Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

hiburan

Pertemuan Dengan Sophia


Ini yang ketiga kalinya aku berdiri disini, ditempat ditemukannya mayat Sophia. Di jam yang sama seperti kemarin dan dua hari sebelumnya. Telah kusiapkan kamera saku dan tape recorder, barangkali Sophia tak keberatan berpose untukku atau bersedia memberikan pengakuannya….heheh..aku tersenyum sendiri.


Di jam yang sama seperti kemarin, jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi dan aktifitas gedung mulai berhenti. Kali ini aku tidak bersiul tapi aku menyanyi. Lagu yang kuanggap bisa membuat Sophia senang, karena kurasa ia mempunyai karakteristik yang sama denganku; penggemar bola, penyuka Messi dan Barca walaupun sekaligus menyukai MU (Manchester United). Sophia pasti menyukai lagu yang kunyanyikan meskipun suaraku juga tak merdu.

Ya kurasa Sophia akan suka:….

…..’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

Baru saja mengakihiri bait terakhir reffrain tiba-tiba….”Jedooorrrr!!!”….suara sesuatu dilempar ke arahku keras sekali mengenai papan di belakangku. Aku cuek….sambil kulanjutkan nyanyianku, kali ini kukeraskan suaraku….lebih keras lagi. Suara lemparan keras itu terdengar lagi. Sepertinya dari arah parkiran, bergegas kuhampiri, sepertinya ada yang terganggu dengan hadirku. Kuperiksa dengan seksama di setiapsudut, tak ada siapa-siapa….tak ada apa-apa….hanya sepi menggayuti pikiranku.

Ketika hendak berbalik, kulihat sosok hitam besar dan berbulu berdiri di bawah lampu. Matanya merah menyala-nyala. Mau apa dia? Sepintas tanda tanya melintas. Dari sorot matanya ia tak menyukai kehadiranku, ia terganggu dengan nyanyianku. Entah mengapa, ia seperti punya kenangan buruk terhadap lagu ini. Dan aku tak berharap sama sekali bertemu sosok ini, “aku hanya inginkan PERTEMUAN DENGAN SOPHIA…..!!”

Beringsut kubalikkan badanku, “peduli apa denganmu! Sudah rambut tak pernah kau cukur, mata merah tak kau beri tetes mata…jangan tampakkan dirimu! Sekali-kali jangan!!”

Kembali ketempatku berdiri semula, di tempat mayat Sophia tergeletak dengan isi kepala terburai berantakan….Lebih dari satu jam aku berdiri disini, dan hampir putus asa. Sophia tak kunjung datang. Mungkin ia malu ketahuan putus asa dan membunuh dirinya sendiri, mungkin juga ia marah tak seorang pun menolongnya saat seseorang mendorongnya. Atau ia gengsi karena kematiannya merepotkan banyak orang dan menyisakan tanda tanya, “mengapa SOPHIA DECIDED TO DIE?”

Aku tak ingin bersedih atas kematiannya, tapi hasratku meronta-ronta menginginkan pertemuan dengannya. Aku mencari-cari isyarat yang mungkin ditinggalkan Sophia.

Beberapa hari sebelum kematiannya, Sophia sempat menulis status di Facebook-nya:

“Pura-pura melupakanmu atau berusaha melupakanmu, upahnya tetap sama; rindu.”

Rupanya ada yang Sophia rindukan, tapi siapa? Siapa….??

“Langit di sini abu-abu dan hujan mulai turun. Suara rintiknya seperti rindu, ke kamu.”

Kau tahu siapa kekasih Sophia? Siapa yang selama ini dekat dan dicintanya? Lalu distatus selanjutnya:

“Mengapa mawar merah milikku kau buang di jalanan? Kamu kejam!”

Lalu status yang lain, ditulis dalam bahasa Inggris….Ada kemarahan dalam nadanya.

“I just can’t live a lie anymore…I am really tired being what you want. And now I just want to be what I want to be…!”

Lalu seperti kilasan kepasrahan demi kepasrahan;

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

“Let me fall….I don’t like this life…”

Lalu terjadilah bunuh diri Sophia. Sophia benar-benar jatuh….Sophia decided to die?

Beberapa hari ini Sophia berhasil mengusutkan pikiranku…..ahhh! Sunyi kembali menggelayuti malam, di tempat ini. Sesaat nyaris putus asa…kudengar suara berbisik, bukan berbisik tapi tangisan lirih…entah suara siapa. Sophia-kah? Samar-samar lirih terdengar, dahiku berkerinyut, bulu kudukku meremang….ia menakutiku. Mengingatkanku akan kemunculan tokoh sentral di film horor; suara kuda meringkik….!!

Tapi sesaat kemudian menghilang bersama kegelapan malam. Aku masih terpaku di tempatku, tempat Sophia terjatuh.

Dalam benakku, Sophia menggapai-nggapai pertolongan, ia sedih. Selintas kulihat sosok laki-laki diatas sana, sebelumnya melingkarkan pelukan, hangat dan menggelora. Sorot matanya dipenuhi cinta. Mereka tertawa-tawa….Mereka bahagia….Mungkinkah laki-laki yang ia percaya menggamit tubuhnya itu telah mendorongnya? Untuk apa? Untuk siapa?

———————————————————————-

Catatan:

’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

(Marcell: Kau Tak Akan Terganti)

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

(Rumi)

************


19thfloor,20110520

Malika Assaif



Philosophia Decided To Die


Kau pernah dengar cerita tentang hantu bernama PhiloSophia?


