Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

filsafat

Miskin Yang Sesungguhnya


Ya ngga papa kalian menghina kemiskinanku. Yang pasti, saya menikmati hidup ini karena tak punya hutang.Orang-orang yang masih melihat kekayaan secara normatif, selalu saja berpijak pada materi. Padahal hakikat kekayaan itu ya sangat imaterial.

Wawan, suami walkot tangsel, begitu bergelimangan mobil-mobil mewah. Ia kaya secara materi. Dan akhirnya, Allah memperlihatkan asal kekayaan itu.

Note it: Kekayaan materi itu perlu tapi asal usul kekayaan materi itu jauh lebih perlu!


Ujian


God makes no mistakes!!

Ujian adalah syarat mutlak agar kita bisa naik kelas. Setiap manusia pasti pernah menghadapi ujian, hanya saja bobot dan jenisnya yang beda. Anak sekolah juga mengalami ujian kehidupan berupa UTS, UAS, atau UN. Usai sekolah juga menghadapi ujian, yakni berburu pekerjaan. Sedang orang bekerja juga menghadapi ujian; berupa tes kelayakan untuk bisa mendapatkan jabatan dan posisi baru di kantor dll.

Jadi inget dengan banyak tokoh hebat yang malah menghasilkan karya besar dari balik penjara. Salah satunya Hamka, yang pada 27 Januari 1964 ditangkap dan dijebloskan dalam penjara oleh sahabatnya sendiri.

Jika kebanyakan orang meratapi nasib selagi di penjara, hal ini tak berlaku buat Sang Buya Hamka. Beliau malah sibuk menulis, mendalami intisari ayat Al Qur’an. Maka ditahun yang sama, beliau melahirkan karyanya yang monumental, yakni Tafsir Al Azhar! Subhanallah…..never blame any day in your life. Good days give you happiness. Bad days give you experience. Worst days give you a lesson!!

*jangan buru-buru galau menghadapi ujian yang seiprit dong! BANGKIT!!

Desember 2014 Pasca Perceraian


Ngaca Diri


Ternyata episode 366 hari sudah akan selesai dalam beberapa minggu. Banyak hal yang sudah kita lewati. Tak sedikit juga yang kita capai dan pelajari. Entah keberhasilan atau bahkan kegagalan, semuanya adalah pencapaian yang patut disyukuri. Toh keduanya hanya soal hasil. Yang penting adalah bagaimana proses menemui kegagalan atau keberhasilan itu sehingga bisa kita ambil sejumput hikmahnya. Menang atau kalah hanyalah soal kesempatan.

Setahun kita lewati berarti setahun usia berkurang, jatah hidup kita di dunia berkurang. Dan setahun belakangan betapa mesin kehidupan telah menyeret kita dalam ketuaan; gigi mulai ompong, rambut beruban dan kulit mulai keriput. Baru nyadar setelah mengamati wajah dalam cermin: “kamu sudah tua Malika, akankah kau mengusutkan hidupmu lagi, atau menata kembali hidupmu yang berantakan?” Pertanyaan menohok dari dalam sana yang harus kujawab dengan kesungguhan; mau menjadi tua dan mendewasa atau sekedar menua? Jangan sampai sindiran sang Buya Hamka berlaku padamu: “hidup sekedarnya (ala babi hutan) dan beraktifitas/kerja seadanya ala monyet.”

: mau kamu?!

04:33 selepas subuh saat embun turun menghikmati rumpun dedaunan


Membincang Kekerasan Dalam Beragama; Merasa Diri Paling Benar??


“Orang takwa sejati tidak pernah menggunakan agama sebagai sebab perpecahan. Orang takwa percaya bahwa agama adalah wahana mempertemukan ummat manusia. Kalau ada orang suka mempertentangkan ajaran agama, apalagi sesama agama ia pasti belum sampai derajat takwa. Sama halnya orang yg mencari perbedaan dan sangat sensitif melihat perbedaan lalu menggunakannya untuk memecah belah ummat. Orang seperti ini belum sampai derajat takwa. Orang yg takwa adalah toleran pada orang seagama dan pada pemeluk agama lain (Jalaluddin Rakhmat 2008)”

