Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Umum

Derita Tanah Palestina Adalah Derita Perempuan


Apa beda perempuan dan tanah?

Dalam proses menghayati keberadaannya, perempuan akan mencapai puncak kesadarannya bagaimana menemukan hikmah tanah bagi pengembangan dirinya. Bahwa ada imanensi dirinya dengan tanah. Perempuan tidak lagi hanya mengerti bahwa ia harus menjadi seperti tanah, tetapi memahami seperti apa rasanya menjadi tanah. Ada yg bercocok tanam di atasnya , ada yang dikandungnya, dan ada yang keluar serta tumbuh dari dirinya….seolah-olah ia adalah tanah. Perbedaannya, perempuan memiliki kesadaran dan tanah tidak.

Seorang perempuan sesungguhnya dapat merasakan keprihatinan yang dalam karena dirinya diperebutkan secara semena-mena. Jika Israel merebut tanah Palestina dengan semena-mena, maka perempuan sesungguhnya juga merasakan air mata menetes dalam hatinya karena dirinya dipaksa berpisah dengan sejarah Gaza yang ratusan tahun mendampinginya. Dan perempuan sesungguhnya adalah makhluk pertama yang menitikkan airmata ketika ribuan pejuang Gaza dan anak-anak mati syahid demi mempertahankan tanah tumpah darahnya.

*lalu siapakah yang deritanya lebih berat daripada tanah???

 

stopisrael

 


Masih Tentang Yahudi, Ras, Agama dan Zionisme


jewish
Berulangkali dapat broadcast yang sama…..
“Ich konnte all die Juden in dieser Welt zu zerstören, aber ich lasse ein wenig drehte-on,so können Sie herausfinden, warum ich sie getötet” (Fuchrer of Great Germany, Adolf Hittler) … Go to Hell Israel !!Sesungguhnya Bani Israel adalah sekelompok orang yang merasa diri mereka sebagai keturunan terbaik dimuka bumi dan merasa paling berhak memimpin dunia. Barangsiapa selalu bicara tentang keturunan/bani serta membeda-bedakan derajat orang berdasarkan keturunannya, maka dia berjiwa zionis.

Hal yang mengagetkan adalah ketika para kaum muda Islam menyerukan jihad ke Gaza karena mengira penduduk Gaza juga saudara muslim yang wajib dibela, ternyata bukan. Duta Besar Palestina menyatakan bahwa separuh penduduk palestina beragama yahudi, jadi krisis gaza saat ini bukanlah perang agama, tapi perang territorial :http://forum.kompas.com/nasional/50955-pernyataan-dubes-palestina-yang-mengejutkan.html

Maka hal terbaik sebagai alasan perjuangan adalah karena kemanusiaan, bukan lagi persoalan agama yang sempit. Bahwa rakyat Palestina berhak mendapatkan kemerdekaannya, setelah berpuluh tahun terjajah oleh bangsa Israel.


Indonesia impor Kelapa dari Malaysia dan Thailand | merdeka.com


http://m.merdeka.com/uang/indonesia-impor-kelapa-dari-malaysia-dan-thailand.html

Dulu, Indonesia adalah pengekspor kelapa terbesar di dunia, sekarang Indonesia impor kelapa dari Thailand dan Malaysia.. Pemerintah ki mbajing tenan!

Katanya negri agraris gemah ripah loh jinawi, tongkat kayu aja bisa jadi tanaman. Tapi beras, kentang, kedelai, dan buah-buahan semuanya impor.

Negri maritim, nenek moyangnya pelaut, garis pantainya terpanjang no 2 di dunia, lautnya paling kaya, tapi Garam aja import. Dihh!

Jagat Dewabatara, kenapa engkau biarkan surga nusantara bernama Indonesia ini dihuni oleh para anak turun iblis dari neraka???


Hari Besar Agama


Kau tahu? Saya lebih menyukai hari Senin-Minggu. Dan tak suka hari besar agama, karena mengelompokkan manusia. Hari besar agama di masyarakat yang kekanak-kanakan menjadi sebuah peresmian segregasi manusia. Hari besar agama menjadi pengingat bahwa kita berbeda. I hate it!

