Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Indonesia

IR SUKARNO, NAMAMU TIADA AKAN MATI


soe5 Soekarno bukanlah orang yang sibuk oleh ‘teori-teori agama’, namun beliau bisa spontan menangis sedih ketika melihat bangunan masjid di Leningrad-Rusia (sekarang namanya St Petersburg) hanya difungsikan sebagai gudang. Dunia mungkin bertanya-tanya, lobi-lobi apa yang dilakukan Soekarno sehingga pemimpin Uni Sovyet pada waktu itu, Nikita Kruschev, bersedia mengabulkan keinginan Soekarno untuk mengembalikan fungsi masjid di kota tersebut sebagai tempat ibadah, tanpa syarat! Dan jika anda berkesempatan untuk berkunjung ke St Petersburg, anda akan mengetahui betapa berterimakasihnya kaum Muslimin Rusia terhadap jasa-jasa Soekarno.

Soekarno adalah manusia pertama dalam sidang PBB yang berani secara lantang membacakan ayat Alquran yang berbicara tentang persamaan derajad sesama manusia, ketika beliau mengutip QS 49 (13) : “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Boleh jadi pada saat itu pemimpin-pemimpin dunia Arab merasa tercoreng wajahnya, melihat seseorang dari negeri nun jauh disana-negeri dunia ketiga, ternyata lebih memiliki nyali untuk berbicara tentang ajaran yang diyakininya, dibandingkan mereka yang mengklaim ‘lebih dekat’ dengan ajaran Islam, namun negerinya sibuk berperang satu sama lain, dan para ulamanya sibuk memproduksi fatwa-fatwa halal dan haram.

Ketika dunia harus terbagi dan berkiblat ke salah satu blok penguasa dunia, yaitu Blok Barat (yang dipimpin AS) dan Blok Timur (yang dipimpin Uni Sovyet),Soekarno dengan berani mempelopori gerakan Non-Blok, mempersatukan bangsa-bangsa dunia di dalamnya, menyadarkan merekabuntuk tidak larut dalam permusuhan yang dikobarkan para imperialis, dan menjunjung tinggi perdamaian dunia. Ketika dunia kebingungan menentukan ideologi mana yang lebih baik, antara ideologi kapitalisme (yang dipelopori AS dan sekutunya) dan ideologi sosio-komunisme (yang dipelopori Uni Sovyet dan China), hanya satu orang di dunia ini yang penuh percaya diri menawarkan ‘ideologi alternatif’ yaitu Pancasila, yang banyak mengambil nilai-nilai ajaran Islam, agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh bangsa-bangsa sedunia. Dialah Soekarno!

Tidak ada yang bisa mengelak dari fakta bahwa negeri-negeri Eropa yang kaya raya dan makmur saat ini sebagian besar adalah hasil dari merampok dan menjarah kekayaan negeri-negeri dunia ketiga di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Sebaliknya, tidak ada yang bisa mengelak bahwa telah lahir negeri-negeri dunia ketiga, yang sebelumnya terjajah selama berabad-abad oleh bangsa Eropa, telah mendapatkan kembali kehormatan dan jati dirinya sehingga berani memerdekakan diri, tidak lepas dari andil ‘provokasi’ Soekarno, seorang putra Nusantara!

Inilah salah satu manifestasi dari ajaran Islam yang bahkan oleh Alquran disebut-sebut sebagai perjuangan yang sangat berat, yaitu membebaskan manusia dari perbudakan, sebagaimana disebutkan dalam QS 90(12-13) : “ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) membebaskan budak (manusia) dari perbudakan “. Perbudakan tidak hanya ada di abad pertengahan, namun akan terus ada sepanjang waktu dalam berbagai dimensi kehidupan. Indonesia, yang (katanya) berpenduduk ‘Muslim’ terbesar di dunia ternyata belum berhasil memerdekakan manusia dari perbudakan. Nasib bangsa ini masih diperbudak oleh kepentingan elit politik penguasa negeri ini. Negeri kita yang katanya gemah ripah loh jinawi ini masih menjadi budak atas kepentingan asing, sehingga kekayaan alam milik kita secara terang-terangan dijarah dan dieksploitasi secara sistemik di depan mata kita sendiri, tanpa ada daya bagi kita untuk menghentikannya. Di negeri ini masih banyak ‘budak’ yang bekerja di bawah standar upah kerja minimum, sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar.


