Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

agama

IR SUKARNO, NAMAMU TIADA AKAN MATI


soe5 Soekarno bukanlah orang yang sibuk oleh ‘teori-teori agama’, namun beliau bisa spontan menangis sedih ketika melihat bangunan masjid di Leningrad-Rusia (sekarang namanya St Petersburg) hanya difungsikan sebagai gudang. Dunia mungkin bertanya-tanya, lobi-lobi apa yang dilakukan Soekarno sehingga pemimpin Uni Sovyet pada waktu itu, Nikita Kruschev, bersedia mengabulkan keinginan Soekarno untuk mengembalikan fungsi masjid di kota tersebut sebagai tempat ibadah, tanpa syarat! Dan jika anda berkesempatan untuk berkunjung ke St Petersburg, anda akan mengetahui betapa berterimakasihnya kaum Muslimin Rusia terhadap jasa-jasa Soekarno.

Soekarno adalah manusia pertama dalam sidang PBB yang berani secara lantang membacakan ayat Alquran yang berbicara tentang persamaan derajad sesama manusia, ketika beliau mengutip QS 49 (13) : “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Boleh jadi pada saat itu pemimpin-pemimpin dunia Arab merasa tercoreng wajahnya, melihat seseorang dari negeri nun jauh disana-negeri dunia ketiga, ternyata lebih memiliki nyali untuk berbicara tentang ajaran yang diyakininya, dibandingkan mereka yang mengklaim ‘lebih dekat’ dengan ajaran Islam, namun negerinya sibuk berperang satu sama lain, dan para ulamanya sibuk memproduksi fatwa-fatwa halal dan haram.

Ketika dunia harus terbagi dan berkiblat ke salah satu blok penguasa dunia, yaitu Blok Barat (yang dipimpin AS) dan Blok Timur (yang dipimpin Uni Sovyet),Soekarno dengan berani mempelopori gerakan Non-Blok, mempersatukan bangsa-bangsa dunia di dalamnya, menyadarkan merekabuntuk tidak larut dalam permusuhan yang dikobarkan para imperialis, dan menjunjung tinggi perdamaian dunia. Ketika dunia kebingungan menentukan ideologi mana yang lebih baik, antara ideologi kapitalisme (yang dipelopori AS dan sekutunya) dan ideologi sosio-komunisme (yang dipelopori Uni Sovyet dan China), hanya satu orang di dunia ini yang penuh percaya diri menawarkan ‘ideologi alternatif’ yaitu Pancasila, yang banyak mengambil nilai-nilai ajaran Islam, agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh bangsa-bangsa sedunia. Dialah Soekarno!

Tidak ada yang bisa mengelak dari fakta bahwa negeri-negeri Eropa yang kaya raya dan makmur saat ini sebagian besar adalah hasil dari merampok dan menjarah kekayaan negeri-negeri dunia ketiga di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Sebaliknya, tidak ada yang bisa mengelak bahwa telah lahir negeri-negeri dunia ketiga, yang sebelumnya terjajah selama berabad-abad oleh bangsa Eropa, telah mendapatkan kembali kehormatan dan jati dirinya sehingga berani memerdekakan diri, tidak lepas dari andil ‘provokasi’ Soekarno, seorang putra Nusantara!

Inilah salah satu manifestasi dari ajaran Islam yang bahkan oleh Alquran disebut-sebut sebagai perjuangan yang sangat berat, yaitu membebaskan manusia dari perbudakan, sebagaimana disebutkan dalam QS 90(12-13) : “ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) membebaskan budak (manusia) dari perbudakan “. Perbudakan tidak hanya ada di abad pertengahan, namun akan terus ada sepanjang waktu dalam berbagai dimensi kehidupan. Indonesia, yang (katanya) berpenduduk ‘Muslim’ terbesar di dunia ternyata belum berhasil memerdekakan manusia dari perbudakan. Nasib bangsa ini masih diperbudak oleh kepentingan elit politik penguasa negeri ini. Negeri kita yang katanya gemah ripah loh jinawi ini masih menjadi budak atas kepentingan asing, sehingga kekayaan alam milik kita secara terang-terangan dijarah dan dieksploitasi secara sistemik di depan mata kita sendiri, tanpa ada daya bagi kita untuk menghentikannya. Di negeri ini masih banyak ‘budak’ yang bekerja di bawah standar upah kerja minimum, sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar.