Nilai luhur agama yang mulia tak mewujud dalam hari raya agama. Manusia dimasukkan dalam himpunan-himpunan yang saling lepas. Hari yang saya rindukan itu hari saat kita semua merasa satu, manusia. Hari khusus itu saat penyekat-penyekat artifisial ini luruh karena cinta. Ya CINTA….

Agamaku adalah Cinta. Setiap hati adalah tempat ibadahku. ~Rumi


Mengucapkan Selamat Natal


Beredar broadcast macam-macam yang melarang mengucapkan selamat natal dsb dengan alasan akidah. Goreng terus, di negri yang baru puber, isu agama selalu laris!…hahah.
Mau ngucapin selamat lahir ajah repot setengah mati sampai dihubung-hubungkan dengan keimanan, aneh orang-orang ini. Natal kan artinya maulid; kelahiran. Ngucapin selamat natal kan seperti ngucapin happy birthday, sederhana saja.

Berkatalah Jibril kepada Maryam: “Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Allah untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS 19:19)

Dan di Betlehem di tanah Yudea, Maryam melahirkan bayi laki-laki suci, Putra (Roh) Kudus. Dan mereka akan memberi nama Imanuel (Allah menyertai kita). [Matius 1:23]

Maka pagi ini kuucapkan:

Selamat Idul Maulid, Merry Christmas, Selamat Natal bagi yg merayakan.


Selamat Hari Ibu


Selamat pagi Ibu, malaikat tak bersayapku…
Kini aku mengerti, ternyata menjadi Ibu itu pekerjaan tersulit di dunia. Karena menyangkut pekerjaan mendidik dan merawat manusia, tua, muda dan anak-anak…
Jika engkau mampu mencurahkan kasih sayangmu disetiap waktu untuk anak-anakmu, maka betapa harusnya meperingatimu tak dilakukan setahun sekali, tapi setiap hari…ya setiap hari adalah harimu Ibu. *Peluk(Ibuku, perempuan perkasa sepanjang masa)

“I remember my mother’s prayer is always followed me. They have clung to me all my life.” -Abraham Lincoln. Selamat Hari Ibu untuk Ibuku, Ibumu dan seluruh Ibu di dunia.

 0 (8)


Membuat Rakyat Bahagia dengan Sepak Bola


Tak perlu jadi juara umum Sea Games untuk membuat rakyat bahagia, cukup rebut emas sepakbola akan membuat rakyat lupa dengan semua masalah negara. Iya beneran….

Sekali lagi, saat ini hanya tinggal bencana dan Sepakbola yg bisa mempersatukan bangsa ini. Wahai petinggi PSSI, berhentilah mbajing!! Bal-balan kalahan. Liga lokal isone mung tawuran. Jan ra mutu tenan! Huuuu….


Agama Dan Simbol


Di Negeri para bedebah ini, orang-orang sibuk mempreteli spiritualitas agama dan lalu kita panggul kesana kemari kerangka dan simbol luarnya yang keropos untuk menipu diri bahwa kita pemeluk agama yang shalih. Orang-orang sibuk melafadzkan namaNya dalam kemunafikan.

Agama itu perbuatan dan akhlak! Βukan jargon semata, apalagi sekedar ritual jungkat-jungkit 5x sehari. Maka dengan memberiNya cinta palsu, Tuhan pun tak akan protes!

A trully religious person stops speaking about religion, he practices it!

Suatu pagi ada yang bertanya, “ummi sudah naik haji?”
Jawabanku berkelakar, “iya sudah tiap hari naik haji, naik Pak haji maksudnyaa!”

*Edisi simpang siur


Gallery Foto


image

soe1

kurang ajarnya amrik saat itu

soe9

 

 

 

 

 

soe8

 

 

soe7

 

 

soe6

 

 

soe4

 

soe3

 

 

soe2

 

soekarno

 

wpid-387049_292650347436554_100000747739986_960468_1892946062_n.jpg

 

Posted from WordPress for Android


Selamat Natal


Berkatalah Jibril kepada Maryam: “Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Allah untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS 19:19)

Dan di Betlehem di tanah Yudea, Maryam melahirkan bayi laki-laki suci, Putra (Roh) Kudus. Dan mereka akan memberi nama Imanuel (Allah menyertai kita). [Matius 1:23]

Selamat Idul Maulid, Merry Christmas, Selamat Natal bagi yg merayakan.