Konon, dia cuma seorang gadis yang mati. Seorang gadis yang mati dengan cara melompat dari lantai 19 gedung berlantai 21, yang entah dia pingsan atau tidak di tengah-tengah perjalanannya menabrak lantai dasar, lalu pecah berantakan kepalanya. Saat itu ia mengenakan kaos  bergambar Lionel Messi dan betuliskan ‘I LOVE BARCA’.

Konon dia pernah selamat dari tikaman sahabatnya saat SMP, lalu dia selamat dari tikaman sahabatnya yang lain baru-baru ini. Entah apa yang membuatnya memutuskan membunuh dirinya sendiri, mungkin sebelum mendapat tikaman yang ketiga yang mungkin sanggup membunuhnya, maka dia memutuskan membunuh dirinya sendiri. Masak karena kalah taruhan bola ya?? Yang pasti….PHILOSOPHIA DECIDED TO DIE

Yang mengherankan, dia tak meninggalkan tulisan apa-apa. Tali sepatunya terburai, baju t-shirt luar yang membungkus tubuhnya di luar kaos pun tidak disetrika. Polisi menemukan kedua handphonenya terjatuh hancur pula di sebelahnya, seperti tak punya persiapan untuk mati. Polisi juga menemukan buku-buku di tempat Sophia diduga melompat. Mereka lantas curiga, jangan-jangan ini bukan kasus bunuh diri. Bahwa pernah ada seseorang di atas sana, mendorongnya hingga terjatuh. Seseorang yang dikenal karena tidak ada bukti-bukti pergulatan. Seseorang yang memberinya rasa aman, nyaman, lalu merenggutnya saat dia percaya. Mungkin kekasih, mungkin teman dekat, atau mungkin selingkuhan…. entahlah, yang jelas tak ada satupun jejak meronta-ronta. Mungkin seseorang itu memeluknya dari belakang, membuatnya lunglai dalam pelukannya, lalu mendorongnya jatuh. Yang jelas, ada banyak kemungkinan mengenai kematian Sophia. Namun, tak seperti  yang tampak….dia membunuh dirinya sendiri.

Beberapa saat sesudahnya, di sekitar tempat ditemukannya mayat Sophia tergeletak, sering terjadi kejadian-kejadian aneh yang tak masuk akal. Dan orang bilang banyak mendengar suara-suara di sana. Adalah larangan mengeluarkan suara di sekitar sana, kalau terpaksa lewat ya paling aman berjalan dengan tenang dan tanpa suara. Sebenarnya yang paling sering diingat-ingatkan adalah tanpa bicara. Karena konon cuma orang-orang tertentu yang berhak bicara di sana. Tetapi ketakutan kadang-kadang membuat peraturan diterapkan berlebihan sehingga mereka yang terpaksa lewatpun melewatinya dengan suara langkah yang paling minim terdengar karena takut. Takut hantu Philosophia…..penggemar Barca dan Messi.

Aku dengar di tempat inilah Sophia mati. Maka aku bersiul di sini, di jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi, kuingin bertemu Sophia sekaligus bertanya sebab kematiannya. Lalu kudengar ribut suara, kucari sumbernya, tak ada apa-apa…tak ada siapa-siapa…tak ada yang nyata. Tidak ada apa-apa. Tidak ada bisikan, tidak ada hardikan….bahkan tangisan Sophia.

PS: Thanks For My Friend Abed Nasser who gives me The Barca’s pic!

19thfloor,20110518

Malika Assaif


PRINCESS E CEN, BINTANG KEJORA KOMPASIANA


1294910702434538729

Lama ngga ngompasiana, banyak sekali bermunculan Kompasioner-kompasioner muda berbakat dan fresh. Salah satu yang sering saya ikuti adalah catatan harian seorang Princes. Sering saya dibuat berdecak kagum dengan bahasanya yang sederhana, lugu dan penuh kejujuran. Kadang dibuat ngakak ketika membawa tulisannya; Putus, nyaris membuat saya berpikir ini kisah putus cinta seorang remaja jatuh cinta, tapi ternyata sendal yang putus. Lalu kisah inspiratif berjudul I Love You Daddy membuat kita trenyuh dan terharu, berpikir tentang ayah kita. Lalu pada Dialog Kopi Kenthir menyuguhkan dialog kopi, gula dan susu yang serius maknanya tapi dibuat seperti guyonan. Ada sense of humor yang tinggi pada penulisan kata-katanya yang sarat makna. Contohnya dalam tulisan Satu Lagi dari Princess Kenthires, humor fiksi yang menyegarkan.

Lantas dalam tulisan Message on  a Bottle (teringat film dengan judul yang sama dengan pemeran utamanya Kevin Costner) Cen menuliskan kesedihannya lewat kata-kata sendu :

“Ah…, terbersit keinginan untuk menyusulmu disana, di lautan lepas
tempat kau tenggelam setelah menyelamatkan aku yang berenang terlalu
jauh ke tengah laut, maafkan aku sayang… Seharusnya aku yang tenggelam,
bukan kamu….”

“Aku mau mati rasanya… Kehidupan di dunia ini telah kehilangan daya
tariknya… Tapi aku takut berdosa, takut masuk neraka karena bunuh diri…
Pengecut sekali diriku ya sayang…”

Kita jadi ikut terbawa dalam kesedihannya. Tapi lalu turut berbinar dalam semangat setelah Cen menemukan sebuah pesan dalam botol. Dalam tulisan-tulisannya beda penyajian itu Cen berhasil mengaduk-aduk hati saya.

