Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Barca

Pertemuan Dengan Sophia


Ini yang ketiga kalinya aku berdiri disini, ditempat ditemukannya mayat Sophia. Di jam yang sama seperti kemarin dan dua hari sebelumnya. Telah kusiapkan kamera saku dan tape recorder, barangkali Sophia tak keberatan berpose untukku atau bersedia memberikan pengakuannya….heheh..aku tersenyum sendiri.


Di jam yang sama seperti kemarin, jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi dan aktifitas gedung mulai berhenti. Kali ini aku tidak bersiul tapi aku menyanyi. Lagu yang kuanggap bisa membuat Sophia senang, karena kurasa ia mempunyai karakteristik yang sama denganku; penggemar bola, penyuka Messi dan Barca walaupun sekaligus menyukai MU (Manchester United). Sophia pasti menyukai lagu yang kunyanyikan meskipun suaraku juga tak merdu.

Ya kurasa Sophia akan suka:….

…..’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

Baru saja mengakihiri bait terakhir reffrain tiba-tiba….”Jedooorrrr!!!”….suara sesuatu dilempar ke arahku keras sekali mengenai papan di belakangku. Aku cuek….sambil kulanjutkan nyanyianku, kali ini kukeraskan suaraku….lebih keras lagi. Suara lemparan keras itu terdengar lagi. Sepertinya dari arah parkiran, bergegas kuhampiri, sepertinya ada yang terganggu dengan hadirku. Kuperiksa dengan seksama di setiapsudut, tak ada siapa-siapa….tak ada apa-apa….hanya sepi menggayuti pikiranku.

Ketika hendak berbalik, kulihat sosok hitam besar dan berbulu berdiri di bawah lampu. Matanya merah menyala-nyala. Mau apa dia? Sepintas tanda tanya melintas. Dari sorot matanya ia tak menyukai kehadiranku, ia terganggu dengan nyanyianku. Entah mengapa, ia seperti punya kenangan buruk terhadap lagu ini. Dan aku tak berharap sama sekali bertemu sosok ini, “aku hanya inginkan PERTEMUAN DENGAN SOPHIA…..!!”

Beringsut kubalikkan badanku, “peduli apa denganmu! Sudah rambut tak pernah kau cukur, mata merah tak kau beri tetes mata…jangan tampakkan dirimu! Sekali-kali jangan!!”

Kembali ketempatku berdiri semula, di tempat mayat Sophia tergeletak dengan isi kepala terburai berantakan….Lebih dari satu jam aku berdiri disini, dan hampir putus asa. Sophia tak kunjung datang. Mungkin ia malu ketahuan putus asa dan membunuh dirinya sendiri, mungkin juga ia marah tak seorang pun menolongnya saat seseorang mendorongnya. Atau ia gengsi karena kematiannya merepotkan banyak orang dan menyisakan tanda tanya, “mengapa SOPHIA DECIDED TO DIE?”

Aku tak ingin bersedih atas kematiannya, tapi hasratku meronta-ronta menginginkan pertemuan dengannya. Aku mencari-cari isyarat yang mungkin ditinggalkan Sophia.

Beberapa hari sebelum kematiannya, Sophia sempat menulis status di Facebook-nya:

“Pura-pura melupakanmu atau berusaha melupakanmu, upahnya tetap sama; rindu.”

Rupanya ada yang Sophia rindukan, tapi siapa? Siapa….??

“Langit di sini abu-abu dan hujan mulai turun. Suara rintiknya seperti rindu, ke kamu.”

Kau tahu siapa kekasih Sophia? Siapa yang selama ini dekat dan dicintanya? Lalu distatus selanjutnya:

“Mengapa mawar merah milikku kau buang di jalanan? Kamu kejam!”

Lalu status yang lain, ditulis dalam bahasa Inggris….Ada kemarahan dalam nadanya.

“I just can’t live a lie anymore…I am really tired being what you want. And now I just want to be what I want to be…!”

Lalu seperti kilasan kepasrahan demi kepasrahan;

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

“Let me fall….I don’t like this life…”

Lalu terjadilah bunuh diri Sophia. Sophia benar-benar jatuh….Sophia decided to die?

Beberapa hari ini Sophia berhasil mengusutkan pikiranku…..ahhh! Sunyi kembali menggelayuti malam, di tempat ini. Sesaat nyaris putus asa…kudengar suara berbisik, bukan berbisik tapi tangisan lirih…entah suara siapa. Sophia-kah? Samar-samar lirih terdengar, dahiku berkerinyut, bulu kudukku meremang….ia menakutiku. Mengingatkanku akan kemunculan tokoh sentral di film horor; suara kuda meringkik….!!