MUI dan Ormas


MUI itu ormas apa lembaga negara ya? Agak membingungkan…karena katanya, MUI itu sejenis ormas walaupun diinisiasi dan difasilitasi oleh negara….

Jika BP migas dibubarkan dengan alasan merugikan negara diruang migas/ekonomi. Bisa ngga ya, kita berbondong-bondong secara sistematis dan konstitusional menarasikan alasan pembubaran MUI. Karena banyaknya kasus telah merugikan kerukunan dan kebebasan beragama.

*pake RUU Ormas ato ke MK? Hiks!


Perempuan ini….


Menatap cermin, sosok rapuh, lelah, penuh kemarahan dan kesedihan. Hari-harinya suram dengan tangis tak berkesudahan. Beberapa lembar uban menyembul diantara hitam rambutnya. Dan keriput mulai melipat kemulusan wajahnya. Perempuan ini kembali terpekur dalam gelisahnya.

Buku yang dibacanya semalam sungguh-sungguh membuatnya berpikir. Nasehat Luqman al Hakim kepada putranya:
“Ingatlah 2 perkara dan lupakan 2 perkara. Ingatlah Allah dan kematian. Dan lupakan 2 perkara; perbuatan baik dan kejelekan orang lain terhadapmu.” Sebuah nasehat mahal dan sangat sulit!

*menampar wajah sendiri


MATI


“Kita pasti mati…sayangnya, kita tak bisa memilih caranya. Tapi, kita bisa memutuskan bagaimana meraihnya… demi kita dikenang sebagai manusia.” Proximo, Gladiator

Dalam sebuah kelas training, seorang fasilitator memulai programnya dengan selembar uang senilai Rp. 100.000 yang masih baru. Di dalam ruangan tersebut, dia bertanya, “Siapa yang mau uang ini?”

Spontan para partisipan mengacungkan tangan mereka.

“Saya akan memberikan uang ini pada salah satu dari kalian, tapi apakah kalian masih mau kalau uang ini sudah kusut?” katanya sambil meremas-remas uang tersebut agar menjadi kusut.

Para partisipan masih tetap mengacungkan tangan mereka.

“Bagaimana kalau saya melakukan ini?” katanya sambil menjatuhkan uang tersebut ke lantai dan menginjaknya berulang kali. Kemudian uang itu yang sudah menjadi kusut dan kotor diambilnya kembali, “masih ada yang mau?”

Para partisipan tetap saja mengacungkan tangan mereka.

“Kita semua baru saja mempelajari sesuatu yang sangat berharga,” katanya, “tidak peduli apa yang saya lakukan terhadap uang tersebut, teman-teman sekalian tetap saja menginginkan uang tersebut karena nilai uang tersebut tidak berkurang, masih tetap 100 ribu rupiah.”

“Sering kali dalam kehidupan ini kita jatuh, segala sesuatunya tidak sesuai dengan keinginan kita, dan terpuruk dikarenakan keputusan yang kita ambil dan juga hambatan menghadang di tengah perjalanan kita. Kita merasa bahwa kita sudah tidak berharga lagi. Tetapi, apapun yang telah atau akan terjadi, kita tidak akan pernah kehilangan harga diri kita. Kotor atau bersih, kacau atau teratur, kita masih tetap sangat berharga… terutama bagi orang-orang yang mencintai kita.”

Harga dari kehidupan yang kita jalani bukan datang dari apa yang kita lakukan atau siapa yang kita kenal, tetapi dari SIAPA DIRI KITA.

*Wallahu ‘alam


Umur


Ketika menyikapi suatu pertambahan, ada banyak kesalahan universal terjadi di sekeliling kita. Entah pertambahan umur atau bertambahnya tahun. Setuju atau tidak sebenarnya kita berjalan diatas punggung usia. Tapi yang biasa terjadi dan berulang, ketika melewati suatu titk masa menuju titik masa lebih tinggi, kemeriahanlah yang dihelat. Bersuka cita seolah bumi akan terus berputar tiada akhir. Seakan umur tidak akan berujung mati.

Padahal dunia sedang pergi meninggalkan kita. Dan akhirat mengikis umur kita. Tanpa bekal apa-apa dan lalai atas maut yang sewaktu-waktu menjemput. Waktu tak akan pernah kembali Malika, wallahi! Sekaya apapun kita, tak kan mampu membeli masa yang berlalu.