Membincang Kekerasan Dalam Beragama; Merasa Diri Paling Benar??


“Orang takwa sejati tidak pernah menggunakan agama sebagai sebab perpecahan. Orang takwa percaya bahwa agama adalah wahana mempertemukan ummat manusia. Kalau ada orang suka mempertentangkan ajaran agama, apalagi sesama agama ia pasti belum sampai derajat takwa. Sama halnya orang yg mencari perbedaan dan sangat sensitif melihat perbedaan lalu menggunakannya untuk memecah belah ummat. Orang seperti ini belum sampai derajat takwa. Orang yg takwa adalah toleran pada orang seagama dan pada pemeluk agama lain (Jalaluddin Rakhmat 2008)”

Kekerasan atas nama agama masih –bahkan semakin- marak di negeri ini. Padahal, terlepas dari berbagai kontroversi yang mengitari sebuah isu, khususnya isu-isu keagamaan, maka kekerasan sama sekali tak diperbolehkan menjadi sarana untuk menyelesaikan kontroversi atau pun masalah umat. Sebab, metode penyelesaian masalah dengan jalur kekerasan bukan tuntunan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Salah satu isu yang biasanya dianggap menjadi pemicu konflik antar umat beragama yakni isu perbedaan ajaran dan pandangan, baik antara umat beragama atau antar sesama Muslim. Isu kerukunan umat beragama di Indonesia masih didominasi masalah kekerasan yang melibatkan agama. Meski disetiap negara bercorak plural seperti Indonesia boleh dibilang wajar mengalami benturan atau ketegangan-ketegangan dalam masyarakat, akantetapi dalam kasus kekerasan yang terjadi menurut studi tidaklah wajar. Ketidakwajaran itu ditenggarai oleh kejadian yang berulang-ulang sehingga muncul indikasi pemerintah seolah diam saja dalam melihat masalah tersebut. ada dua hal penting yang memboncengi tindak kekerasan yang terjadi, yakni soal keberadaan rumah ibadah dan adanya pembatalan acara yang diinisiatifkan lembaga-lembaga seperti LGBT ((Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?

Pertanyaan “mengapa” itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun marilah kita mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran:“Wa qul jâ’a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa” (dan katakanlah: “kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna). Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Pak Alwi Shihab sempat menyampaikan, bahwa salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya—berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, adalah debat tentang pemberlakuan syariat Islam. “Syariat Islam yang mana yang akan diterapkan di sini?” Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab yang kita anut: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral dan paling benar, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Quote: 

“If people knew their own religion, how tolerant they would become, and how from any grudge againts the religion of others.”


The Wandering Who?


Oleh Ahmad Syafii Maarif

Inilah karya terbaru Gilad Atzmon yang menggegerkan Zionisme global. Judul lengkapnya, The Wandering Who? A Study of Jewish Politics Identity (Siapa Tersesat? Sebuah Kajian tentang Identitas Politik Yahudi). To wander dalam bahasa Inggris dapat berarti “bergerak/mengembara tanpa arah”; dapat pula diartikan “mengeluyur” atau “pergi tersesat.” Saya pilih yang terakhir ini. Karena pengalaman getir selama terpasung dalam lingkaran Zionisme rasis, Gilad merasa sebagai manusia tersesat sampai ia muncul sebagai seorang humanis yang terbangunkan kemudian.

Karya ini direncanakan terbit akhir September 2011 oleh penerbit Zero Books, tetapi karena ancaman demikian hebat agar jangan muncul dalam format cetak, maka sampai saat ini (15 Oktober) saya tidak tahu pasti apakah sudah beredar atau belum. Tetapi, apa isi pokok buku itu sudah beredar di dunia maya sejak Agustus tahun ini. Saya juga sudah baca beberapa resensinya, termasuk dari intelektual Yahudi kelas hiu, seperti Richard A Falk dari Universitas Princeton, Prof Mearsheimer dari Universitas Chicago. Yang terakhir adalah penulis buku The Israel Lobby and US Foreign Policy (2007) bersama Prof Stephen M Walt dari Universitas Harvard. Ketiganya memberi dukungan kepada The Wandering agar segera diterbitkan.

