Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Chania

Bal-Balan Politik


Origin of da word POLITICS is quite funny! It’s Latin & made up of two words; ‘POLI’ means ‘many’ & …’TICS’ means ‘Blood sucking Creatures’ How True !!!

Akhir-akhir ini saya tertarik mengamati bola; bentuknya yang bundar dan gerakan fleksibel yang memantul membuat kita senang menendang dan melempar serta memainkannya. Bosen main-main dengan bola, saya ingin menonton pagelaran yang digelar di lapangan bola. Sesekali penonton berteriak; “huuuuuuu”, penonton kecewa……yang sering terjadi adalah lontaran makian dan ‘pisuhan’ melengkapi kegusaran dan kekecewaan penonton. Sesekali pula, penonton ‘ngakak’ tertawa dan bertepuk tangan jika ada badut yang badannya melebar ke seantero panggung. Dan akan bersorak kegirangan jika ada pendekar: ‘pendek-mekar’ muncul tiba-tiba…

Bahwa siapa yang tahu bahwa di balik itu terjadi pementasan yang sesungguhnya???

Pada hari itu sebuah kongres sebuah federasi di Pekanbaru dilaksanakan. Sebuah kongres dari sebuah federasi yang sangat sangat korup dan banyak unsur politis bernama PSSI. Sejak awal, saya memang tak respek dengan adanya kongres ini. Dari mulai sosok ketum yang ‘ngeyel’, pemilihan tempat yang memberikan kesan adanya kekhawatiran akan adanya “kelompok reformis”, timbulnya fitnah, pelanggaran aturan pasal statuta, hingga dugaan adanya back up-an dari salah satu orang nomor satu sebuah parpol besar.

Entah kenapa, kongres yang seharusnya berjalan aman, tertib, dan damai itu dirusak oleh suatu skenario. Sebuah skenario yang memang sengaja dibuat untuk melanggengkan kekuasaan kubu Nurdin Halid cs. Dugaan adanya praktek suap di salah satu kamar hotel menjadi pemicunya. Dan apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan kita sebagai insan sepakbola Indonesia. Muncullah orang-orang berjumlah 78 orang, yang hari ini kita kenal sebagai Kelompok 78 atau K78, yang menginginkan adanya perubahan di tubuh PSSI. Bahkan waktu itu, saking paranoidnya kubu Nurdin cs, maka ke-78 orang itu harus rela berteriak-teriak di luar hotel karena hak mereka dicabut.

Puncaknya, kongres ricuh. K78 yang haknya diambil oleh kubu statusquo, masuk ke dalam hotel untuk menuntut kebenaran yang mereka bawa, agar pasal statuta PSSI diubah sehingga Nurdin tidak menyalonkan diri lagi. Untuk diketahui, K78 memperjuangkan hak mereka untuk mengubah statuta PSSI yang menyatakan bahwa “… seseorang dapat menjadi Ketua Umum PSSI apabila tidak terkait tentang hukum pidana pada saat berlangsungnya kongres …” yang sama sekali berbeda dari statuta FIFA, yang menghendaki bahwa seorang narapidana ataupun mantan narapidana memimpin sebuah federasi sepakbola. Ini yang saya sebut sebagai dualisme sikap FIFA.

Pro kontra bermunculan. Media-media milik statusquo mulai menyebar berita bahwa orang-orang militer adalah penyebab kekacauan di kongres PSSI di Pekanbaru. Bahkan ada yang benar-benar memelintir berita, yang mengatakan bahwa Nurdin tetap bisa maju sebagai calon Ketua Umum PSSI. Sementara media-media netral lain, menanggapi hal secara obyektif.

Cara pandang obyektif memang jarang kita dapati dalam banyak pemberitaan media. Karena memang media-media itu berusaha membangun opini publik seolah-olah kelompok 78 adalah public enemy dengan menjuluki mereka sebagai gerombolan pengacau, deadlockers, malah yang ekstrim menganggap mereka teroris. Saya mencoba berasumsi, yakni: Pertama, uang yang ada di PSSI terlalu besar sehingga statusquo ingin lama-lama berkuasa. Kedua, ada indikasi dan target tertentu dari seseorang atau golongan untuk merebut kursi kepemimpinan RI di tahun 2014 dengan cara menduduki PSSI terlebih dahulu. Sah-sah saja wong namanya asumsi. Kecurigaan-kecurigaan tersebut tentu saja beralasan. Kan tema utama kita adalah: MISTERI.

