Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

filsafat

Miskin Yang Sesungguhnya


Ya ngga papa kalian menghina kemiskinanku. Yang pasti, saya menikmati hidup ini karena tak punya hutang.Orang-orang yang masih melihat kekayaan secara normatif, selalu saja berpijak pada materi. Padahal hakikat kekayaan itu ya sangat imaterial.

Wawan, suami walkot tangsel, begitu bergelimangan mobil-mobil mewah. Ia kaya secara materi. Dan akhirnya, Allah memperlihatkan asal kekayaan itu.

Note it: Kekayaan materi itu perlu tapi asal usul kekayaan materi itu jauh lebih perlu!


Ujian


God makes no mistakes!!

Ujian adalah syarat mutlak agar kita bisa naik kelas. Setiap manusia pasti pernah menghadapi ujian, hanya saja bobot dan jenisnya yang beda. Anak sekolah juga mengalami ujian kehidupan berupa UTS, UAS, atau UN. Usai sekolah juga menghadapi ujian, yakni berburu pekerjaan. Sedang orang bekerja juga menghadapi ujian; berupa tes kelayakan untuk bisa mendapatkan jabatan dan posisi baru di kantor dll.

Jadi inget dengan banyak tokoh hebat yang malah menghasilkan karya besar dari balik penjara. Salah satunya Hamka, yang pada 27 Januari 1964 ditangkap dan dijebloskan dalam penjara oleh sahabatnya sendiri.

Jika kebanyakan orang meratapi nasib selagi di penjara, hal ini tak berlaku buat Sang Buya Hamka. Beliau malah sibuk menulis, mendalami intisari ayat Al Qur’an. Maka ditahun yang sama, beliau melahirkan karyanya yang monumental, yakni Tafsir Al Azhar! Subhanallah…..never blame any day in your life. Good days give you happiness. Bad days give you experience. Worst days give you a lesson!!

*jangan buru-buru galau menghadapi ujian yang seiprit dong! BANGKIT!!

Desember 2014 Pasca Perceraian


Ngaca Diri


Ternyata episode 366 hari sudah akan selesai dalam beberapa minggu. Banyak hal yang sudah kita lewati. Tak sedikit juga yang kita capai dan pelajari. Entah keberhasilan atau bahkan kegagalan, semuanya adalah pencapaian yang patut disyukuri. Toh keduanya hanya soal hasil. Yang penting adalah bagaimana proses menemui kegagalan atau keberhasilan itu sehingga bisa kita ambil sejumput hikmahnya. Menang atau kalah hanyalah soal kesempatan.

Setahun kita lewati berarti setahun usia berkurang, jatah hidup kita di dunia berkurang. Dan setahun belakangan betapa mesin kehidupan telah menyeret kita dalam ketuaan; gigi mulai ompong, rambut beruban dan kulit mulai keriput. Baru nyadar setelah mengamati wajah dalam cermin: “kamu sudah tua Malika, akankah kau mengusutkan hidupmu lagi, atau menata kembali hidupmu yang berantakan?” Pertanyaan menohok dari dalam sana yang harus kujawab dengan kesungguhan; mau menjadi tua dan mendewasa atau sekedar menua? Jangan sampai sindiran sang Buya Hamka berlaku padamu: “hidup sekedarnya (ala babi hutan) dan beraktifitas/kerja seadanya ala monyet.”

: mau kamu?!

04:33 selepas subuh saat embun turun menghikmati rumpun dedaunan


Membincang Kekerasan Dalam Beragama; Merasa Diri Paling Benar??


“Orang takwa sejati tidak pernah menggunakan agama sebagai sebab perpecahan. Orang takwa percaya bahwa agama adalah wahana mempertemukan ummat manusia. Kalau ada orang suka mempertentangkan ajaran agama, apalagi sesama agama ia pasti belum sampai derajat takwa. Sama halnya orang yg mencari perbedaan dan sangat sensitif melihat perbedaan lalu menggunakannya untuk memecah belah ummat. Orang seperti ini belum sampai derajat takwa. Orang yg takwa adalah toleran pada orang seagama dan pada pemeluk agama lain (Jalaluddin Rakhmat 2008)”

Kekerasan atas nama agama masih –bahkan semakin- marak di negeri ini. Padahal, terlepas dari berbagai kontroversi yang mengitari sebuah isu, khususnya isu-isu keagamaan, maka kekerasan sama sekali tak diperbolehkan menjadi sarana untuk menyelesaikan kontroversi atau pun masalah umat. Sebab, metode penyelesaian masalah dengan jalur kekerasan bukan tuntunan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Salah satu isu yang biasanya dianggap menjadi pemicu konflik antar umat beragama yakni isu perbedaan ajaran dan pandangan, baik antara umat beragama atau antar sesama Muslim. Isu kerukunan umat beragama di Indonesia masih didominasi masalah kekerasan yang melibatkan agama. Meski disetiap negara bercorak plural seperti Indonesia boleh dibilang wajar mengalami benturan atau ketegangan-ketegangan dalam masyarakat, akantetapi dalam kasus kekerasan yang terjadi menurut studi tidaklah wajar. Ketidakwajaran itu ditenggarai oleh kejadian yang berulang-ulang sehingga muncul indikasi pemerintah seolah diam saja dalam melihat masalah tersebut. ada dua hal penting yang memboncengi tindak kekerasan yang terjadi, yakni soal keberadaan rumah ibadah dan adanya pembatalan acara yang diinisiatifkan lembaga-lembaga seperti LGBT ((Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?

Pertanyaan “mengapa” itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun marilah kita mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran:“Wa qul jâ’a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa” (dan katakanlah: “kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna). Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Pak Alwi Shihab sempat menyampaikan, bahwa salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya—berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, adalah debat tentang pemberlakuan syariat Islam. “Syariat Islam yang mana yang akan diterapkan di sini?” Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab yang kita anut: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral dan paling benar, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Quote: 

“If people knew their own religion, how tolerant they would become, and how from any grudge againts the religion of others.”


MENGISLAMKAN ORANG ISLAM


Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

Batapa lembut dan hangat agama itu.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku..

Akhirnya, bila boleh menyimpulkan agama yg benar adalah:

1. Agama yg mengajarkan cinta kpd sesama bukan agama benci.

2. Agama yg mengusung akal sehat dan akal budi, berpikir logis rasional, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, inquiry mind, dialogis. Bukan sebaliknya yaitu anti rasional, anti dialog, menolak logika & akal.

3. Agama yg menjunjung tinggi akhlakul karimah/budi pekerti/etika yang agung dan mulia, yang fondasinya adil (etika sosial) dan baik/ihsan: membalas keburukan dengan kebaikan (etika individual). Yg prinsip umumnya mengajarkan kita utk tdk memperlakukan orang dengan perlakuan yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Jika anda tidak mau disesatkan/dikafirkan jangan sembarang menyesatkan/mengafirkan orang lain.

4. Agama yang menjunjung tinggi prinsip Hanif: jujur, lurus, murni dan Samhah: lapang, toleran, menghargai pluralitas. Memangnya hanya mereka/kita yg berhak mengklaim kebenaran, orang laintidak boleh.

Dalam Al Qur’an pun kita mengenal ayat yang menjunjung tinggi hubungan silaturahim:
Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi harus yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu melihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!

Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan kita dalam bingkai kemanusiaan dalam keberagaman untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

*Didedikasikan untuk ISACS : Institute Study Agama dan Civil Society

Salam Pluralisme!!

Malika Assaif