Kekerasan atas nama agama masih –bahkan semakin- marak di negeri ini. Padahal, terlepas dari berbagai kontroversi yang mengitari sebuah isu, khususnya isu-isu keagamaan, maka kekerasan sama sekali tak diperbolehkan menjadi sarana untuk menyelesaikan kontroversi atau pun masalah umat. Sebab, metode penyelesaian masalah dengan jalur kekerasan bukan tuntunan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Salah satu isu yang biasanya dianggap menjadi pemicu konflik antar umat beragama yakni isu perbedaan ajaran dan pandangan, baik antara umat beragama atau antar sesama Muslim. Isu kerukunan umat beragama di Indonesia masih didominasi masalah kekerasan yang melibatkan agama. Meski disetiap negara bercorak plural seperti Indonesia boleh dibilang wajar mengalami benturan atau ketegangan-ketegangan dalam masyarakat, akantetapi dalam kasus kekerasan yang terjadi menurut studi tidaklah wajar. Ketidakwajaran itu ditenggarai oleh kejadian yang berulang-ulang sehingga muncul indikasi pemerintah seolah diam saja dalam melihat masalah tersebut. ada dua hal penting yang memboncengi tindak kekerasan yang terjadi, yakni soal keberadaan rumah ibadah dan adanya pembatalan acara yang diinisiatifkan lembaga-lembaga seperti LGBT ((Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?

Pertanyaan “mengapa” itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun marilah kita mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran:“Wa qul jâ’a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa” (dan katakanlah: “kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna). Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Pak Alwi Shihab sempat menyampaikan, bahwa salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya—berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, adalah debat tentang pemberlakuan syariat Islam. “Syariat Islam yang mana yang akan diterapkan di sini?” Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab yang kita anut: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral dan paling benar, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Quote: 

“If people knew their own religion, how tolerant they would become, and how from any grudge againts the religion of others.”


MENGISLAMKAN ORANG ISLAM


Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

Batapa lembut dan hangat agama itu.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku..

Akhirnya, bila boleh menyimpulkan agama yg benar adalah:

1. Agama yg mengajarkan cinta kpd sesama bukan agama benci.

2. Agama yg mengusung akal sehat dan akal budi, berpikir logis rasional, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, inquiry mind, dialogis. Bukan sebaliknya yaitu anti rasional, anti dialog, menolak logika & akal.

3. Agama yg menjunjung tinggi akhlakul karimah/budi pekerti/etika yang agung dan mulia, yang fondasinya adil (etika sosial) dan baik/ihsan: membalas keburukan dengan kebaikan (etika individual). Yg prinsip umumnya mengajarkan kita utk tdk memperlakukan orang dengan perlakuan yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Jika anda tidak mau disesatkan/dikafirkan jangan sembarang menyesatkan/mengafirkan orang lain.

4. Agama yang menjunjung tinggi prinsip Hanif: jujur, lurus, murni dan Samhah: lapang, toleran, menghargai pluralitas. Memangnya hanya mereka/kita yg berhak mengklaim kebenaran, orang laintidak boleh.

Dalam Al Qur’an pun kita mengenal ayat yang menjunjung tinggi hubungan silaturahim:
Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi harus yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu melihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!

Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan kita dalam bingkai kemanusiaan dalam keberagaman untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

*Didedikasikan untuk ISACS : Institute Study Agama dan Civil Society

Salam Pluralisme!!

Malika Assaif


Life is About Moving


Imam Syafi’i pernah berkata:

“Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan.
Seandainya mengalir dia menjadi jernih,
jika tidak dia akan keruh menggenang.

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan,
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan.

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.
Anak panah jika tidak dilepaskan busur tak kan kena sasaran.

Jika saja matahari tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang”

Untuk itu..BERGERAKLAH..sahabatku !

Sekalipun besok hari kiamat,
kita diperintahkan untuk tetap bergerak dan beraktifitas.

Baginda Rasululllah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنْ قَامَتِ السَّاعَة ُوَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَة ٌفَاسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يُغْرِسَهَا فَلْيُغْرِسْهَا فَلَهُ بِذاَ لِكَ أَجْرٌ

“Jika Kiamat datang, sementara di tangan salah seorang diantaramu ada sebuah biji Kurma, lalu ia mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum Kiamat terjadi, maka hendaklah ia tanamkan, karena dengan demikian ia akan mendapatkan pahala.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Abdil ‘Aziz dlm al-Muntakhab dg isnad yg hasan dari Anas ra.
Juga kitab ‘Umdatul Qari’ fi Syarhin Shahihil Bukhari oleh Syaikh Badaruddin al ‘Aini, bab al-Hartsu waz Zira’ah)

Ketika kita bergerak, kemudian mengalami benturan “BADAI”,
itu sesuatu yang wajar sahabat…

Grace Hopper mengatakan :
“A Ship in port is safe, but this not what ships are built for!”.
Memang aman kalau kapal cuma bersandar di pelabuhan,
Namun bukan untuk itu dia diciptakan !!!