*mengingat kematian dalam sedu sedan


Politik Personalistik


Politik personalistik sebenarnya diperparah oleh partai berkuasa sendiri; yakni demokrat sendiri yang hanya punya program pencitraan. Mungkin benar bahwa saat ini menjadi ujian terberat partai Demokrat. Karena menilik kembali iklan yang dulu gencar tayang di tivi-tivi nasional : “Katakan tidak pada korupsi!”
Pada realitasnya sangat jauh panggang dari api. Satu persatu mengemuka;
Politisi Partai : sudah dipenjara
Bendahara Partai : sudah dipenjara
Sekretaris Partai : sudah jadi tersangka
Ketua Partai : terindikasi bisa jadi tersangka juga

Maka, bukankah seharusnya partainya dibubarkan saja? Jangan-jangan isinya koruptor semua!

: sontoloyo!


Nasionalisme


“Kita lapar itu biasa. Kita malu itu juga biasa. Namun lapar atau malu karena Malaysia, itu Kurang Ajar!!” (Soekarno,1963)

Mulut supporter Malaysia yang kayak comberan mengatai bahwa Indonesia itu anjing menohok rasa nasionalisme kita. Betapa sudah terlalu sering negara tetangga kita itu menebar kebencian dengan kasus pencurian ikan, pencurian seni budaya bahkan wilayah teritorial Indonesia. Belum lagi urusan TKW yang sering mendapat perlakuan tak manusiawi.

Rasa nasionalisme bermula ketika kita menemukan ‘kebencian’ terhadap ‘yang lain’. Perang-perang di dunia telah banyak mengajarkan kepada kita bahwa rasa nasionalis dikalangan rakyat di banyak negara bisa tumbuh jika ada ‘musuh’ yang harus dibasmi (Benedict Anderson, Imagined Communities, 2002).

Maka dalam kompetisi sepak bola Indonesia versus Malaysia, dari yel-yel yang kemudian menimbulkan makian, membuat orang tiba-tiba serempak membenci Malaysia. Dan kebencian pada musuh bersama itu positifnya melahirkan nasionalisme. Karena sepak bola telah menjadi budaya massa, melibatkan emosi seluruh bangsa jika ada musuh yang harus diganyang. Meski korupsinya masuk 5 besar didunia, meski pemerintahnya bobrok luar biasa…..Cinta kami cethaaarrr membahana….RIGHT OR WRONG IS MY COUNTRY!!

:Ganyang Malaysia! Tapi korupsi tetaplah musuh yang nyata!

*Kabuuur ahh sebelom kena timpuk


Saat Indonesia Kalah Dari Laos


Apa yang kau pikirkan?
Banyak sekali……sampai penuh otakku, panas kepalaku, dan brodol (rontok) rambutku…..
Hal sekecil apapun berpotensi menyebabkan insomnia, waspadalah…..

Hal sekecil apapun bisa masuk dan layak untuk dipikirkan, termasuk kekalahan Timnas yang berakhir seri. Betapa kita seperti stag jalan di tempat sementara negara-negara pesaing kita lebih matang mengolah bola. Memang menghasilkan gol itu tak semudah memasukkan pentol bakso ke dalam mulut, apalagi saat lapar. Hanya saja, harapan berlaga di kejuaraan dunia menjadi semakin jauh mengabur saja. Mimpi tinggalah mimpi!

*jangan mudah menghibur diri dengan kekalahan itu sukses yang tertunda. Sudah kalah ya kalah!


Masyarakat Yang Sakit


Insanity of the society….Secara patologi sosial masyarakat sudah mengidap semacam kegilaan; mudah terbakar emosi, lalu ribut dan saling bunuh. Ini terjadi jika kontrol negara terhadap warganya hilang, dan atau negara dalam posisi auto pilot karena tidak ada pihak yang layak disegani/dihormati selaku pemimpin.

Mungkin benar, teori pengurangan populasi; masyarakat dibiarkan saling bunuh untuk mengurangi populasi, sekejam itukah?

Selain banyak keributan yang terjadi, baru kamaren lusa terjadi keributan di Sendawar, Kubar mencekam. Hanya karena hal sepele soal kelangkaan BBM. Karena antrian, dan kemudian pemberitahuan bahwa bensin sudah habis, lalu terjadi pemukulan. Aparat Siaga 1 sebagai buntut pemukulan.

