Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Bukan

Philosophia Decided To Die


Kau pernah dengar cerita tentang hantu bernama PhiloSophia?


Konon, dia cuma seorang gadis yang mati. Seorang gadis yang mati dengan cara melompat dari lantai 19 gedung berlantai 21, yang entah dia pingsan atau tidak di tengah-tengah perjalanannya menabrak lantai dasar, lalu pecah berantakan kepalanya. Saat itu ia mengenakan kaos  bergambar Lionel Messi dan betuliskan ‘I LOVE BARCA’.

Konon dia pernah selamat dari tikaman sahabatnya saat SMP, lalu dia selamat dari tikaman sahabatnya yang lain baru-baru ini. Entah apa yang membuatnya memutuskan membunuh dirinya sendiri, mungkin sebelum mendapat tikaman yang ketiga yang mungkin sanggup membunuhnya, maka dia memutuskan membunuh dirinya sendiri. Masak karena kalah taruhan bola ya?? Yang pasti….PHILOSOPHIA DECIDED TO DIE

Yang mengherankan, dia tak meninggalkan tulisan apa-apa. Tali sepatunya terburai, baju t-shirt luar yang membungkus tubuhnya di luar kaos pun tidak disetrika. Polisi menemukan kedua handphonenya terjatuh hancur pula di sebelahnya, seperti tak punya persiapan untuk mati. Polisi juga menemukan buku-buku di tempat Sophia diduga melompat. Mereka lantas curiga, jangan-jangan ini bukan kasus bunuh diri. Bahwa pernah ada seseorang di atas sana, mendorongnya hingga terjatuh. Seseorang yang dikenal karena tidak ada bukti-bukti pergulatan. Seseorang yang memberinya rasa aman, nyaman, lalu merenggutnya saat dia percaya. Mungkin kekasih, mungkin teman dekat, atau mungkin selingkuhan…. entahlah, yang jelas tak ada satupun jejak meronta-ronta. Mungkin seseorang itu memeluknya dari belakang, membuatnya lunglai dalam pelukannya, lalu mendorongnya jatuh. Yang jelas, ada banyak kemungkinan mengenai kematian Sophia. Namun, tak seperti  yang tampak….dia membunuh dirinya sendiri.

Beberapa saat sesudahnya, di sekitar tempat ditemukannya mayat Sophia tergeletak, sering terjadi kejadian-kejadian aneh yang tak masuk akal. Dan orang bilang banyak mendengar suara-suara di sana. Adalah larangan mengeluarkan suara di sekitar sana, kalau terpaksa lewat ya paling aman berjalan dengan tenang dan tanpa suara. Sebenarnya yang paling sering diingat-ingatkan adalah tanpa bicara. Karena konon cuma orang-orang tertentu yang berhak bicara di sana. Tetapi ketakutan kadang-kadang membuat peraturan diterapkan berlebihan sehingga mereka yang terpaksa lewatpun melewatinya dengan suara langkah yang paling minim terdengar karena takut. Takut hantu Philosophia…..penggemar Barca dan Messi.

Aku dengar di tempat inilah Sophia mati. Maka aku bersiul di sini, di jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi, kuingin bertemu Sophia sekaligus bertanya sebab kematiannya. Lalu kudengar ribut suara, kucari sumbernya, tak ada apa-apa…tak ada siapa-siapa…tak ada yang nyata. Tidak ada apa-apa. Tidak ada bisikan, tidak ada hardikan….bahkan tangisan Sophia.

PS: Thanks For My Friend Abed Nasser who gives me The Barca’s pic!

19thfloor,20110518

Malika Assaif


PRINCESS E CEN, BINTANG KEJORA KOMPASIANA


1294910702434538729

Lama ngga ngompasiana, banyak sekali bermunculan Kompasioner-kompasioner muda berbakat dan fresh. Salah satu yang sering saya ikuti adalah catatan harian seorang Princes. Sering saya dibuat berdecak kagum dengan bahasanya yang sederhana, lugu dan penuh kejujuran. Kadang dibuat ngakak ketika membawa tulisannya; Putus, nyaris membuat saya berpikir ini kisah putus cinta seorang remaja jatuh cinta, tapi ternyata sendal yang putus. Lalu kisah inspiratif berjudul I Love You Daddy membuat kita trenyuh dan terharu, berpikir tentang ayah kita. Lalu pada Dialog Kopi Kenthir menyuguhkan dialog kopi, gula dan susu yang serius maknanya tapi dibuat seperti guyonan. Ada sense of humor yang tinggi pada penulisan kata-katanya yang sarat makna. Contohnya dalam tulisan Satu Lagi dari Princess Kenthires, humor fiksi yang menyegarkan.

Lantas dalam tulisan Message on  a Bottle (teringat film dengan judul yang sama dengan pemeran utamanya Kevin Costner) Cen menuliskan kesedihannya lewat kata-kata sendu :

“Ah…, terbersit keinginan untuk menyusulmu disana, di lautan lepas
tempat kau tenggelam setelah menyelamatkan aku yang berenang terlalu
jauh ke tengah laut, maafkan aku sayang… Seharusnya aku yang tenggelam,
bukan kamu….”

“Aku mau mati rasanya… Kehidupan di dunia ini telah kehilangan daya
tariknya… Tapi aku takut berdosa, takut masuk neraka karena bunuh diri…
Pengecut sekali diriku ya sayang…”

Kita jadi ikut terbawa dalam kesedihannya. Tapi lalu turut berbinar dalam semangat setelah Cen menemukan sebuah pesan dalam botol. Dalam tulisan-tulisannya beda penyajian itu Cen berhasil mengaduk-aduk hati saya.