Pidato Bung Njoto – MARXISME: ILMU & AMALNYA


( Kuliah di depan Universitas Rakjat, Jember, Maret 1962 )

Membicarakan Sosialisme Indonesia berarti membicarakan hari depan Revolusi Indonesia. Manifesto Politik RI mengatakan dengan jelas; “hari depan Revolusi Indonesia bukanlah menuju ke kapitalisme, dan sama sekali bukan menuju ke feodalisme… hari depan Revolusi Indonesia adalah masyarakat adil dan makmur, atau … Sosialisme Indonesia”. Perumusan Manipol tentang hari depan revolusi ini hanya dapat dipahami dengan tepat, bila orang memahami dengan tepat pula apa itu kapitalisme, apa itu feodalisme, dan apa itu sosialisme. Hal ini perlu saya tekankan karena sampai sekarang masih terlalu banyak orang yang menyatakan dirinya: antikapitalisme, dan antifeodal, tetapi tidak tahu apa sesungguhnya kapitalisme itu, juga tidak tahu apa sesungguhnya feodalisme itu. Begitu pun terlalu sering masih orang-orang menamakan dirinya: prososialisme; tanpa mengetahui apa sosialisme yang sebenarnya itu.

Apa akibat dari ketidakjelasan soal-soal ini? Akibatnya bermacam-macam. Ada orang yang menganggap Uni Soviet misalnya imperialis: “imperialis merah”; dan RRT juga imperialis: “imperialis kuning”; padahal Uni Soviet dan RRT adalah jelas-jelas negara-negara yang bukan saja antiimperialis, tetapi sudah sosialis. Sebaliknya ada orang-orang yang menganggap, misalnya, Burma itu suatu negeri sosialis; hanya karena kaum sosialis pernah memegang pemerintahan di sana, padahal Burma itu, tidak beda dengan Indonesia. India dan banyak negeri lainnya, adalah negeri yang belum merdeka penuh dan masih setengah feodal. Perkara Burma ini belum seberapa. Ada malahan orang-orang yang mengira kerajaan Inggris itu negeri sosialis, juga karena yang memerintah di sana pernah Labour Party yang sering disebut sebagai partai sosialis itu. Lelucon ini jadinya tidak lucu lagi! Pertama, di manalah di dunia ada kerajaan yang sosialis! Jika kerajaan-kerajaan pada sosialis, Lenin dulu tak perlu repot-repot memimpin Revolusi 1917, sebab Rusia ketika itu toh sudah Rusia Tsar, Rusia kerajaan … lagipula agak sukar membayangkan bahwa seorang Elizabeth atau seorang Hirohito atau seorang Juliana bisa sosialis; … Nederland juga pernah diperintah oleh Partij van der Arbeid, Partai sosialis. Tetapi apakah dengan begitu Nederland jadi sosialis? Adalah pemerintah sosialis Nederland itu yang di tahun 1947 melancarkan perang kolonial terhadap kita!