Benar-benar karya original tanpa embel-embel pengin laku atau pengin dibaca. Tapi setiap kali Cen menulis, selalu diminati banyak pembaca dan memancing orang untuk berkomentar. Kesederhanaan tulisan dan penyampaian lepas tanpa beban, itulah Cen. Suatu hari saya bertanya kepadanya; kenapa tak menulis tema-tema laris mengundang orang untuk tertarik membaca seperti tema seks misalnya. ”Wah saya ngga bisa mendesah Mba.”  Benar juga, kenapa mesti menjual desahan bila dengan keceriaan remaja, kesederhanaan dan kelugasan itu orang banyak tertarik? Lagian ‘mendesah’ bisa dilakukan oleh siapa saja meskipun bukan ahlinya…hahaha…Untuk jawaban ini Cen membuat saya takjub dan tertawa.

Saya salut dengan Kompasiana yang sudah mulai merubah image sebagai “bacaan dewasa” menjadi bacaan tua muda atau segala usia. Saya acungi jempol untuk kemajuan Kompasiana. Unsur seksualitas memang diminati, tapi itu tidak akan lama, lama-kelamaan juga akan tenggelam. Pembaca cerdas pasti akan bosan!Pembaca cerdas pasti akan mencari sesuatu yang ringan, menghibur, menginspirasi, menyemangati serta mencerahkan dan pesan moral tidak dengan cara menggurui. Seperti Chicken Soup, fresh, hangat dan mennyegarkan.

Kulihat bintang yang paling terang diantara bintang, dialah bintang kejora. Cen adalah bintang kejora itu, yang turut membawa nafas segar untuk kemajuan Kompasiana. Insyaallah!

PS: sorry Cen, kuambil fotomu tanpa ijin, smoga kau memaafkanku!


SAAT GARUDA DI DADA ANAK MUDA


Hari itu, 29 Desember di kantor ada acara nobar dengan fasilitas slide seadanya. Orang-orang malas pulang karena waktunya tak akan nuntut untuk menonton peristiwa paling ditunggu: final AFF yang menghadirkan Timnas Indonesia melawan Malaysia. Satu hal yang mengherankan bahwa orang yang tak biasa nonton maupun menyukai bola pun jadi bergairah menonton. Mungkin karena rasa nasionalisme yang membara.

Babak pertama gol sering kali lewat begitu saja, teman-teman sampai dibuat gemes dan geram. Lalu disusul babk kedua Markus Horizon kebobolan gawangnya. Teman perempuan saya yang duduk di sebelah saya langsung berdiri dan teriak: “guoblog Kus Markus, bisanya megang susu thok, megang bola gak enthos!” lalu bertubi-tubi orang-orang  “misuh”…..Pokoknya berbagai ekspresi kegemasan, gregetan, sampai yang “misuh-misuh” ala Suroboyoan-lah. Sampai mendengarnyapun rasanya mau ketawa aja. Ada-ada saja! Hingga berakhir pertandingan dengan gol 2-1 Indonesia. Wow, sungguh mengagumkan! Bisa dibayangkan kalau Timnas saat itu kalah total, mungkin bisa saja terjadi kerusuhan luar biasa. Kemarahan penonton atau supporter yang gila, semuanya bisa saja terjadi. Baru setingkat Surabaya aja Bonex (supporter bolanya Suroboyo) sering bikin aparat kewalahan. Lha ini seantero Indonesia….whew!

Tragedi kerap terjadi, kita bisa mencari alasan dengan menyalahkan orang lain. Tapi sudahlah itu tidak penting, tragedi sudah terjadi. Seterusnya kita enyahkan rasa pedih itu. Kita membangun kembali! Untaian kalimat ini dituturkan oleh novelis Brazil Paulo Coelho (1996) dalam karyanya The Fifth Mountain ketika dia menceritakan ulang kisah Nabi Elia dalam epos biblikal saat ia membangkitkan semangat warga kota Akbar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat peperangan yang kejam.

Kutipan dari Paulo Coelho ini sepertinya tepat melukiskan suasana mental yang harus terus dipegang oleh Timnas Indonesia yang menyandang Burung Garuda didadanya yaitu Bambang Pamungkas, Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Ahmad Bustomi, Firman Utina, Markus Horison dan kawan-kawan. Melalui jerih payah kerja keras, hentakan kaki dan ayunan langkah mereka kebanggan dalam ke-kita-an sebagai bangsa tidak saja tumbuh namun mereka mengajarkan kita, seluruh entitas republik, termasuk para pemimpin bagaimana seharusnya sikap yang terhormat membela Sang Dwi Warna semestinya dilakukan.

Saat jagat politik Indonesia menghadapi tragedi krisis kepemimpinan republik yang tak berkesudahan, saat perilaku politik narsistik berkali-kali disodorkan kehadapan publik dan kepemimpinan republik kerapkali tersandera oleh kepentingan kelompok politik maupun uang, jajaran Timnas memberikan teladan (virtue) bagi kita semua bahwa atas nama kebanggaan berjuang bagi republik tidak boleh ada kata menyerah dalam menghadapi siapapun untuk kepentingan bangsa dan negara.

Simaklah orasi Bambang Pamungkas di kamar ganti pemain sesaat setelah kalah oleh Tim Malaysia lalu. Rekan-rekan kekalahan ini harus berhenti di ruangan ini. Kita tidak memerlukan pembahasan yang lebih panjang mengenai apa yg terjadi malam ini, tidak ada saling menyalahkan tentang apa yang terjadi di lapangan tadi. Kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah bersama-sama. Mental pemenang dan tak mudah menyerah tertoreh jelas terlontar melalui kalimatnya. Dan sepertinya semangat berbangsa, semangat mengemban tanggung jawab dalam hidup berepublik inilah yang pelan-pelan luntur dan harus kita siram kembali menyuburkan bumi Indonesia yang tengah gersang oleh semangat teladan kepemimpinan politik.

