Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Fiksi

Elegi di Seputar Bis Kota


Pulang dengan kepenatan yang sangat! Satu bis AC melewatiku dengan angkuhnya, tak mau berhenti untukku. Padahal kepenatanku ingin segera kuhempaskan di joknya yg dingin..

20 menit kemudian ada bis baik hati menghampiri; bis ekstra cepat yang biasa merajai jalanan, alhamdulillah beruntungnya. Meski bis ini sering bikin jantungan karena ugal-ugalan di jalan. Berharap menemukan kenek bis yang hamil dulu….sehatkah dia? Atau sudah berhenti ngenekkah dia? Tapi sesampainya di dalam tak kujumpai dia lagi….hanya anak laki-laki dekil seumuran anak sulung saya yang sesekali berteriak: “Kupang….Kupang….JMP…JMP…..!!” Ingatan langsung melayang ke anak-anak. Yang sulung jam segini pasti sibuk belajar dan si bungsu lagi di tempat lesnya.
“Dek…ngga sekolah ya,” tanyaku.
“Sudah ngga, kalo saya sekolah, kapan nyari makannya?” jawabnya, sesekali tangannya sibuk membantu penumpang naik turun, “YaaTuri….Turi…stasiun….pasar Turi….kosong!”

Anak sekecil itu dipaksa dewasa oleh keadaan, oleh ketiadaan…..

*segores kepedihan menyesakkan dada

Iklan

Pertemuan Dengan Sophia


Ini yang ketiga kalinya aku berdiri disini, ditempat ditemukannya mayat Sophia. Di jam yang sama seperti kemarin dan dua hari sebelumnya. Telah kusiapkan kamera saku dan tape recorder, barangkali Sophia tak keberatan berpose untukku atau bersedia memberikan pengakuannya….heheh..aku tersenyum sendiri.


Di jam yang sama seperti kemarin, jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi dan aktifitas gedung mulai berhenti. Kali ini aku tidak bersiul tapi aku menyanyi. Lagu yang kuanggap bisa membuat Sophia senang, karena kurasa ia mempunyai karakteristik yang sama denganku; penggemar bola, penyuka Messi dan Barca walaupun sekaligus menyukai MU (Manchester United). Sophia pasti menyukai lagu yang kunyanyikan meskipun suaraku juga tak merdu.

Ya kurasa Sophia akan suka:….

…..’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

Baru saja mengakihiri bait terakhir reffrain tiba-tiba….”Jedooorrrr!!!”….suara sesuatu dilempar ke arahku keras sekali mengenai papan di belakangku. Aku cuek….sambil kulanjutkan nyanyianku, kali ini kukeraskan suaraku….lebih keras lagi. Suara lemparan keras itu terdengar lagi. Sepertinya dari arah parkiran, bergegas kuhampiri, sepertinya ada yang terganggu dengan hadirku. Kuperiksa dengan seksama di setiapsudut, tak ada siapa-siapa….tak ada apa-apa….hanya sepi menggayuti pikiranku.

Ketika hendak berbalik, kulihat sosok hitam besar dan berbulu berdiri di bawah lampu. Matanya merah menyala-nyala. Mau apa dia? Sepintas tanda tanya melintas. Dari sorot matanya ia tak menyukai kehadiranku, ia terganggu dengan nyanyianku. Entah mengapa, ia seperti punya kenangan buruk terhadap lagu ini. Dan aku tak berharap sama sekali bertemu sosok ini, “aku hanya inginkan PERTEMUAN DENGAN SOPHIA…..!!”

Beringsut kubalikkan badanku, “peduli apa denganmu! Sudah rambut tak pernah kau cukur, mata merah tak kau beri tetes mata…jangan tampakkan dirimu! Sekali-kali jangan!!”

Kembali ketempatku berdiri semula, di tempat mayat Sophia tergeletak dengan isi kepala terburai berantakan….Lebih dari satu jam aku berdiri disini, dan hampir putus asa. Sophia tak kunjung datang. Mungkin ia malu ketahuan putus asa dan membunuh dirinya sendiri, mungkin juga ia marah tak seorang pun menolongnya saat seseorang mendorongnya. Atau ia gengsi karena kematiannya merepotkan banyak orang dan menyisakan tanda tanya, “mengapa SOPHIA DECIDED TO DIE?”

Aku tak ingin bersedih atas kematiannya, tapi hasratku meronta-ronta menginginkan pertemuan dengannya. Aku mencari-cari isyarat yang mungkin ditinggalkan Sophia.