Seratus limabelas tahun yang lalu Karl Marx dan Friedrich Engels menerangkan kepada kita supaya berhati-hati dengan sosialisme, sebab, demikian Marx dan Engels, selain “sosialisme proletar”, juga ada “sosialisme borjuis kecil”, “sosialisme borjuis” bahkan “sosialisme feudal”. Dengan pengalaman Inggris dan Nederland di atas maka kita harus menambahkan bahwa selain “sosialisme kerajaan” itu masih ada lagi “sosialisme kolonial”! Macam lain dari kekisruhan mengenai sosialisme adalah kenyataan bahwa ada orang-orang yang sendirinya seorang kapitalis tetapi memaklumkan diri ke mana-mana sebagai orang antikapitalis. Kalau ditanya, “Lha saudara ini apa?”, cepat-cepat dia menjawab: ”Saya kapitalis nonkapitalis” atau malahan, ada yang bengal dengan mengatakan:”Saya kapitalis marhaen”, “Saya kapitalis murba”, atau “Saya kapitalis jelata”. Sungguh kapitalis jenaka!

Ada kekisruhan macam lain lagi. Bulan yang lalu pernah saya lihat di Jember sini semboyan yang mengatakan seakan-akan;”ciri khusus landreform Indonesia adalah “nonkomunis” dan “antikapitalis”. Perkara ”nonkomunis” baiklah saya tidak beri komentar sekarang, karena komentar pun sebetulnya berkelebihan. Cobalah kita camkan: landreform adalah redistribusi atau pembagian kembali tanah dengan jalan memberikan milik individual kepada kaum tani. Inilah landreform yang tepat, dan landreform ini disokong selain oleh golongan-golongan lain, juga dan barangkali terutama oleh kaum komunis Indonesia. Jadi soal non-atau tidak nonkomunis tidak menjadi soal sama sekali. Sekarang, apakah landreform Indonesia itu benar harus antikapitalis? Dari persoalan ini jelas bahwa masih ada orang yang tak tahu bedanya kapitalisme dari feodalisme. Sasaran landreform adalah feodalisme, tuan-tuan tanah, dan bukan kapitalisme! Tentu bagi kita ada persoalan menghapuskan sama sekali konsepsi-konsepsi kolonial atas tanah, tetapi yang dipersoalkan oleh Undang-undang Pokok Agraria adalah tanah-tanah kelebihan pada Tuan-tuan Tanah Bumiputera, Tuan-tuan Tanah Feodal. Presiden Sukarno menerangkan di dalam; “Djarek” (Djalannya Revolusi); bahwa landreform itu tujuannya; “mengakhiri pengisapan feudal secara berangsur-angsur”.

Kita lihatlah betapa kisruhnya soal-soal jadinya, jika pengertian-pengertian kapitalisme dan sosialisme tidak jelas. Ada yang setuju dengan “sosialisme ilmiah”, ada yang tidak menyetujuinya. Tetapi kita sudah sekali hidup dalam abad ilmu, abad atom dan nuklir, sputnik dan kapal ruang angkasa, dan bukan lagi dalam abad takhayul atau mistik. Kita menyuruh anak-anak kita pergi ke sekolah menuntut ilmu, tidakkah aneh jika bapak-bapaknya menghindari ilmu? Juga pengertian-pengertian harus ilmiah, termasuk pengertian-pengertian tentang kapitalisme, feodalisme dan sosialisme.

Untuk menyebarkan ilmu secara populer dan masal inilah saya kira salah satu tujuan utama UNRA (Universitas Rakyat). Benar UNRA bukan suatu institut universiter, tetapi mutu ilmiah akan tetap dijaga tinggi dalam UNRA dan tujuan mendekatkan ilmu kepada rakyat atau mendekatkan rakyat kepada ilmu, kiranya adalah suatu tujuan ilmiah yang serasi dengan denyut nadi jaman. Demikian pun tujuan meniadakan jurang antara teori dan praktek, terutama teori revolusioner dan praktek revolusioner. Apakah Sosialisme Indonesia itu dan bagaimana harusnya dia kita selenggarakan?