BADAI ujian adalah sesuatu yang sangat wajar,
Sebagaimana juga kita sekolah.
Maka kita juga pernah mengalami “BADAI” ujian.
Setelah badai berlalu, maka nikmat “KELULUSAN” akan kita dapatkan

Semakin banyak rintangan dalam bergerak,
Semakin TANGGUH dan TEGARLAH kita.
Semakin banyak kesedihan yang kita jumpai,
Semakin LEMBUTLAH kita…
Dan semakin banyak PAHALA, ILMU dan CAHAYA kita dapatkan.

Semakin banyak BERGERAK dan semakin banyak LULUS badai ujian,
maka juga akan membuat semakin CEMERLANG pribadi kita…
Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang BERCAHAYA…
Bukankah kita sering melihat SINAR OBOR yang begitu cemerlang…
dari para tokoh setelah mereka bergerak dan mengalami badai ujian.

Boleh jadi kita belum bisa seterang OBOR para tokoh,
Namun minimal bisa seperti KUNANG-KUNANG…
yang mampu membuat malam menjadi semakin INDAH.


Melembutkan Hati


Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.

Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.

Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda,
namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya.

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan
merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.

Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan anda


KECEWA


Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa.  Kecewa sekali.  Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, dan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Ketika nyala mulai meredup. Asa yang menguatkan itu masih ada meski hanya setitik. Jangan menyerah karena ini semua terjadi karena cintaNya.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam qolbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Pesan seorang sahabatku “Asa yang terkoyak, hati yang berduka, airmata yang menetes, bibir yang keluh tuk berucap, biarlah menjadi saksi semua mujahadahmu”. Subhanallah…..

Apa yang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jodoh, jabatan, kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi APA YANG MEMANG BUKAN MILIK KITA, IA TIDAK AKAN BISA KITA MILIKI, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

Wahai jiwa yang sedang gundah, bacalah ini dari Allah : “ Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui “( Qs Al Baqarah : 216 )


DISKURSUS


Orang salah mengerti tentang dirimu. Barangkali kau sulit dipahami ya. Menelusurimu, pada hakikatnya sama dengan melompat dari satu premis ke premis lain dlm silogisme. Dan kau pasti tahu, silogisme dapat menjadi berbelit. Untuk tidak bingung, inilah premis tentang serangkaian abstraksi mengenai dirimu: “Kamu adalah kamu, andaikan kamu bukan kamu, maka kamu bukanlah kamu. Tapi karena kamu adalah kamu, maka kamu adalah kamu, maka kamu adalah kamu.” Piye to?!