Jumat (21/5), terjadi kembali sebuah Kongres PSSI. Namun dengan wayang yang berbeda. Agum Gumelar, yang dipercaya FIFA sebagai Ketua Komite Normalisasi, memimpin Kongres PSSI. Ada juga perwakilan FIFA, Thierry Regenass dan juga perwakilan dari AFC, yang datang sebagai observer.

Kongres yang semestinya selalu menuruti keinginan peserta konggres, malah dilanggar sendiri oleh Agum Gumelar, sang tokoh utama dalam cerita ini. Apa yang menjadi pokok pembicaraan untuk mencapai sebuah kebenaran, selalu dialihkan. Ini malah menyebabkan pamor dan kharisma seorang Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi sekaligus sebagai ketua sidang merosot drastis. Tampaknya ada sebuah skenario besar di balik semua ini.

Pertama, saya menyesalkan sikap dari komplotan statusquo (ini sama artinya dengan kata ‘Gerombolan 78′ ala Cocomeo News) yang tidak mau legowo untuk menyerahkan kursi-kursi yang mereka duduki di PSSI ke orang lain. Bukti yang ada sudah di depan mata. Kita lihat calon ketua umum PSSI, belakangan ini semakin tercium aroma statusquo. Achsanul Qosasih, Agusman Effendy, dan lain-lain adalah antek setia era Nurdin Halid. Pun demikian dengan anggota Exco. Mayoritas suara yang didapat lebih besar untuk komplotan statusquo macam Iwan Budianto, Yosep Erwiyantoro, dan lain-lain.

Yang membuat saya penasaran, bagaimana seorang Agum Gumelar bisa disetir oleh kelompok tertentu? Lebih penasaran lagi dengan alasan Agum adalah alasan Agum untuk mengganti 5 anggota Komite Normalisasi dengan alasan terlibat LPI (Liga Primer Indonesia), namun pada kenyataannya LPI, pada surat FIFA, harus dirangkul oleh Komite Nasional. Hal ini menguatkan asumsi bahwa dengan kelompok statusquo masih berniat dan masih mencari cara untuk tetap berada di tubuh PSSI.

Kedua, penolakan kandidat Arifin Panigoro dan George Toisutta jelas tak bisa dijadikan alasan untuk tak bisa bersaing di panggung bursa Ketua Umum PSSI. Kalau berkaca pada statuta FIFA, tidak pernah ada ceritanya seseorang yang “menciptakan” liga breakaway, ditolak untuk menjadi calon ketua umum sebuah federasi, di manapun itu berada. Justru jika kita melihat pada negara-negara yang pernah menciptakan liga breakaway seperti Australia, Inggris, dan Jepang, FIFA akan menyoroti kinerja federasinya. Apa yang salah dengan federasi tersebut, sehingga menimbulkan rasa tidak puas oleh anggotanya dan membentuk liga breakaway. Namun kenapa tidak bisa terjadi di Indonesia? Justru seorang Nurdin Halid pun terkesan dilindungi FIFA walaupun saat itu jelas-jelas melanggar statuta FIFA dengan memimpin PSSI dari balik jeruji besi.

Dan dalam catatan saya George Toisutta, tidak termasuk orang yang terlibat dalam liga breakaway (LPI). Nama George Toisutta baru mencuat ke permukaan selama 4-5 bulan terakhir ini. Tidak pernah ada ceritanya GT mengurusi LPI. Namun, pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat FIFA sekelas Thierry Regenass itu saya pikir cukup menimbulkan suatu tanda tanya besar. Bahkan yang bisa membuat saya geli adalah, Regenass yang notabene pejabat teras di FIFA, seharusnya cukup hafal tentang pasal-pasal Statuta FIFA dan Electoral Code FIFA pun tidak bisa memberikan jawaban tentang statuta mana dan electoral code bagian mana yang dilanggar oleh pasangan GT-AP. Dan Regenass hanya garuk-garuk kepala. Lalu mantan pimpinan Kopassus seperti Agum menghentikan kongres secara sepihak dengan alasan yang konyol : tidak kuat lagi menghadapi peserta kongres yang menuntut haknya dipenuhi.