Dalam wawancara panjang dengan wartawati Swiss Silvia Cattori pada akhir September yang lalu, Gilad menjelaskan apa substansi karyanya itu. Terutama dari hasil wawancara ini saya menangkap pemikiran Gilad tentang politik identitas Yahudi yang mengacaukan peradaban manusia global. Selain sumber ini, saya telah mengikuti Gilad sejak lebih dua tahun yang lalu, sebagaimana telah terbaca beberapa kali di ruang resonansi ini.

Dengan demikian, para pembaca tentu tidak asing lagi tentang sosok Gilad Atzmon ini yang kiprah geraknya semakin menggoncangkan Israel dengan risiko maut yang mungkin menyergapnya setiap saat. Saya pernah mengingatkan Gilad agar ekstra hatihati terhadap serba kemungkinan ini, tetapi tekadnya untuk melawan Zionisme dan membela Palestina sudah tidak mungkin lagi ditawar. Dia sudah sampai pada point of no return(titik berpantang surut). Amat langka penulis yang bersedia berjibaku seperti tokoh kita ini.

Untuk pertanyaan Cattori, “Apa makna di belakang judul yang provokatif ini?,” Gilad memberikan jawaban, “ The Wandering Who? berupaya mencari sebuah pemahaman yang lebih mendalam tentang kultur Yahudi dan identitas politik Yahudi. Di situlah harus dipecahkan beberapa isu yang sebagian besar kita memilih untuk menghindar. Tiga tahun yang lalu sejarawan Israel Shlomo Sand telah menerbitkan karya terobosan penting tentang sejarah Yahudi. Dengan begitu ia telah membongkar cerita sejarah Yahudi yang sarat khayal.

Dalam karya ini, saya mencoba maju selangkah lagi dari pencarian Sand dan mengurai sikap orang Yahudi yang problematik terhadap sejarah, masa silam, dan kekinian pada umumnya. Lima tahun yang lalu, aka demisi Amerika Mearsheimer dan Walt telah mener bitkan kajian penting tentang Lobi Ya hudi di Amerika Serikat. Lagi saya coba mengisi celah hasil penelitian mereka di mana yang kurang. Saya berusaha menjelaskan mengapa pekerjaan lobi melekat dalam politik dan kultur Yahudi. Dalam The Wandering Who? saya mencoba menggoyang setiap persepsi umum tentang politik identitas Yahudi.”

Artinya, Gilad dengan keberaniannya yang luar biasa telah membongkar segala kepalsu an, kecurangan, dan kejahatan yang telah, sedang, dan akan dilakukan kaum Zionis demi mendemonstrasikan keangkuhan klaimnya sebagai manusia pilihan, unggul, dan tak tertundukkan. Jika The Isreal Lobby telah menjadi buku terlaris oleh harian New York Times, karya Gilad ini mungkin akan melebihi itu sebab yang dibongkar adalah akar pokok Zionisme sebagai kanker peradab an yang telah berhasil mengelabui dunia selama lebih enam dasawarsa.

Dukungan yang semakin meluas terhadap The Wandering Who? pasti akan berekor panjang pada persepsi dunia terhadap Zionisme yang kini berlindung di bawah jubah Israel atau Israel di balik jubah Zionisme. Mungkin saatnya sudah mulai tiba di mana umat manusia tidak lagi mau menelan kicauan Israel yang mengaku sebagai satu-satunya negara demokrasi di Asia Barat dan Afrika Utara. Kepalsuan tidak mungkin bertahan selamanya. Ini adalah sebuah aksioma sejarah, di mana pun.