SUATU MALAM DI ARAFAH


Tanggal 8 Dzulhijjah tengah malam, pada waktu seluruh jamaah haji telah berkumpul di padang Arafah untuk melakukan upacara wukuf esok pagi tanggal 9 Dzulhijjah setelah tergelincir matahari, salah seorang jamaah haji menggamit lengan suami saya yang sedang hanyut dalam doa dan dzikir, sambil berbisik: (kira-kira begini),
“He Kak Tuan, haji itu cuma pul-kumpul dan juk tojuk seperti ini ya.” Rupanya penanya kita ini jamaah haji dari Madura, kelihatan dari logatnya, serta panggilan ‘Kak Tuan’ memang panggilan khas bagi orang Madura laki-laki yang sudah bergelar haji. Suami saya yang ditanya cuma diam.
“Eh Kak Tuan, apa sebenarnya yang kita cari disini? Apa ini yang dinamakan haji itu? Kalo hanya begini kan percuma kita jauh-jauh meninggalkan tanah air pake bayar mahal pula”, bisiknya lagi. Suami saya tetap diam. Saya sebenarnya ngga tahan kepengin menjawab pertanyaannya, tapi daripada saya nanti gusar mending diam aja. Dalam hati saya ‘ngudoroso, kok aneh tur lucu orang ini. Sudah sampai disini kok ngga ngerti tujuannya. Rupanya suami saya tak bergeming sedikitpun, tangannya asyik memilin biji-biji tasbih yang terbuat dari kayu K.O.K (kawakib). Penanya kita yang dari Madura ini semakin penasaran sambil mengguncang-guncang tubuh suami saya sambil setengah berteriak:
nDak Mas, eh Kak Tuan, ah Cak, saya ini tanya betul, apa sekarang ini kita sudah haji? Apa yang begini ini caranya haji itu?” Mungkin karena jengkel dan khawatir mengganggu terus, suami saya menjawab sekenanya:
“Ya, ya inilah dan beginilah yang disebut haji itu. Sudah diam sajalah, neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa, amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan”, jawab suami dengan bahasa setengah Madura juga. Dalam hati mungkin suami saya merasa kasihan pada calon haji yang kesasar ini. Karena itu setelah dia puas dengan bacaan-bacaan doa, wirid, dzikir maupun istighfar dan segala uneg-uneg hati yang ditumpahkan dimalam kudus di padang Arafah itu, suami saya melirik pada temannya yang selalu mengusiknya dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tadi (dan ternyata telah tidur mendengkur), lantas dibangunkan. “He Kak, bangun! Ayo keluar,” ajaknya sambil menarik tangan penanya kita yang masih ngantuk dan berusaha membangun kesadaran. Sampai di luar, keduanya berjalan melalui sela-sela tenda yang dipasang bergugusan, ribuan jumlahnya, di padang Arafah nan luas diterangi cahaya lampu-lampu listrik ribuan watt yang membuat padang Arafah terng benderang laksana siang hari. Saya mengikutinya dari belakang.

Di tempat agak sepi, kami pun duduk. Dengan gaya seorang ustadz, suami saya mulai berceramah pada penanya kita yang belum mudheng tentang arti dan tujuan haji ini. Katanya:
“Begini, sekarang kita sudah berada di Arafah, sebagai persiapan besok pagi, setelah matahari tergelincir atau setelah manjing dhuhur, kita melakukan wukuf. Dari sini kita memulai ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Sampeyan tahu apa artinya arafah dan wukuf itu?”
“Ya ndak tahu saya. Kalo Arafah itu nama reng bini yang rathin tetangga saya di Konang,” jawab penanya kita dengan nada cengengesan.
“Huss! Jangan guyon, nika beni agejek…!” suami saya mulai gusar (tapi saya tahu dia menahan ketawa sebenarnya). Kok ada ya calon haji yang koplonya ngudubilah begini. Mungkin waktu penataran manasik haji dulu, dia ini termasuk yang ngantuk-an. Jadi saat dijelasin, dia ketiduran.
“Habis, bagaimana wong tahunya saya ya cuma segitu. Ya jangan marah sampeyan Kak Tuan! Orang haji itu ndak boleh marah tak iye,” kilahnya.
“Oke, baiklah saya jelasin. Sampeyan ndak boleh ngantuk atopun nglamunin si Arafah yang di Konang itu,” kata ustadz tiban yang memperoleh ilmu ladunny di padang Arafah itu, terus memulai kuliah khususnya berikut ini:

Arafah, yang jelas adalah nama tempat. Ya tempat ini, tempat untuk wukuf ini. Dahulu kala, konon di tempat inilah Adam dan Hawa pertama kali bertemu setelah terpisah bertahun-tahun karena terusir dari surga. Karena itulah tempat ini dinamakan Arafah, dari kata ‘arafa-ya ‘rifu, yang berarti kenal, mengerti dan mengetahui, saling bertukar pengertian dan pengetahuan setelah sekian lama berpisah. Konon kata si empunya cerita alias shahibul hikayat, pada saat diusir dari surga, keduanya diturunkan di tempat terpisah dan berjauhan. Keduanya saling mencari, sampai akhirnya di Arafah, yang waktu itu banyak rimbun pepohonan, sehingga walaupun mereka sudah di tempat yang sama bahkan berdekatan, mereka belum bisa berjumpa. Nabi Adam kala itu mendengar suara ‘krusak-krusek di balik semak. Maka untuk meyakinkan apakah itu suara binatang atau manusia, dilemparlah batu-batu kerikil. Gayung pun bersambut, Hawa membalas lemparan kerikil itu dengan balik melempar kerikil…..dan….cii luk baaa, bertemulah dua insan pertama yang saling cinta itu. Kata orang Jawa yang biasanya ‘othak athik mathuk, itulah yang ditirukan oleh adat perkawinan Jawa, waktu mempelai pria dan wanita ‘ditemokne (dipertemukan) pake gendhing kebo giro, keduanya saling melempar sirih. Sirih atau suruh dalam bahasa Jawa berarti ‘kesusu arep weruh (buru-buru pengin lihat).