Skenario selanjutnya, ini yang perlu kita waspadai. Kelompok statusquo yang diback up oleh sebuah partai besar, kali ini mulai menggiring opini publik lewat media-media yang dimilikinya untuk memusuhi K78 yang berniat menghilangkan segala kekotoran yang ada dalam tubuh PSSI. K78 yang semula berniat untuk merevolusi PSSI, dan mencegah agar akar-akar dari komplotan Nurdin tidak kembali merajai PSSI, kini malah diputarbalikkan faktanya menjadi sebuah kelompok yang perusak, sok reformis, dan terkesan perusuh serta pemecah belah sepakbola nasional. Penggiringan opini publik ini tampaknya akan menuju ke sebuah keberhasilan di mana saat ini banyak tokoh mulai simpatik ke salah satu televisi yang dimiliki salah satu orang yang mencalonkan diri maju ke Pilpres 2014. Beritanya mulai tidak berimbang, bombastis, dan provokatif. Menggelar talk show pun yang diundang adalah orang-orang yang pro terhadap pemberitaan mereka. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, masyarakat kini mulai diajak untuk memusuhi K78, menjadikannya sebagai public enemy, memusuhi Arifin Panigoro dan George Toisutta yang pernah jadi orang yang membuka pintu masuk kepada kita untuk merevolusi PSSI dengan dalih tidak legowo, terlalu ambisius, dan lain-lain.

Maka menjadilah K-78 sebagai pubic enemy yang selalu dikaitkan dengan yang namanya sanksi. Padahal tuntutan sanksi itu bagi saya sama sekali tidak mendasar karena tidak ada sama sekali pasal Statuta FIFA maupun Electoral Code FIFA yang dilanggar Indonesia.

Saya menganalogikan sanksi itu seperti menakut-nakuti anak kecil tanpa memberikan alasan logis yang jelas; misalnya: “adik jangan main jauh-jauh lho ya, bahaya!” Dan media pro statusquo terus-terusan menggembar-gemborkan sanksi….sanksi sanksi….seolah-olah sanksi itu ‘momok’ menakutkan dan penyebabnya adalah gerombolan pengacau K78. Aneh!!! Betul-betul aneh bin ajaib! Ada yang bilang di televisi; “demi kepentingan bersama sebaiknya kelompok 78 mundur!”……Kepentingan bersama siapa? Lalu mereka beralasan; kalau sanksi benar-benar dijatuhkan, kasihan rakyat dong! Mereka tak bisa jualan kaos, jualan bakso, dan lain-lain….hahaha…sangat lucu! Toh saya lihat, para penjual kaos maupun bakso sehari-hari juga bisa jual kaos di sekitar stadion atau pasar rakyat di Tugu Pahlawan. Lalu yang disebut kepentingan rakyat itu yang mana? Rakyat yang mana? Setelah puas menakut-nakuti rakyat, Agum Gumelar tampil sebagi pahlawan yang seolah-olah menjadi pendekar yang meloby FIFA supaya tidak menjatuhkan sanksi. How smart!

Lebih tidak logis lagi karena K78 tidak sopan, melontarkan kata-kata kasar pada utusan FIFA dan tidak beretika. Maka kalau boleh dijawab: ini kan bukan KONGRES ETIKA! Memang hal ini kelemahan K78 tapi apa yang mereka lakukan tidak pernah menyalahi statuta FIFA.

Dari sejumlah Negara yang pernah mengalami sanksi FIFA, penyebab jatuhnya sanksi karena:

(1)    pelanggaran statuta

(2)    intervensi pemerintah

Dan sebenarnya, masalah sanksi itu masalah lobi saja. Di tahun 2007, sewaktu Nurdin Halid menjabat dari balik jeruji besi, seharusnya Indonesia terkena sanksi. Tetapi karena lobi-lobi yang kuat dari kelompok Nurdin, maka sanksi itu tidak terjadi. Bahkan kemarin sewaktu Pemerintah melalui Menegpora ikut mengintervensi PSSI, seharusnya juga kan kita kena sanksi. Tapi nyatanya? Nothing!!

Padahal, jika toh memang kita disanksi FIFA, maka gugatan CAS (Komite Arbitrase Olahraga) akan masuk, yakni menggugat FIFA sebesar 500 juta Euro per hari. Tentunya FIFA juga tidak bodoh dengan sembarangan memberi sanksi untuk Indonesia karena benar-benar tak ada aturan yang dilanggar. Bahkan FIFA sendiri yang melanggar aturan tersebut dengan menolak pencalonan GT-AP tanpa dasar.

Konggres PSSI tempo hari benar-benar menyisakan banyak tanda tanya. Silakan mengambil kesimpulan sendiri dan mari kita tunggu pertunjukan selanjutnya!