Peresensi Paul J Balles menulis: “The Wandering WHO?” melayari antara pemikiran yang menggusarkan dalam pengalaman pribadi dan isu-isu yang bercorak sejarah dan filsafat. Dalam karya inilah Gilad menggali pengalaman-pengalaman awalnya sebagai seorang Zionis Israel dan kemudian kebangkitannya sebagai seorang humanis, lanjut Balles. Gilad menulis: “Zionisme bukanlah sebuah gerakan kolonial yang punya perhatian atas Palestina, sebagaimana pendapat beberapa sarjana. Pada hakikatnya, Zionisme adalah suatu gerakan global yang dibakar oleh solidaritas kesukuan yang unik .…”

Balles lalu mengutip Gilad: “Perampokan dan kebencian termuat dalam ideologi politik modern Yahudi, baik sayap kanan maupun sayap kiri. Orang Israel merampok atas nama ‘pulang ke rumah,’ Yahudi progresif atas nama ‘Marx’, dan pembunuh intervensionis moral atas nama ‘demokrasi’. Dalam realitas, orang Israel sebenarnya dikejutkan oleh tindakan kekerasan yang dilakukannya sendiri.”

Ironisnya, rakyat Palestina dikorbankan dengan dalih orang Yahudi dibantai Hitler pada masa Perang Dunia II. Holocaust (malapetaka) yang dialami orang Yahudi di Eropa pada era tersebut, menurut Gilad, telah dijadikan semacam agama oleh kaum Zionis. Oleh sebab itu, jika ada orang yang dianggap menyangkal holocaust, langsung dipukul sebagai anti-Semit. Gilad telah dijadikan sasaran tembak untuk itu sekalipun tidak ada bukti penyangkalan atas holocaust itu. Senjata anti-Semit selalu saja ditembakkan terhadap siapa saja yang melawan Zionisme Israel.

Dalam tulisan-tulisan terdahulu di koran ini, saya pernah mengutip Gilad bahwa Zionisme sebagai ideologi politik Yahudi tidak mungkin berdamai dengan kemanusiaan karena memang bukan bagian dari kemanusiaan itu.

Fakta semacam inilah yang gagal ditangkap oleh Barat, terutama Amerika Serikat, sehingga Israel tetap saja seperti berada di atas angin, termasuk melecehkan keputusan-keputusan PBB. The Wandering Who? adalah testimoni penting untuk dibaca secara luas oleh siapa saja yang ingin perdamaian dunia tanpa Zionisme.

The Wandering Who? telah mengupas tuntas apa dan untuk apa judaisme (agama Yahudi), keyahudian (Jewishness), kultur Yahudi (Jewish culture), dan ideologi Yahudi (Jewish ideology). Yang diserang habis oleh Gilad adalah kultur dan ideologi Yahudi, aspek-aspek buruk kesukuan yang terdapat dalam wacana sekuler Yahudi, baik Zionis maupun anti-Zionis.

Gilad mempertanyakan mengapa orang Yahudi diaspora mengidentifikasikan dirinya dengan Israel dan berafiliasi dengan politiknya. Itulah sebabnya karena kita merasakan suasana dunia yang semakin menghancurkan sekarang ini telah membawa tuntutan segera bagi sebuah perubahan konseptual dalam sikap intelektual, filosofikal terhadap politik, serta identitas politik dan sejarah. The Wandering Who? merupakan upaya serius dari seorang mantan Zionis untuk mengurai semuanya itu.

Yang dikritik keras Gilad sebenarnya bukan suku (tribe), melainkan paham kesukuan (tribalism) yang berorientasi rasis yang menjadi inti setiap bentuk politik identitas Yahudi. Kita turunkan lagi penuturan Gilad sebagaimana yang disampaikan kepada Cattori: “Sebenarnya yang merisaukan saya terutama menyangkut ideologi. Saya sangat dicemaskan oleh lobi Yahudi yang selalu memburu (lawannya) dan kekuatannya yang mengguncangkan secara global. Adalah fakta bahwa AJC (American Jewish Committee) menganjurkan perang terhadap Iran yang sungguh sangat mencemaskan.”

Sebagaimana yang pernah saya kutipkan dalam tulisan terdahulu, Gilad dengan gemas sampai mengatakan bahwa jika dunia ini mau aman dan damai, Zionisme harus dipindahkan ke planet lain. Akhirnya, mari sama-sama kita ikuti bagaimana ujungnya nanti perjalanan Zionisme ini dan dampak buruknya bagi perjalanan sejarah umat manusia.