Beberapa hari sebelum kematiannya, Sophia sempat menulis status di Facebook-nya:

“Pura-pura melupakanmu atau berusaha melupakanmu, upahnya tetap sama; rindu.”

Rupanya ada yang Sophia rindukan, tapi siapa? Siapa….??

“Langit di sini abu-abu dan hujan mulai turun. Suara rintiknya seperti rindu, ke kamu.”

Kau tahu siapa kekasih Sophia? Siapa yang selama ini dekat dan dicintanya? Lalu distatus selanjutnya:

“Mengapa mawar merah milikku kau buang di jalanan? Kamu kejam!”

Lalu status yang lain, ditulis dalam bahasa Inggris….Ada kemarahan dalam nadanya.

“I just can’t live a lie anymore…I am really tired being what you want. And now I just want to be what I want to be…!”

Lalu seperti kilasan kepasrahan demi kepasrahan;

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

“Let me fall….I don’t like this life…”

Lalu terjadilah bunuh diri Sophia. Sophia benar-benar jatuh….Sophia decided to die?

Beberapa hari ini Sophia berhasil mengusutkan pikiranku…..ahhh! Sunyi kembali menggelayuti malam, di tempat ini. Sesaat nyaris putus asa…kudengar suara berbisik, bukan berbisik tapi tangisan lirih…entah suara siapa. Sophia-kah? Samar-samar lirih terdengar, dahiku berkerinyut, bulu kudukku meremang….ia menakutiku. Mengingatkanku akan kemunculan tokoh sentral di film horor; suara kuda meringkik….!!

Tapi sesaat kemudian menghilang bersama kegelapan malam. Aku masih terpaku di tempatku, tempat Sophia terjatuh.

Dalam benakku, Sophia menggapai-nggapai pertolongan, ia sedih. Selintas kulihat sosok laki-laki diatas sana, sebelumnya melingkarkan pelukan, hangat dan menggelora. Sorot matanya dipenuhi cinta. Mereka tertawa-tawa….Mereka bahagia….Mungkinkah laki-laki yang ia percaya menggamit tubuhnya itu telah mendorongnya? Untuk apa? Untuk siapa?

———————————————————————-

Catatan:

’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

(Marcell: Kau Tak Akan Terganti)

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

(Rumi)

************


19thfloor,20110520

Malika Assaif



Philosophia Decided To Die


Kau pernah dengar cerita tentang hantu bernama PhiloSophia?


Konon, dia cuma seorang gadis yang mati. Seorang gadis yang mati dengan cara melompat dari lantai 19 gedung berlantai 21, yang entah dia pingsan atau tidak di tengah-tengah perjalanannya menabrak lantai dasar, lalu pecah berantakan kepalanya. Saat itu ia mengenakan kaos  bergambar Lionel Messi dan betuliskan ‘I LOVE BARCA’.

Konon dia pernah selamat dari tikaman sahabatnya saat SMP, lalu dia selamat dari tikaman sahabatnya yang lain baru-baru ini. Entah apa yang membuatnya memutuskan membunuh dirinya sendiri, mungkin sebelum mendapat tikaman yang ketiga yang mungkin sanggup membunuhnya, maka dia memutuskan membunuh dirinya sendiri. Masak karena kalah taruhan bola ya?? Yang pasti….PHILOSOPHIA DECIDED TO DIE

Yang mengherankan, dia tak meninggalkan tulisan apa-apa. Tali sepatunya terburai, baju t-shirt luar yang membungkus tubuhnya di luar kaos pun tidak disetrika. Polisi menemukan kedua handphonenya terjatuh hancur pula di sebelahnya, seperti tak punya persiapan untuk mati. Polisi juga menemukan buku-buku di tempat Sophia diduga melompat. Mereka lantas curiga, jangan-jangan ini bukan kasus bunuh diri. Bahwa pernah ada seseorang di atas sana, mendorongnya hingga terjatuh. Seseorang yang dikenal karena tidak ada bukti-bukti pergulatan. Seseorang yang memberinya rasa aman, nyaman, lalu merenggutnya saat dia percaya. Mungkin kekasih, mungkin teman dekat, atau mungkin selingkuhan…. entahlah, yang jelas tak ada satupun jejak meronta-ronta. Mungkin seseorang itu memeluknya dari belakang, membuatnya lunglai dalam pelukannya, lalu mendorongnya jatuh. Yang jelas, ada banyak kemungkinan mengenai kematian Sophia. Namun, tak seperti  yang tampak….dia membunuh dirinya sendiri.