Tapi sesaat kemudian menghilang bersama kegelapan malam. Aku masih terpaku di tempatku, tempat Sophia terjatuh.

Dalam benakku, Sophia menggapai-nggapai pertolongan, ia sedih. Selintas kulihat sosok laki-laki diatas sana, sebelumnya melingkarkan pelukan, hangat dan menggelora. Sorot matanya dipenuhi cinta. Mereka tertawa-tawa….Mereka bahagia….Mungkinkah laki-laki yang ia percaya menggamit tubuhnya itu telah mendorongnya? Untuk apa? Untuk siapa?

———————————————————————-

Catatan:

’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

(Marcell: Kau Tak Akan Terganti)

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

(Rumi)

************


19thfloor,20110520

Malika Assaif



Philosophia Decided To Die


Kau pernah dengar cerita tentang hantu bernama PhiloSophia?


Konon, dia cuma seorang gadis yang mati. Seorang gadis yang mati dengan cara melompat dari lantai 19 gedung berlantai 21, yang entah dia pingsan atau tidak di tengah-tengah perjalanannya menabrak lantai dasar, lalu pecah berantakan kepalanya. Saat itu ia mengenakan kaos  bergambar Lionel Messi dan betuliskan ‘I LOVE BARCA’.

Konon dia pernah selamat dari tikaman sahabatnya saat SMP, lalu dia selamat dari tikaman sahabatnya yang lain baru-baru ini. Entah apa yang membuatnya memutuskan membunuh dirinya sendiri, mungkin sebelum mendapat tikaman yang ketiga yang mungkin sanggup membunuhnya, maka dia memutuskan membunuh dirinya sendiri. Masak karena kalah taruhan bola ya?? Yang pasti….PHILOSOPHIA DECIDED TO DIE

Yang mengherankan, dia tak meninggalkan tulisan apa-apa. Tali sepatunya terburai, baju t-shirt luar yang membungkus tubuhnya di luar kaos pun tidak disetrika. Polisi menemukan kedua handphonenya terjatuh hancur pula di sebelahnya, seperti tak punya persiapan untuk mati. Polisi juga menemukan buku-buku di tempat Sophia diduga melompat. Mereka lantas curiga, jangan-jangan ini bukan kasus bunuh diri. Bahwa pernah ada seseorang di atas sana, mendorongnya hingga terjatuh. Seseorang yang dikenal karena tidak ada bukti-bukti pergulatan. Seseorang yang memberinya rasa aman, nyaman, lalu merenggutnya saat dia percaya. Mungkin kekasih, mungkin teman dekat, atau mungkin selingkuhan…. entahlah, yang jelas tak ada satupun jejak meronta-ronta. Mungkin seseorang itu memeluknya dari belakang, membuatnya lunglai dalam pelukannya, lalu mendorongnya jatuh. Yang jelas, ada banyak kemungkinan mengenai kematian Sophia. Namun, tak seperti  yang tampak….dia membunuh dirinya sendiri.

Beberapa saat sesudahnya, di sekitar tempat ditemukannya mayat Sophia tergeletak, sering terjadi kejadian-kejadian aneh yang tak masuk akal. Dan orang bilang banyak mendengar suara-suara di sana. Adalah larangan mengeluarkan suara di sekitar sana, kalau terpaksa lewat ya paling aman berjalan dengan tenang dan tanpa suara. Sebenarnya yang paling sering diingat-ingatkan adalah tanpa bicara. Karena konon cuma orang-orang tertentu yang berhak bicara di sana. Tetapi ketakutan kadang-kadang membuat peraturan diterapkan berlebihan sehingga mereka yang terpaksa lewatpun melewatinya dengan suara langkah yang paling minim terdengar karena takut. Takut hantu Philosophia…..penggemar Barca dan Messi.

Aku dengar di tempat inilah Sophia mati. Maka aku bersiul di sini, di jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi, kuingin bertemu Sophia sekaligus bertanya sebab kematiannya. Lalu kudengar ribut suara, kucari sumbernya, tak ada apa-apa…tak ada siapa-siapa…tak ada yang nyata. Tidak ada apa-apa. Tidak ada bisikan, tidak ada hardikan….bahkan tangisan Sophia.

PS: Thanks For My Friend Abed Nasser who gives me The Barca’s pic!

19thfloor,20110518

Malika Assaif