*tak ada penguasa, mari saling bunuh!!


Yahudi, Ras, Agama dan Zionisme


Bedakan Yahudi sebagai Ras dan Agama yang harus dihormati oleh Umat Muslim (Hbb. Ali asegaf), dengan Zionisme yang merupakan paham yang mengemukakan hegemoni bangsa satu ke bangsa lain dan menghisap manfaat bangsa lain serta merespon dengan kekerasan tiap protes atas ketidak adilan.

Boleh membenci Zionisme, boleh membenci negara Israel, tapi jangan membenci agama yahudi, karena tidak semua yang beragama yahudi adalah Zionis! Kalau kita tetap memaksa membenci agama Yahudi, buanglah buku-buku Kahlil Ghibran dari rak-rak buku kita!

Diam diam Pemerintah NKRI pun melakukan politik Zionisme yang sama kepada suku bangsa sendiri. Sehingga sekarang daerah terdepan (mereka menyebutnya daerah terluar) bergolak minta merdeka.

*kemerdekan itu adalah hak setiap bangsa!


Elegi di Seputar Bis Kota


Pulang dengan kepenatan yang sangat! Satu bis AC melewatiku dengan angkuhnya, tak mau berhenti untukku. Padahal kepenatanku ingin segera kuhempaskan di joknya yg dingin..

20 menit kemudian ada bis baik hati menghampiri; bis ekstra cepat yang biasa merajai jalanan, alhamdulillah beruntungnya. Meski bis ini sering bikin jantungan karena ugal-ugalan di jalan. Berharap menemukan kenek bis yang hamil dulu….sehatkah dia? Atau sudah berhenti ngenekkah dia? Tapi sesampainya di dalam tak kujumpai dia lagi….hanya anak laki-laki dekil seumuran anak sulung saya yang sesekali berteriak: “Kupang….Kupang….JMP…JMP…..!!” Ingatan langsung melayang ke anak-anak. Yang sulung jam segini pasti sibuk belajar dan si bungsu lagi di tempat lesnya.
“Dek…ngga sekolah ya,” tanyaku.
“Sudah ngga, kalo saya sekolah, kapan nyari makannya?” jawabnya, sesekali tangannya sibuk membantu penumpang naik turun, “YaaTuri….Turi…stasiun….pasar Turi….kosong!”

Anak sekecil itu dipaksa dewasa oleh keadaan, oleh ketiadaan…..

*segores kepedihan menyesakkan dada


Membincang Kekerasan Dalam Beragama; Merasa Diri Paling Benar??


“Orang takwa sejati tidak pernah menggunakan agama sebagai sebab perpecahan. Orang takwa percaya bahwa agama adalah wahana mempertemukan ummat manusia. Kalau ada orang suka mempertentangkan ajaran agama, apalagi sesama agama ia pasti belum sampai derajat takwa. Sama halnya orang yg mencari perbedaan dan sangat sensitif melihat perbedaan lalu menggunakannya untuk memecah belah ummat. Orang seperti ini belum sampai derajat takwa. Orang yg takwa adalah toleran pada orang seagama dan pada pemeluk agama lain (Jalaluddin Rakhmat 2008)”

Kekerasan atas nama agama masih –bahkan semakin- marak di negeri ini. Padahal, terlepas dari berbagai kontroversi yang mengitari sebuah isu, khususnya isu-isu keagamaan, maka kekerasan sama sekali tak diperbolehkan menjadi sarana untuk menyelesaikan kontroversi atau pun masalah umat. Sebab, metode penyelesaian masalah dengan jalur kekerasan bukan tuntunan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Salah satu isu yang biasanya dianggap menjadi pemicu konflik antar umat beragama yakni isu perbedaan ajaran dan pandangan, baik antara umat beragama atau antar sesama Muslim. Isu kerukunan umat beragama di Indonesia masih didominasi masalah kekerasan yang melibatkan agama. Meski disetiap negara bercorak plural seperti Indonesia boleh dibilang wajar mengalami benturan atau ketegangan-ketegangan dalam masyarakat, akantetapi dalam kasus kekerasan yang terjadi menurut studi tidaklah wajar. Ketidakwajaran itu ditenggarai oleh kejadian yang berulang-ulang sehingga muncul indikasi pemerintah seolah diam saja dalam melihat masalah tersebut. ada dua hal penting yang memboncengi tindak kekerasan yang terjadi, yakni soal keberadaan rumah ibadah dan adanya pembatalan acara yang diinisiatifkan lembaga-lembaga seperti LGBT ((Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?

