Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Kelompok 78 Tidak Tercela, Salahkan Agum yang Tak Mengerti Konstitusi


Apa yang akan anda lakukan jika tamu di rumah anda mengacak-acak isi kulkas anda? Pasti anda tidak akan rela…

Analogi diatas sesuai sekali untuk memberikan penilaian pada kehadiran FIFA di konggres PSSI. Mengapa kita harus merelakan diri diintervensi oleh FIFA? Kehadiran FIFA dengan membentuk komite normalisasi PSSI tidak efektif sama sekali. Saya pikir campur tangan FIFA justru membentuk konflik baru, dan membuat keadaan semakin runyam.

Hal ini diperparah oleh posisi Agum Gumelar sebagai ketua normalisasi PSSI yang memimpin konggres yang berakhir ricuh dan tidak membuahkan hasil kemaren. Permasalahan dipicu oleh tidak puasnya kelompok 78 atas keputusan pimpinan sidang Agum Gumelar.

Seperti dilansir VIVAnews (http://bola.vivanews.com/news/read/220242-kronologis-kisruh-pssi-jilid-ii):

Berikut Babak per Babak Kisruh PSSI Jilid II

1 April  2011
FIFA memutuskan pembentukan Komite Normalisasi untuk mengambil alih kepengurusan Nurdin Halid di PSSI. Keputusan ini dipublikasikan di situs resmi FIFA pada tanggal 4 April. Komite ini dipimpin oleh Agum Gumelar dan dibantu tujuh anggota, yakni Djoko Drijono (CEO BLI), Hadi Rudiatmo (Ketua Persis Solo), Sukawi Sutarip (Ketua Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nuzanah (Direktur Arema), Samsul Ashar (Ketua Persik Kediri), H. Satim Sofyan (Ketua Pengprov PSSI Banten), Dityo Pramono (Ketua PSPS Pekanbaru). Lima nama terakhir merupakan anggota Kelompok 78.

FIFA juga melarang empat nama yakni, Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisuta untuk maju pada pemilihan pengurus PSSI,

Tugas Komite Normalisasi :
– Mengatur pelaksanaan pemilihan pengurus baru PSSI periode 2011-2015 paling lambat 21 Mei.
– Menempatkan Liga Primer Indonesia di bawah kendali PSSI atau membubarkannya.
– Menjalankan tugas keseharian PSSI.

11 April 2011
Komite Normalisasi bertemu dengan pemilik suara PSSI yang mayoritas dihadiri oleh Kelompok 78. Kedua pihak sepakat untuk menggelar Pra Kongres pada 14 April 2011.

12 April 2011

Pendaftaran bakal calon ketua umum PSSI, wakil ketua umum PSSI, dan anggota komite exco PSSI periode 2011-2015 resmi dibuka.

14 April 2011
Pertemuan dengan pemilik suara di Hotel Sultan, Jakarta berubah jadi Kongres PSSI. Selain membentuk Komite Pemilihan, Kongres ‘dadakan’ ini juga membentuk Komite Banding Pemilihan.

19 April 2011
Ketua Komite Normalisasi bertolak ke Zurich, Swiss menemui Presiden FIFA, Sepp Blatter. Dalam pertemuan ini, Agum melaporkan hasil pertemuan dengan pemilik suara pada 14 April 2011. Agum juga berusaha melobi FIFA agar tiga kandidat, Arifin Panigoro, George Toisuta, dan Nirwan Bakrie diizinkan mengikuti pemilihan pengurus PSSI periode 2011-2015.

21 April 2011

FIFA mengirim surat kepada Komite Normalisasi. Dalam suratnya, FIFA menegaskan agar Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta tidak diperkenankan maju pada bursa pemilihan PSSI. FIFA juga tidak mengakui Komite Pemilihan yang dibentuk pada pertemuan 14 April 2011. Sedangkan Komite Banding yang terdiri atas Umuh Muchtar, Ahmad Riyadh dan Rio Danamore tetap diperkanankan menjalankan tugasnya. Keputusan kini langsung menuai protes dari kubu George Toisutta dan Arifin Panigoro.

23 April 2011
Pendaftaran bakal calon ketua umum PSSI, wakil ketua umum PSSI, dan anggota komite exco PSSI periode 2011-2015 resmi ditutup. Meski dilarang FIFA, kubu George dan Arifin tetap menyerahkan berkas pendaftarannya ke sekretariat PSSI.

29 April 2011

Komite Normalisasi yang juga berfungsi sebagai Komite Pemilihan mengumumkan hasil verifikasi terhadap bakal calon pengurus PSSI 2011-2015. Komite Normalisasi menolak memverifikasi berkas pendaftaran George Toisutta dan Arifin Panigoro.

3 Mei 2011

Pendukung George Toisutta dan Arifin Panigoro menggelar demonstrasi di depan kantor KONI. Mereka memprotes keputusan Komite Normalisasi yang menolak pencalonan kedua kandidat tersebut.

5 Mei 2011

Ketua Komite Banding Pemilihan, Ahmad Riyadh mengaku telah menerima berkas banding George Toisutta dan Arifin Panigoro. Pihaknya berniat memprosesnya bersama berkas lainnya mulai 9 Mei 2011.

6 Mei 2011

FIFA melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro mengajukan banding. FIFA bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia bila tetap memproses banding kedua kandidat tersebut.

9 Mei 2011

Kelompok 78 yang diwakili Wisnu Wardana, Usman Fakaubun, Hadiyandra, Imron Abdul Fatah, dan Sarluhut Napitupulu meminta Agum Gumelar mundur dari jabatannya sebagai ketua Komite Normalisasi. Mereka juga mengancam mengubah Kongres PSSI 20 Mei 2011 menjadi ajang untuk melengserkan Agum.

12 Mei 2011

-Komite Banding Pemilihan akhirnya mengabulkan banding George Toisutta dan Arifin Panigoro. Keduanya dianggap boleh mencalonkan diri saat Kongres PSSI pada 20 Mei 2011.

-FIFA menyetujui usulan reshuffle Komite Normalisasi. FIFA akhirnya mengganti lima annggota Komite Normalisasi, yakni Sukawi Sutarip (Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nuzanah (Arema), Samsul Ashar (Persik Kediri), Satim Sofyan (Pengprov PSSI Banten) dan Dityo Pramono (PSPS Pekanbaru). Mereka digantikan oleh Rendra Krisna (Presiden Kehormatan Arema FC), Sumaryoto (mantan Ketua Pengprov PSSI Jawa Tengah), Baryadi (Ketua Pengprov PSSI Sumatera Selatan) dan Sinyo Aliandoe (mantan pelatih timnas Indonesia).

Yang aneh adalah pelarangan George Toisutta untuk menjadi calon ketua PSSI dengan alasan yang tidak jelas. Padahal persyaratan untuk menjadi ketua PSSI diantaranya adalah; tidak pernah dipenjara atau berurusan dengan masalah hukum, aktif dalam organisasi PSSI dan berumur lebih dari 30 tahun. George Toisuta memenuhi semua kriteria FIFA, tapi entah mengapa FIFA bersikeras melarang pencalonan George Toisuta. Kita diharuskan tunduk pada aturan FIFA tapi kenyataan FIFA sendiri yang sering melanggar aturannya yang dibuatnya sendiri, terbukti dengan terpilihnya Nurdin Halid sebagai ketua PSSI selama 2 periode. Jadi perlu dipertanyakan sikap FIFA sebenarnya; maunya apa sih? Mengobok-obok persepak bolaan Indonesia?

Kaitannya dengan Agum Gumelar, Agum tidak punya suara karena beliau tidak mencalonkan diri. Jadi kekuasaannya sebagai ketua normalisasi juga seharusnya bergerak pada konstitusi PSSI, bahwa ia akan mengambil keputusan berdasar pada suara terbanyak. Bukan pada suka dan tidak sukanya FIFA, like or dislike is my PSSI, seharusnyalah Agum menyadari hal ini. Kalaupun ada perasaan itu, maka gantilah kelompok 78, dari daerah-daerah upayakan tidak memilih mereka, bisakah? Dengan catatan, semua biaya dan tetek bengeknya dalam tanggungan yang tidak suka! Kalaupun ada pihak-pihyang menuding mereka (kelompok 78) itu yang menjadi biang kerok kericuhan kongres PSSI rasanya tidak fair aja. Kalau kelompok 78 dibilang ‘penjahat’ maka saya sepakat mengatakan bahwa mereka adalah penjahat yang pintar karena bergerak dan bertindak sesuai statuta atau konstitusi yang berlaku…Lalu dimanakah kesalahan mereka???

**********

PS: terimakasih untuk Moch Assaif  B (suami saya yang hebat) untuk percakapan bermutunya di dapur pagi ini

19thfloor,20110523

Malika Assaif

*******************************************

Komentar:
  • 23 May 2011 12:15:47

    seppp banget bung, setuju. kebenaran dan keadilan sebuah proses hrs kita tunjukkan. keberanian untuk “MELAWAN STANDART GANDA YG TELAH DITUNJUKKAN OLEH FIFA ADALAH KEHARUSAN” SETELAH MENUNJUKKAN KESALAHAN FIFA MAKA LANGKAH BERIKUTNYA ADALAH PUBLIKASI KEPADA DUNIA PERSEPAK BOLAAN INTERNASIONAL BAHWA FIFA TELAH BERMAIN-MAIN DENGAN STATUTA /KEBIJAKAN FIFA BILA PERLU KAMPANYE BAHWA FIFA BERPOLITIK INTERNASIONAL

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:12:47

    sepakat Bung! Malah akhir2 ini ada kecenderungan membelokkan opini publik untuk mengambing hitamkan kelompok 78. Padahal apa yang mereka lakukan sudah sesuai statuta

    Suka
  • 23 May 2011 16:32:41

    Agar standard ganda bisa dihapus, berarti standard yang salah harus dianulir. Masalahnya, standard yang salah dulunya juga atas ’sepengetahuan’ FIFA. Kalau FIFA menganulir, berarti FIFA mengakui bahwa dulu FIFA salah. Dan rasanya agak mustahil deh FIFA mau begitu, karena bisa jatuh wibawanya. Makanya kayaknya mereka juga lg pusing musti ngapain jadi dibuatlah KN untuk membereskan dan mereka ‘mengawasi’ saja dan berharap semoga urusan beres dan muka tetap terjaga. Atau cara lain, belaga lupa yg dulu dan pakai patokan yg benar sekarang so bisa back on track and forget the past, tapi sialnya orang Indonesia daya ingatnya kuat 2x . . . peace . . .

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 12:16:38

    lha wong PSSI mengikuti aturan dan anggota dari FIFA, kok malah nyalahin FIFA ikut campur…kompetisi sepakbola dunia semuanya di bawah FIFA, lha kok bisa2nya bilang FIFA gak boleh ikut campur persepakbolaan Indonesia…klo mau PSSI gak diacak2 FIFA, ya keluar aja dari keanggotaan FIFA…lucu lo…

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:10:04

    tidak masalah kita diatur oleh FIFA asala sesuai statuta, lagian FIFA kan sekedar wadah sepak bola dunia. Yang menjadi masalah adalah jika pengaturan FIFA sendiri melanggar statuta. Pertama: ketika Nurdin terpilih jadi ketua PSSI padahal melangga statuta, apa yang dilakukan FIFA? mendiamkan saja kan? Kedua: konflik lanjutan, FIFA menciptakan konflik baru dengan tidak meloloskan George Toisutta sebagi calon Ketua PSSI dengan alasan tidak jelas. Yang patut anda tanya seharusnya FIFA:APA MAUMU???