Demikianlah, wukuf di Arafah itu adalah sebagai upacara napak tilas perjumpaan Adam dan Hawa. Kini, para adam dan hawa dari berbagai penjuru dunia berkumpul dan bertemu di padang Arafah agar saling mengenal, saling mengetahui dan mengerti bahwa manusia dan kemanusiaan itu sebenarnya sama. Perbedaan bahasa, suku bangsa, warna kulit, tradisi, budaya, keturunan, pangkat dan jabatan, profesi, kekayaan dan lain sebagainya hanyalah perbedaan luar, perbedaan lahiriah yang bukan merupakan perbedaan hakiki. Yang membedakan tinggi rendahnya kedudukan manusia di hadapan Allah adalah katakwaannya . Maka terasa sekali kebenaran firman Allah di surah Al Hujurat: 13. Perbedaan apapun yang ada diantara sesama manusia bukanlah untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal, saling mengetahui dan saling mengerti (lita ‘aarafuu – dari kata ‘arafa ya’rifu). Dan di Arafah inilah diselenggarakan “perkenalan akbar” manusia dari berbagai penjuru dunia.

Dan agar dalam perkenalan akbar itu tidak terdapat kekakuan dan kekikukan, atau agar tak terdapat dinding pemisah antara satu dengan lainnya, maka semua peserta wukuf diwajibkan memakai pakaian seragam, yaitu pakaian ihram yang serba putih, sebagai lambang kesucian jiwa. Tidak pandang kekayaan, pangkat dan jabatan, serta status sosial mulai dari pemimpin negara sampai rakyat jelata, seluruhnya menyatu dalam gugusan manusia. Lepas identitas masing-masing. Yang ada cuma satu yaitu manusia tanpa embel-embel jelita atau jelata atau formalitas yang sering membuat manusia terkotak-kotak. Arafah juga bertalian makna dengan ‘ma’rifat, artinya mengenal, mengetahui dan mengerti sebenar-benarnya hakikat manusia.

Sedangkan wukuf sendiri adalah salah satu rukun haji yang sangat penting. Wukuf sendiri berarti berhenti atau berdiam di padang Arafah walaupun hanya sesaat. Hakekat wukuf dengan cara berhenti atau berdiam adalah merenungi dan menemukan hakekat hidup, ‘sangkan paraning dumadi’. Bukankah tidak sedikit manusia yang tidak sempat tahu siapa sebenarnya MANUSIA, padahal telah lama menjadi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari terlalu sibuk dengan program dan acara hidup di luar dirinya yang tak kunjung usai dari pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi sampai tak sempat memikirkan dan merenungkan siapa sebenarnya dirinya. Karena itu sebaiknya kita perlu menyediakan waktu untuk wukuf dalam arti yang hakiki bukan hanya di Arafah. Dan sholat adalah sarana yang efektif untuk wukuf harian, sebagai terminal untuk melabuhkan kepenatan jasmani dan ruhani.

Sementara, wukuf di padang Arafah itu adalah semacam ‘gladi bersih’ untuk mengikuti APEL BESAR di padang mahsyar. Karena itu saat detik-detik upacara wukuf diutamakan untuk keluar dari tenda, untuk ‘menikmati sengatan matahari di gurun pasir sebagai latihan menghadapi sengatan matahari di padang mahsyar.

