnis kita bicarakan disana sambil nyanyi-nyanyilah.”

Walhasil, saya berhasil ketemu dengan si Bapak. Keluar dari Harier penampilannya dandy, dengan celana jeans dan kaus bermerk mahal. Informasi yang sempat saya kumpulkan bahwasanya orang ini pernah hampir menjadi kandidat walikota Surabaya. Selain itu, beliau juga pengurus salah satu lembaga keagamaan di kota Surabaya dan baru-baru terpilih jadi ketua partai pemenang Pemilu. Di depan namanya ada gelar Haji, Insinyur dan Doctor, lalu masih ada sederet gelar pendidikan di belakang namanya. Itu simbol luarnya, dalamnya saya belum tahu. Sebelum keluar mobil, sopir kantorku mewanti-wanti, “Bu jangan mau diajak ke ruang karaoke. Takutnya kalau Ibu masuk trus dikunci dari dalam, Ibu ngga bisa teriak, soalnya ruangannya kan kedap suara. Ntar Ibu diapa-apain lagi.” Wah, bener juga ya. Rasanya saya bersyukur banget ada orang yang ngingetin. Dan memang, begitu sudah berhadapan, Bapak ini menatapku dari ujung rambut ke ujung kaki dengan pandangan liar bak menelanjangiku. Saya risih banget dibuatnya. Dipersilakannya saya duduk di sebelahnya, masih dengan tatapan liarnya.

Saya kemudian memprolog pertemuan hari itu dengan penjelasan company profile. Baru saja mulai, Bapak ini menukas, “sudahlah mbak, saya sudah tahu bisnis ini. Kita ngobrol yang lain aja ya sambil nyanyi-nyanyi di dalam.” Mati saya! Gimana ya menolaknya…Tiba-tiba dia meraih tangan saya, “wih! kamu banyak bulu juga ya, pasti terminalnya lebih tebal lagi..” katanya terkekeh. Saya benar-benar kaget karena tak menyiapkan pembelaan apapun, cekatan kutarik tanganku, “Bapak ini apa-apaan sih? Saya ini ngga jualan bulu Pak, maaf!! Mungkin sebaiknya saya kembali ke kantor sekarang! Permisi..!” Saya marah dan jengkel dilecehkan seperti itu. “lho-lho sebentar, kamu pemarah banget ya, sorry. Maksudku begini aja, kalau kamu pengin aku invest, kamu mesti entertain aku dulu. Kalau kamu setuju, nanti kucarikan tempat yang lebih romantislah!” Gila banget sih orang ini, tapi saya harus bisa atasi. Kutatap lurus mata ketiganya, “Okey, berapa Bapak mau invest?” Nekat saya ngomong begitu. “1 M gimana? tapi kalau sampai rugi meskipun itu hanya 3 jt, kamu ‘ nempuhi , mau? Kalau ya, kamu mesti tanda tangan di depan notaris, gimana?” tantangnya. “Okey! Saya sanggup! Kapan Bapak transfer?” Masih dengan nekat kutantang dia sekalian. Paling-paling dia cuma omong doang. “Begini aja, besok kamu telepon aku ya!” jawabnya gugup. “Okey, saya telepon Bapak besok. Kayaknya saat ini ngga kondusif untuk bicara bisnis, saya permisi.” Buru-buru saya kemasi tas dan map kerja saya dengan jengkel, lalu pamit. Pengin rasanya kuledakkan kepala Bapak ini (jika Noordin M Top berkenan meminjamkan bomnya). Belum selesai berkemas, Bapak ini pun beranjak mau pergi juga, “Saya juga mesti balik kantor nih, contact-contact besok ya jangan lupa,” katanya sambil ngeloyor pergi dan hampir saja menabrak pintu, rasain.

Itu sekelumit kisah pelecehan sexual yang seringkali saya alami. Saya wajib bersyukur, karena apapun itu menjadi sebuah sarana pemrosesan diri supaya menjadi lebih bersyukur dan lebih baik, dan tentusaja mendewasakan saya. Hal itu juga membuat saya ingat ayat pertama surah An Nisa yang menakjubkan tentang penciptaan manusia yang pada hakikatnya berasal dari diri yang satu. Dengan kata lain, laki-laki dan wanita adalah satu diri dalam tataran spiritual, tetapi dua fisik yang berbeda dalam tataran material. Maka pada tingkat spritual, pelecehan seksual sesungguhnya tidak hanya merugikan perempuan tetapi juga laki-laki. Dengan memandang perempuan hanya sebagai object yang bisa menyegarkan badan dan pikiran seperti es jeruk atau novel picisan, secara tidak langsung, seorang laki-laki telah memandang seluruh dirinya hanyalah benda yang tergantung pada pemuasan bendawi yang semu, sementara dan melatenkan frustrasi spiritual jangka panjang.

Mungkin juga ada satu catatan yang penting: jangan terlalu percaya simbol. Sebab dipakai oleh siapapun, persoalannya tetap sama: simbol ya simbol – bukan hakikat. Lagipula, gelar haji bukankah bisa dipakai oleh siapa saja yang mampu pergi ke Mekkah? Dan bukankah haji bisa juga jadi hajingan? (bajingan-red). Lagipula, jubah kyai atau kerudung bukankah cuma kain biasa, dan bukankah kain juga bisa jadi gombal? Gombale Mukiyo, kata orang Ngawi. Suami saya pernah bilang, “Na, selama orang tetap orang, dia pasti punya sisi-sisi yang menjengkelkan. No body’s perfect, tak ada orang ideal. Walaupun simbol luarnya ini dan itu, jangan mengira apa yang tampak diluar sama dengan isi didalam. Makanya jangan percaya simbol….” Saya pun tersentak, ” Iya, bener Mas…….”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s