    Suka
  • 23 May 2011 13:30:44

    KITA IKUT ATURAN FIFA SETUJU BRO TP TIDAK DENGAN SURAT SAKTI FIFA YANG GAK ADA DI ATURAN FIFA MUNGKIN OKNUM FIFA TAKUT RAHASIANYA KEBONGKAR KL GT/AP MAJU KIRA2 GT SO YG CALON KETUA UMUM KMAREN GAK ADA YG BAKAL BERANI NGUSUT SMUA SKANDAL D PSSI COBA TANYA SAPA YG BERANI CALON KMAREN KARENA AKAN MENGUSUT DIRINYA SENDIRI SAMA AJ JERUK MINUM JERUK BUNG

    Suka
  • 23 May 2011 16:35:56

    jeny yang baik..surat fifa tidak memiliki kekuatan hukum tetap masih inget 2007 suratt untuk nurdin halid contohnya ..googling aja dech biar bisa mengerti dengan sendirinya ..bukti surat FIFA tidak memiliki daya..malah statuta pun di telanjangi oleh nurdin dan oknum fifa

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 12:28:53

    nah itu dia – petanyaan kunci adalah ” FIFA” adalah organisasi yg mengatur kehidupan bersama organisasi sepak bola yg ada didalamnya melalui statuta atau perangkat hukum organisasinya menurut derajat pengambilan keputusannya. disaat sudah ada aturan sep yg saya sebutkan diatas, maka itu adalah aturan yg dibuat secara bersama oleh para oraganisasi yg ada didalamnya. para pemimpin FIFA bertindak hanya menjalankan sistem oraganisasi yg ada dialamnya. —- jd dari penuturan diatas/ dr tulisan ibu kita Malika dan berita viva news yg menjadi referensi —- BISAKAH KITA TERAPKAN SEBUAH ATURAN DENGAN STANDART GANDA ? KALAUPUN ATURAN ITU MAU KITA TERAPKAN, apa argumentasi yg sangat memungkinkan yg sesuai dan sejalan dgn aturan-aturan diatas ? sudahkah kita mengambil keputusan dengan FAKTA SESUAI ATURAN YG ADA ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:11:29

    Jadi ada apa dengan FIFA ya??

    Suka
  • 23 May 2011 13:01:02

    Ketauan banget gak nonton kongres kemarin yah. Nonton dulu deh di youtube. Liat dulu baik 2x, dengar dulu kata 2x makian kebon binatangnya, liat betapa ngototnya ingin diberi hak bicara tapi tak memberi orang bicara, liat bagaimana tata tertib dan cara beradab diabaikan. Kalau sudah lihat, dan masih dibilang tidak tercela, anggap saja saya hidup di dunia yang salah . . .

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:17:14

    kesalahan sebenarnya pada ketok palu Agum bukan pada kelompok 78. Saya bukan mendukun apa yang mereka lakukan, tapi siapa yang akan rela jika diperlakukan seperti mereka di kongres kemaren? yang namanya konggres ya begitu Bung! soal ribut-ribut itu biasa, memaki itu biasa….memang jamannya Pak Harto, semua satu komando, tanpa ribut-ribut. Lha rupanya AgumGumelar masih terbiasa dengan didikan militernya, yang terbiasa 1 komando, 1 suara…ketemu sama George Toisutta, sama militernya…itulah jadinya: Batu ketemu batu> Sekali waktu anda berorganisasi dan mengalami keributan konggres oke!

    Salam kenal, no hurt feeling!

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:26:54

    seandainya FIFA dan Agum Gumelar bisa menjelaskan apa kesalahan NB_ AP_GT yg membuat mereka tidak bisa ikut pemilihan ketua PSSI, pasti keruwetan ini akan segera terselesaikan…….
    belum berperang kok sudah disuruh legowo….please dech..
    masak anak negeri sendiri gak boleh memperbaiki olahraga sepak bolanya sendiri…..
    toh FIFA juga bukan organisasi yg bersih kan…

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:29:56

    makanya, yang membuat semua ini menjadi konflik sebenarnya siapa? Ruwet karena ulah siapa? Pastinya tamau yang tiba-tiba datang mengaca-acak kulkas kita kan?!

    Suka
  • 23 May 2011 13:57:32

    Sebenarnya sudah dijelaskan, hanya khan tidak mau menerima. Seperti anak kecil bertanya kenapa dihukum, dan kita jawab karena kamu mencuri. Dia akan tidak puas dan menuntut dijelaskan kenapa mencuri harus dihukum ? Kenapa mencuri itu salah ? Dan dari kriteria mana saya dibilang mencuri . . . Toh saya cuma ngambil dan bawa pulang hp teman saya . . . (jadi ingat betapa bingungnya saya menjelaskan ke anak saya kenapa tindakannya dibilang nakal . . . )

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:07:07

    hayooo Bung Marveen, penjelasan tidak bolehnya harus sesuai statuta bukan karena faktor like or dislike. ya kan, jangan karena alasan itu lalu melarang, namanya melanggar HAM lho! kalau Bung Marveen tahu kesalahan mereka, buat dong reportase atau opini sanggahan/tandingan gitu…hehehe…jadi orang awam seperti saya juga biar tau

    Suka
  • 23 May 2011 14:27:22

    FIFA telah menegaskan bahwa GT AP tidak boleh maju karena mereka adalah pelopor LPI yang merupakan Breakaway League ( bahasa yang sangat sopan saya kira, daripada Illegal League ) dimana di suatu negara hanya boleh ada 1 Liga Premier dan klub sepakbola harus bersaing dalam sistem promosi – degradasi untuk mencapai ke sana. LPI tiba 2x muncul dengan kekuatan uang, dan langsung mengklaim sebagai Liga Premier ( yang paling utama ), dimana hal ini merupakan sebuah penyelewengan sistem kompetisi diman klub baru berdiri saja langsung bisa masuk LPI dan mengklaim sebagai Liga tertinggi. Dalam hal ini jelas bahwa LPI hadir dan merusak sistem kompetisi yang ada, yang mana juga berlaku di seluruh negara di dunia. GT-AP adalah para penggagasnya, dan saya rasa wajar jika FIFA melarang mereka maju, karena belum jadi ketua saja sudah memporak porandakan sistem, apalagi jika sudah jadi ketua.

    Ambil contoh sederhana : Ibu punya anak, sekolah dari TK, lalu SD kelas 1,2,3,4,5,6, sampai SMA. Tiba 2x muncul sekolah baru dimana dengan kekuatan uang anak yang sekolah disana gak perlu masuk SD bisa langsung lulus SMA. Apakah menurut Ibu, sekolah baru tersebut tidak melecehkan begitu banyak siswa yang berjuang dari dasar hingga puncak waktu demi waktu ? Nah kurang lebih seperti itulah gambaran dalam pikiran saya mengenai LPI yang dijadikan alasan penolakan FIFA, walaupun saya akui mungkin sistem keuangan klub yang diadopsi LPI adalah mungkin yang lebih baik, tapi caranya itu menurut saya tidak begitu baik …. Apa kata dunia kalau Indonesia punya 2 juara ? Siapa yang akan mewakili Indonesia sebagai juara kalau ada 2 liga utama yang legal ? Tar pake acara ribut lage rebutan jatah )

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:41:43

    persoalannya bukan masalah calonnya Bung. Karena sebagai catatan: George Toisutta tidak mempelopori LPI, hanya Arifin Panigoro. lagian apakah distatuta FIFA punya aturan begitu? Saya rasa tidak!

    Lalu apakah permasalah lantas selesai dengan mengabaikan suara kelompok 78? Dari 103 peserta, 78 peserta kecewa….separuh lebih yang kecewa. Hal ini akan memicu konflik tak berkesudahan. Bukankah sebaiknya kita biarkan George Toisutta memimpin dulu lalu kita lihat kinerjanya; kalu tidak sesuai, baru kita ngomong : “nah itu lho pilihan kalian.” (saya ngomong begini bukan dalam kapasitas saya mendukung George Toisutta), saya hanya beropini, alangkah damainya jika semuanya menaati statuta yang berlaku.

    Suka
  • 23 May 2011 15:10:38

    Bung Marveen, sebelum kongres digelar Ketua Normalisasi bilang LPI sudah dibawah kontrol PSSI, artinya alasan LPI sudah tidak berlaku lagi…

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 15:32:27

    Yup begitu sih katanya, tapi under control itu seperti apa belum diputuskan. Apakah akan dibubarkan atau diakui sebagai liga utama kedua ? Apakah sudah ada kelanjutan, kita juga gak begitu tau karena sibuk dgn yg lbh seru ^^v. Dibawah kontrol bisa jadi hanya sekedar mengetahui dan dalam pengawasan, tapi statusnya tetap dianggap Breakaway League. Kalaupun dianggap kontrol penuh, LPI menjadi under PSSI yang mana berarti lepas dari GT AP, tapi tetap saja akan menjadi track record buruk bagi mereka sebagai pencetus The Breakaway League dimana track record buruk pun dapat menjegal . . .

    Btw, thx to PSSI saya jadi gak bosan di waktu senggang, jadi banyak bacaan dan menambah pengetahuan dari banyak sisi pemahaman ^^v

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:39:23

    sedih ane ..oleh bangsanya sendiri kita di takuti oleh hantu yang namanya sanksi FIFA ..FIFA sendiri bingung alasan apa untuk bisa menjatuhkan sanksi kepada indonesia ?

    FIFA sendiri harus menghitung untung ruginya karena sudah pasti akan berhadapan dengan CAS

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:40:57

    JIKA kalah fifa dalam sidang CAS SETELAH fifa menjatuhkan sanksi paling tidak FIFA harus menggelontorkan dana besar untuk kerugian yang di tanggung indonesia.. dari sebanyak sanksi FIFA kepada puluhan negara tapi indonesia yang berbeda..ada apa ya dengan regennass mmm mungkin maksudnya wani piro ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:45:43

    Untuk George Toisutta, saya kira jenderal yang satu ini tidak bisa termasuk dalam orang yang berkecimpung dalam liga breakaway (LPI). Padahal, nama George Toisutta baru mencuat ke permukaan selama 4-5 bulan terakhir ini. Tidak pernah ada ceritanya GT mengurusi LPI. Namun, pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat FIFA sekelas Thierry Regenass itu saya rasa cukup menimbulkan suatu tanda tanya besar. Bukan tanpa alasan Regenass melontarkan pernyataan seperti itu. Bahkan yang bisa membuat saya tersenyum adalah, Regenass yang notabene adalah pejabat teras di FIFA, yang seharusnya cukup hafal tentang pasal-pasal Statuta FIFA dan Electoral Code FIFA pun tidak bisa memberikan jawaban tentang statuta mana dan electoral code bagian mana yang dilanggar oleh pasangan AP-GT. Dan Regenass hanya berkeringat sambil garuk-garuk kepala. Dalam hal ini, K78 yang benar.
    Kongres di ballroom Hotel Sultan yang ricuh kemarin pun, tampaknya sudah merupakan sebuah skenario dari salah satu pihak yang terkesan legowo, tetapi sesungguhnya dia menjadi dalang dari berbagai kejadian baru-baru ini. Agum Gumelar, Djoko Driyono, bahkan Thierry Regenass adalah wayangnya. Sangat di luar nalar jika mantan pimpinan Kopassus seperti Agum menghentikan kongres secara sepihak dengan alasan yang konyol : tidak kuat lagi menghadapi peserta kongres yang menuntut haknya dipenuhi. Sangat di luar nalar apabila Thierry Regenass tidak bisa menjelaskan pasal statuta mana yang dilanggar oleh pasangan Arifin Panigoro dan George Toisutta.