Saya ingin memulai dengan suatu logika yang sederhana tetapi keras: Sosialisme adalah Sosialisme. Juga ini bukannya tak ada gunanya saya tekankan, sebab ada yang mengartikan ;”Sosialisme Indonesia”; itu hanya dari sudut kekhususan-kekhususan, keistimewaan-keistimewaan, perlainan-perlainan, dan malahan pertentangan-pertentangan dengan “sosialisme-sosialisme lain”.; Pembela-pembela “sosialisme istimewa”; ini biasanya mengatakan: “Sosialisme Indonesia bukan Sosialisme Soviet, bukan Sosialisme Tiongkok, bukan Sosialisme Kuba”; Saya cuma khawatir jangan-jangan yang dimaksudkan oleh mereka adalah bahwa Sosialisme Indonesia itu bukan …Sosialisme!

Kekhususan Sosialisme Indonesia tentu saja ada, tetapi apakah ada kekhususan jika tak ada keumuman? Apakah ada yang khusus jika tak ada yang umum? Kita ambilkan misal ini: “Simin manusia khusus”; Tetapi setiap kita tahu bahwa tidak akan ada itu manusia Simin jika tak ada manusia. Lagipula, sekalipun Simin itu manusia khusus, tetapi dia toh manusia juga: kepalanya satu, tangannya dua, kakinya dua, melihat bukan dengan telinga melainkan dengan mata, berpikir bukan dengan punggung melainkan dengan otak, dsb. Sebab, sekiranya Simin itu berpikir tidak dengan otaknya, saya kira kita tidak akan berkata “Simin itu manusia khusus”, melainkan Simin itu manusia abnormal, atau bukan manusia sama sekali! Oleh sebab itu Sosialisme adalah Sosialisme, Sosialisme Indonesia adalah Sosialisme Indonesia; dia bercorak Indonesia, tetapi dia Sosialisme.

E. Utrech S.H., ketika sebagai sesama anggota Dewan Pertimbangan Agung bersama-sama saya mengadakan indoktrinasi Manipol ke Nusa Tenggara, merumuskan soalnya sebagai berikut:
”Sosialisme Indonesia adalah sosialisme yang diindonesiakan, atau Indonesia
yang disosialiskan”; Saya kira perumusan sarjana ini bukan perumusan seorang profesor linglung, melainkan perumusan yang obyektif benar. Mari
yang terang, bahwa Sosialisme Indonesia adalah;”sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi dan kebudayaan rakyat Indonesia”. Kita perhatikanlah: “sosialisme yang disesuaikan…” dsb., tetapi yang disesuaikan itu adalah tetap sosialisme, dia harus tetap sosialisme. Saya ingin mengambil contoh yang lain: apa misalnya yang kita sebut lukisan Indonesia tentang gunung Himalaya? Saya kira, ini berarti sebuah lukisan gunung Himalaya yang dikerjakan oleh seorang pelukis Indonesia, dan yang menggunakan gaya Indonesia, pengolahan Indonesia, visi Indonesia. Tetapi saya kira seindonesia-indonesianya lukisan Himalaya, dia tidak boleh menyulap bentuk Himalaya hingga menjadi seperti gunung Argopuro atau Raung! Sosialisme adalah suatu susunan social atau sistem masyarakat yang berdasarkan pemilikan bersama atas alat-alat produksi. Saya minta perhatian: alat-alat produksi. Jadi, bukan atas meja-kursi, buku-buku, tempat tidur, sepeda, dan sebagainya. Dalam sosialisme proses produksi berlangsung secara sosial, demikian pun hasil-hasilnya dikenyam secara sosial. Ini berarti bahwa sosialisme itu bukan kapitalisme yang produksinya berlangsung social (kalau tidak ada kaum buruh yang banyak itu tidak akan ada produksi kapitalis!) tetapi hasil-hasilnya masuk ke kantong si kapitalis saja,jadi asosial.

Sosialisme tidak boleh disederhanakan menjadi “sama rata sama rasa”, di mana orang yang bekerja berhak makan dan orang yang tidak bekerja juga berhak makan, atau di mana si rajin mendapat persis sama dengan si malas. Sebaliknya, dalam sosialisme hanya yang bekerjalah yang berhak makan, sedang yang tidak bekerja tidak berhak atas makan. Begitu pun, si malas tak akan mendapat sebanyak si rajin. Kian rajin akan kian banyaklah pendapatannya.