Beberapa saat sesudahnya, di sekitar tempat ditemukannya mayat Sophia tergeletak, sering terjadi kejadian-kejadian aneh yang tak masuk akal. Dan orang bilang banyak mendengar suara-suara di sana. Adalah larangan mengeluarkan suara di sekitar sana, kalau terpaksa lewat ya paling aman berjalan dengan tenang dan tanpa suara. Sebenarnya yang paling sering diingat-ingatkan adalah tanpa bicara. Karena konon cuma orang-orang tertentu yang berhak bicara di sana. Tetapi ketakutan kadang-kadang membuat peraturan diterapkan berlebihan sehingga mereka yang terpaksa lewatpun melewatinya dengan suara langkah yang paling minim terdengar karena takut. Takut hantu Philosophia…..penggemar Barca dan Messi.

Aku dengar di tempat inilah Sophia mati. Maka aku bersiul di sini, di jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi, kuingin bertemu Sophia sekaligus bertanya sebab kematiannya. Lalu kudengar ribut suara, kucari sumbernya, tak ada apa-apa…tak ada siapa-siapa…tak ada yang nyata. Tidak ada apa-apa. Tidak ada bisikan, tidak ada hardikan….bahkan tangisan Sophia.

PS: Thanks For My Friend Abed Nasser who gives me The Barca’s pic!

19thfloor,20110518

Malika Assaif


Perempuan Dan Hujan


13057166761833462478Langit temaram sore itu, mendung menggantung di ufuk barat.Terlihat hitam dan ‎sangat pekat. Sebentar lagi pasti hujan. Bergegas perempuan itu mengemasi kertas-kertas dan map kerjanya, mematikan monitar di mejanya. Buru-buru ia tinggalkan ruang kerjanya, keluar dari kantornya dan gedung bertingkat tempatnya bernaung. Buru-buru berharap menapak rumah sebelum hujan mengejarnya.

Setengah berlari, keluar dari gedung dan berjalan ke halaman parkir tiba-tiba ‘bressss!! hujan itu datang semendadak dan secepat itu yang ia pikirkan.

“Hey, aku disini. Hadir disetiap tetes hujan. Tak perlu lari atau sembunyi, karena semburat airnya akan menemukanmu jua.”
“Bagaimana kau menemukanku? Aku tak pernah mengucap mantra untuk memanggilmu.”
“Tak perlu memanggilku, aku telah membaca isyarat angin, daun-daunmu yang menguning dan ranting-ranting pepohonan yang mengering. Kau membutuhkanku, kau merindukanku
.”
“Kau memerlukanku untuk menyemaikan kehidupan didalammu. Aku selalu ada didekatmu, lebih dekat dari kesadaranmu sendiri. Seribu kali kau menolakku, aku akan tetap datang untuk mencium wangimu, memekarkan kuncupmu sehingga warna-warni mengghiasi rambutmu dan hatimu. Tanpa aku kau tiada, hampa tanpa ruh. Aku ruhmu, kau jiwaku. Kau dan aku satu, jiwa yang satu dalam penyatuan tiada henti. Hujan mencintai tanahnya, aku yakin tanah juga mencintai hujan. Kamulah tanah itu, kamu tanahku, milikku!!

Gairahnya seperti terbakar, meletup-letup…jantungnya berdesiran, berdeburan seperti ombak Pantai Selatan, kaki-kakinya lemas tak berdaya, sesaat itu pula nafasnya sesak.

Hujan terus berbisik lewat derai-derai air yang membelai wajahnya, rambutnya, lalu jatuh ke lehernya, membuainya, meresapi seluruh tubuhnya lewat celah-celah bajunya. Dan mencumbunya dalam basah! Perempuan itu mendesah, “sigh….ahhh!” Perempuan itu berlarian, berkejaran, meliuk-liuk seperti sedang menari mengikuti irama hujan dan larut dalam rengkuhan hujan. Lalu putaran itu membawanya jatuh terjerembab dalam kubangan lumpur yang kotor. Badannya menggigil kedinginan, ototnya lemas tanpa daya, tulang-tulangnya serasa membeku, sedang tangannya menggapai-gapai hampa. Dia hanya melihat langit serasa hitam pekat, lampu-lampu meredup, dan hujan pun semakin keras menderanya dalam basah. Perempuan itu hilang kesadaran!

Sejenak hujan telah membuainya dalam impian yang basah menggelora, membawanya bermimpi indah. Dan perempuan itu berpikir kehadiran hujan adalah anugerah tak terelakkan. Lalu sekejap kemudian, kilat bersahutan dalam gemuruh hujan. Halilintar itu datang, gemuruh dan terang. Serentak lampu-lampu gedung menyala, menyorot ke wajah pucat perempuan malang itu.