MENGISLAMKAN ORANG ISLAM


Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

Batapa lembut dan hangat agama itu.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku..

Akhirnya, bila boleh menyimpulkan agama yg benar adalah:

1. Agama yg mengajarkan cinta kpd sesama bukan agama benci.

2. Agama yg mengusung akal sehat dan akal budi, berpikir logis rasional, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, inquiry mind, dialogis. Bukan sebaliknya yaitu anti rasional, anti dialog, menolak logika & akal.

3. Agama yg menjunjung tinggi akhlakul karimah/budi pekerti/etika yang agung dan mulia, yang fondasinya adil (etika sosial) dan baik/ihsan: membalas keburukan dengan kebaikan (etika individual). Yg prinsip umumnya mengajarkan kita utk tdk memperlakukan orang dengan perlakuan yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Jika anda tidak mau disesatkan/dikafirkan jangan sembarang menyesatkan/mengafirkan orang lain.

4. Agama yang menjunjung tinggi prinsip Hanif: jujur, lurus, murni dan Samhah: lapang, toleran, menghargai pluralitas. Memangnya hanya mereka/kita yg berhak mengklaim kebenaran, orang laintidak boleh.

Dalam Al Qur’an pun kita mengenal ayat yang menjunjung tinggi hubungan silaturahim:
Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi harus yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu melihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!

Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan kita dalam bingkai kemanusiaan dalam keberagaman untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

*Didedikasikan untuk ISACS : Institute Study Agama dan Civil Society

Salam Pluralisme!!

Malika Assaif


KECEWA


Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa.  Kecewa sekali.  Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, dan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Ketika nyala mulai meredup. Asa yang menguatkan itu masih ada meski hanya setitik. Jangan menyerah karena ini semua terjadi karena cintaNya.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam qolbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Pesan seorang sahabatku “Asa yang terkoyak, hati yang berduka, airmata yang menetes, bibir yang keluh tuk berucap, biarlah menjadi saksi semua mujahadahmu”. Subhanallah…..

Apa yang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jodoh, jabatan, kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi APA YANG MEMANG BUKAN MILIK KITA, IA TIDAK AKAN BISA KITA MILIKI, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

Wahai jiwa yang sedang gundah, bacalah ini dari Allah : “ Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui “( Qs Al Baqarah : 216 )


SUATU MALAM DI ARAFAH


Tanggal 8 Dzulhijjah tengah malam, pada waktu seluruh jamaah haji telah berkumpul di padang Arafah untuk melakukan upacara wukuf esok pagi tanggal 9 Dzulhijjah setelah tergelincir matahari, salah seorang jamaah haji menggamit lengan suami saya yang sedang hanyut dalam doa dan dzikir, sambil berbisik: (kira-kira begini),
“He Kak Tuan, haji itu cuma pul-kumpul dan juk tojuk seperti ini ya.” Rupanya penanya kita ini jamaah haji dari Madura, kelihatan dari logatnya, serta panggilan ‘Kak Tuan’ memang panggilan khas bagi orang Madura laki-laki yang sudah bergelar haji. Suami saya yang ditanya cuma diam.
“Eh Kak Tuan, apa sebenarnya yang kita cari disini? Apa ini yang dinamakan haji itu? Kalo hanya begini kan percuma kita jauh-jauh meninggalkan tanah air pake bayar mahal pula”, bisiknya lagi. Suami saya tetap diam. Saya sebenarnya ngga tahan kepengin menjawab pertanyaannya, tapi daripada saya nanti gusar mending diam aja. Dalam hati saya ‘ngudoroso, kok aneh tur lucu orang ini. Sudah sampai disini kok ngga ngerti tujuannya. Rupanya suami saya tak bergeming sedikitpun, tangannya asyik memilin biji-biji tasbih yang terbuat dari kayu K.O.K (kawakib). Penanya kita yang dari Madura ini semakin penasaran sambil mengguncang-guncang tubuh suami saya sambil setengah berteriak:
nDak Mas, eh Kak Tuan, ah Cak, saya ini tanya betul, apa sekarang ini kita sudah haji? Apa yang begini ini caranya haji itu?” Mungkin karena jengkel dan khawatir mengganggu terus, suami saya menjawab sekenanya:
“Ya, ya inilah dan beginilah yang disebut haji itu. Sudah diam sajalah, neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa, amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan”, jawab suami dengan bahasa setengah Madura juga. Dalam hati mungkin suami saya merasa kasihan pada calon haji yang kesasar ini. Karena itu setelah dia puas dengan bacaan-bacaan doa, wirid, dzikir maupun istighfar dan segala uneg-uneg hati yang ditumpahkan dimalam kudus di padang Arafah itu, suami saya melirik pada temannya yang selalu mengusiknya dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tadi (dan ternyata telah tidur mendengkur), lantas dibangunkan. “He Kak, bangun! Ayo keluar,” ajaknya sambil menarik tangan penanya kita yang masih ngantuk dan berusaha membangun kesadaran. Sampai di luar, keduanya berjalan melalui sela-sela tenda yang dipasang bergugusan, ribuan jumlahnya, di padang Arafah nan luas diterangi cahaya lampu-lampu listrik ribuan watt yang membuat padang Arafah terng benderang laksana siang hari. Saya mengikutinya dari belakang.