    Suka
  • 23 May 2011 16:49:19

    Sebenarnya, masalah sanksi itu masalah lobi saja. Di tahun 2007, sewaktu Nurdin Halid menjabat dari balik jeruji besi, seharusnya Indonesia terkena sanksi. Tetapi karena lobi-lobi yang kuat dari antek-antek Nurdin, terutama Komplotan Statusquo, sanksi itu tidak terjadi. Bahkan kemarin sewaktu Pemerintah melalui Menegporaa ikut mengintervensi PSSI, seharusnya juga kan kita kena sanksi. Tapi nyatanya? Nol.
    Skenario penggiringan opini publik inilah yang mengkhawatirkan adanya revolusi di sepakbola nasional. Kita tahu bersama, saat ini, media-media milik Komplotan Statusquo sedang gencar-gencarnya menghancurkan K78 dan selalu menebar teror dengan adanya sanksi FIFA. Padahal, jika toh memang kita disanksi FIFA, maka gugatan CAS (Komite Arbitrase Olahraga) akan masuk, menggugat FIFA sebesar 500 juta Euro per hari. Tentunya juga FIFA tidak bodoh sembarangan memberi sanksi untuk Indonesia karena benar-benar tak ada aturan yang dilanggar. Bahkan FIFA sendiri yang melanggar aturan tersebut dengan menolak pencalonan AP-GT tanpa dasar.

    Salam VIVA PSSI!

    Suka
  • 23 May 2011 13:49:50

    ironis khan sebenarnya. Kalau menurut saya, yg acak 2x kulkas kita sebenarnya sesama penghuni rumah juga. Trus ribut 2x di rumah gak karuan, sampai akhirnya Pak RT hansip datang karena ributnya kita sudah cukup mengganggu ketertiban lingkungan. Trus kita tetap saja ribut, dan mulai menyalahkan Pak RT dan hansip memperkeruh keributan kita dan lama 2x mulai jadi kambing hitam pemicu keributan kita dan dibilang melanggar kedaulatan kita di rumah . . . Hehehe kurang lebih seperti itulah kalau yg saya lihat terjadi . . . (sumpe saya ngos 2xan neh ngetik ini . . . )

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:58:02

    hahaha…saya mengahargai ngos-ngosan anda Bung Marveen. Seluruh penghuni rumah ribut gara-gara ada penghuni rumah tercela akrena ia mencuri dan merampok mencoba menguasai rumah dan Pak RT maupun Hansip tutup mata….lalu ada pemilihan kepala rumah tangga, Pak RT ngriwuk-i karena ngga suka. Jadi, bahasa ekstrimnya: Pak RT melanggar HAM salah satu penghuni rumah hanya karena faktor tidak suka. Harusnya kalau tidak suka, pindahkan penghuni rumah itu dulu. Baru berupaya memilih penghuni baru, ya to.Ini sekedar opini sih Bung Marveen, benar tidaknya wallahu ‘alam…

    Suka
  • 23 May 2011 14:32:06

    Hayoo ada yang tahu arti kata NGRIWUK-I gak? Goleki ndek kamus KBBI gak ono kuwi. Do buingung …
    Saya sepemahaman dengan mbak Malika. Sejak Agum kehilangan jati diri pasca ’sowan’ ke FIFA. Padahal awalnya saya mendukung dan berharap Agum bisa menjadi tokoh yang dihormati untuk menyelesaikan ini. Ternyata akhirnya begini. Sambil iseng2 boleh mampir ke sini Mbak!
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/04/19/fifa-pun-harus-belajar-dan-mau-mendengarkan-agum-si-jalak-harupat-muda-gumelar/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/04/28/fifa-kah-sumber-kemelut-sepak-bola-kita/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/05/13/kn-pak-agum-masihkah-bisa-diharapkan/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/05/13/komite-normalisasi-masih-normalkah-siapa-yang-normal-dan-siapa-yang-tidak-normal/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/05/22/fifa-agum-kn-penanggungjawab-kegagalan-kongres-pssi-janganlah-kita-terpecah-belah/
    Kalau kebanyaken, hapus aja mbak. Nggak papa kok. Ini sekedar berbagi saja,karena seperti kronologis yang mbak sampaikan, jadi biar prosesnya terlihat.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:45:34

    @Tri Hatmoko: terimakasih sudah mampir dan mengapresiasi tulisan saya. Semoga kita bisa saling berbagi informasi dan mencerahkan, amin.

    Salam Kenal!

    Suka
  • 23 May 2011 14:49:02

    LPI pada dulunya didirikan bukan dgn orientasi duit secara penuh – namun didirikan hanya untuk menjungkirbalikkan kepemimpinan NH yg selalu didukung penuh oleh FIFA. keputusan menjungkirbalikkan ini diambil krn ada pihak2 yg peduli dgn nasib persepakbolaan RI ini yg dalam anggapan mereka FIFA sudah bermain mata dgn melanggar statuta yg ada. — dalam prespektif ini FIFA tau dirinya salah dan PSSI NH tau diri bersalah tidak berani “pamer kekuatan” terhadap pengelola LPI. ——– sekarang adalah waktu bagi FIFA untuk bermain dan menggiring bola dgn permainannya tuk menolak AP dan GT, terbukti dgn fakta suratnya ke K Normalisasi — yg tanpa memberithukan dasar kesalahnnya tidak layak untuk masuk bursa calon. — kondisi ini ditambah lagi dgn komite banding yg memperbolehkan AP dan GT untuk ikut bursa pencalonan — — jalan keluar terlihat buntu jk AP dan GT serta kelompok pendukungnya tetap ngotot —- mengapa harus ngotot ? menurut hemat saya karena memang mereka jg melaluinya sesuai aturan yg ada — sebenarnya siapa pihak yg paling bermasalah dalam kisruh PSSI ini ? jawaban saya adalah FIFA — siapa yg menginginkan situasi ini terjadi begini ? jawaban saya adalah ” NH dan pendukungnya”. — pentingkah kita keluar dari FIFA ? jawaban saya adalah penting untuk mengingatkan FIFA agar jgn bermain-main dikemudian hari kepada negara mana saja untuk melakukan standart ganda statuta FIFA

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:57:06

    BRAVO Bung Safrudin Siahaan!

    Terkena sanksi FIFA tidak masalah, hal ini bisa dimanfaatkan untuk konsolidasi ke dalam. Dan biarlah ini jadi pembelajaran buat FIFA kedepannya, amin

    Suka
  • 23 May 2011 15:21:39

    Btw, kalau mau dibenerin memang harusnya banned sekalian, bubarkan PSSI, bangun lagi dari nol biar bebas dari kuman 2x yg masih menempel. Hanya saja, sejak ricuh kongres saya rajin buka situs FIFA, blm ada kabar berita. Disinggung aja nggak . . .

    Feeling saya sih FIFA sendiri kebingungan, karena blundernya jaman NH dulu sekarang mau diperbaiki pun tak bisa karena kesalahan tsb dijadikan pedoman kalangan tertentu di sini. Sepertinya saking sakit hatinya, rakyat Indonesia tidak terlalu bisa melupakan dan tiap kali diungkit 2x lagi kenapa dulu begini begitu, dan kesalahan yg keterusan lama 2x jadi pembenaran . . .

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:08:03

    Suspensi FIFA

    Apa, mengapa dan bagaimana Federasi anggotanya bisa dijatuhi hukuman? (Seperti ditulis oleh: Jusak Soenarjo pada 22 Mei 2011 jam 11:58 di catatan Facebooknya)

    1. BOSNIA

    Federasi Sepakbola Bosnia-Herze-govina (FFBH/NSBiH) telah diberhen-tikan sementara oleh FIFA hingga pem-beritahuan selanjutnya. Keputusan ini dianggap perlu karena Kongres FFBH tidak mengadopsi statutanya sesuai dengan persyaratan FIFA dan UEFA. Eksekutif Komite FIFA pada tanggal 28 Oktober dan UEFA pada tanggal 4 Oktober 2010 telah meminta FFBH untuk mengadopsi statutanya sesuai dengan persyaratan minimum dari FIFA dan UEFA paling lambat pada tanggal 31 Maret 2111, atau FFBH akan secara langsung dan otomatis diberhentikan sementara.

    Kongres FFBH yang diselenggarakan di Sarajevo pada tanggal 29 Maret 2011 tidak mencapai korum yang diper-lukan untuk mendukung diadopsi-nya Statuta FFBH, karena hanya 22 dari 54 dari pemilik hak suara yang mendu-kung untuk mengadopsi Statuta FFBH. Konsekwensinya FFBH telah kehilang-an hak keanggotannya yang berlaku seketika hingga adanya pemberita-huan selanjutnya. Perwakilan dan klub FFBH tidak mempunyai hak lagi untuk ikut serta pada kompetisi internasional terhitung tanggal 1 April 2011 hingga diselesaikannya persoalan di atas. Hal ini juga berarti bahwa sejak tanggal 1 April 2011 tidak ada perwakilan atau oficial FFBH dapat berpartisipasi pada setiap pertandingan atau kegiatan internasional. FIFA dan UEFA sangat menyayangkan bahwa keputusan ini harus dilakukan dan akan segera me-lakukan pertemuan untuk membica-rakan langkah yang lanjutan yang di-perlukan untuk mengembalikan FFBH menjadi anggota komunitas sepakbola sesegera mungkin.

    2. ETHIOPIA

    FIFA Emergency Committee telah memutuskan untuk memberhentikan sementara Federasi Sepakbola Ethopia (EFF), karena EFF tidak memenuhi roadmap yang telah disetujui pada bulan Pebruari 2009 oleh FIFA, CAF dan AFF untuk mengembalikan EFF menjadi normal. Salah satu unsur uta-ma yang ditentukan di dalam roadmap adalah penyelenggaraan dari Kongres luar biasa untuk menyelesaikan ma-salah usul pemberhentian. Sebagai tambahan, kepengurusan EFF harus diserahkan kepada pemimpin yang diakui dari EFF. Meskipun telah diper-ingatkan beberapa kali yang dikirimkan FIFA di dalam beberapa bulan bela-kangan, tidak ada satu langkahpun yang ditentukan di dalam roadmap te-lah dilakukan. Pemberhentian semen-tara EFF dan konsekwensinya seba-gaimana ditentukan Pasal 14 ayat 3 Statuta FIFA berlaku pada hari ini, Selasa, 29 Juli 2008, hari dimana EFF telah secara resmi diberitahukan ten-tang pemberentian sementara.

