Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

SUATU MALAM DI ARAFAH


Tanggal 8 Dzulhijjah tengah malam, pada waktu seluruh jamaah haji telah berkumpul di padang Arafah untuk melakukan upacara wukuf esok pagi tanggal 9 Dzulhijjah setelah tergelincir matahari, salah seorang jamaah haji menggamit lengan suami saya yang sedang hanyut dalam doa dan dzikir, sambil berbisik: (kira-kira begini),
“He Kak Tuan, haji itu cuma pul-kumpul dan juk tojuk seperti ini ya.” Rupanya penanya kita ini jamaah haji dari Madura, kelihatan dari logatnya, serta panggilan ‘Kak Tuan’ memang panggilan khas bagi orang Madura laki-laki yang sudah bergelar haji. Suami saya yang ditanya cuma diam.
“Eh Kak Tuan, apa sebenarnya yang kita cari disini? Apa ini yang dinamakan haji itu? Kalo hanya begini kan percuma kita jauh-jauh meninggalkan tanah air pake bayar mahal pula”, bisiknya lagi. Suami saya tetap diam. Saya sebenarnya ngga tahan kepengin menjawab pertanyaannya, tapi daripada saya nanti gusar mending diam aja. Dalam hati saya ‘ngudoroso, kok aneh tur lucu orang ini. Sudah sampai disini kok ngga ngerti tujuannya. Rupanya suami saya tak bergeming sedikitpun, tangannya asyik memilin biji-biji tasbih yang terbuat dari kayu K.O.K (kawakib). Penanya kita yang dari Madura ini semakin penasaran sambil mengguncang-guncang tubuh suami saya sambil setengah berteriak:
nDak Mas, eh Kak Tuan, ah Cak, saya ini tanya betul, apa sekarang ini kita sudah haji? Apa yang begini ini caranya haji itu?” Mungkin karena jengkel dan khawatir mengganggu terus, suami saya menjawab sekenanya:
“Ya, ya inilah dan beginilah yang disebut haji itu. Sudah diam sajalah, neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa, amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan”, jawab suami dengan bahasa setengah Madura juga. Dalam hati mungkin suami saya merasa kasihan pada calon haji yang kesasar ini. Karena itu setelah dia puas dengan bacaan-bacaan doa, wirid, dzikir maupun istighfar dan segala uneg-uneg hati yang ditumpahkan dimalam kudus di padang Arafah itu, suami saya melirik pada temannya yang selalu mengusiknya dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tadi (dan ternyata telah tidur mendengkur), lantas dibangunkan. “He Kak, bangun! Ayo keluar,” ajaknya sambil menarik tangan penanya kita yang masih ngantuk dan berusaha membangun kesadaran. Sampai di luar, keduanya berjalan melalui sela-sela tenda yang dipasang bergugusan, ribuan jumlahnya, di padang Arafah nan luas diterangi cahaya lampu-lampu listrik ribuan watt yang membuat padang Arafah terng benderang laksana siang hari. Saya mengikutinya dari belakang.

Di tempat agak sepi, kami pun duduk. Dengan gaya seorang ustadz, suami saya mulai berceramah pada penanya kita yang belum mudheng tentang arti dan tujuan haji ini. Katanya:
“Begini, sekarang kita sudah berada di Arafah, sebagai persiapan besok pagi, setelah matahari tergelincir atau setelah manjing dhuhur, kita melakukan wukuf. Dari sini kita memulai ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Sampeyan tahu apa artinya arafah dan wukuf itu?”
“Ya ndak tahu saya. Kalo Arafah itu nama reng bini yang rathin tetangga saya di Konang,” jawab penanya kita dengan nada cengengesan.
“Huss! Jangan guyon, nika beni agejek…!” suami saya mulai gusar (tapi saya tahu dia menahan ketawa sebenarnya). Kok ada ya calon haji yang koplonya ngudubilah begini. Mungkin waktu penataran manasik haji dulu, dia ini termasuk yang ngantuk-an. Jadi saat dijelasin, dia ketiduran.
“Habis, bagaimana wong tahunya saya ya cuma segitu. Ya jangan marah sampeyan Kak Tuan! Orang haji itu ndak boleh marah tak iye,” kilahnya.
“Oke, baiklah saya jelasin. Sampeyan ndak boleh ngantuk atopun nglamunin si Arafah yang di Konang itu,” kata ustadz tiban yang memperoleh ilmu ladunny di padang Arafah itu, terus memulai kuliah khususnya berikut ini:

Arafah, yang jelas adalah nama tempat. Ya tempat ini, tempat untuk wukuf ini. Dahulu kala, konon di tempat inilah Adam dan Hawa pertama kali bertemu setelah terpisah bertahun-tahun karena terusir dari surga. Karena itulah tempat ini dinamakan Arafah, dari kata ‘arafa-ya ‘rifu, yang berarti kenal, mengerti dan mengetahui, saling bertukar pengertian dan pengetahuan setelah sekian lama berpisah. Konon kata si empunya cerita alias shahibul hikayat, pada saat diusir dari surga, keduanya diturunkan di tempat terpisah dan berjauhan. Keduanya saling mencari, sampai akhirnya di Arafah, yang waktu itu banyak rimbun pepohonan, sehingga walaupun mereka sudah di tempat yang sama bahkan berdekatan, mereka belum bisa berjumpa. Nabi Adam kala itu mendengar suara ‘krusak-krusek di balik semak. Maka untuk meyakinkan apakah itu suara binatang atau manusia, dilemparlah batu-batu kerikil. Gayung pun bersambut, Hawa membalas lemparan kerikil itu dengan balik melempar kerikil…..dan….cii luk baaa, bertemulah dua insan pertama yang saling cinta itu. Kata orang Jawa yang biasanya ‘othak athik mathuk, itulah yang ditirukan oleh adat perkawinan Jawa, waktu mempelai pria dan wanita ‘ditemokne (dipertemukan) pake gendhing kebo giro, keduanya saling melempar sirih. Sirih atau suruh dalam bahasa Jawa berarti ‘kesusu arep weruh (buru-buru pengin lihat).

Demikianlah, wukuf di Arafah itu adalah sebagai upacara napak tilas perjumpaan Adam dan Hawa. Kini, para adam dan hawa dari berbagai penjuru dunia berkumpul dan bertemu di padang Arafah agar saling mengenal, saling mengetahui dan mengerti bahwa manusia dan kemanusiaan itu sebenarnya sama. Perbedaan bahasa, suku bangsa, warna kulit, tradisi, budaya, keturunan, pangkat dan jabatan, profesi, kekayaan dan lain sebagainya hanyalah perbedaan luar, perbedaan lahiriah yang bukan merupakan perbedaan hakiki. Yang membedakan tinggi rendahnya kedudukan manusia di hadapan Allah adalah katakwaannya . Maka terasa sekali kebenaran firman Allah di surah Al Hujurat: 13. Perbedaan apapun yang ada diantara sesama manusia bukanlah untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal, saling mengetahui dan saling mengerti (lita ‘aarafuu – dari kata ‘arafa ya’rifu). Dan di Arafah inilah diselenggarakan “perkenalan akbar” manusia dari berbagai penjuru dunia.

Dan agar dalam perkenalan akbar itu tidak terdapat kekakuan dan kekikukan, atau agar tak terdapat dinding pemisah antara satu dengan lainnya, maka semua peserta wukuf diwajibkan memakai pakaian seragam, yaitu pakaian ihram yang serba putih, sebagai lambang kesucian jiwa. Tidak pandang kekayaan, pangkat dan jabatan, serta status sosial mulai dari pemimpin negara sampai rakyat jelata, seluruhnya menyatu dalam gugusan manusia. Lepas identitas masing-masing. Yang ada cuma satu yaitu manusia tanpa embel-embel jelita atau jelata atau formalitas yang sering membuat manusia terkotak-kotak. Arafah juga bertalian makna dengan ‘ma’rifat, artinya mengenal, mengetahui dan mengerti sebenar-benarnya hakikat manusia.

Sedangkan wukuf sendiri adalah salah satu rukun haji yang sangat penting. Wukuf sendiri berarti berhenti atau berdiam di padang Arafah walaupun hanya sesaat. Hakekat wukuf dengan cara berhenti atau berdiam adalah merenungi dan menemukan hakekat hidup, ‘sangkan paraning dumadi’. Bukankah tidak sedikit manusia yang tidak sempat tahu siapa sebenarnya MANUSIA, padahal telah lama menjadi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari terlalu sibuk dengan program dan acara hidup di luar dirinya yang tak kunjung usai dari pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi sampai tak sempat memikirkan dan merenungkan siapa sebenarnya dirinya. Karena itu sebaiknya kita perlu menyediakan waktu untuk wukuf dalam arti yang hakiki bukan hanya di Arafah. Dan sholat adalah sarana yang efektif untuk wukuf harian, sebagai terminal untuk melabuhkan kepenatan jasmani dan ruhani.

Sementara, wukuf di padang Arafah itu adalah semacam ‘gladi bersih’ untuk mengikuti APEL BESAR di padang mahsyar. Karena itu saat detik-detik upacara wukuf diutamakan untuk keluar dari tenda, untuk ‘menikmati sengatan matahari di gurun pasir sebagai latihan menghadapi sengatan matahari di padang mahsyar.

Penanya kita yang lugu tadi mengangguk-angguk. Maka kuliah singkat dinyatakan selesai, kami pun berjalan kembali ke tenda. Malam pun semakin larut di Arafah dan rembulan tanggal 8 Dzulhijjah telah tenggelam di ufuk barat. Nun jauh di atas sana, dengan background layar yang tak terhingga luasnya, bintang-bintang berkelip. Dan orang yang saya sebut si penanya kita itu menengadah ke langit. Ia memang tak melihat manusia di langit itu, tapi ia melihat kebesaran Allah. Allahu Akbar! “Dialah yang menciptakan bagi kamu sekalian apa saja yang ada di bumi, semuanya.” (Al Baqarah 29)

Vocabulary:

pul-kumpul: berkumpul
juk tojuk : duduk-duduk
ngudoroso : bicara dalam hati
neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan: diam kenapa? Kalau anda bisa, baca Qur’an atau berdoa sebisanya
kesasar: tersesat
reng bini : perempuan
nika beni agejek : ini bukan bercanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s