Pertanyaan “mengapa” itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun marilah kita mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran:“Wa qul jâ’a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa” (dan katakanlah: “kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna). Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Pak Alwi Shihab sempat menyampaikan, bahwa salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya—berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, adalah debat tentang pemberlakuan syariat Islam. “Syariat Islam yang mana yang akan diterapkan di sini?” Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab yang kita anut: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral dan paling benar, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Quote: 

“If people knew their own religion, how tolerant they would become, and how from any grudge againts the religion of others.”


Harapan adalah perlawanan terhadap ketidakmungkinan


English: Red star, symbol of the Socialist Par...

English: Red star, symbol of the Socialist Party of Indonesia Esperanto: Ruĝa stelo, simbolo de la Socialista Partio de Indonezio Bahasa Indonesia: Bintang merah, simbol Partai Sosialis Indonesia Nederlands: Rode ster, symbool van de Socialistische Partij van Indonesië (Photo credit: Wikipedia)


[dibawah ini adalah catatan pinggir goenawan mohamad, yang paling saya sukai, membangkitkan harapan.bagi teman-teman yang belum pernah membaca…bacalah, ini merupakan perlawanan terhadap ketidakmungkinan]

Mikro politik

goenawan mohamad

[dimuat di kolom catatan pinggir~Majalah Tempo Edisi. 20/XXXVII/07 – 13 Juli 2008~]

 

Soal paling serius dalam politik hari ini adalah harapan.

Haruskah kita terus berjuang dalam politik untuk perubahan, ketika hampir semua hal sudah diucapkan secara terbuka, tapi Indonesia hanya berubah beberapa senti? Atau begitukah nasib dunia: sejarah adalah repetisi kesalahan yang tak kita sadari? Atau sejarah sebenarnya tak punya tujuan, apa pun yang dikatakan Hegel dan Marx?

Rahman Tolleng kini 70 tahun: ia mungkin tak akan menjawab pertanyaan di atas. Tapi ia saksi yang bisa menunjukkan, kalaupun sejarah hanya sebuah cerita acak-acakan, tak berarti ia sia-sia. Kalaupun akal budi tak kunjung menang, seperti dicitakan Hegel, tak berarti manusia takluk. Kalaupun kebebasan tak berhasil terbentang penuh di dunia, seperti diperhitungkan Marx, tak berarti ia tak layak diperjuangkan.

Entah mengapa, selalu ada orang-orang yang bersedia bekerja untuk menjaga agar sejarah, yang tujuannya tak jelas, tak bergerak jadi arus yang berakhir dengan pembinasaan—khususnya pembinasaan mereka yang tak berdaya.

Pada 1 Juni yang lalu saya bertemu Rahman Tolleng di halaman depan Galeri Nasional, Jakarta. Orang-orang, termasuk anak-anak, berkumpul di sana. Mereka menghindar dari Taman Monumen Nasional, setelah sejumlah orang dari mereka yang sedang akan memeriahkan Hari Lahir Pancasila diserbu dan dipukuli sampai berdarah-darah oleh sepasukan orang seakan-akan hendak menunjukkan, ”Kami Islam, sebab itu Kami berhak memukul!”

Hari itu Rahman di tengah orang-orang yang dipukuli itu. Ia tak kelihatan letih. Ini tahun 2008. Saya coba mengingat, kapan saya bertemu pertama kali dengan dia. Mungkin pada 1962. Seingat saya, ia muncul di halaman sebuah hotel besar di Bandung yang lampunya hanya setengah menerangi ruang. Kami diperkenalkan oleh seorang teman. Saya mahasiswa baru dari Jakarta. Ia sudah aktivis terkemuka Gerakan Mahasiswa Sosialis di Bandung. Tahun-tahun itu ia harus setengah bersembunyi—terutama karena ia tak mau dibungkam. GMSOS organisasi yang dekat rapat dengan Partai Sosialis Indonesia yang dilarang Presiden Soekarno. Para pemimpinnya dipenjarakan.