    3. CHAD

    Mempertimbangkan situasi dewasa ini antara Sudan dan Chad, FIFA telah memutuskan untuk memberhentikan sementara dari pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia 2010 antara Sudan dan Chad, yang rencananya akan dilakukan pada tanggal 31 Mei 2008. Kasus ini akan disampaikan se-gera kepada Biro dari Organizing Com-mittee Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, yang akan menentukan keputusan final mengenai pertandingan dan setiap tin-dakan yang mungkin dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku bagi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

    FIFA Emergency Committee telah memutuskan untuk mencabut pember-hentian sementara yang dijatuhkan Komite Eksekutif FIFA terhadap Aso-siasi Sepakbola Chad (FTFA) pada tanggal 28 Maret 2008 karena campur tangan pemerintah di dalam urusan internal dari FTFA dan pada persepak-bolaan Chad (lihat http://en/. fifa.com/-aboutfifa/media). Emergency Commit-tee mencatat dengan memuaskan bahwa Menteri Olahraga Chad telah mengeluarkan keputusan menteri pada tanggal 3 Mei 2008 yang membatalkan keputusan menteri yang terdahulu yang mengakibatkan sanksi dari FIFA. Kare-na ketertiban statuta telah dipulih-kan pada FTFA dan badan-badan yang sah telah dikembalikan, FIFA Emergency Committee memutuskan untuk menca-but pemberhentian sementara atas Asosiasi Sepakbola Chad sejak hari ini, Rabu, 7 Mei 2008.

    4. IRAK

    Pada hari pertama pertemuannya di Sydney, Komite Eksekutif FIFA telah memutuskan untuk memberhentikan sementara Asosiasi Sepakbola Irak (IFA) sejak tanggal 26 Mei 2008, kare-na adanya keputusan pemerintah yang dilakukan pada tanggal 20 Mei yang membubarkan NOC Irak dan semua federasi olahraganya, termasuk IFA. Komite Eksekutif FIFA juga memutus-kan bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat 1 Statuta FIFA, kasus IFA akan disampaikan kepada Kongres FIFA pada tanggal 30 Mei untuk diber-hentikan sementara sampai Kongres 2009 FIFA, yaitu selama satu tahun. Akan tetapi, pemberhentian sementara yang diputuskan hari ini dapat diangkat apabila FIFA tanggal 29 Mei, tengah malam (waktu Sydney), 16.00h CET, konfirmasi tertulis dari Pemerintah Irak yang me-nyatakan keputusan itu telah dibatalkan.

    FIFA Emergency Committee hari ini, 20 November 2009 telah memutuskan untuk memberhentikan sementara IFA karena campurtangan pemerintah. FIFA mengetahui bahwa pada tanggal 16 November NOC Irak telah memba-talkan keanggotaan IFA dan aparat keamanan pemerintah telah mengam-bil alih kontrol kantor pusat IFA. Pada hari yang sama, FIFA telah memberi-tahukan kepada IFA bahwa apabila keputusan itu tidak dibatalkan di dalam waktu 72 jam dan apabila kantor pusat IFA tidak dikembalikan di dalam jangka waktu yang sama, kasus itu akan di-sampaikan kepada FIFA Emergency Committee. Tenggat waktu telah bera-khir tanpa pembatalan keputusan dari NOC Irak dan kantor pusat IFA tidak dikembalikan. FIFA Emergency Com-mittee karenanya telah memutuskan untuk seketika memberhentikan se-mentara IFA sampai keputusan NOC Irak dibatalkan dan kantor pusat IFA dikembalikan. Sesuai dengan keten-tuan Statuta FIFA, klub-klub dan tim perwakilan Irak tidak lagi diperbolehkan untuk ambil bagian pada pertandingan internasional, apakah kompetisi atau persahabatan. Lebih lanjut IFA diha-puskan haknya votingnya pada setiap kongres yang diselenggarakan oleh badan internasional dan tidak lagi berhak menerima bantuan keuangan. Akan tetapi FIFA Emergency Commit-tee telah menyetujui untuk memper-bolehkan tim perempuan Irak untuk mengambil bagian pada U-16 pestival sepakbola regional yang diselenggara-kan oleh Asosiasi Sepakbola Norwegia di Jordan pada tanggal 22-29 Novem-ber. Tindakan yang dilakukan oleh NOC Irak dan aparat keamanan tidak dapat diterima FIFA karena secata keseluruhan bertentangan dengan Sta-tuta IFA dan Statuta FIFA. Para ang-gota dari Komite Eksekutif IFA yang menjabat adalah satu-satunya yang diakui oleh FIFA, dan FIFA mengha-rapkan bahwa mereka secara cepat dipulihkan agar mereka dapat bekerja dengan persetujuan bahwa mereka akan melakukan perubahan atas sta-tuta dan menyelenggarakan pemilihan.

    FIFA Emergency Committee pada hari ini, Kamis, 29 Mei 2008, telah memu-tuskan untuk sementara dan bersyarat membatalkan pemberhentian semen-tara yang dikenakan terhadap Asosiasi Sepakbola Irak (IFA) pada tanggal 26 Mei dikarenakan adanya campur ta-ngan pemerintah setelah keputusan no. 184/2008 tertanggal 20 Mei telah mem-bubarkan badan yang berlaku dari Komite Olimpiade Nasional (NOC) Irak dan seluruh federasi olahraga nasional, termasuk IFA, serta membentuk suatu “komite interim” yang dipimpin oleh Menteri Olahraga. Sejak itu, keadaan berubah. Kemarin, tanggal 28 Mei 2008, FIFA menerima surat dari Sekre-tariat Jenderal Dewan Menteri Republik Irak, yang menyatakan bahwa IFA te-lah “dilepaskan” dari keputusan terse-but di atas, yang karenanya membuat kembali keputusan undang-undang atas asosiasi Irak dan para pemim-pinanya, yang akan “melanjutkan kegi-atan mereka dalam dan diluar negara Irak hingga pemilihan sah [dalam IFA]“. Surat ini merupakan langkah positif, tetapi tidak sepenuhnya menjawab se-mua masalah FIFA mengenai langkah pemerintah untuk mengendalikan fede-rasi Irak dan Komite Olimpiade Nasio-nal. Oleh karenanya, FIFA telah memutus-kan untuk menarik pemberhentian sementara yang dikenakan terhadap IFA, tetapi secara sementara dan ber-syarat, yang berarti bahwa FIFA:

    – dapat segera mengenakan kembali pemberhentian tersebut apabila Pasal 17 FIFA Statutes dilanggar kembali;

    – akan mengundang delegasi yang terdiri dari Konfederasi Sepakbola Asia Football Confederation (AFC), IFA dan perwakilan pemerintah Irak ke Zurich sesegera mungkin untuk menjelaskan seluruh masa-lah yang belum terselesaikan;

    – akan terus mengkoordinasi lang-kah-langkah yang telah diambilnya sehubungan dengan IFA, suatu badan yang merupakan anggota penting dari Komite Olimpiade Nasional Irak, dengan upaya yang diambil oleh IOC untuk menjamin bahwa Olympic Charter berlaku atas seluruh Olimpiade Irak dan gerakan olahraganya.

    5. CHAD

    FIFA Emergency Committee telah me-mutuskan memberhentikan semen-tara Asosiasi Sepakbola Chad (FTFA). Di dalam sejumlah keputusan tanggal 13, 14 dan 17 Maret 2008, Menteri Pemu-da dan Olahraga Chad membubarkan eksekutive komite dari FTFA dan mem-bentuk suatu komite dengan tugas “pempersiapkan Kongres FTFA” dan mengangkat para anggota dari badan itu. Keputusan ini adalah melanggar prinsip dari Statuta FIFA, khususnya Pasal 17, yang menjamin kemandirian dari asosiasi anggota FIFA. Dengan situasi yang sama, berdasar-kan ayat 2 dan 3 Pasal 17 itu, FIFA dapat tidak mengakui badan-badan yang diangkat yang melanggar ketentuan Pasal 17 ayat 1 (“Komite” yang disebutkan di atas) atau setiap keputusan yang di-buatnya, seperti organisasi pemilihan dan hasil-hasilnya, Pemberhentian sementara FTFA dan konsekwensinya sebagai-mana diatur pasal 14 ayat 3 Statuta FIFA berlaku sejak hari ini, Jumat, 28 Maret 2008.

    6. MALAGASI

    FIFA telah diberitahukan keputusan yang diambil oleh Mahkamah Agung Ma-dagaskar untuk menolak Asosiasi Sepakbola Malagasi (FMF) untuk me-nunda perintah kementerian yang membubarkan FMF. Sebagai akibat-nya, pemberhentian sementara terha-dap FMF dan tindakan-tindakan yang ditetapkan dalam Pasal 14.3 FIFA Sta-tutes telah berlaku hari ini, Rabu 19 Maret 2008, sebagaimana diputuskan oleh Komite Eksekutif FIFA pada tang-gal 14 Maret. Sebaliknya baik „delegasi khusus‟ Menteri Olahraga tidak ber-maksud membentuk maupun setiap keputusan badan ini tidak diambil pada akhirnya, akan dikenal oleh FIFA, sesu-ai dengan Pasal 17 ayat 2 dan 3 Sta-tuta yang sama.

    7. NIGERIA

    FIFA Emergency Committee memutus-kan hari ini tanggal 4 Oktober 2010, untuk memberhentikan Federasi Se-pakbola Nigeria (NFF) yang berlaku se-ketika atas dasar intervensi peme-rintah. Keputusan ini menyusul peristi-wa terakhir yang terkait dengan NFF, seperti tindakan pengadilan terhadap anggota Komite EKsekutif NFF yang dipilih, yang mencegah mereka melak-sanakan fungsi dan tugasnya, turunnya Sekretaris Jenderal NFF yang menja-bat atas instruksi Komisi Olahraga Nasional, keputusan Menteri Olahraga untuk memulai Liga Nigeria tanpa ada-nya relegasi dari musim sebelumnya, serta fakta bahwa Komite Eksekutif NFF tidak dapat bekerja sebagaimana layaknya dikarenakan adanya inter-vensi tersebut. Pemberhentian semen-tara tetap berlangsung hingga terhen-tinya tindakan dari pengadilan dan Komite Eksekutif NFF yang dipilih da-pat bekerja tanpa adanya intervensi. Selama masa pemberhentian semen-tara, NFF tidak akan dapat diwakili da-lam kompetisi wilayah, benua atau internasional, termasuk tingkatan klub, serta tidak juga dalam pertandingan persahabatan. Disamping itu, baik NFF maupun setiap anggota atau officialnya tidak dapat mengambil keuntungan dari program, kursus atau pelatihan pe-ngembangan dari FIFA atau CAF sementara federasi sedang diberhenti-kan. FIFA Emergency Committee memutuskan hari ini tanggal 8 Oktober 2010, untuk sementara mencabut pember-hentian sementara Federasi Sepakbola Nigeria (NFF). Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan situasi yang membaik dewasa ini, dengan pembanding menanggapi tindakan pengadilan kepada umum berjanji menarik kembali tuntutan bandingnya, Sekretaris Jenderal NFF yang menjabat kembali kepada kedudukannya pada tanggal 5 Oktober 2010 dan kasus Liga Nigeria diserahkan sepenuhnya ke tangan NFF. Pemberhentian semen-tara telah dicabut sementara hingga tanggal 26 Oktober 2010, setelah me-ngetahui bahwa sidang berikutnya di hadapan pengadilan dijadwalkan untuk tanggal 25 Oktober 2010 dan hanya pada saat itu hakim dapat membebas-kan perintah pengadilan. Namun, apa-bila NFF masih terikat pada putusan pengadilan atau perkara lain yang mencegahnya untuk melakukan apa-pun secara bebas pada tanggal terse-but, maka pemberhentian sementara dengan sendirinya dinyatakan hingga seluruh perkara telah diselesaikan sepenuhnya.