Seperti dikatakan oleh Karl Marx: “Dalam sosialisme manusia bekerja menurut kemampuannya dan mendapat menurut prestasi atau hasil kerjanya” Pendeknya, sosialisme adalah masyarakat tanpa exploitation de l’homme par l’homme, tanpa pengisapan oleh manusia atas manusia, seperti berulang-ulang dinyatakan oleh Bung Karno. Demikianlah sifat-sifat umum yang pokok dari sosialisme, juga dari Sosialisme Indonesia. Bung Aidit sudah pernah memperingatkan: janganlah ”Sosialisme Indonesia”; itu diartikan sosialisme;”yang begitu khususnya”, sehingga kata sifat “Indonesia”; menjadi berarti;”dengan pengisapan oleh manusia atas manusia”, sehingga “Sosialisme Indonesia”; berarti “sosialisme dengan pengisapan!”
Kalau ada “sosialisme dengan pengisapan”, pastilah dia bukan sosialisme sama sekali, pastilah dia bukan masyarakat yang adil dan makmur. Sebab, pengisapan itu bukan keadilan, dan dengan pengisapan tidak mungkin ada kemakmuran. Maksud saya kemakmuran buat semua, sebab, kemakmuran buat si pengisap tentu saja bisa.

Tamu-tamu dari Eropa, yang datang ke Asia dengan berkunjung dulu ke India, baru ke Indonesia, banyak yang mengatakan kepada saya:”Indonesia ini saya lihat relatif makmur”; “Makmur bagaimana?”;, Tanya saya. Jawabnya;”Dibandingkan dengan India” Memang, saya sendiri sudah tiga empat kali ke India. Orang mati menggeletak di pinggir jalan, yang di sini hanya terdapat di jaman fasisme Jepang dan yang sesudah Republik merdeka hampir-hampir tak pernah kita jumpai, di India sana masih gejala sehari-hari. Toh P.M.Jawaharlal Nehru menamakan India itu suatu “negeri sosialis”. Ketika saya tanya kepada teman India saya yang baik, Bupesh Gupta, “Sosialisme India itu sosialisme macam apa?”, teman saya itu menjawab, “sosialisme dengan kemiskinan”. Bahwa “sosialisme” itu tidak selalu sosialisme, dan bahwa ada macam “sosialisme”; yang sesungguhnya bukan sosialisme, juga bisa kita saksikan dari kejadian-kejadian beberapa waktu yang lalu di dunia Arab.

Presiden Gamal Abdel Nasser, seperti diketahui, secara pandai telah memasukkan Suriah ke dalam gabungan dengan Mesir, ke dalam “Republik Persatuan Arab”. Presiden Nasser memaklumkan bahwa RPA adalah negeri “sosialis”; yang berasaskan “sosialisme á la Arab”. Beberapa waktu kemudian, setelah rakyat Suriah, mulai buruhnya sampai burjuasinya, mengalami apa artinya berada di dalam RPA, mereka memilih kembali jalan menentukan nasib sendiri dengan merenggutkan diri dari Mesir dan mendirikan kembali Suriah merdeka. Republik Suriah ini kemudian memaklumkan “sosialisme”; juga: “sosialisme sejati”. Nah, kita lihatlah, “sosialisme”, ditentang oleh “sosialisme”; “sosialisme á la Arab”, ditentang oleh “sosialisme sejati”.

