Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

MENCERAIKAN SAKIT


(Didedikasikan untuk Prof. Dr. Ahmad Syarwani, Spesialis bedah tulang dan Dr. Bagyo S. Winoto, specialis tulang yang telah sabar merawat saya hingga sembuh. Keduanya bertugas pada RS Dr. Soetomo Surabaya. Semoga mereka tetap sehat hingga kini)

 


Buat saya, seperti kebanyakan orang….menjadi sakit itu tak pernah saya harapkan. Namun jika pada waktunya Allah yang mencintai saya memberikan anugerah berupa sakit, saya pun akan berusaha menikmatinya, terlebih saya juga akan meminta selalu diberikan rasa bersyukur. Bagaimanapun Allah menciptakan sakit dimaksudkan karena beberapa hal tetapi saya paling suka dengan pernyataan cintaNya:

Allah tak akan mencobaimu diluar kemampuanmu. Ia mencintaimu apa adanya – dengan segenap kekuranganmu dan kelemahanmu.

“God doesn’t impose on a soul a duty

but to the extent of its ability.

And that will add or love to HIM.

No bearer will bear other’s burden! “

Jika saya mengingat itu saya menjadi ge-er sendiri, betapa Dia sangat mencintai saya, apapun saya. Meski saat itu saya merangkak-rangkak untuk berjalan, Dia tetep cinta, meski saya jatuh dan patah, Dia tetap cinta saya dengan menegakkan saya. Saya tidak tahu kedudukan saya di hadapanNya, makanya saya terus berusaha mencari hotline denganNya, agar terus mengingatNya. Saya membutuhkanNya lebih dari apapun, Dia yang Maha Tahu.

Saat SMP, ketika sakit itu itu datang membuat keluarga terpuruk dalam kesedihan. Kejadian bermula ketika saya kecelakaan sepeda motor, kaki saya menghantam aspal dengan kerasnya, tapi saya masih mampu berjalan. Setelah 2 bulan berlangsung, saya tak mampu lagi berjalan, badan demam dan kaki saya bengkak. Orang tua yang kebingungan membawa saya ke rumah sakit di Solo dan diagnosa dokter hanya menyatakan bahwa saya sakit tifus dan terindikasi demam rheumatic. Alangkah anehnya….Seminggu berada di rumah sakit tanpa perkembangan berarti. Orang tua membawa saya pulang dan berobat jalan seminggu sekali. Ada yang merekomen ke dokter syaraf/neurolog karena mungkin penyakit saya bagian dari itu.

Setiap dari dokter neurolog, saya merasa baikan, bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa sakit dan mampu berjalan. Tetapi jika sudah sampai waktunya obat habis, saya kembali tergeletak kesakitan karena rasa nyeri yang tak tertahankan pada kaki-kaki saya. Kembali saya masuk rumah sakit dengan proses sangat panjang dan melelahkan, menjalani sinar rontgen berkali dan juga terapi pemanasan serta ditarik-tarik. Sampai proses selesai, saya membaik tapi hanya sebentar. Saya kembali didera rasa nyeri akut pada sekujur kaki saya. Untuk menahan nyerinya, dokter selalu memberikan saya resep penahan nyeri plus penenang, itu saya konsumsi bertahun-tahun hingga masa kuliah. Saya berharap Tuhan telah men-cicil siksaan saya di neraka dengan sakit di dunia, tak apa jika begitu…ngarep! hahaha.

Orang tua sudah cukup pusing dengan proses pengobatan yang lama dengan biaya yang tak murah pula. Segala upaya telah dilakukan, baik yang rasional maupun yang irrasional ke orang pintar, supranatural/dukun, maupun kyai. Semuanya nihil jika Allah belum berkehendak saya sembuh. Jadi selama 8 tahun saya keluar masuk rumah sakit, mondar-mandir ke dokter dan sudah berapa banyak foto rongent tulang kaki saya, mulai tulang belakang, betis dan genu atau lutut. Tepat 8 tahun saya kemabali menjalani opname di bagian syaraf dengan diagnosa sementara;  hernia nicolo pulposus. Bagaimana mungkin? Itu kan penyakitnya para kuli? Karena hernia merupakan penyakit otot yang keluar dari jalurnya, itu terjadi jika keseringan mengangkat barang-barang berat. Penyakit ini biasa diidap oleh lifter (atlit angkat besi) selain para kuli tentunya.

Karena diagnosa sementara begitu, saya menjalani proses radiologi yang lain dari biasanya. Untuk pengambilan foto syaraf tulang belakang, saya harus merelakan sunsum tulang belakang saya diambil sebanyak 200 cc, lalu permukaan tulang belakang yang kosong tersebut diisi semacam cairan yang memungkinkan semua syaraf tulang belakang kelihatan. Proses yang sangat menyakitkan karena saat pengambilan sunsum, kita harus dalam posisi sadar tanpa bius dengan cara ditekuk sedemikian rupa. Proses radiologi selesai, ternyata tak ditemukan indikasi HNP (hernia nicollo pulposus). Saya bersyukur, tapi dokterMuliawan Queensyahputra malah mengatakan saya stress…hahaha emang bener kali! Soalnya sebelumnya saya memang sempat patah hati ditinggal pacar menikah dengan orang lain. Dua minggu menghuni kamar neurology tanpa hasil yang pasti  sakit apa sebenarnya saya. Saya bertahan 8 tahun kesakitan, seolah-olah tanpa akhir! Saya pasrah menerima takdir saya, selalu mengkonsumsi obat penahan nyeri.