    8. SALVADOR

    FIFA Emergency Committee memutus-kan kemarin, 11 Mei 2010, untuk mem-berhentikan sementara Asosiasi Se-pakbola Salvador (FESFUT) dengan adanya campur tangan pemerintah. Keputusan oleh FIFA ini berdasarkan fakta bahwa statuta yang disahkan oleh sidang umum FESFUT pada bulan Agustus 2009 belum secara resmi dimasukkan dalam daftar resmi negara tersebut, dan bahwa pemerintah tidak mengakui wewenang dibentuknya Nor-malisation Committee untuk mewakiliFESFUT. Alhasil, FIFA berpendapat bahwa tidak mungkin bagi FESFUT untuk menyelenggarakan sidang umum pemilihan sejalan dengan rencana tindakan yang telah dibuat dan telah memberhentikan sementara FESFUT hingga pihak berwenang Salvador se-cara resmi menerima keabsahan Ko-mite Normalisasi yang dibentuk oleh FIFA dan menandatangani statuta baru yang ditentukan oleh sidang umum FESFUT pada bulan Agustus 2009.

    Apabila pihak berwenang Salvador tidak mempertimbangkan kedudukan mereka pada siang hari (GMT) tanggal 8 Juni 2010, Komite Eksekutif FIFA akan mengajukan kepada Kongres FIFA bahwa FESFUT dikenakan pem-berhentian sementara. Apabila Kong-res menerima pengajuan ini, maka mungkin bagi FIFA untuk membatalkan pemberhentian sementara tersebut hingga Kongres FIFA selanjutnya pada bulan Juni 2011. Selanjutnya, selama masa pemberhentian sementara, FES-FUT tidak dapat diwakilkan dalam seti-ap pertandingan wilayah atau interna-sional. Sebagai contoh, tiga wasit yang dipilih bagi Piala Dunia FIFA tahun 2010 di Afrika Selatan tidak dapat ber-partisipasi dalam kompetisi ini apabila FESFUT tetap diberhentikan semen-tara. Walaupun bersifat seriusnya situ-asi ini, Komite Eksekutif FIFA telah me-nunjukkan dukungan bagi Komite Nor-malisasi FESFUT, pihak berwenang yang terakhir yang diterima oleh FIFA.

    Dikarenakan dua ketentuan yang diatur oleh FIFA telah dipenuhi, maka FIFA Emergency Committee hari ini tanggal 27 Mei 2010 mencabut pemberhentian sementara Asosiasi Sepakbola Salva-dor (FESFUT) yang berlaku seketika. Setelah adanya penolakan dari pihak berwenang Salvador untuk mengakui keabsahan Normalisation Committee yang diberlakukan oleh FIFA dan ke-mudian mendaftarkan statuta FESFUT yang baru, maka FIFA Emergency Committee telah memutuskan pada tanggal 10 Mei 2010 untuk member-hentikan sementara FESFUT yang ber-laku seketika hingga pihak berwenang secara resmi menerima keabsahan Normalisation Committee dan mendaf-tarkan statuta FESFUT yang baru. Pada tanggal 17 Mei 2010, Parlemen Salvador mengeluarkan keputusan untuk mengubah undang-undang yang berlaku bagi pihak berwenang untuk memenuhi permintaan FIFA. Pada tanggal 20 Mei 2010, Normalisation Committee FESFUT kemudia secara resmi mengakui dan statuta yang baru didaftarkan oleh Ministerio de Gober-nación (menteri dalam negeri).

    9. PERU

    FIFA telah memberhentikan sementara Asosiasi Sepakbola Peru (FPF) yang berlaku seketika sejak tanggal 25 No-vember, sesuai dengan Pasal 14 Sta-tuta FIFA dan menjatuhkan sanksi yang diatur dalam ayat 3 Pasal terse-but, yaitu pemberhentian sementara seluruh hubungan keolahragaan inter-nasional bagi klub, tim nasional, wasit dan officialnya.

    Dalam sidangnya tertanggal 23 dan 24 Oktober, Komite Eksekutif FIFA memu-tuskan untuk memberikan kesempatan kepada asosiasi sepakbola Peru (FPF) hingga 21 November untuk mengkon-firmasi kepada FIFA dan CONMEBOL bahwa asosiasi telah memberlakukan kembali keputusannya sesuai dengan undang-undang keolahragaan interna-sional dan prinsip FIFA. FPF tidak da-pat melakukan hal tersebut, namun, walaupun jangka waktu diperpanjang hingga dua hari karena libur nasional setempat. FIFA menyesali bahwa ba-dan keolahragaan pemerintah Peru tidak pernah menanggapi sejumlah undangan untuk melakukan pembi-caraan yang telah diperpanjang oleh FIFA, CONMEBOL dan the FPF de-ngan itikad baik hingga lebih daripada dua tahun untuk mencapai solusi konstruktif bagi persepakbolaan Peru. FIFA berharap melakukan penjelasan bahwa FPF hanya akan diizinkan untuk kembali ke dunia dan komunitas perse-pakbolaan Amerika Selatan dengan adanya perundingan dengan Presiden dan Badan dari FPF yang dipilih pada bulan Oktober 2007. Pemberhentian sementara atas FPF akan dibicarakan dalam sidang Komite Eksekutif FIFA selanjutnya, yang dijadwalkan pada tanggal 19 dan 20 Desember di Tokyo, Jepang.

    10. ALBANIA

    FIFA Emergency Committee telah me-mutuskan mencabut pemberhentian sementara yang dikenakan oleh Komite Eksekutif FIFA terhadap Asosiasi Se-pakbola Albania (FSHF) pada tanggal 14 Maret 2008 setelah adanya inter-vensi dari pemerintah dalam urusan internal FSHF dan persebakbolaan Albania (lihat http://en.fifa.com/ aboutfifa/media) Setelah melewati pembicaraan yang melibatkan FIFA, UEFA, FSHF dan pihak berwenang Albania, statuta baru FSHF akhirnya ditandatangani oleh Menteri Olahraga Albania, Ylli Pango, dan mendaftarkan-nya secara layak pada pengadilan Albania setelah Menteri Olahraga Alba-nia menghentikan proses hukum yang diambilnya. Selanjutnya, kelompok ker-ja empat pihak yang terdiri dari FIFA, UEFA, FSHF dan Kementrian Olahraga kemudian dibentuk. Sehubungan de-ngan fakta ini dan setelah mengkon-sultasikan dengan UEFA, FIFA memu-tuskan untuk mencabut pemberhentian sementara terhadap Asosiasi Sepak-bola Albania pada hari ini, Selasa 29 April 2008.

    11. KUWAIT

    Hari ini tanggal 9 November 2007, FIFA Emergency Committee mem-batalkan secara bersyarat pemberhen-tian sementara yang dikenakan terha-dap Asosiasi Sepakbola Kuwait (KFA) oleh Komite Eksekutif FIFA pada tang-gal 29 Oktober 2007 (lihat peluncuran media disebelah kanan). Pada tanggal 4 November 2007, sidang umum luar biasa KFA menyatakan bahwa penun-jukan dewan direksi pada tanggal 9 Oktober 2007 batal demi hukum. Juga telah sepenuhnya dibentuk kembali komite transisi yang telah dibentuk FIFA pada tanggal 12 Maret 2007. Selanjutnya, KFA setuju untuk menge-sahkan statuta baru yang disetujui oleh FIFA pada tanggal 26 November 2007. Persetujuan ini kemudian termasuk keputusan yang diberikan oleh Komite Eksekutif FIFA pada tanggal 27 Mei 2007, yang menetapkan bahwa dewan direksi harus terdiri dari lima anggota, yaitu ketua, wakil ketua dan tiga perwa-kilan lainnya. Akhirnya, KFA telah ber-janji mengadakan pemilihan baru bagi dewan direksinya, sejalan dengan sta-tuta baru dan keputusan FIFA. Sehu-bungan dengan adanya tanggapan baik atas situasi ini, FIFA Emergency Committee memutuskan, atas usul Presiden FIFA dan menurut kesepa-katan dengan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC), bahwa Emergency Com-mittee akan membatalkan pemberhen-tian sementara yang dikenakan terha-dap KFA. Tetapi, keputusan ini bersifat bersyarat atas komitmen yang dibuat oleh KFA yang berlaku seluruhnya, sebaliknya FIFA akan segera member-hentikan sementara KFA kembali.

    12. KENYA

    FIFA Emergency Committee pada hari ini (Jumat, 9 Maret 2007) memutuskan untuk melakukan pencabutan bersyarat atas pemberhentian sementara yang dikenakan terhadap Federasi Sepak-bola Kenya (KFF) pada tanggal 24 Oktober 2006. Keputusan ini yang merupakan rekomendasi dari Konfe-derasi Sepakbola Afrika (CAF) dan di-minta oleh ketua ad interim KFF, Moha-med Hatimy, menjadi mungkin dengan adanya perkembangan positif yang baru dilakukan, khususnya dengan kunjungan ke Nairobi oleh delegasi CAF.

    Delegasi ini, yang terdiri dari dua ang-gota Komite Eksekutif CAF, Dr Amos Adamu (Nigeria), yang juga merupakan anggota Komite Eksekutif FIFA, dan Celestin Musabyimana (Rwanda), yang menjamin hal-hal sebagai berikut:

    – pernyataan dari menteri olahraga untuk selanjutnya tidak mencam-puri lebih lanjutnya berjalannya KFF;

    – menghargai perjanjian yang di-capai dengan FIFA (khususnya, perjanjian yang ditandatangani di Kairo pada bulan Januari 2006), serta dipenuhinya Statuta dan prinsip FIFA;

    – pembubaran segera atas normali-zation committee yang dibentuk oleh menteri olahraga dan jaminan bahwa KFF akan dijalankan de-ngan struktur yang diterima oleh FIFA dan diketuai secara ad inte-rim oleh Mohamed Hatimy;

    – penarikan proses hukum apapun.

    Delegasi FIFA akan mengunjungi Nairobi dari tanggal 14 hingga 16 Maret 2007 dengan maksud untuk melak-sanakan agenda bagi diluncurkannya kembali sepakbola Kenya yang akan berdasarkan hal-hal tersebut berikut: penyelesaian kantor pusat KFF dan pu-sat teknis sebagai bagian dari proyek Gol, pengenalan sistem manajemen keuangan transparan, pemilihan tem-pat bagi lapangan buatan dan pembi-caraan dengan KFF menyangkut pro-gram untuk mendukung Liga Primer Kenya (KPL) berdasarkan kesepakatan yang dicapai sebelum musim 2005-06 tentang pengurangan jumlah tim yang berpartisipasi hingga menjadi 18 orang dan prinsip promosi dan relegasi. Dua hal tersebut terakhir akan diajukan sebagai bagian dari Win in Africa atas inisiatif Afrika. FIFA kemudian akan mengajukan agenda bagi normalisasi sepakbola Kenya, yang termasuk me-nyelenggarakan sidang umum dan perubahan statuta KFF sesuai dengan instruksi yang dikirimkan kepada 207 asosiasi anggota FIFA.