***********

Kemayoran,20110528

Malika Assaif


Pertemuan Dengan Sophia


Ini yang ketiga kalinya aku berdiri disini, ditempat ditemukannya mayat Sophia. Di jam yang sama seperti kemarin dan dua hari sebelumnya. Telah kusiapkan kamera saku dan tape recorder, barangkali Sophia tak keberatan berpose untukku atau bersedia memberikan pengakuannya….heheh..aku tersenyum sendiri.


Di jam yang sama seperti kemarin, jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi dan aktifitas gedung mulai berhenti. Kali ini aku tidak bersiul tapi aku menyanyi. Lagu yang kuanggap bisa membuat Sophia senang, karena kurasa ia mempunyai karakteristik yang sama denganku; penggemar bola, penyuka Messi dan Barca walaupun sekaligus menyukai MU (Manchester United). Sophia pasti menyukai lagu yang kunyanyikan meskipun suaraku juga tak merdu.

Ya kurasa Sophia akan suka:….

…..’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

Baru saja mengakihiri bait terakhir reffrain tiba-tiba….”Jedooorrrr!!!”….suara sesuatu dilempar ke arahku keras sekali mengenai papan di belakangku. Aku cuek….sambil kulanjutkan nyanyianku, kali ini kukeraskan suaraku….lebih keras lagi. Suara lemparan keras itu terdengar lagi. Sepertinya dari arah parkiran, bergegas kuhampiri, sepertinya ada yang terganggu dengan hadirku. Kuperiksa dengan seksama di setiapsudut, tak ada siapa-siapa….tak ada apa-apa….hanya sepi menggayuti pikiranku.

Ketika hendak berbalik, kulihat sosok hitam besar dan berbulu berdiri di bawah lampu. Matanya merah menyala-nyala. Mau apa dia? Sepintas tanda tanya melintas. Dari sorot matanya ia tak menyukai kehadiranku, ia terganggu dengan nyanyianku. Entah mengapa, ia seperti punya kenangan buruk terhadap lagu ini. Dan aku tak berharap sama sekali bertemu sosok ini, “aku hanya inginkan PERTEMUAN DENGAN SOPHIA…..!!”

Beringsut kubalikkan badanku, “peduli apa denganmu! Sudah rambut tak pernah kau cukur, mata merah tak kau beri tetes mata…jangan tampakkan dirimu! Sekali-kali jangan!!”

Kembali ketempatku berdiri semula, di tempat mayat Sophia tergeletak dengan isi kepala terburai berantakan….Lebih dari satu jam aku berdiri disini, dan hampir putus asa. Sophia tak kunjung datang. Mungkin ia malu ketahuan putus asa dan membunuh dirinya sendiri, mungkin juga ia marah tak seorang pun menolongnya saat seseorang mendorongnya. Atau ia gengsi karena kematiannya merepotkan banyak orang dan menyisakan tanda tanya, “mengapa SOPHIA DECIDED TO DIE?”

Aku tak ingin bersedih atas kematiannya, tapi hasratku meronta-ronta menginginkan pertemuan dengannya. Aku mencari-cari isyarat yang mungkin ditinggalkan Sophia.

Beberapa hari sebelum kematiannya, Sophia sempat menulis status di Facebook-nya:

“Pura-pura melupakanmu atau berusaha melupakanmu, upahnya tetap sama; rindu.”

Rupanya ada yang Sophia rindukan, tapi siapa? Siapa….??

“Langit di sini abu-abu dan hujan mulai turun. Suara rintiknya seperti rindu, ke kamu.”

Kau tahu siapa kekasih Sophia? Siapa yang selama ini dekat dan dicintanya? Lalu distatus selanjutnya:

“Mengapa mawar merah milikku kau buang di jalanan? Kamu kejam!”

Lalu status yang lain, ditulis dalam bahasa Inggris….Ada kemarahan dalam nadanya.

“I just can’t live a lie anymore…I am really tired being what you want. And now I just want to be what I want to be…!”

Lalu seperti kilasan kepasrahan demi kepasrahan;

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

“Let me fall….I don’t like this life…”

Lalu terjadilah bunuh diri Sophia. Sophia benar-benar jatuh….Sophia decided to die?