Di tempat agak sepi, kami pun duduk. Dengan gaya seorang ustadz, suami saya mulai berceramah pada penanya kita yang belum mudheng tentang arti dan tujuan haji ini. Katanya:
“Begini, sekarang kita sudah berada di Arafah, sebagai persiapan besok pagi, setelah matahari tergelincir atau setelah manjing dhuhur, kita melakukan wukuf. Dari sini kita memulai ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Sampeyan tahu apa artinya arafah dan wukuf itu?”
“Ya ndak tahu saya. Kalo Arafah itu nama reng bini yang rathin tetangga saya di Konang,” jawab penanya kita dengan nada cengengesan.
“Huss! Jangan guyon, nika beni agejek…!” suami saya mulai gusar (tapi saya tahu dia menahan ketawa sebenarnya). Kok ada ya calon haji yang koplonya ngudubilah begini. Mungkin waktu penataran manasik haji dulu, dia ini termasuk yang ngantuk-an. Jadi saat dijelasin, dia ketiduran.
“Habis, bagaimana wong tahunya saya ya cuma segitu. Ya jangan marah sampeyan Kak Tuan! Orang haji itu ndak boleh marah tak iye,” kilahnya.
“Oke, baiklah saya jelasin. Sampeyan ndak boleh ngantuk atopun nglamunin si Arafah yang di Konang itu,” kata ustadz tiban yang memperoleh ilmu ladunny di padang Arafah itu, terus memulai kuliah khususnya berikut ini:

Arafah, yang jelas adalah nama tempat. Ya tempat ini, tempat untuk wukuf ini. Dahulu kala, konon di tempat inilah Adam dan Hawa pertama kali bertemu setelah terpisah bertahun-tahun karena terusir dari surga. Karena itulah tempat ini dinamakan Arafah, dari kata ‘arafa-ya ‘rifu, yang berarti kenal, mengerti dan mengetahui, saling bertukar pengertian dan pengetahuan setelah sekian lama berpisah. Konon kata si empunya cerita alias shahibul hikayat, pada saat diusir dari surga, keduanya diturunkan di tempat terpisah dan berjauhan. Keduanya saling mencari, sampai akhirnya di Arafah, yang waktu itu banyak rimbun pepohonan, sehingga walaupun mereka sudah di tempat yang sama bahkan berdekatan, mereka belum bisa berjumpa. Nabi Adam kala itu mendengar suara ‘krusak-krusek di balik semak. Maka untuk meyakinkan apakah itu suara binatang atau manusia, dilemparlah batu-batu kerikil. Gayung pun bersambut, Hawa membalas lemparan kerikil itu dengan balik melempar kerikil…..dan….cii luk baaa, bertemulah dua insan pertama yang saling cinta itu. Kata orang Jawa yang biasanya ‘othak athik mathuk, itulah yang ditirukan oleh adat perkawinan Jawa, waktu mempelai pria dan wanita ‘ditemokne (dipertemukan) pake gendhing kebo giro, keduanya saling melempar sirih. Sirih atau suruh dalam bahasa Jawa berarti ‘kesusu arep weruh (buru-buru pengin lihat).