Dalam drama persepakbolaan yang baru saja usai, bagi saya bukan soal juara atau tidak juara yang paling penting untuk disimak, namun tak disangka-sangka kita menemukan mental sportif dan kepemimpinan justru bukan dari para elite politik tapi pada kaum muda, Timnas sepakbola kita. Semangat kerja keras untuk Indonesia ini mengingatkan saya kepada naskah Bung Hatta pada tahun 1928 berjudul Tentang Nama Indonesia saat dia menguraikan bahwa bagi kami Indonesia adalah sebuah istilah politik, tanah air di masa depan tempat tiap-tiap orang yang merasa menjadi bagian didalamnya bekerja keras dengan segenap kemampuan dan fikirannya untuk mewujudkan bersama.

Ketika kemarau semangat berbangsa tengah meluas, dan tanah ibu pertiwi telah kering merangas oleh semangat kekitaan sebagai bagian dari republik, semangat Timnas dan berbagai elemen muda tengah tumbuh dalam merawat kembali kebaikan bersama dalam solidaritas kehidupn berrepublik.

Dalam bayangan kolektif kaum muda, kita dapat menghimpun dan menyimak semangat mereka akan Indonesia kedepan adalah Indonesia yang optimis dalam memandang masa depannya, optimisme yang sudah semestinya didukung oleh komitmen negara menjaga kedaulatan , antusiasme yang lahir dari semangat tiap-tiap warga akan kebutuhan untuk mencapai sesuatu, berprestasi dan berkompetisi. Optimisme seperti ini adalah optimisme yang lahir dari kesadaran akan pentingnya sebuah orientasi perubahan. Orientasi akan masa depan segenap tiap-iap orang untuk maju dan antusiasme warga untuk berprestasi yang mensyaratkan kepercayaan atas komitmen negara bekerja untuk melayani warganya.

Penyegaran Bernegara

Kegigihan semangat Timnas adalah momentum, awal dari pentingnya penyegaran dalam kehidupan berbangsa dan berepublik. Di gelanggang sepakbola telah terbukti bagi kita semua saat kaum muda diberi tanggung jawab mengemban nama bangsa, ternyata mereka menjalankannya dengan penuh hasrat dan komitmen. Saat mereka sadar bahwa menjadi juara hampir tertutup kemungkinannya mereka terus gigih bertarung karena mereka sadar kehormatan bangsalah yang mereka emban. Pada wilayah yang lebih luas seperti pada dunia politik, inilah saatnya kita berefleksi bahwa kepemimpinan politik kaum muda adalah sesuatu yang mendesak untuk kita gulirkan, besera inovasi dan penyegarannya. Belajar pada Amerika Serikat abad ke-19, saat pertumbuhan ekonomi belum berjalan merata dan pembangunan serta mobilitas sosial belum menyebar di wilayah Amerika bagian Barat, Horace Greely dalam editorialnya New York Tribune tahun 1865 berseru dengan lantang “Go West, Young Man!”. Seruan itu membawa penyegaran dan semangat dari warga Amerika Serikat untuk bermigrasi dan mencari nafkah sekaligus menyetarakan akselerasi pembangunan antar wilayah dengan menaklukkan sisi Barat Amerika yang liar dan belum terjamah.

Cerita inovasi untuk merambah wilayah Barat dari Amerika Serikat ini dapat kita ambil contoh untuk menjawab bagaimana inovasi dan penyegaran menjadi penting untuk mengelola wilayah Indonesia dibawah kepemimpinan kaum muda. Selama 64 tahun Indonesia prioritas pembangunan ekonomi masih terpusat di sebagian wilayah Barat Indonesia khususnya wilayah Jawa, terutama Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi sekaligus politik. Meskipun desentralisasi telah berjalan, namun Indonesia Timur masih tetap dipandang sebagai wilayah tertinggal. Bukankah salah seorang personil Timnas andalan kita Oktovianus Maniani berasal dari tanah Papua, wilayah Indonesia Timur yang mempersembahkan warganya sebagai olahragawan, cendekiawan anak SMA pemenang olimpiade Fisika bagi keharuman bangsa Indonesia.  Langkah penyegaran dan inovasi menjadi penting diambil oleh kepemimpinan kaum muda. Seruan “Go East, Youngster!” menjadi hal menarik yang dapat melahirkan antusiasme setiap warganegara.

Dapat kita bayangkan, ketika kepemimpinan kaum muda berani mengambil langkah fundamental dengan menggeser orientasi pusat pembangunan ke Timur Indonesia bahkan pusat ibukota ke Indonesia Timur, maka berbagai tantangan kedepan akan terjawab. Mulai dari persoalan ketidakadilan yang memunculkan aspirasi untuk memisahkan diri, redistribusi pendapatan yang lebih baik, percepatan pembangunan wilayah, perubahan orientasi Indonesia dari agraris dan inward looking menuju maritim dan outward looking sampai strategi geopolitik untuk mendekatkan diri pada wilayah pasifik, Jepang dan Amerika Serikat sebagai masa depan strategi pembangunan luar negeri. Disinilah pentingnya inovasi kebijakan dari para pemimpin muda kedepan agar arah pembangunan dan pengelolaan negara tidak kering dan terjebak oleh rutinitas keseharian. Agar kaum muda mampu menyegarkan keindonesiaannya.