Setelah itu saya jarang sekali melihatnya. Beberapa orang teman, antara lain Soe Hok Gie (ia juga aktivis GMSOS), memberi tahu saya bahwa Rahman terus menghimpun dan memproduksi tulisan yang diam-diam diedarkan dan didiskusikan di antara mahasiswa di Bandung. Ketika pada 1966 mahasiswa di Bandung dan Jakarta turun ke jalan, mengguncang ”demokrasi terpimpin” yang melahirkan otokrasi, Rahman tak lagi besembunyi. Ia memimpin mingguan Mahasiswa Indonesia.

Dari sini pula saya menduga apa gerangan yang menyebabkan ia bergerak, menulis, membentuk kelompok. Politik, baginya, adalah sebuah tugas.

Tapi itu tugas yang murung, agaknya. Seperti tiap orang segenerasinya, Rahman Tolleng tahu yang terjadi pada 1908 sampai 2008: gerakan antikolonial yang terkadang menyempit jadi xenofobia, revolusi yang meletus dan segera jadi Negara yang mau mengendalikan segala hal, perubahan yang berakhir jadi teror, reformasi yang melambungkan harapan tapi segera kelihatan betapa terbatas jangkauannya. Adakah harapan?

Setelah 1998, kita berusaha percaya bahwa demokrasi konstitusional, dengan parlemen yang dipilih, adalah jalan perbaikan yang pantas dan rendah hati. Radikalisme hanya bagus buat pidato.

Tapi kini perangai partai-partai politik mirip tikus besar-kecil yang merusak padi di sawah kita. Atau, lebih buruk lagi, mirip ”vampir”, seperti kata editorial Media Indonesia, pelesit yang menghisap darah dari tubuh demokrasi.

Kini parlemen, pengadilan, polisi, kejaksaan, dan media nyaris jadi sederet bordello, di mana si kaya bisa membeli sukma dan raga manusia. Kini suara rakyat yang diberikan kepada sang presiden seakan-akan sia-sia: sang presiden tetap tak yakin dan terus-menerus menunggu mandat. Kini para mahasiswa mencoba mengulang heroisme angkatan sebelumnya, seakan-akan sejarah bisa diulangi. Di manakah harapan?

Tapi siapa yang menggantungkan politik pada harapan lupa bahwa harapan tak pernah datang sebelum perbuatan. Siapa yang menggantungkan politik pada harapan akhirnya hanya akan terpekur, karena harapan selalu samar. Atau sebaliknya, ia akan membuat harapan sebuah obat yang serba mujarab, dan membikin agenda melambung-lambung.

Dengan modal harapan semacam itu, politik justru akan mati—”politik” dalam arti the political: gerak dan gairah melawan kebekuan yang represif.

Saya melihat ke Rahman Tolleng: politik adalah tugas, sering murung karena fana tapi juga tak terhingga. Saya ingat anjuran Alain Badiou: ”Dalam politik, mari kita berusaha jadi orang militan dari aksi yang terbatas”. Kita tahu dunia tak akan jadi surga; hanya di surga kita bisa tahu apa yang akan kita capai. Tapi sebab itu kita tak bisa berhenti.

Bukan karena kita Sisiphus yang perkasa. Kita bukan si setengah dewa yang dengan gagah menanggungkan hukuman itu: mengangkut batu besar ke puncak gunung, dan segera sesudah itu akan menggelundung kembali. Kita hanya makhluk yang dituntut, dipanggil, terus-menerus oleh sesuatu yang tiap saat menyatakan diri berharga. Dalam hal ini, berharga bagi harkat liyan, bagi liyan yang juga sesama. Simon Critchley menyebut sesuatu yang ”infinitely demanding”, dan saya kira dengan itulah politik adalah ”ethik” dalam perbuatan.

Di situlah ”mikropolitik” punya makna: ia ”militansi dari aksi yang terbatas”. Ia bukan rencana mengubah semesta berdasarkan wajah sendiri. Tapi ia tak takut kepada yang mustahil.

Dan harapan? Mungkin bukan itu soalnya. Politik bisa dengan harapan, bisa tidak. Sebab ia perlawanan yang membuat hidup kita—di sebuah tempat, di suatu waktu, bersama yang lain—tak sia-sia. Juga pada usia 70.