Demikianlah, wukuf di Arafah itu adalah sebagai upacara napak tilas perjumpaan Adam dan Hawa. Kini, para adam dan hawa dari berbagai penjuru dunia berkumpul dan bertemu di padang Arafah agar saling mengenal, saling mengetahui dan mengerti bahwa manusia dan kemanusiaan itu sebenarnya sama. Perbedaan bahasa, suku bangsa, warna kulit, tradisi, budaya, keturunan, pangkat dan jabatan, profesi, kekayaan dan lain sebagainya hanyalah perbedaan luar, perbedaan lahiriah yang bukan merupakan perbedaan hakiki. Yang membedakan tinggi rendahnya kedudukan manusia di hadapan Allah adalah katakwaannya . Maka terasa sekali kebenaran firman Allah di surah Al Hujurat: 13. Perbedaan apapun yang ada diantara sesama manusia bukanlah untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal, saling mengetahui dan saling mengerti (lita ‘aarafuu – dari kata ‘arafa ya’rifu). Dan di Arafah inilah diselenggarakan “perkenalan akbar” manusia dari berbagai penjuru dunia.

Dan agar dalam perkenalan akbar itu tidak terdapat kekakuan dan kekikukan, atau agar tak terdapat dinding pemisah antara satu dengan lainnya, maka semua peserta wukuf diwajibkan memakai pakaian seragam, yaitu pakaian ihram yang serba putih, sebagai lambang kesucian jiwa. Tidak pandang kekayaan, pangkat dan jabatan, serta status sosial mulai dari pemimpin negara sampai rakyat jelata, seluruhnya menyatu dalam gugusan manusia. Lepas identitas masing-masing. Yang ada cuma satu yaitu manusia tanpa embel-embel jelita atau jelata atau formalitas yang sering membuat manusia terkotak-kotak. Arafah juga bertalian makna dengan ‘ma’rifat, artinya mengenal, mengetahui dan mengerti sebenar-benarnya hakikat manusia.

Sedangkan wukuf sendiri adalah salah satu rukun haji yang sangat penting. Wukuf sendiri berarti berhenti atau berdiam di padang Arafah walaupun hanya sesaat. Hakekat wukuf dengan cara berhenti atau berdiam adalah merenungi dan menemukan hakekat hidup, ‘sangkan paraning dumadi’. Bukankah tidak sedikit manusia yang tidak sempat tahu siapa sebenarnya MANUSIA, padahal telah lama menjadi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari terlalu sibuk dengan program dan acara hidup di luar dirinya yang tak kunjung usai dari pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi sampai tak sempat memikirkan dan merenungkan siapa sebenarnya dirinya. Karena itu sebaiknya kita perlu menyediakan waktu untuk wukuf dalam arti yang hakiki bukan hanya di Arafah. Dan sholat adalah sarana yang efektif untuk wukuf harian, sebagai terminal untuk melabuhkan kepenatan jasmani dan ruhani.

Sementara, wukuf di padang Arafah itu adalah semacam ‘gladi bersih’ untuk mengikuti APEL BESAR di padang mahsyar. Karena itu saat detik-detik upacara wukuf diutamakan untuk keluar dari tenda, untuk ‘menikmati sengatan matahari di gurun pasir sebagai latihan menghadapi sengatan matahari di padang mahsyar.

Penanya kita yang lugu tadi mengangguk-angguk. Maka kuliah singkat dinyatakan selesai, kami pun berjalan kembali ke tenda. Malam pun semakin larut di Arafah dan rembulan tanggal 8 Dzulhijjah telah tenggelam di ufuk barat. Nun jauh di atas sana, dengan background layar yang tak terhingga luasnya, bintang-bintang berkelip. Dan orang yang saya sebut si penanya kita itu menengadah ke langit. Ia memang tak melihat manusia di langit itu, tapi ia melihat kebesaran Allah. Allahu Akbar! “Dialah yang menciptakan bagi kamu sekalian apa saja yang ada di bumi, semuanya.” (Al Baqarah 29)