Setelah optimisme dan inovasi menjadi ruh dari masa depan Indonesia kedepan, ada baiknya bagi para kaum muda calon pemimpin republik menyimak renungan Jean Jacques Rousseau bahwa saat nilai kebajikan hadir dalam benak kita, ia akan selalu berkonflik dengan nafsu keserakahan dan kepentingan personal. Tanggung jawab para pemimpin muda adalah memegang teguh nilai kebajikan publik sesuai amanah proklamasi, agar tidak larut dalam kultur dekaden politik seperti para pendahulunya.


KONSULTAN


Seorang gembala menggiring domba-dombanya di padang rumput terpencil ketika tiba-tiba sebuah BMW baru meluncur arahnya. Pengemudi, seorang pemuda dalam setelan Broni, sepatu Gucci, kacamata hitam Ray Ban dan dasi YSL, melongok keluar jendela dan bertanya gembala,“Jika saya mengatakan dengan tepat berapa banyak domba yang ada dalam kawanan Anda,maukah Anda memberi aku satu ekor?”
Gembala itu memandang pria itu, lalu melihat sekawanan domba gembalaan dan dengan tenang menjawab, “Tentu.”

Pria muda itu memarkir mobilnya, mengeluarkan IBM ThinkPad yang tersambung ke ponsel, kemudian ia berselancar ke website NASA dan menggunakan sistem navigasi satelit, mengamati daerah tersebut, dan kemudian membuka database dan Excel spreadsheet dengan formula kompleks. Dia mengirim email melalui Blackberry dan setelah beberapa menit, mendapatkan tanggapan. Akhirnya, ia print laporan 130 halaman pada printer mininya kemudian berkata kepada gembala itu, “Anda memiliki tepat 1586 domba”.

“Itu benar! silakan ambil salah satu domba,” kata gembala.

Pemuda itu memilih satu ekor hewan dan memasukkan ke dalam mobilnya.

Kemudian gembala mengatakan: “Jika saya bisa mengatakan dengan tepat apa pekerjaan Anda, apakah Anda akan memberikan kembali hewan saya?”

“OK, mengapa tidak” jawab orang muda itu.

“Jelas, Anda adalah konsultan,” kata gembala itu.

“Itu benar” kata pria muda itu, “tapi bagaimana Anda bisa tahu?”

“Tidak perlu menebak,” jawab gembala. “Anda muncul di sini meskipun tidak ada yang memanggil Anda. Anda ingin dibayar untuk jawaban yang sudah saya ketahui, dan Anda ingin dibayar untuk sebuah pertanyaan yang tidak pernah saya tanyakan. Dan Anda tidak tahu apa-apa tentang bisnis saya… Sekarang kembalikan domba saya.”

Posted with WordPress for BlackBerry.


SUATU MALAM DI ARAFAH


Tanggal 8 Dzulhijjah tengah malam, pada waktu seluruh jamaah haji telah berkumpul di padang Arafah untuk melakukan upacara wukuf esok pagi tanggal 9 Dzulhijjah setelah tergelincir matahari, salah seorang jamaah haji menggamit lengan suami saya yang sedang hanyut dalam doa dan dzikir, sambil berbisik: (kira-kira begini),
“He Kak Tuan, haji itu cuma pul-kumpul dan juk tojuk seperti ini ya.” Rupanya penanya kita ini jamaah haji dari Madura, kelihatan dari logatnya, serta panggilan ‘Kak Tuan’ memang panggilan khas bagi orang Madura laki-laki yang sudah bergelar haji. Suami saya yang ditanya cuma diam.
“Eh Kak Tuan, apa sebenarnya yang kita cari disini? Apa ini yang dinamakan haji itu? Kalo hanya begini kan percuma kita jauh-jauh meninggalkan tanah air pake bayar mahal pula”, bisiknya lagi. Suami saya tetap diam. Saya sebenarnya ngga tahan kepengin menjawab pertanyaannya, tapi daripada saya nanti gusar mending diam aja. Dalam hati saya ‘ngudoroso, kok aneh tur lucu orang ini. Sudah sampai disini kok ngga ngerti tujuannya. Rupanya suami saya tak bergeming sedikitpun, tangannya asyik memilin biji-biji tasbih yang terbuat dari kayu K.O.K (kawakib). Penanya kita yang dari Madura ini semakin penasaran sambil mengguncang-guncang tubuh suami saya sambil setengah berteriak:
nDak Mas, eh Kak Tuan, ah Cak, saya ini tanya betul, apa sekarang ini kita sudah haji? Apa yang begini ini caranya haji itu?” Mungkin karena jengkel dan khawatir mengganggu terus, suami saya menjawab sekenanya:
“Ya, ya inilah dan beginilah yang disebut haji itu. Sudah diam sajalah, neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa, amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan”, jawab suami dengan bahasa setengah Madura juga. Dalam hati mungkin suami saya merasa kasihan pada calon haji yang kesasar ini. Karena itu setelah dia puas dengan bacaan-bacaan doa, wirid, dzikir maupun istighfar dan segala uneg-uneg hati yang ditumpahkan dimalam kudus di padang Arafah itu, suami saya melirik pada temannya yang selalu mengusiknya dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tadi (dan ternyata telah tidur mendengkur), lantas dibangunkan. “He Kak, bangun! Ayo keluar,” ajaknya sambil menarik tangan penanya kita yang masih ngantuk dan berusaha membangun kesadaran. Sampai di luar, keduanya berjalan melalui sela-sela tenda yang dipasang bergugusan, ribuan jumlahnya, di padang Arafah nan luas diterangi cahaya lampu-lampu listrik ribuan watt yang membuat padang Arafah terng benderang laksana siang hari. Saya mengikutinya dari belakang.