Benar-benar karya original tanpa embel-embel pengin laku atau pengin dibaca. Tapi setiap kali Cen menulis, selalu diminati banyak pembaca dan memancing orang untuk berkomentar. Kesederhanaan tulisan dan penyampaian lepas tanpa beban, itulah Cen. Suatu hari saya bertanya kepadanya; kenapa tak menulis tema-tema laris mengundang orang untuk tertarik membaca seperti tema seks misalnya. ”Wah saya ngga bisa mendesah Mba.”  Benar juga, kenapa mesti menjual desahan bila dengan keceriaan remaja, kesederhanaan dan kelugasan itu orang banyak tertarik? Lagian ‘mendesah’ bisa dilakukan oleh siapa saja meskipun bukan ahlinya…hahaha…Untuk jawaban ini Cen membuat saya takjub dan tertawa.

Saya salut dengan Kompasiana yang sudah mulai merubah image sebagai “bacaan dewasa” menjadi bacaan tua muda atau segala usia. Saya acungi jempol untuk kemajuan Kompasiana. Unsur seksualitas memang diminati, tapi itu tidak akan lama, lama-kelamaan juga akan tenggelam. Pembaca cerdas pasti akan bosan!Pembaca cerdas pasti akan mencari sesuatu yang ringan, menghibur, menginspirasi, menyemangati serta mencerahkan dan pesan moral tidak dengan cara menggurui. Seperti Chicken Soup, fresh, hangat dan mennyegarkan.

Kulihat bintang yang paling terang diantara bintang, dialah bintang kejora. Cen adalah bintang kejora itu, yang turut membawa nafas segar untuk kemajuan Kompasiana. Insyaallah!

PS: sorry Cen, kuambil fotomu tanpa ijin, smoga kau memaafkanku!


CINTA DAN PENAFSIRAN YANG BERBEDA



Lupakah kau bahwa kita berdoa itu artinya kita sedang bicara tentang cinta, dan dengan bahasa cinta-Nya pula? Kita sedang melapor bahwa kita taat, tunduk dan patuh semata karena cinta kita pada-Nya. Kau pikir layakkah kita bicara tentang cinta kita pada-Nya tetapi diam2 diluar itu semua, kita membenci, bahkan menganiaya hamba-Nya? Cinta macam apa jadinya yang kita bicarakan itu? Harus diakui, diam-diam kita memiliki standar kita sendiri mengenai cinta. Dan tiap diri diantara kita pun diam2 punya cara tersendiri dalam mewujudkan makna cinta itu.

Di dalam lagu-lagu, cinta selalu berarti tuntutan, “berikan daku cintamu dsb.” Pendeknya, cinta bukan sebuah pengorbanan. Cinta pada seseorang pada dasarnya adalah potret egoisme: cinta pada bayangan diri sendiri , yang terpantul pada sikap, jiwa dan perilaku lain, cinta adalah potret Narciscus, tokoh legenda Yunani itu. Minimal jelas tak pernah terpantul corak yang altruistik sifatnya. Hal ini mungkin karena cinta didalam lagu-lagu selalu bersifat possesive. Kau juga tahu, cinta lebih sering kita lihat sebagai sifat menuntut. Atau mungkin mengemis terus menerus dan bukannya tampil sebagai pengorbanan yang tulus. “Berilah saya rezeki yang banyak ya Allah, pangkat yang tinggi, derajat yang luhur,” misalnya. Dengan begini, sebenarnya diam-diam kita selalu ‘merampok’ Tuhan yg kita cintai dan mencintai kita. Dalam takaran pribadi mungkin itu tak salah. Tapi bila hal ini jadi tatanan sosial yg baku, tidakkah kita takut akan dampaknya, yaitu menjadikan kita malas, fatalistis dan kurang gairah dalam usaha? Bukannya Tuhan pun menyuruh kita untukmenjadi arsitek bagi nasib kita sendiri?

Dalam hidup kita sehari-hari, kita menyaksikan bagaimana ruwetnya persoalan tentang cara kita harus menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Memang kita bicara tentang cinta dengan bahasa cinta cinta sebagaimana yg kita pahami. Dengan begitu, manifestasi cinta itu sekali lagi beragam. Dan bahwa keragaman ‘warna’ cinta itu muncul karena tafsir dan penalaran kita berbeda. Pluralisme semacam itu mungkin baik sejauh TIDAK MENGKLAIM YANG PALING BENAR. Jadi? Mekarlah seribu ‘bunga’ tafsir. Berkembanglah sejuta makna sejauh tetap sadar bahwa makna yang kita pegang hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang benar. Bahkan kita tahu, salah satu kemungkinan yg salah. Karena tak ada yang diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk bertindak sebagai hakim agar mengadili pihak lain yang tak sama paham cintanya dengan kita. DERAJAT KITA SAMA, SAMA-SAMA PESAKITAN YG MENUNGGU PENGADILAN TUHAN!! Maka mendengar ada anggota Islam fundamentalis mencela pecinta yang lain (yang mereka sebut dengan penganut Islam sekuler, Islam liberal(JIL), Islam nasionalis, pluralis ato apalah) yang jelas berbeda paham cintanya, aneh rasanya.

Kalau benar kita sedang berusaha mencintai Tuhan dengan cara kita sendiri, mengapa pada saat yang sama kita juga ‘memusuhi’ hambaNya?

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman facebook yang kebetulan dari kelompok Islam fundamentalis. Saya sakit hati karena mereka mengatai kelompok Islam yang mereka sebut sebagai Islam pluralis, liberalis dll sadalah keledai, banci dan monyet. Sesungguhnya, yang mengatai demikian belum tentu lebih baik Islamnya….