Vocabulary:

pul-kumpul: berkumpul
juk tojuk : duduk-duduk
ngudoroso : bicara dalam hati
neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan: diam kenapa? Kalau anda bisa, baca Qur’an atau berdoa sebisanya
kesasar: tersesat
reng bini : perempuan
nika beni agejek : ini bukan bercanda


CINTA DAN PENAFSIRAN YANG BERBEDA



Lupakah kau bahwa kita berdoa itu artinya kita sedang bicara tentang cinta, dan dengan bahasa cinta-Nya pula? Kita sedang melapor bahwa kita taat, tunduk dan patuh semata karena cinta kita pada-Nya. Kau pikir layakkah kita bicara tentang cinta kita pada-Nya tetapi diam2 diluar itu semua, kita membenci, bahkan menganiaya hamba-Nya? Cinta macam apa jadinya yang kita bicarakan itu? Harus diakui, diam-diam kita memiliki standar kita sendiri mengenai cinta. Dan tiap diri diantara kita pun diam2 punya cara tersendiri dalam mewujudkan makna cinta itu.

Di dalam lagu-lagu, cinta selalu berarti tuntutan, “berikan daku cintamu dsb.” Pendeknya, cinta bukan sebuah pengorbanan. Cinta pada seseorang pada dasarnya adalah potret egoisme: cinta pada bayangan diri sendiri , yang terpantul pada sikap, jiwa dan perilaku lain, cinta adalah potret Narciscus, tokoh legenda Yunani itu. Minimal jelas tak pernah terpantul corak yang altruistik sifatnya. Hal ini mungkin karena cinta didalam lagu-lagu selalu bersifat possesive. Kau juga tahu, cinta lebih sering kita lihat sebagai sifat menuntut. Atau mungkin mengemis terus menerus dan bukannya tampil sebagai pengorbanan yang tulus. “Berilah saya rezeki yang banyak ya Allah, pangkat yang tinggi, derajat yang luhur,” misalnya. Dengan begini, sebenarnya diam-diam kita selalu ‘merampok’ Tuhan yg kita cintai dan mencintai kita. Dalam takaran pribadi mungkin itu tak salah. Tapi bila hal ini jadi tatanan sosial yg baku, tidakkah kita takut akan dampaknya, yaitu menjadikan kita malas, fatalistis dan kurang gairah dalam usaha? Bukannya Tuhan pun menyuruh kita untukmenjadi arsitek bagi nasib kita sendiri?

Dalam hidup kita sehari-hari, kita menyaksikan bagaimana ruwetnya persoalan tentang cara kita harus menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Memang kita bicara tentang cinta dengan bahasa cinta cinta sebagaimana yg kita pahami. Dengan begitu, manifestasi cinta itu sekali lagi beragam. Dan bahwa keragaman ‘warna’ cinta itu muncul karena tafsir dan penalaran kita berbeda. Pluralisme semacam itu mungkin baik sejauh TIDAK MENGKLAIM YANG PALING BENAR. Jadi? Mekarlah seribu ‘bunga’ tafsir. Berkembanglah sejuta makna sejauh tetap sadar bahwa makna yang kita pegang hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang benar. Bahkan kita tahu, salah satu kemungkinan yg salah. Karena tak ada yang diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk bertindak sebagai hakim agar mengadili pihak lain yang tak sama paham cintanya dengan kita. DERAJAT KITA SAMA, SAMA-SAMA PESAKITAN YG MENUNGGU PENGADILAN TUHAN!! Maka mendengar ada anggota Islam fundamentalis mencela pecinta yang lain (yang mereka sebut dengan penganut Islam sekuler, Islam liberal(JIL), Islam nasionalis, pluralis ato apalah) yang jelas berbeda paham cintanya, aneh rasanya.

Kalau benar kita sedang berusaha mencintai Tuhan dengan cara kita sendiri, mengapa pada saat yang sama kita juga ‘memusuhi’ hambaNya?

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman facebook yang kebetulan dari kelompok Islam fundamentalis. Saya sakit hati karena mereka mengatai kelompok Islam yang mereka sebut sebagai Islam pluralis, liberalis dll sadalah keledai, banci dan monyet. Sesungguhnya, yang mengatai demikian belum tentu lebih baik Islamnya….