Di tempat agak sepi, kami pun duduk. Dengan gaya seorang ustadz, suami saya mulai berceramah pada penanya kita yang belum mudheng tentang arti dan tujuan haji ini. Katanya:
“Begini, sekarang kita sudah berada di Arafah, sebagai persiapan besok pagi, setelah matahari tergelincir atau setelah manjing dhuhur, kita melakukan wukuf. Dari sini kita memulai ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Sampeyan tahu apa artinya arafah dan wukuf itu?”
“Ya ndak tahu saya. Kalo Arafah itu nama reng bini yang rathin tetangga saya di Konang,” jawab penanya kita dengan nada cengengesan.
“Huss! Jangan guyon, nika beni agejek…!” suami saya mulai gusar (tapi saya tahu dia menahan ketawa sebenarnya). Kok ada ya calon haji yang koplonya ngudubilah begini. Mungkin waktu penataran manasik haji dulu, dia ini termasuk yang ngantuk-an. Jadi saat dijelasin, dia ketiduran.
“Habis, bagaimana wong tahunya saya ya cuma segitu. Ya jangan marah sampeyan Kak Tuan! Orang haji itu ndak boleh marah tak iye,” kilahnya.
“Oke, baiklah saya jelasin. Sampeyan ndak boleh ngantuk atopun nglamunin si Arafah yang di Konang itu,” kata ustadz tiban yang memperoleh ilmu ladunny di padang Arafah itu, terus memulai kuliah khususnya berikut ini:

Arafah, yang jelas adalah nama tempat. Ya tempat ini, tempat untuk wukuf ini. Dahulu kala, konon di tempat inilah Adam dan Hawa pertama kali bertemu setelah terpisah bertahun-tahun karena terusir dari surga. Karena itulah tempat ini dinamakan Arafah, dari kata ‘arafa-ya ‘rifu, yang berarti kenal, mengerti dan mengetahui, saling bertukar pengertian dan pengetahuan setelah sekian lama berpisah. Konon kata si empunya cerita alias shahibul hikayat, pada saat diusir dari surga, keduanya diturunkan di tempat terpisah dan berjauhan. Keduanya saling mencari, sampai akhirnya di Arafah, yang waktu itu banyak rimbun pepohonan, sehingga walaupun mereka sudah di tempat yang sama bahkan berdekatan, mereka belum bisa berjumpa. Nabi Adam kala itu mendengar suara ‘krusak-krusek di balik semak. Maka untuk meyakinkan apakah itu suara binatang atau manusia, dilemparlah batu-batu kerikil. Gayung pun bersambut, Hawa membalas lemparan kerikil itu dengan balik melempar kerikil…..dan….cii luk baaa, bertemulah dua insan pertama yang saling cinta itu. Kata orang Jawa yang biasanya ‘othak athik mathuk, itulah yang ditirukan oleh adat perkawinan Jawa, waktu mempelai pria dan wanita ‘ditemokne (dipertemukan) pake gendhing kebo giro, keduanya saling melempar sirih. Sirih atau suruh dalam bahasa Jawa berarti ‘kesusu arep weruh (buru-buru pengin lihat).

Demikianlah, wukuf di Arafah itu adalah sebagai upacara napak tilas perjumpaan Adam dan Hawa. Kini, para adam dan hawa dari berbagai penjuru dunia berkumpul dan bertemu di padang Arafah agar saling mengenal, saling mengetahui dan mengerti bahwa manusia dan kemanusiaan itu sebenarnya sama. Perbedaan bahasa, suku bangsa, warna kulit, tradisi, budaya, keturunan, pangkat dan jabatan, profesi, kekayaan dan lain sebagainya hanyalah perbedaan luar, perbedaan lahiriah yang bukan merupakan perbedaan hakiki. Yang membedakan tinggi rendahnya kedudukan manusia di hadapan Allah adalah katakwaannya . Maka terasa sekali kebenaran firman Allah di surah Al Hujurat: 13. Perbedaan apapun yang ada diantara sesama manusia bukanlah untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal, saling mengetahui dan saling mengerti (lita ‘aarafuu – dari kata ‘arafa ya’rifu). Dan di Arafah inilah diselenggarakan “perkenalan akbar” manusia dari berbagai penjuru dunia.

Dan agar dalam perkenalan akbar itu tidak terdapat kekakuan dan kekikukan, atau agar tak terdapat dinding pemisah antara satu dengan lainnya, maka semua peserta wukuf diwajibkan memakai pakaian seragam, yaitu pakaian ihram yang serba putih, sebagai lambang kesucian jiwa. Tidak pandang kekayaan, pangkat dan jabatan, serta status sosial mulai dari pemimpin negara sampai rakyat jelata, seluruhnya menyatu dalam gugusan manusia. Lepas identitas masing-masing. Yang ada cuma satu yaitu manusia tanpa embel-embel jelita atau jelata atau formalitas yang sering membuat manusia terkotak-kotak. Arafah juga bertalian makna dengan ‘ma’rifat, artinya mengenal, mengetahui dan mengerti sebenar-benarnya hakikat manusia.