Beberapa hari ini Sophia berhasil mengusutkan pikiranku…..ahhh! Sunyi kembali menggelayuti malam, di tempat ini. Sesaat nyaris putus asa…kudengar suara berbisik, bukan berbisik tapi tangisan lirih…entah suara siapa. Sophia-kah? Samar-samar lirih terdengar, dahiku berkerinyut, bulu kudukku meremang….ia menakutiku. Mengingatkanku akan kemunculan tokoh sentral di film horor; suara kuda meringkik….!!

Tapi sesaat kemudian menghilang bersama kegelapan malam. Aku masih terpaku di tempatku, tempat Sophia terjatuh.

Dalam benakku, Sophia menggapai-nggapai pertolongan, ia sedih. Selintas kulihat sosok laki-laki diatas sana, sebelumnya melingkarkan pelukan, hangat dan menggelora. Sorot matanya dipenuhi cinta. Mereka tertawa-tawa….Mereka bahagia….Mungkinkah laki-laki yang ia percaya menggamit tubuhnya itu telah mendorongnya? Untuk apa? Untuk siapa?

———————————————————————-

Catatan:

’meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,semua tak kan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku, hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, kau bukan hanya sekedar indah…kau tak akan terganti…’

(Marcell: Kau Tak Akan Terganti)

“How long will you think about this painful life? How long will you think about this harmful world? The only thing it can take from you is your body. Don’t say all this rubbish and stop thinking.”

(Rumi)

************


19thfloor,20110520

Malika Assaif



Philosophia Decided To Die


Kau pernah dengar cerita tentang hantu bernama PhiloSophia?


Konon, dia cuma seorang gadis yang mati. Seorang gadis yang mati dengan cara melompat dari lantai 19 gedung berlantai 21, yang entah dia pingsan atau tidak di tengah-tengah perjalanannya menabrak lantai dasar, lalu pecah berantakan kepalanya. Saat itu ia mengenakan kaos  bergambar Lionel Messi dan betuliskan ‘I LOVE BARCA’.

Konon dia pernah selamat dari tikaman sahabatnya saat SMP, lalu dia selamat dari tikaman sahabatnya yang lain baru-baru ini. Entah apa yang membuatnya memutuskan membunuh dirinya sendiri, mungkin sebelum mendapat tikaman yang ketiga yang mungkin sanggup membunuhnya, maka dia memutuskan membunuh dirinya sendiri. Masak karena kalah taruhan bola ya?? Yang pasti….PHILOSOPHIA DECIDED TO DIE

Yang mengherankan, dia tak meninggalkan tulisan apa-apa. Tali sepatunya terburai, baju t-shirt luar yang membungkus tubuhnya di luar kaos pun tidak disetrika. Polisi menemukan kedua handphonenya terjatuh hancur pula di sebelahnya, seperti tak punya persiapan untuk mati. Polisi juga menemukan buku-buku di tempat Sophia diduga melompat. Mereka lantas curiga, jangan-jangan ini bukan kasus bunuh diri. Bahwa pernah ada seseorang di atas sana, mendorongnya hingga terjatuh. Seseorang yang dikenal karena tidak ada bukti-bukti pergulatan. Seseorang yang memberinya rasa aman, nyaman, lalu merenggutnya saat dia percaya. Mungkin kekasih, mungkin teman dekat, atau mungkin selingkuhan…. entahlah, yang jelas tak ada satupun jejak meronta-ronta. Mungkin seseorang itu memeluknya dari belakang, membuatnya lunglai dalam pelukannya, lalu mendorongnya jatuh. Yang jelas, ada banyak kemungkinan mengenai kematian Sophia. Namun, tak seperti  yang tampak….dia membunuh dirinya sendiri.

Beberapa saat sesudahnya, di sekitar tempat ditemukannya mayat Sophia tergeletak, sering terjadi kejadian-kejadian aneh yang tak masuk akal. Dan orang bilang banyak mendengar suara-suara di sana. Adalah larangan mengeluarkan suara di sekitar sana, kalau terpaksa lewat ya paling aman berjalan dengan tenang dan tanpa suara. Sebenarnya yang paling sering diingat-ingatkan adalah tanpa bicara. Karena konon cuma orang-orang tertentu yang berhak bicara di sana. Tetapi ketakutan kadang-kadang membuat peraturan diterapkan berlebihan sehingga mereka yang terpaksa lewatpun melewatinya dengan suara langkah yang paling minim terdengar karena takut. Takut hantu Philosophia…..penggemar Barca dan Messi.