MENGISLAMKAN ORANG ISLAM


Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

Batapa lembut dan hangat agama itu.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku..

Akhirnya, bila boleh menyimpulkan agama yg benar adalah:

1. Agama yg mengajarkan cinta kpd sesama bukan agama benci.

2. Agama yg mengusung akal sehat dan akal budi, berpikir logis rasional, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, inquiry mind, dialogis. Bukan sebaliknya yaitu anti rasional, anti dialog, menolak logika & akal.

3. Agama yg menjunjung tinggi akhlakul karimah/budi pekerti/etika yang agung dan mulia, yang fondasinya adil (etika sosial) dan baik/ihsan: membalas keburukan dengan kebaikan (etika individual). Yg prinsip umumnya mengajarkan kita utk tdk memperlakukan orang dengan perlakuan yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Jika anda tidak mau disesatkan/dikafirkan jangan sembarang menyesatkan/mengafirkan orang lain.

4. Agama yang menjunjung tinggi prinsip Hanif: jujur, lurus, murni dan Samhah: lapang, toleran, menghargai pluralitas. Memangnya hanya mereka/kita yg berhak mengklaim kebenaran, orang laintidak boleh.

Dalam Al Qur’an pun kita mengenal ayat yang menjunjung tinggi hubungan silaturahim:
Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi harus yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu melihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!

Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan kita dalam bingkai kemanusiaan dalam keberagaman untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

*Didedikasikan untuk ISACS : Institute Study Agama dan Civil Society

Salam Pluralisme!!

Malika Assaif


Life is About Moving


Imam Syafi’i pernah berkata:

“Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan.
Seandainya mengalir dia menjadi jernih,
jika tidak dia akan keruh menggenang.

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan,
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan.

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.
Anak panah jika tidak dilepaskan busur tak kan kena sasaran.

Jika saja matahari tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang”

Untuk itu..BERGERAKLAH..sahabatku !

Sekalipun besok hari kiamat,
kita diperintahkan untuk tetap bergerak dan beraktifitas.

Baginda Rasululllah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنْ قَامَتِ السَّاعَة ُوَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَة ٌفَاسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يُغْرِسَهَا فَلْيُغْرِسْهَا فَلَهُ بِذاَ لِكَ أَجْرٌ

“Jika Kiamat datang, sementara di tangan salah seorang diantaramu ada sebuah biji Kurma, lalu ia mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum Kiamat terjadi, maka hendaklah ia tanamkan, karena dengan demikian ia akan mendapatkan pahala.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Abdil ‘Aziz dlm al-Muntakhab dg isnad yg hasan dari Anas ra.
Juga kitab ‘Umdatul Qari’ fi Syarhin Shahihil Bukhari oleh Syaikh Badaruddin al ‘Aini, bab al-Hartsu waz Zira’ah)

Ketika kita bergerak, kemudian mengalami benturan “BADAI”,
itu sesuatu yang wajar sahabat…

Grace Hopper mengatakan :
“A Ship in port is safe, but this not what ships are built for!”.
Memang aman kalau kapal cuma bersandar di pelabuhan,
Namun bukan untuk itu dia diciptakan !!!

BADAI ujian adalah sesuatu yang sangat wajar,
Sebagaimana juga kita sekolah.
Maka kita juga pernah mengalami “BADAI” ujian.
Setelah badai berlalu, maka nikmat “KELULUSAN” akan kita dapatkan

Semakin banyak rintangan dalam bergerak,
Semakin TANGGUH dan TEGARLAH kita.
Semakin banyak kesedihan yang kita jumpai,
Semakin LEMBUTLAH kita…
Dan semakin banyak PAHALA, ILMU dan CAHAYA kita dapatkan.

Semakin banyak BERGERAK dan semakin banyak LULUS badai ujian,
maka juga akan membuat semakin CEMERLANG pribadi kita…
Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang BERCAHAYA…
Bukankah kita sering melihat SINAR OBOR yang begitu cemerlang…
dari para tokoh setelah mereka bergerak dan mengalami badai ujian.

Boleh jadi kita belum bisa seterang OBOR para tokoh,
Namun minimal bisa seperti KUNANG-KUNANG…
yang mampu membuat malam menjadi semakin INDAH.