    Sebagai kesimpulan, FIFA Emergency Committee telah memberhentikan se-mentara KFF pada tanggal 24 Oktober 2006 akibat adanya intervensi dari pemerintah secara berulang dalam ma-salah persepakbolaan setempat serta tidak dipenuhinya kesepakatan yang dicapai dengan FIFA di Kairo dan prin-sip keolahragaan mendasar seperti integritas dan prinsip promosi dan rele-gasi. Pemberhentian sementara telah ditegaskan dalam sidang Komite Ekse-kutif di Zurich pada tanggal 5 dan 6 Desember 2006.

    Pada sidang di Zurich hari ini (Jumat, 6 Agustus), FIFA Emergency Committee sementara membatalkan pemberhen-tian sementara yang dikenakan terha-dap Federasi Sepakbola Kenya pada tanggal 2 Juni 2004. Selain itu, komite juga menyetujui pembentukan struktur organisasi operasional khusus Piala Dunia FIFA tahun 2010 di Afrika Se-latan. Sehubungan dengan Undang-undang Anti Doping Sedunia (World Anti-Doping Code), anggota secara kategori menekankan bahwa UU terse-but hanya akan diberlakukan berda-sarkan deklarasi yang dibuat di Kong-res FIFA di Paris oleh ketua WADA, Richard W. Pound. Setelah mende-ngarkan laporan dari pengurus FIFA, Emergency Committee sementara membatalkan pemberhentian semen-tara yang dikenakan terhadap Federasi Sepakbola Kenya, karena Normalisa-tion Committee yang dipimpin oleh Kipchoge Keino, Ketua Komite Olim-piade Nasional Kenya, telah memenuhi seluruh ketentuan yang diperlukan. Selama dua kali perundingan meja bundar dengan perwakilan dari sepak-bola Kenya dan Pemerintah Kenya, telah disepakati abwah akan melaku-kan kembali kegiatannya, klub pem-bangkang akan bergabung kembali kedalam liga resmi dan statuta KFF akan diubah kembali. Karena pember-hentian sementara tidak lagi berlaku, tiga putaran pertandingan awal Piala Dunia FIFA tahun 2006 yang tertunda di Kelompok Afrika 5 (Guinea, Maroko dan Tunisia) kini dapat dibentuk kemBALI.

    Menghadapi Piala Dunia FIFA tahun 2010 di Afrika Selatan, Emergency Committee menyepakati bahwa FIFA, yang kini mempunyai peranan lebih penting daripada pada pertandingan sebelumnya, harus tidak hanya men-jamin bertukarnya pengetahuan, tetapi juga menetapkan keberadaaannya di negara tuan rumah. Dengan pemikiran seperti ini, FIFA memiliki mitra, MATCH AG, untuk menggabungkan pengetahu-an di wilayah kunci dalam hal mana-jemen, akomodasi, penjualan tiket dan masalah TI. Sebagai awalnya, FIFA akan mendirikan kantor di Afrika Selatan pada awal tahun 2005, sebe-lum menentukan sumber daya selan-jutnya kepada negara tuan rumah setelah Piala Dunia FIFA tahun 2006 telah selesai.

    Sehubungan dengan World Anti-Doping Code, anggota Emergency Committee menyatakan kekecewaan mereka terhadap fakta bahwa walau-pun adanya deklarasi tertentangan de-ngan yang dikirimkan oleh ketua WA-DA Richard Pound kepada Kongres FIFA di Paris pada tanggal 21 Mei, WADA tetap memaksa penerimaan ti-dak bersyarat atas UU tersebut. Dalam Kongres di ibukota Perancis itu, yang juga dihadiri oleh Presiden IOC, Jac-ques Rogge, Pound telah menegas-kan bahwa WADA akan sepenuhnya menghargai seluruh masalah khusus FIFA, termasuk manajemen dan flek-sibilitas perkara perorangan bilamana dikenakan sanksi. Sebaliknya, WADA diberikan hak untuk mengajukan ban-ding ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga (CAS) di Lausanne dan disepakati bah-wa segala perubahan selanjutnya ter-hadap UU tersebut dilakukan dengan membicarakannya dengan federasi olahraga. Sebagai hasil dari deklarasi ini, FIFA secara resmi menyetujui World Anti-Doping Code pada tanggal 2 Juli. Tetapi, dalam surat tertanggal 20 Juli, WADA menekankan bahwa FIFA menerima UU ini sepenuhnya, tanpa termasuk konsesi yang dibuat di Paris. Namun bagaimanapun, FIFA tetap pa-da pendiriannya dengan deklarasi yang disepakati di Paris.

    KEPUTUSAN SELANJUTNYA

    – Kongres Biasa FIFA ke 55 akan diselenggarakan di Zurich dalam kurun waktu tanggal 25 hingga tanggal 29 Oktober 2005.

    – Sesuai dengan Peraturan Pertan-dingan tahun 2004, yang menya-takan bahwa pertandingan sepak-bola dapat dimainkan di atas la-pangan buatan, dengan ketenutan bahwa hal ini diatur dalam masing-masing peraturan pertandingan, peraturan bagi Piala Dunia FIFA tahun 2006 juga telah diubah. Sebagai akibatnya, permainan da-lam pertandingan awal kini dapat dimainkan di lapangan buatan yang memenuhi persyaratan Konsep Kualitas FIFA bagi keadaan terse-but. Namun, untuk menjamin bah-wa tim tidak mendapat kesulitan, pengajuan untuk bermain pada lapangan buatan harus dilakukan kepada FIFA sekurangnya dua bu-lan sebelum pertandingan termak-sud dimulai. Disamping itu, sebagai bagian proses “aklimatisasi”, tim jauh tersebut juga akan mempunya hak atas sekurangnya dua sesi latihan penuh diatas lapangan. Emergency Committee menekan-kan bahwa pertandingan pada kompetitsi final Piala Dunia FIFA hanya dapat dimainkan pada la-pangan rumput asli.

    – – Pada sidangnya tanggal 5-6 Okto-ber 2004, Komite Studi Strategi FIFA akan menangani lima masa-lah utama, dengan secara khusus memfokuskan pada kalender per-tandingan internasional yang ter-koordinasi.

    – Dalam hal lain, FIFA Emergency Committee mensahkan keputusan yang dicapai oleh Organizing Com-mittee bagi FIFA Confederations Cup, dan menyatakan bahwa Argentina, yang telah memperolah posisi kedua di Copa America baru-baru ini, akan menyelesaikan urutan tim yang berpartisipasi di Jerman tahun depan. Tim-tim lain adalah Jerman (sebagai tuan ru-mah), Brazil (sebagai juara dunia), Tunisia (sebagai juara Afrika), Yu-nani (sebagai juara Eropa), Mexico (sebagai pemernang CONCACAF Gold Cup), Jepang/RRC (sebagai pemenang Asian Cup; akan ber-main di final pada tanggal 7 Agus-tus) dan baik Australia atau Solo-mon Islands (sebagai pemenang OFC Nations Cup; yang akan ber-main di final pada tanggal 13 Okto-ber).

    – Akhirnya, FIFA Emergency Com-mittee juga menyatakan perkara klub Paraguay Olimpia Asunción, dan memutuskan untuk mengaju-kan perkara tersebut kepada Komi-te Disiplin untuk tindakan selan-jutnya. Emergency Commit-tee, yang sebelum sidang hari ini hanya menyatakan via korespondensi da-lam siklus empat tahun terakhir,memenuhi susunan berikut sekitar dua setengah jam yang dipimpin oleh Joseph S. Blatter: Lennart Johansson (wakil ketua, UEFA), Issa Hayatou (wakil ketua, CAF), Jack Austin Warner (wakil ketua, CONCACAF), Ricardo Terra Tei-xeira (anggota, CONMEBOL, me-wakili Dr Nicolas Leoz) dan ‘Ahongalu Fusimalohi (anggota, OFC). Tidak ada perwakilan dari Asia di Zurich dengan berjalannya Asian Cup. Komite juga mengada-kan pengheningan cipta atas korban-korban kebakaran dalam pusat perbelanjaan di Asunción dan atas official sepakbola Nigeria Patrick Okpomo.

    13. IRAN

    FIFA secara resmi menginformasikan Federasi Sepakbola Iran IR (IRIFF) kemarin (19 Desember 2006) bahwa pemberhentian sementara yang di-kenakan terhadap federasi tanggal 23 November 2006 telah dibatalkan. Oleh karena itu, IRIFF dan klubnya, wasit, official dsb dapat berpartisipasi dalam seluruh kegiatan dan kompetisi sepak-bola internasional yang segera berlaku. FIFA Emergency Committee, yang ter-diri dari Presiden FIFA dan satu wakil masing-masing enam konfederasi, mengambil keputusan untuk memba-talkan pembekuan pada tanggal 18 Desember sebagai hasil dari rangkai-an perundingan kerja sama antara FIFA, Konfederasi Sepakbola Asia (AFC), IRIFF dan Organisasi Pendi-dikan Fisik (PEO) dari Republik Islam Iran. Perundingan dihasilkan dengan dibentuknya Dewan Transisi (’Haiet Raiseh Enteghali’ di Farsi) dari IRIFF, yang secara bersama-sama diakui oleh FIFA dan PEO, dengan tugas-tugas sebagai berikut:

    o Kepengurusan sepakbola Iran ting-kat nasional dan internasional;

    o Pembuatan dan pengesahan statuta baru IRIFF berdasarkan FIFA Stan-dard Statutes;

    o Pelaksanaan pemilihan bagi kepe-mimpinan IRIFF dimasa menda-tang, berdasarkan statuta baru dan atas dukungan dari FIFA dan AFC.

    Dewan Transisi terdiri dari Mr Mohsen Safaei Farahani sebagai ketua, Mr Qumars Hashemi sebagai wakil ketua dan Mr Mohammad Hassan Ansarifar, Dr Hassan Ghafiri, Dr Mohammad Khabiri and Mr Ali Reghbati sebagai anggota (disusun sesuai dengan abjad bahasa Inggris). Direncanakan bahwa seluruh proses transisi akan disele-saikan pada tanggal 31 Maret 2007. Dengan komitmen ini, IRIFF kini bera-da dalam posisi untuk menormalisa-sikan struktur dan statutanya berdasar-kan peraturan FIFA dan AFC. Perkem-bangan ini menandai bahwa kepriha-tinan yang diajukan oleh FIFA, yang menyebabkan pemberhentian semen-tara terhadap IRIFF, telah dicabut.