Aku dengar di tempat inilah Sophia mati. Maka aku bersiul di sini, di jam dua belas malam saat jalanan sudah mulai sepi, kuingin bertemu Sophia sekaligus bertanya sebab kematiannya. Lalu kudengar ribut suara, kucari sumbernya, tak ada apa-apa…tak ada siapa-siapa…tak ada yang nyata. Tidak ada apa-apa. Tidak ada bisikan, tidak ada hardikan….bahkan tangisan Sophia.

PS: Thanks For My Friend Abed Nasser who gives me The Barca’s pic!

19thfloor,20110518

Malika Assaif


CINTA DAN PENAFSIRAN YANG BERBEDA



Lupakah kau bahwa kita berdoa itu artinya kita sedang bicara tentang cinta, dan dengan bahasa cinta-Nya pula? Kita sedang melapor bahwa kita taat, tunduk dan patuh semata karena cinta kita pada-Nya. Kau pikir layakkah kita bicara tentang cinta kita pada-Nya tetapi diam2 diluar itu semua, kita membenci, bahkan menganiaya hamba-Nya? Cinta macam apa jadinya yang kita bicarakan itu? Harus diakui, diam-diam kita memiliki standar kita sendiri mengenai cinta. Dan tiap diri diantara kita pun diam2 punya cara tersendiri dalam mewujudkan makna cinta itu.

Di dalam lagu-lagu, cinta selalu berarti tuntutan, “berikan daku cintamu dsb.” Pendeknya, cinta bukan sebuah pengorbanan. Cinta pada seseorang pada dasarnya adalah potret egoisme: cinta pada bayangan diri sendiri , yang terpantul pada sikap, jiwa dan perilaku lain, cinta adalah potret Narciscus, tokoh legenda Yunani itu. Minimal jelas tak pernah terpantul corak yang altruistik sifatnya. Hal ini mungkin karena cinta didalam lagu-lagu selalu bersifat possesive. Kau juga tahu, cinta lebih sering kita lihat sebagai sifat menuntut. Atau mungkin mengemis terus menerus dan bukannya tampil sebagai pengorbanan yang tulus. “Berilah saya rezeki yang banyak ya Allah, pangkat yang tinggi, derajat yang luhur,” misalnya. Dengan begini, sebenarnya diam-diam kita selalu ‘merampok’ Tuhan yg kita cintai dan mencintai kita. Dalam takaran pribadi mungkin itu tak salah. Tapi bila hal ini jadi tatanan sosial yg baku, tidakkah kita takut akan dampaknya, yaitu menjadikan kita malas, fatalistis dan kurang gairah dalam usaha? Bukannya Tuhan pun menyuruh kita untukmenjadi arsitek bagi nasib kita sendiri?

Dalam hidup kita sehari-hari, kita menyaksikan bagaimana ruwetnya persoalan tentang cara kita harus menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Memang kita bicara tentang cinta dengan bahasa cinta cinta sebagaimana yg kita pahami. Dengan begitu, manifestasi cinta itu sekali lagi beragam. Dan bahwa keragaman ‘warna’ cinta itu muncul karena tafsir dan penalaran kita berbeda. Pluralisme semacam itu mungkin baik sejauh TIDAK MENGKLAIM YANG PALING BENAR. Jadi? Mekarlah seribu ‘bunga’ tafsir. Berkembanglah sejuta makna sejauh tetap sadar bahwa makna yang kita pegang hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang benar. Bahkan kita tahu, salah satu kemungkinan yg salah. Karena tak ada yang diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk bertindak sebagai hakim agar mengadili pihak lain yang tak sama paham cintanya dengan kita. DERAJAT KITA SAMA, SAMA-SAMA PESAKITAN YG MENUNGGU PENGADILAN TUHAN!! Maka mendengar ada anggota Islam fundamentalis mencela pecinta yang lain (yang mereka sebut dengan penganut Islam sekuler, Islam liberal(JIL), Islam nasionalis, pluralis ato apalah) yang jelas berbeda paham cintanya, aneh rasanya.

Kalau benar kita sedang berusaha mencintai Tuhan dengan cara kita sendiri, mengapa pada saat yang sama kita juga ‘memusuhi’ hambaNya?

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman facebook yang kebetulan dari kelompok Islam fundamentalis. Saya sakit hati karena mereka mengatai kelompok Islam yang mereka sebut sebagai Islam pluralis, liberalis dll sadalah keledai, banci dan monyet. Sesungguhnya, yang mengatai demikian belum tentu lebih baik Islamnya….