Penanya kita yang lugu tadi mengangguk-angguk. Maka kuliah singkat dinyatakan selesai, kami pun berjalan kembali ke tenda. Malam pun semakin larut di Arafah dan rembulan tanggal 8 Dzulhijjah telah tenggelam di ufuk barat. Nun jauh di atas sana, dengan background layar yang tak terhingga luasnya, bintang-bintang berkelip. Dan orang yang saya sebut si penanya kita itu menengadah ke langit. Ia memang tak melihat manusia di langit itu, tapi ia melihat kebesaran Allah. Allahu Akbar! “Dialah yang menciptakan bagi kamu sekalian apa saja yang ada di bumi, semuanya.” (Al Baqarah 29)

Vocabulary:

pul-kumpul: berkumpul
juk tojuk : duduk-duduk
ngudoroso : bicara dalam hati
neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan: diam kenapa? Kalau anda bisa, baca Qur’an atau berdoa sebisanya
kesasar: tersesat
reng bini : perempuan
nika beni agejek : ini bukan bercanda


CINTA DAN PENAFSIRAN YANG BERBEDA



Lupakah kau bahwa kita berdoa itu artinya kita sedang bicara tentang cinta, dan dengan bahasa cinta-Nya pula? Kita sedang melapor bahwa kita taat, tunduk dan patuh semata karena cinta kita pada-Nya. Kau pikir layakkah kita bicara tentang cinta kita pada-Nya tetapi diam2 diluar itu semua, kita membenci, bahkan menganiaya hamba-Nya? Cinta macam apa jadinya yang kita bicarakan itu? Harus diakui, diam-diam kita memiliki standar kita sendiri mengenai cinta. Dan tiap diri diantara kita pun diam2 punya cara tersendiri dalam mewujudkan makna cinta itu.

Di dalam lagu-lagu, cinta selalu berarti tuntutan, “berikan daku cintamu dsb.” Pendeknya, cinta bukan sebuah pengorbanan. Cinta pada seseorang pada dasarnya adalah potret egoisme: cinta pada bayangan diri sendiri , yang terpantul pada sikap, jiwa dan perilaku lain, cinta adalah potret Narciscus, tokoh legenda Yunani itu. Minimal jelas tak pernah terpantul corak yang altruistik sifatnya. Hal ini mungkin karena cinta didalam lagu-lagu selalu bersifat possesive. Kau juga tahu, cinta lebih sering kita lihat sebagai sifat menuntut. Atau mungkin mengemis terus menerus dan bukannya tampil sebagai pengorbanan yang tulus. “Berilah saya rezeki yang banyak ya Allah, pangkat yang tinggi, derajat yang luhur,” misalnya. Dengan begini, sebenarnya diam-diam kita selalu ‘merampok’ Tuhan yg kita cintai dan mencintai kita. Dalam takaran pribadi mungkin itu tak salah. Tapi bila hal ini jadi tatanan sosial yg baku, tidakkah kita takut akan dampaknya, yaitu menjadikan kita malas, fatalistis dan kurang gairah dalam usaha? Bukannya Tuhan pun menyuruh kita untukmenjadi arsitek bagi nasib kita sendiri?

Dalam hidup kita sehari-hari, kita menyaksikan bagaimana ruwetnya persoalan tentang cara kita harus menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Memang kita bicara tentang cinta dengan bahasa cinta cinta sebagaimana yg kita pahami. Dengan begitu, manifestasi cinta itu sekali lagi beragam. Dan bahwa keragaman ‘warna’ cinta itu muncul karena tafsir dan penalaran kita berbeda. Pluralisme semacam itu mungkin baik sejauh TIDAK MENGKLAIM YANG PALING BENAR. Jadi? Mekarlah seribu ‘bunga’ tafsir. Berkembanglah sejuta makna sejauh tetap sadar bahwa makna yang kita pegang hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang benar. Bahkan kita tahu, salah satu kemungkinan yg salah. Karena tak ada yang diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk bertindak sebagai hakim agar mengadili pihak lain yang tak sama paham cintanya dengan kita. DERAJAT KITA SAMA, SAMA-SAMA PESAKITAN YG MENUNGGU PENGADILAN TUHAN!! Maka mendengar ada anggota Islam fundamentalis mencela pecinta yang lain (yang mereka sebut dengan penganut Islam sekuler, Islam liberal(JIL), Islam nasionalis, pluralis ato apalah) yang jelas berbeda paham cintanya, aneh rasanya.

Kalau benar kita sedang berusaha mencintai Tuhan dengan cara kita sendiri, mengapa pada saat yang sama kita juga ‘memusuhi’ hambaNya?

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman facebook yang kebetulan dari kelompok Islam fundamentalis. Saya sakit hati karena mereka mengatai kelompok Islam yang mereka sebut sebagai Islam pluralis, liberalis dll sadalah keledai, banci dan monyet. Sesungguhnya, yang mengatai demikian belum tentu lebih baik Islamnya….