Terbangun geragapan disapa Enok, marketing kesayangannya yang sibuk melumuri kakinya dengan menyak kayu putih, “syukurlah! Ibu sudah sadar, tadi Ibu pingsan kehujanan…”
Lalu disusul senyum atasannya yang orang India, Raj Vasandani yang simpatik menggenggam tangannya. “Welcome back dear!”

“Hujan pasti telah menyeretnya dalam kubangan lumpur…”, suara lain di belakang menyahut.
“Subhanallah, walhamdulillah, wala illaha illallahu Allahu Akbar! Ampuni saya ya Allah! Ampuni saya…” Tangis perempuan itu pecah dalam keributan orang disekitar yang berusaha menyadarkannya. Tubuhnya masih lunglai dan lemah. Sejenak, matanya mencari-cari….“Dimana lautku, samuderaku….!” Orang-orang tak mendengar jeritannya rupanya. Perempuan itu kembali hilang….matanya kembali terpejam. Sementara derai hujan terus berjatuhan dan suaranya riuh mengganggu telinga kesadarannya, ingatannya.

Seperti gulungan-gulungan film yang diputar kembali laksana slide, perempuan itu melihat sisi dirinya di masa lalu dan masa kecilnya. Betapa ayahnya akan sangat marah jika melihatnya bermain hujan; segera ayahnya akan mengambil bilah bambu untuk memukul kaki dan pantatnya, lalu menyeretnya ke kamar mandi dan memandikannya sambil mengomel. Jernih dalam ingatannya pula, betapa ia suka sekali bermain dengan anak anjing tetangga yang amat lucu. Anak anjing Chocow itu selalu menyambutnya dengan kibasan ekornya dan gonggongan kecil saat ia datang. Lalu dengan gemas digendongnya anak anjing itu ke sana kemari, saat itu ia ingat masih kelas 2 Sekolah Dasar. Lalu ayahnya akan sangat marah dan menyeretnya pulang, menggosok badannya dengan pasir dan memandikannya. Dia tidak tahu ada hukum najis dalam keyakinannya. Ah ayah….saat ini aku merindukanmu! Pasti kau akan melarangku hujan-hujanan lagi….Aku ingin kau memukulku saat ini, keras sekali!!


KONSULTAN


Seorang gembala menggiring domba-dombanya di padang rumput terpencil ketika tiba-tiba sebuah BMW baru meluncur arahnya. Pengemudi, seorang pemuda dalam setelan Broni, sepatu Gucci, kacamata hitam Ray Ban dan dasi YSL, melongok keluar jendela dan bertanya gembala,“Jika saya mengatakan dengan tepat berapa banyak domba yang ada dalam kawanan Anda,maukah Anda memberi aku satu ekor?”
Gembala itu memandang pria itu, lalu melihat sekawanan domba gembalaan dan dengan tenang menjawab, “Tentu.”

Pria muda itu memarkir mobilnya, mengeluarkan IBM ThinkPad yang tersambung ke ponsel, kemudian ia berselancar ke website NASA dan menggunakan sistem navigasi satelit, mengamati daerah tersebut, dan kemudian membuka database dan Excel spreadsheet dengan formula kompleks. Dia mengirim email melalui Blackberry dan setelah beberapa menit, mendapatkan tanggapan. Akhirnya, ia print laporan 130 halaman pada printer mininya kemudian berkata kepada gembala itu, “Anda memiliki tepat 1586 domba”.

“Itu benar! silakan ambil salah satu domba,” kata gembala.

Pemuda itu memilih satu ekor hewan dan memasukkan ke dalam mobilnya.

Kemudian gembala mengatakan: “Jika saya bisa mengatakan dengan tepat apa pekerjaan Anda, apakah Anda akan memberikan kembali hewan saya?”

“OK, mengapa tidak” jawab orang muda itu.

“Jelas, Anda adalah konsultan,” kata gembala itu.

“Itu benar” kata pria muda itu, “tapi bagaimana Anda bisa tahu?”

“Tidak perlu menebak,” jawab gembala. “Anda muncul di sini meskipun tidak ada yang memanggil Anda. Anda ingin dibayar untuk jawaban yang sudah saya ketahui, dan Anda ingin dibayar untuk sebuah pertanyaan yang tidak pernah saya tanyakan. Dan Anda tidak tahu apa-apa tentang bisnis saya… Sekarang kembalikan domba saya.”

Posted with WordPress for BlackBerry.