    14. YUNANI

    FIFA Emergency Committee memutuskan hari ini (12 Juli 2006) untuk membatalkan pemberhentian sementara terhadap Federasi Sepakbola Hellenic (HFF) setelah menerima konfir-masi bahwa Parlemen Yunani telah menyetujui suatu perubahan terhadap legislasi nasional yang berkaitan de-ngan keolahragaan untuk disesuaikan dengan ketentuan FIFA Statutes dan peraturan UEFA terkait. Emergency Committee telah memberhentikan se-mentara HFF pada tanggal 3 Juli 2006 setelah menetapkan bahwa situasi federasi Yunani tidak memenuhi prin-sip-prinsip FIFA Statutes mengenai independensi asosiasi sepakbola dan tata cara pengambilan keputusan me-reka. Perundingan selanjutnya diada-kan antara FIFA dan HFF, serta antara tersebut terakhir dan pihak pemerintah Yunani. Sebagai akibatnya, Parlemen Yunani mengambil suara pada tanggal 11-12 Juli malam untuk mengajukan perubahan berikut kepada legislasi nasional mengenai keolahragaan:

    “Secara khusus, untuk olahraga sepakbola, seluruh pihak fungsional dan penyelenggaraan olahraga, Fede-rasi Sepakbola Hellenic dan para ang-gotanya diatur sendiri oleh HFF dan badan-badannya, sesuai dengan statu-ta dan peraturannya, serta yang diten-tukan oleh Union des Associations Européennes de Football (UEFA) dan Fédération Internationale de Football Association (FIFA), bahkan apabila peraturan berbeda diatur dalam undang-undang 2725/1999, karena berlaku dalam legislasi atletik. Dalam hal audit subsidi yang diterima oleh HFF dari negara, maka kendali lega-litas, tata tertib dan keselamatan umum menjadi wewenang eksklusif negara.” Sehubungan dengan perubahan ini, FIFA Emergency Committee mengang-gap bahwa HFF kini berada dalam po-sisi untuk menghargai statuta dan peraturan FIFA dan juga UEFA. Seba-gai akibatnya, pemberhentian semen-tara yang dikenakan sebelumnya ter-hadap Federasi Sepakbola Hellenic telah dicabut sejak hari ini.

    15. YAMAN

    Pemberhentian sementara yang dikenakan terhadap Asosiasi Sepakbola Yaman (Y.F.F.) pada tanggal 12 Agus-tus telah sementara dicabut. FIFA Emergency Committee memberikan keputusan ini awal minggu ini melalui korespondensi. Keputusan mereka ber-dasarkan laporan yang diajukan oleh Mohamed bin Hammam, anggota Ko-mite Eksekutif FIFA dan Presiden Kon-federasi Sepakbola Asia (AFC), setelah mengunjungi Yaman pertengahan bu-lan September. Sebagai hasil keputus-an ini, Y.F.F. kembali berhak berparti-sipasi dalam pertandingan-pertanding-an FIFA dan seluruh bentuk kerja sama dapat diadakan kembali. Dalam men-capai keputusan mereka, Emergency Committee mempertimbangkan berda-sarkan fakta bahwa pihak politis Ya-man, yang dipimin oleh Menteri Pemu-da dan Olahraga, telah memberikan dukungan merkea dan persetujuan tertulis mereka terhadap seluruh upaya yang diperlukan, dimana paling penting termasuk dibentuknya normalization committee, penyelesaian dan penyesuaian statuta revisi di kongres luar biasa Y.F.F., serta pemilihan presiden dan komite eksekutif selambatnya tanggal 28 Februari 2006. Namun, pemberhentian sementara akan dike-nakan kembali apabila Y.F.F. tidak da-pat memenuhi agenda ini. FIFA Emer-gency Committee telah mengenakan pemberhentian sementara dengan sejumlah pengajuan yang tidak berhasil dari FIFA dan AFC untuk Kementrian Pemuda dan Olahraga Yaman untuk mematuhi prinsip dasar independensi, demokrasi dan proses hukum FIFA bagi asosiasi anggotanya.

    16. AZERBAIJAN

    FIFA Emergency Committee telah mencabut pemberhentian sementara terhadap Asosiasi Federasi Sepakbola Azerbaijan (AFFA), yang telah dikena-kan pada tanggal 15 April 2003. Kepu-tusan ini, yang tercapai atas kerjasa-ma dengan UEFA, dibuat setelah pene-muan positif dari kunjungan ke Baku pada tanggal 14 Mei oleh delegasi ga-bungan FIFA/UEFA untuk mengadakan per-temuan dengan Komite Eksekutif AFFA, klub divisi pertama negara ter-sebut, dan Kementrian Olahraga, Pe-muda dan Pariwista Azerbaidjan. Sela-ma pertemuan ini, seluruh pihak yang hadir sepakat untuk mematuhi keten-tuan-ketentuan perjanjian yang mereka tandatangani di Zurich pada tanggal 20 September 2002. Komitmen ini segera menghasilkan sejumlah perkembang-an, termasuk diadakannya kembali ke-juaraan nasional pada tanggal 17 Mei 2003, yang merupakan salah satu pa-sal kunci dari perjanjian Zurich. Segala penyimpangan ketentuan Perjanjian ini dapat menyebabkan diberlakukan kem-bali pemberhentian sementara.

    17. TAJIKISTAN

    Setelah mempelajari laporan yang disampaikan oleh anggota dari delegasi FIFA/AFC yang menghadiri Kongres Federasi Nasional Sepakbola Tajikistan pada tanggal 5 Oktober 2002, FIFA Emergency Committee telah memutuskan hari ini untuk mengangkat pemberhentian sementara yang dijatuhkan kepada federasi pada tanggal 8 Agustus 2002. Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada presiden yang baru dari federasi, Jenderal Sukhrob Kosimov, Presiden FIFA Joseph S. Blatter menulis, “Kami mengucapkan selamat kepada Anda dan para anggota dari eksekutif komite Anda atas terpilihnya dan kami yakin bahwa anda akan mengambil setiap semua langkah yang perlu demi kemajuan sepakbola di Tajikistan. Dalam hal ini, kami akan sangat bergembira untuk membantu anda dalam kerangka yang berhu-bungan dengan sejumlah program kami.

    KESIMPULAN

    Dari sejumlah Negara di atas yang pernah alami sanksi FIFA maka penyebab jatuhnya hukuman ini karena:

    (1) PELANGGARAN STATUTA

    (2) INTERVENSI PEMERINTAH

    Artinya, jika FIFA konsisten jalankan amanat Statuta-nya, mestinya PSSI sudah dijatuhi sanksi FIFA ketika Nurdin Halid dengan status terpidana tetap memimpin PSSI. Standar ganda ini yang harus dijelaskan kepada public. Jangan berpangku tangan dan menerima begitu saja argumentasi tanpa tahu dasar penerapan hukuman dan mekanismenya.

    Suka
  • 23 May 2011 16:08:07

    hihi tahu ngak mabak sanksi FIFA itu seperti apa? pasti ngak tahu ya… atau ada kali teman teman yang lain yang ngerti banget tentang FIFA dan sanksi yang diberikan kepada negara negara yang pernah dapat sanksi biar mbak ini yang suaminya TNI bisa baca….salam.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:13:02

    hahhahaha….maaf suami saya bukan TNI Bung! Itu diatas sudah saya jelaskan negara mana saja yang pernah kena sanksi FIFA beserta alasannya. Salam kembali!

    Suka
  • 23 May 2011 16:44:33

    saya termasuk penggemar LPI ..kebetulan saya sudah 10 tahun tidak mengikuti perkembangan sepakbola indonesia maklum jujur saja saya malu dengan kualitas sepakbola apalagi di bawah nurdin yang namanya liga super indonesia..selain tidak profesional ternyata masih mengandalkan dana pemerintah..saya 100 % menyukai konsep LPI sangat bagus untuk era sepakbola industri..saya rasa LPI adalah patut di acungi jempol walaupun belum ada hasilnya tapi kita sudah berani maju 10 langkah ke depan..tak sia sia saya mengikuti LPI hanya melalui streaming online mengingatkan saya akan liga primer spanyol…maju terus LPI

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 20:26:50

    Maju terus persepak bolaan Indonesia!!

    Suka
  • 23 May 2011 15:38:00

    http://bola.vivanews.com/news/read/210133-daftar-8-negara-yang-terkena-sanksi-fifa
    kesimpulan diatas;
    1. krn intervensi pemerintah
    2. krn politisasi
    3. perseteruan federasi dgn pemerintah
    4. tidak mengindahkan peraturan FIFA
    dan dari itu semua terlihat waktu / lamanya di kenai sanksi. — waktu dr sanksi itu tidaklah lama — jika bangsa ini bersatu melawan FIFA, terkonsolidasi pecinta sepak bola melawan FIFA maka hasilnya jika di BAN — justru Pecinta bola negeri ini melakukan PROPAGANDA DIDUNIA INTERNASIONAL ATAS PERILAKU FIFA —

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 15:58:31

    Iya bener Bung< Artinya, jika FIFA konsisten jalankan amanat Statuta-nya, mestinya PSSI sudah dijatuhi sanksi FIFA ketika Nurdin Halid dengan status terpidana tetap memimpin PSSI. Standar ganda ini yang harus dijelaskan kepada public. Jangan berpangku tangan dan menerima begitu saja argumentasi tanpa tahu dasar penerapan hukuman dan mekanismenya.

    Suka
  • 23 May 2011 16:15:48

    Yang saya ngerti bahwa Inggris, Jerman, Italia, Brasil, Argentina, Perancis, spanyol adalah sekian dari sekian banyak negara negara yang sepakbolanya banyak jadi panutan para pesepakbola tanah air dan mereka tunduk serta patuh pada aturan FIFA . Prestasi mereka pun ok okehhhh….. aha lalu Indonesia? hehe prestasi enggak…. jadi badut aja diduluin…. lucu. salam.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:57:52

    Itu hebatnya Indonesia, politisasi dimana-mana bahkan sepak bola pun bisa jadi ajang politik. Barangkali anda juga harus melihat faktor ini Bung Nata, jadi tidak ngasal…sampai mengira saya bagian dari kelompok 78 dan bahkan mengira suami saya militer, bukan sama sekali. Hanya berupaya mendudukkan pada proporsinya, dan ini opini. Kira-kira begini lanjutan skenarionya:

    Skenario selanjutnya, ini yang perlu kita waspadai. Komplotan statusquo yang didalangi oleh sebuah partai besar, kali ini mulai menggiring opini publik lewat media-media yang dimilikinya untuk memusuhi K78 yang berniat menghilangkan segala kekotoran yang ada dalam tubuh PSSI. K78 yang semula berniat untuk merevolusi PSSI seperti yang didengungkan banyak pihak, dan mencegah agar akar-akar dari komplotan Nurdin tidak kembali merajai PSSI, kini malah diputarbalikkan faktanya menjadi sebuah kelompok yang perusak, sok reformis, dan terkesan perusuh serta pemecah belah sepakbola nasional. Penggiringan opini publik ini tampaknya akan menuju ke sebuah keberhasilan di mana saat ini banyak tokoh mulai simpatik ke salah satu televisi yang dimiliki salah satu orang yang mencalonkan diri maju ke Pilpres 2014. Dalam waktu tidak sampai setengah tahun, masyarakat kini mulai diajak untuk memusuhi K78, menjadikannya sebagai public enemy, memusuhi Arifin Panigoro dan George Toisutta yang pernah jadi orang yang membuka pintu masuk kepada kita untuk merevolusi PSSI dengan dalih tidak legowo, terlalu ambisius, dan lain-lain.
    Sungguh terlalu. Di saat banyak orang tertidur, terbuai dalam mimpi-mimpi rezim Nurdin Halid, orang yang berusaha mendobrak tradisi buruk era Nurdin sekarang justru dimusuhi oleh masyarakat luas dan dijadikan sebagai musuh bersama seperti seorang teroris, dan selalu dikaitkan dengan yang namanya sanksi. Ya, sanksi. Sebuah pernyataan tanpa data yang asal njeplak. Mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, tuduhan sanksi itu bagi saya sama sekali tidak mendasar karena tidak ada sama sekali pasal Statuta FIFA maupun Electoral Code FIFA yang dilanggar Indonesia.