Sedangkan wukuf sendiri adalah salah satu rukun haji yang sangat penting. Wukuf sendiri berarti berhenti atau berdiam di padang Arafah walaupun hanya sesaat. Hakekat wukuf dengan cara berhenti atau berdiam adalah merenungi dan menemukan hakekat hidup, ‘sangkan paraning dumadi’. Bukankah tidak sedikit manusia yang tidak sempat tahu siapa sebenarnya MANUSIA, padahal telah lama menjadi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari terlalu sibuk dengan program dan acara hidup di luar dirinya yang tak kunjung usai dari pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi sampai tak sempat memikirkan dan merenungkan siapa sebenarnya dirinya. Karena itu sebaiknya kita perlu menyediakan waktu untuk wukuf dalam arti yang hakiki bukan hanya di Arafah. Dan sholat adalah sarana yang efektif untuk wukuf harian, sebagai terminal untuk melabuhkan kepenatan jasmani dan ruhani.

Sementara, wukuf di padang Arafah itu adalah semacam ‘gladi bersih’ untuk mengikuti APEL BESAR di padang mahsyar. Karena itu saat detik-detik upacara wukuf diutamakan untuk keluar dari tenda, untuk ‘menikmati sengatan matahari di gurun pasir sebagai latihan menghadapi sengatan matahari di padang mahsyar.

Penanya kita yang lugu tadi mengangguk-angguk. Maka kuliah singkat dinyatakan selesai, kami pun berjalan kembali ke tenda. Malam pun semakin larut di Arafah dan rembulan tanggal 8 Dzulhijjah telah tenggelam di ufuk barat. Nun jauh di atas sana, dengan background layar yang tak terhingga luasnya, bintang-bintang berkelip. Dan orang yang saya sebut si penanya kita itu menengadah ke langit. Ia memang tak melihat manusia di langit itu, tapi ia melihat kebesaran Allah. Allahu Akbar! “Dialah yang menciptakan bagi kamu sekalian apa saja yang ada di bumi, semuanya.” (Al Baqarah 29)

Vocabulary:

pul-kumpul: berkumpul
juk tojuk : duduk-duduk
ngudoroso : bicara dalam hati
neng eneng ra pa atau mon sampiyan bisa amaca Qur’an apa du’a sebisanya sampeyan: diam kenapa? Kalau anda bisa, baca Qur’an atau berdoa sebisanya
kesasar: tersesat
reng bini : perempuan
nika beni agejek : ini bukan bercanda


HIT AND RUN!!


Hari Jumat, sehabis makan siang ada janji ketemu klien di Pasar Pabean. Dari pembicaraan ditelepon, ia seorang pedagang besar  kopi dan rempah-rempah. Kelihatannya sepele, dagang komoditas kopi dan rempah-rempah tapi omzetnya ternyata wah. Terbukti dia juga punya sejumlah rumah di Citraland, salah satu perumahan elit di Surabaya. Anak-anaknya kuliah di Singapura, dan istrinya entah kemana. Saya ngga mau terlalu mengorek kehidupan pribadinya.

 

Jam 2 lebih lima belas menit saya tiba di stand tempat dia berjualan di pasar Pabean. Dari kesan pertama terlihat, orang  ini masih muda, mungkin selisih 8-10 tahun lebih tua dari umurku. Maka kuputuskan untuk memanggilnya ‘Kokoh. Menurut penuturannya, ia pengin menginvestasikan sebagian dananya di Bursa Berjangka. Ia menyebut angka 1 M sebagai modal awal atau margin awal. Wow! Pikir saya surprised banget. Jarang-jarang ada yang punya kesadaran berinvestasi sebesar itu. Biasanya Cuma 100-300 juta saja. Ia bercerita punya lebih dari itu, tapi sayangnya bukan dana nganggur, tapi duwit yang harus ia putarkan untuk bisnisnya. sebagian disisihkan sebagai deposito di bank. Katanya, jangan meletakkan telor dalam satu keranjang. Jika satu telor pecah, maka pecahlah telor satu keranjang. tapi letakkanlah telor dalam banyak keranjang, jika satu telor pecah, masih ada telor di keranjang yang lain. Hmm…boleh juga falsafahnya, tapi kalau keranjangnya bolong gimana?

 

Menurut saya, 1 milyar itu punya keleluasaan mengambil resiko dibanding dengan uang 100 juta. Ibarat menembak musuh menggunakan sekotak peluru dibandingkan dengan mengunakan beberapa butir peluru saja kan lebih mantab yang pake sekotak. Mau nembaknya sambil merem-merem atau ngawur, pasti kenanya, itu kelebihannya. Tapi kalo ngawur-ngawur banget ya kebangeten namanya, apalagi kalo sampe habis peluru….sial dong! Berbeda dengan memakai sedikit peluru, orang akan berpikir 100 kali untuk menembak, karena harus tepat sasaran…hampir tanpa resiko. karena kalo ngga tepat sasaran, kan cepet habis tuh peluru. Diantara dua perbandingan itu sebenarnya besar kecilnya dana sebenarnya sama saja. Sekotak peluru bisa membuat orang ceroboh, tapi sedikit peluru bisa membuat orang lebih hati-hati. Jadi, besar atau kecil ngga ada bedanya, tergantung cara mengelolanya.

 

Ngomong-ngomong soal mengelola dana, yang jelas si pengelola harus punya management resiko yang baik. jika resiko yang mampu ditanggung pemodal hanya 25% saja, maka ia harus disiplin dengan batasan resiko itu, tentunya dia juga harus berpikir tentang perencanaan. Misalnya, memakai time frame berapa, mau short term atau long term. Karena hal ini akan berkaitan dengan batasan resiko dan ekspektasi keuntungan. bagi modal kecil, sebaiknya main “day trade” (short term) aja dengan time frame 5-15 menit. artinya, ditime frame tersebut ia bisa melakukan ‘hit and run‘, ‘nggepuk trus lari.’ kelemahan sistem ini, keuntungan tidak bisa maksimal, hanya berkisar 30-50 points. kalu market lagi volatile atau fluktuatif bisa agak lumayan sih sampai 100-200 points, bisa saja. Tapi memang modal kecil ya jangan terlalu berharap keuntungan yang besar, ‘low risk-high return‘ yang ada juga ‘high risk-ya high return‘ to.