Ditengah kepasrahan, bengkak di kaki saya tepatnya di femur/paha semakin tak wajar. Abses dan panas suhunya. Saya kembali ke rumah sakit lagi, tapi ke bagian Rehabilitasi Medik. Disana selain penahan rasa sakit, saya juga menjalani terapi medis, pemanasan dengan listrik serta alternatif tusuk jarum karena dokter (dokter Johan SPR) yang merawat saya waktu itu punya keahlian tusuk jarum. Akhirnya saya menjalani hari-hari saya untuk terapi seminggu 3 kali selama berbulan-bulan.

Beruntung saya ketemu asisten dokter Johan yang sedang mengambil spesialis /PPDS, saya lupa namanya. Dia yang mencetuskan bahwa saya harus foto femur (paha), bukan genu (tempurung lutut) seperti selama ini dilakukan. Begitu femur difoto, bisa terlihat bahwa sakit say selama ini bukan pada syaraf, tapi pada tulang paha..nah lho! Ternyata ada retak di paha saya, kecil memang tapi sejalan dengan berlangsungnya waktu, retakan kecil tersebut terinfeksi bakteri bernama Staphylococus Coagulase. Diagnosa tersebut diketahui setelah berbagai pemeriksaan, terlebih pemeriksaan kuman dari sample cairan yang keluar dari abses. Penyakit itu saya ketahui kemudian namanya: Osteomylitis Chronis.

Seminggu kemudian diputuskan untuk mempersiapkan surgery. Kalau tak segera menjalani operasi dikhawatirkan akan menjadi akut, berhubungan dengan keadaan seluruh tulang terinfeksi. Dokter menjelaskan bahwa saya harus segera menjalaninya atau amputasi jika sudah terlalu akut.

Saat terbaring di Penyakit seperti ini memerlukan antibiotik Clindamycin saat operasi. Femur tulang paha yang terinfeksi kuman Staphilococus Coagulase dibuat saluran sepanjang lebih kurang  25 cm, sehingga bentuknya seperti kentongan. Sumsum yang terkena infeksi dikerok dibersihkan lalu dipasang antibiotik berbentuk butiran tasbih yang rumah sakit…..beberapa saat post operasi saya tak berdaya untuk bangun. Ibu menangis menciumi kening saya, demikian juga Bapak yang tegar itu. Hanya dua hari saya pake infus. Tiga hari berlangsung, sebelum drain (selang untuk saluran pembuangan darah kotor sisa operasi) dicabut dari paha saya, saya memaksa bapak menurunkan saya dari tempat tidur, soalnya saya sudak ngga tahan lagi berbaring terus di tempat tidur. Tapi sebenarnya saya tak tahan lagi pipis di pispot dan mandi  dilayani suster, jorok rasanya!

Dua minggu saya Cuma bisa duduk di kursi roda. Saya suka sekali berlama-lama di teras samping kamar memandangi hujan. Seminggu kemudian, saya sudah bisa berjalan menggunaka kruk. Dan saya begitu bersemangat membagi kehagiaan itu dengan anak-anak kurang beruntung yang sedang menjalani perawatan di ruang bedah sebelah kamar saya (chiruque H). Dan akhirnya saya sangat akrab dengan mereka, terutama dengan 2 orang anak malang. Yang pertama adalah penderita ostecepalus, dimana kepalanya begitu tak proporsional dengan tubuhnya yang mungil. Dan satunya, anak laki-laki 3 tahun-an ‘who has a big-big smile‘ berbibir sumbing. Bersama mereka saya menghabiskan hari-hari melelahkan di rumah sakit (karena ngga ada kerjaan). Anak-anak yang malang….hebatnya mereka tak pernah merasa tertimpa kemalangan, tepatnya…mereka tak pernah menjiwai penderitaannya. Tawa mereka selalu mengembang saat saya datang dengan sekantung plastik buah apel.

Lima hari menjelang pulang………saya harus berlatih berjalan. Lumayan, 2-3 hari masih mau jatuh. Setelah itu seperti orang normal lainnya, terasa ringan meskipun ada yang hilang dari kaki saya, yakni sunsum saya. Sampai saat ini saya ingin bersyukur karena diberikan kehidupan yang kedua yang lebih baik. Berterimakasih pada para dokter dan paramedis yang merupakan kepanjangan tangan Tuhan yang bertugas menceraikan manusia dari sakitnya. Mereka musuh dari segala macam penyakit dan segala macam yang menyebabkan sakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s