    No hurt feeling ya Bro,Salam Damai Pecinta PSSI!

    Suka
  • 23 May 2011 16:24:15

    Ethiopia sama Salvador kayaknya kasusnya mirip sama kita yah ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:47:24

    dari sekian banyak sanksi FIFA yang di jatuhi dari puluhan negara adalah karena intervensi pemerintah dan pelanggaran statuta …kalau indonesia STATUTA mana yang di langgar ? dari 2007 sudah terjadi pelanggaran STATUTA belum pernah kita mencicipi sanksi FIFA…sebuah misteri bukan ? hanya orang bodoh yang tidak tau jawabnnya

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:58:34

    Ermmm … tanya dong … Kalo kena sanksi FIFA, Indonesia tetap boleh siarin Liga Inggris, Piala Champion, UEFA, dan Piala Dunia gak seh ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 19:58:14

    @Marveen: hahaha…tak perlu takut sama sanksi Bung! sanksi bisa berupa penyelenggaraan konggres kembali, bisa disuspense sehari dua hari…dll. Soal nonto dan menayangkan sy pikir ngga masalah.Intinya kita tak boleh takut sama sanksi daripada kita menjadi kontra produktif dengan perspak bolaan sendiri. Bersikeras melarang George Toisutta atau kelompok 78 akan menimbulkan masalah berkepanjangan, dan biaya politik yang dikeluarkan akan sangat banyak. Sekali lagi, biarkan kelompok mayoritas memimpin, baru kita lihat kinerjanya. OK

    Hidup Persepak Bolaan Indonesia!

    Suka
  • 23 May 2011 17:53:40

    CMIIW & IMHO, setiap organisasi punya aturan: AD/ART, statuta atau apa lah
    namanya. Ini lebih tinggi dari semua keputusan ketua umum, sekjen, atau
    rapat-rapat komite eksekutif dst. Kalau ada sengketa, yang dipegang AD/ART atau
    statuta itu. Pastinya ini universal, bukan cuma di Indonesia. Orang-orang yang
    aktif berorganisasi pasti tau ini.
    Masalah kongres PSSI kemarin muncul ketika wakil FIFA nggak pakai 1 pasal pun
    dari statuta FIFA untuk penjelasannya, ya jelas lah ada anggota PSSI sampai
    ngomong ‘memalukan’. Memang dia dewa-nya organisasi sampai boleh ngomong
    seenaknya tanpa dasar? Wong dasarnya suatu organisasi itu aturan dasarnya.
    Ditambah lagi Pak Agum koq ya mantan ketum PSSI nggak mengerti aturan PSSI
    (kecuali ada tujuan/maksud lain).
    Biar dia ketua KN, ingat itu kongres PSSI yang pakai aturan PSSI yang mengacu ke
    statuta FIFA. Masa dia nggak tau kalau voting yang nggak memilih orang harus
    terbuka? Jelas lah saya saja kalau ada rapat macam ini bakal minta diganti
    pimpinan sidangnya karena ngaco.
    Orang nggak mungkin bisa adil kalau ada beban atau titipan, ini yang saya lihat
    dari Pak Agum. K-78 menurut saya kesalahannya terlalu emosi & nafsu. Ahmad
    Riyadh dkk dari komisi banding yang baru lebih ‘mantap’ karena dia bisa
    memberikan dasar keputusannya sesuai aturan organisasi, sementara Tjipta Lesmana
    dkk yang ngawur, ambil keputusan tanpa dasar aturan organisasi.
    Kalau FIFA konsekuen pada aturan organisasinya, nggak akan ada sanksi pembekuan
    pada PSSI. Apalagi mereka sedang dibuat pusing oleh kasus suap pemilihan tuan
    rumah WC-2022. Paling yang repot adalah kalau ada yang buat laporan ngawur ke
    FIFA seperti di zaman NH. NH dulu bisa pimpin PSSI dari penjara karena
    laporan-laporan ngawur tersebut.
    Sebetulnya dari pengalaman saya ikut organisasi internasional, rata-rata
    organisasi internasional itu punya anggota negara atau asosiasi nasional.
    Organisasi internasional nggak peduli asosiasi nasional anggotanya punya ketua
    siapa asal tetap bayar iuran & ikut aturan mereka.
    Kesalahan PSSI itu terlalu cepat libatkan FIFA sampai mereka buat KN. KN pun
    terlalu merasa super, padahal secara organisasi mereka hanya diminta membantu
    PSSI dapat pengurus baru, nggak beda dengan penyelenggara ‘Indonesian Idol’.
    Dipikir mereka diberi ‘cek kosong’ untuk itu, padahal ya tetap keputusan ada di
    peserta kongres.
    Apa salahnya memberi kesempatan bicara pada komisi banding sesuai permintaan
    peserta kongres? Apalagi komisi banding itu pun disetujui KN. Buat apa mereka
    ada kalau nggak dipakai kerjanya atau didengar?
    Memang FIFA atur sampai detil jadwal acara? Pastinya cuma diminta di kongres itu
    ada 3 hal: pemilihan ketua, wakil ketua, & komite eksekutif. Selain itu tetap
    boleh lah, kumpulkan orang sebanyak itu nggak gampang & nggak murah, jadi
    sekalian kalau mau ada hal-hal lain.
    Kisruh PSSI ini sebetulnya sederhana. Soal GT-AP, nggak masalah jadi
    ketua-wakil, tinggal kirim surat ‘ngaco’ saja macam surat yang dulu bisa buat NH
    tetap bisa jadi ketua di penjara. Toh sebetulnya itu urusan intern organisasi,
    selama aturan nggak ada yang dilanggar ya jalan terus.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 19:59:34

    terimakasih Bung Billy. Komentar anda melengkapi jawaban pertanyaan2 diatas

    Salam Damai!

    Suka

9 responses

  1. Ping-balik: Kelompok 78 Tidak Tercela, Salahkan Agum yang Tak Mengerti Konstitusi | Rumah dan Properti

  2. Onezero3

    semua unsur diatas tidak sama sekali bersalah, tetapi niat merekalah menjadikan konggres PSSI kali ini gagal. Hal yg sangat membanggakan adalah mrk mampu menyalah FIFA dan KN dengan cara model politisi. Sayangnya FIFA tidak mengkodekan syarat pencalonan dengan kalimat “Tidak Berkepala Besar dan Bermulut Lebar”.

    Mei 24, 2011 pukul 6:46 pm

  3. Agus

    “Jadi kekuasaannya sebagai ketua normalisasi juga seharusnya bergerak pada konstitusi PSSI, bahwa ia akan mengambil keputusan berdasar pada suara terbanyak” <— KN adalah perwakilan FIFA di Indonesia, jadi yg dipakai adalah aturan FIFA.

    "Mengapa kita harus merelakan diri diintervensi oleh FIFA?" <— PSSI adalah anggota sebuah organisasi besar bernama FIFA, kalo merasa di intervensi sih tidak apa2, tapi kalo ga terima ya keluar aja dari keanggotaan FIFA namun jangan pernah mimpi bisa ikut Piala Dunia.

    "Jadi perlu dipertanyakan sikap FIFA sebenarnya; maunya apa sih? Mengobok-obok persepak bolaan Indonesia?" <— emangnya apa prestasi Sepak Bola Indonesia sehingga FIFA pusing mo ngobok2 sepak bola kita…bisa2nya muncul pertanyaan seperti itu.

    "Kalaupun ada pihak-pihyang menuding mereka (kelompok 78) itu yang menjadi biang kerok kericuhan kongres PSSI rasanya tidak fair aja."<— jelas lah mereka biang keroknya, menempatkan kepetingan golongan diatas kepentingan sepak bola Indonesia.

    Mei 24, 2011 pukul 7:44 pm

  4. Ping-balik: Kelompok 78 Tidak Tercela, Salahkan Agum yang Tak Mengerti Konstitusi | Berita Indonesia

  5. Ghanank

    Menurut saya aneh banget, Kenapa kelompok 78 terlalu “memaksakan goerge & panigoro”. Apa mereka benar-benar bisa memajukan sepak bola di Indonesia, Ataukah mereka malah akan menjadi Nurdin baru. Kita selalu menghujat Nurdin karena memaksakan kehendak, sekarang goerge & panigoro juga memaksakan kehendak.
    Untuk semua pendukung goerge & panigoro saya harapkan mau maju untuk pemilihan periode berikutnya…..Atau jangan goerge & panigoro telah membeli kelompok 78 yaa.. kok mereka begitu ngeyel.. hanya tuhan yang tau ?

    Mei 25, 2011 pukul 7:57 am

  6. Apa yang akan anda lakukan jika tamu di rumah anda mengacak-acak isi kulkas anda? Pasti anda tidak akan rela… <<== pertanyaanya yg bebul bukan seperti ini.
    yang lebih pasnya "apakah seorang juri tidak boleh melihat-lihat rumah anda? sementara anda mengikuti kontes rumah….."
    yg salah tu PSSInya kq yang disalahkan FIFAnya. seharusnya PSSI yang ikut aturan FIFA, karna PSSi ikut kontes yang diadakan oleh FIFA. bukan FIFA yang ikut kontes yang diadakan oleh PSSI.
    sebenarnya tu aturanya mudah kq, cuma PSSI saja yang bikin semrawut tu.
    kalo memang semua calon itu tidak boleh, ya udah!! ganti saja dengan yang diperbolehkan FIFA.

    Mei 25, 2011 pukul 10:51 am

  7. Iwan

    Ya udah kesimpulannya jangan ikuti aturan FIFA aja ya, gak usah jadi anggota FIFA, Kecuali kalo mau nurut sama FIFA boleh jadi anggota, kalo gak nurut silakan majukan sendiri pesepakbolaan kita, yang jelas yang perlu digaris bawahi adalah, SEMUA KEGIATAN SEPAKBOLA DUNIA DIURUS OLEH FIFA indonesia mau nurut atau enggak fifa gak akan rugi yang jelas fifa telah memberi kesempatan kepada indonesia.satu lagi IKUTILAH APA KATA FIFA karena merekalah induk organisasi sepakbola bukan PSSI. jadi ikuti aturan fifa kalo memang kita berniat go international dalam berbagai event berskala international

    Mei 25, 2011 pukul 11:04 am

    • bowo

      Legowolah K78 dan antek-anteknya,…maju sepak bola indonesia

      Mei 27, 2011 pukul 3:25 pm

  8. Bang Jae

    Ass…sebagai penggiat bola, dan berada dibawah FIFA memang sewajarnya kita dibawah institusi sepakbola yang diakui. bukannya intervensi…tapi ketidak tahuan aturan organisasi sepakbola. dimana kita dibawah induk FIFA, AFF, AFC dan semua tingkatan sepakbola yang ada dibawah koridor FIFA.
    pada kenyataannya semua aktifitas didunia ini yang sepakbolanya 1000 kali lebih maju dari kita masih mengikuti & menghormati semua aturan FIFA..apalagi kita yang berniat akan lebih maju.

    Mei 31, 2011 pukul 10:05 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s