 

Keuntungan yang besar bisa didapat dengan cara bertransaksi dengan time frame 4 hours, daily, weekly bahkan monthly. Apalagi dipasar indeks regional Asia yang bernama Hangseng itu mengenal adanya gap (lompatan) harga karena pengaruh indeks Amerika (Dow Jones). Dan kalau sudah nge-gap, ngga tanggung-tanggung….bisa sampai 1.600 points, wuihhh!! gila…..! Kalu posisi nginepnya (over night) bener, bisa jadi a huge profit lho, panen raya-lah pokoknya!Lha kalo salah posisi gimana? Ya kebalikannya to, bisa loss, rugi alias amsiong. Makanya perlu dipertimbangkan masak-masak untuk memutuskan over night atau tidaknya. seorang pengelola dana harus tahu benar arah pasar esok hari atau beberapa hari kedepan. Dengan prediksi yang bener kita ngga akan salah masuk posisi.

 

Baru serius-seriusnya menjelaskan soal salah posisi, si Kokoh berceloteh, “eh Mba, enak juga kali ya kalo tradingnya ditemenin Mba sambil ‘klesedan‘(santai, tidur-tiduran)…”

Hah! Dapurmu iku! batinku…orang lagi serius kerja malah dikasih guyonan nakal.

“Bener lho Mba, kayaknya aku mau gitu deh! Soalnya denger-denger dari temenku, banyak yang rugi tuh!udah biasa kok kalo kita invest ya dikasih servis plus-plus….”

Kampret si Kokoh!

“Ayo lek berani, tak kasih 1 M tapi ya gitu deh…servis ranjang!”

Sudah kuduga, jurusannya pasti kesitu. Batin saya misuh-misuh, kok? Kurang ajar…!!!

“Berani tah? Nanti ditentuin ndek mana gitu…” si Kokoh semakin provokatif menggiringku. Sejurus kemudian kupandangi si Kokoh, serius ngga sih nih orang. Soalnya lama berkecimpung dibidang ini lama-lama harus bisa baca orang juga. Suami saya bilang, dari 1000 laki-laki di Surabaya hanya ada 1 saja yang baik, yaitu dia, selebihnya buaya….itu gombalan dia aja kali ya! saya ngga tahu sudah ada survei atau belum, yang jelas suami pernah ngomong begitu…he..he…

 

Walah 1 M? ternyata gak gratis! buntutnya ya ke seks juga, tiwas saya ke-ge-er-an. “Oalah Koh, ngomong kek dari tadi. Kadung saya ngoceh-ngoceh serius, Kokoh bercanda.”

“Lhoh beneran ini! mau tah? Lek rugi gak po-po wis! yang penting aku ndapetin kamu..yok opo?”

Ini orang, guoblok bener ya. Dengan 1 M kan dia bisa beli perempuan muda dan cantik, bukan sebaliknya….

“Gini Koh, nanti kalo Kokoh investnya segitu dapet bonus laptop, separuhnya dapet Blackberry. Tapi ada syaratnya,” terangku masih berusaha mengalihkan.

Emoh lek laptop ato Blacberry. Aku isa beli dhewek kok.”

“Lha trus Kokoh maunya apa?”

“Yo yang gak isa tak beli gitu, yok opo?”

“Maksudnya Kokoh ini apa ya?”

“Mosok lu gak tau…”

Saya sih bener-bener tahu, cuma berupaya negoisasi sambil ngulur-ngulur waktu aja.

“Maksud Kokoh servis yang kayak temene Kokoh itu tah? Yo wis Koh, saya setuju…Servisnya habis transfer lho Koh!” Duh saya bener-bener gila apa, kok bisa-bisanya mutusin. Tapi dalam otak saya berkembang cara untuk ngakalin si Kokoh. Tetep dapet clossingan, tapi tidak dengan cara gituan….

 

Seminggu setelah pertemuan, si Kokoh sign agreement dan transfer esok harinya. Hari itu juga saya trading-kan dengan cara DQ (dirrect quote/out cry)-phone trading sebanyak 90 lots. Lebih dari BEP (Break Even Point) sedikit langsung likuidasi. Masuk lagi 90 lots, lebih dari BEP cepet-cepet saya likuid. yang penting si Kokoh ngga rugi, malah lebih duwitnya! Saya cuma meminjamnya saja sebentar! Sungguh, cuma pinjem sebentar….

 

Malam hari si Kokoh telpon ngajak janjian di hotel bintang 4, saya tenang-tenang saja.

“Koh, sudah terima statement ya? Tadi siang ada transaksi, untung dikit sih…”

Dikejauhan si Kokoh nagih janji, “iya kali, ngga tak liak tuh! Kamu dateng kesini yo, udah tak tunggu….”

“Mo ngapain Koh? Kok pake booking kamar segala? Oh iya, saya ngga akan kesana Koh, walau sampe kiamat pun saya ngga akan kesana….Kokoh bisa ambil kok duwit Kokoh, besok form withrawal-nya tak fax. Sorry ya…” batin saya menang! Horeee!!Ngga peduli si Kokoh melontarkan pisuhan di telepon…..“jancukk koen!!!” Emang gue pikirin………..