Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Perempuan Dan Hujan


13057166761833462478Langit temaram sore itu, mendung menggantung di ufuk barat.Terlihat hitam dan ‎sangat pekat. Sebentar lagi pasti hujan. Bergegas perempuan itu mengemasi kertas-kertas dan map kerjanya, mematikan monitar di mejanya. Buru-buru ia tinggalkan ruang kerjanya, keluar dari kantornya dan gedung bertingkat tempatnya bernaung. Buru-buru berharap menapak rumah sebelum hujan mengejarnya.

Setengah berlari, keluar dari gedung dan berjalan ke halaman parkir tiba-tiba ‘bressss!! hujan itu datang semendadak dan secepat itu yang ia pikirkan.

“Hey, aku disini. Hadir disetiap tetes hujan. Tak perlu lari atau sembunyi, karena semburat airnya akan menemukanmu jua.”
“Bagaimana kau menemukanku? Aku tak pernah mengucap mantra untuk memanggilmu.”
“Tak perlu memanggilku, aku telah membaca isyarat angin, daun-daunmu yang menguning dan ranting-ranting pepohonan yang mengering. Kau membutuhkanku, kau merindukanku
.”
“Kau memerlukanku untuk menyemaikan kehidupan didalammu. Aku selalu ada didekatmu, lebih dekat dari kesadaranmu sendiri. Seribu kali kau menolakku, aku akan tetap datang untuk mencium wangimu, memekarkan kuncupmu sehingga warna-warni mengghiasi rambutmu dan hatimu. Tanpa aku kau tiada, hampa tanpa ruh. Aku ruhmu, kau jiwaku. Kau dan aku satu, jiwa yang satu dalam penyatuan tiada henti. Hujan mencintai tanahnya, aku yakin tanah juga mencintai hujan. Kamulah tanah itu, kamu tanahku, milikku!!

Gairahnya seperti terbakar, meletup-letup…jantungnya berdesiran, berdeburan seperti ombak Pantai Selatan, kaki-kakinya lemas tak berdaya, sesaat itu pula nafasnya sesak.

Hujan terus berbisik lewat derai-derai air yang membelai wajahnya, rambutnya, lalu jatuh ke lehernya, membuainya, meresapi seluruh tubuhnya lewat celah-celah bajunya. Dan mencumbunya dalam basah! Perempuan itu mendesah, “sigh….ahhh!” Perempuan itu berlarian, berkejaran, meliuk-liuk seperti sedang menari mengikuti irama hujan dan larut dalam rengkuhan hujan. Lalu putaran itu membawanya jatuh terjerembab dalam kubangan lumpur yang kotor. Badannya menggigil kedinginan, ototnya lemas tanpa daya, tulang-tulangnya serasa membeku, sedang tangannya menggapai-gapai hampa. Dia hanya melihat langit serasa hitam pekat, lampu-lampu meredup, dan hujan pun semakin keras menderanya dalam basah. Perempuan itu hilang kesadaran!

Sejenak hujan telah membuainya dalam impian yang basah menggelora, membawanya bermimpi indah. Dan perempuan itu berpikir kehadiran hujan adalah anugerah tak terelakkan. Lalu sekejap kemudian, kilat bersahutan dalam gemuruh hujan. Halilintar itu datang, gemuruh dan terang. Serentak lampu-lampu gedung menyala, menyorot ke wajah pucat perempuan malang itu.

Terbangun geragapan disapa Enok, marketing kesayangannya yang sibuk melumuri kakinya dengan menyak kayu putih, “syukurlah! Ibu sudah sadar, tadi Ibu pingsan kehujanan…”
Lalu disusul senyum atasannya yang orang India, Raj Vasandani yang simpatik menggenggam tangannya. “Welcome back dear!”

“Hujan pasti telah menyeretnya dalam kubangan lumpur…”, suara lain di belakang menyahut.
“Subhanallah, walhamdulillah, wala illaha illallahu Allahu Akbar! Ampuni saya ya Allah! Ampuni saya…” Tangis perempuan itu pecah dalam keributan orang disekitar yang berusaha menyadarkannya. Tubuhnya masih lunglai dan lemah. Sejenak, matanya mencari-cari….“Dimana lautku, samuderaku….!” Orang-orang tak mendengar jeritannya rupanya. Perempuan itu kembali hilang….matanya kembali terpejam. Sementara derai hujan terus berjatuhan dan suaranya riuh mengganggu telinga kesadarannya, ingatannya.

Seperti gulungan-gulungan film yang diputar kembali laksana slide, perempuan itu melihat sisi dirinya di masa lalu dan masa kecilnya. Betapa ayahnya akan sangat marah jika melihatnya bermain hujan; segera ayahnya akan mengambil bilah bambu untuk memukul kaki dan pantatnya, lalu menyeretnya ke kamar mandi dan memandikannya sambil mengomel. Jernih dalam ingatannya pula, betapa ia suka sekali bermain dengan anak anjing tetangga yang amat lucu. Anak anjing Chocow itu selalu menyambutnya dengan kibasan ekornya dan gonggongan kecil saat ia datang. Lalu dengan gemas digendongnya anak anjing itu ke sana kemari, saat itu ia ingat masih kelas 2 Sekolah Dasar. Lalu ayahnya akan sangat marah dan menyeretnya pulang, menggosok badannya dengan pasir dan memandikannya. Dia tidak tahu ada hukum najis dalam keyakinannya. Ah ayah….saat ini aku merindukanmu! Pasti kau akan melarangku hujan-hujanan lagi….Aku ingin kau memukulku saat ini, keras sekali!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s