Di Indonesia ini ada yang mengira bahwa sosialisme itu akan terselenggara jika kita melakukan “indonesianisasi”. Ini jugalah sebetulnya yang dilakukan oleh Mesir. Menurut Ali Sabri, menteri Mesir yang tugasnya mendampingi presiden, di sana dilakukan apa yang disebutnya “arabisasi” atau bahkan “mesirisasi”. Bahwa “indonesianisasi”, saja belum berarti perbaikan, hal ini dapat diterangkan dari dua sudut. Pertama, siapa yang mengadakan “indonesianisasi” itu; Kedua, siapa orang-orang Indonesia yang ditugaskan menggantikan kedudukan-kedudukan orang-orang asing. Pasal siapa yang menugaskan, juga siapa yang ditugaskan ini, penting sekali.

Pada suatu hari diberitahukan kepada anggota-anggota parlemen kita, bahwa pada tanggal sekian jam sekian akan datang wakil-wakil dari BPM-Shell.Anggota-anggota parlemen sudah mengasah bahasa Inggrisnya, tahu-tahu yang muncul orang-orang berkulit sawo matang, bermata hitam, berambut hitam. Inilah “indonesianisasi” oleh BPM-Shell. Juga apabila yang menugaskan “indonesianisasi”; itu pihak Indonesia, termasuk pemerintah Indonesia, belumlah tentu bahwa yang ditugaskan dalam “indonesianisasi”; itu orang-orang Indonesia yang patriotik dan cakap. Bukankah Presiden Sukarno berkali-kali mencanangkan tentang masih adanya orang-orang “blandis”, orang-orang yang hollands-denken, dan bukankah kita dalam masyarakat terkadang menjumpai orang-orang yang bahkan merasa “lebih Belanda daripada si Belanda? Ya, jika seandainya setiap “indonesianisasi”; sudah beres, tentulah Manipol tidak perlu menggariskan keharusannya retooling, dan tentulah Resopim tidak perlu menggariskan keharusannya membersihkan segala aparat dari “pencoleng-pencoleng”. Sosialisme bukanlah suatu sistem ekonomi semata. Dia suatu sistem sosial yang menyeluruh. Dia ya sistem ekonomi, ya sistem politik, ya sistem kultural, ya malahan system militer.

Dalam pidatonya 1 Juni 1945, yaitu “Lahirnja Pantja Sila” yang diucapkan tatkala kaum militer-fasis Jepang masih di Indonesia sini, Bung Karno-ketika itu belum Presiden RI-antara lain berkata: “Jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencintai rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik … tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya”. Dalam pidato itu juga yang sangat saya anjurkan untuk dipelajari sungguh-sungguh oleh setiap manipolis, Bung Karno juga menganjurkan “cara yang tidak onverdraagzaam, yaitu dengan cara yang berkebudayaan!”

Apakah hakikat sosialisme di lapangan ekonomi, di lapangan politik kebudayaan?

Prinsip-prinsip sosialisme di lapangan ekonomi sudah saya bentangkan tadi, sekalipun secara cekak-aos. Bagaimana bisa ada “sosialisme”; yang pemilikan alat-alat produksinya tidak bersifat sosial, sedang UUD’45 pun menggariskan pada pasal 33-nya: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya”. Kalau dalam UUD’45 sudah demikian, apa pula dalam sosialisme nanti. Di lapangan politik sosialisme haruslah berarti kekuasaan politik di tangan rakyat, dalam arti yang sesungguh-sungguhnya, kedaulatan rakyat yang bukan hanya semboyan, tetapi kenyataan. Mayoritas terbesar rakyat di negeri kita adalah kaum buruh dan kaum tani. Oleh sebab itu wajarlah apabila mereka, kaum buruh dan kaum tani itu, yang harus mengurusi dirinya sendiri dan mengurusi urusan-urusan kenegaraan umumnya. Jika tidak ada ini, maka pastilah akan terjadi apa yang dikatakan Jean Jaures seperti yang dikutip oleh Bung Karno dalam pidato “Lahirnja Pantja Sila”,yaitu: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu di dalam parlemen dapat menjatuhkan minister. Ia seperti raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di dalam pabrik, sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilemparkan ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa”. Jika seperti yang dikatakan Jean Jaures dan Bung Karno ini masih terjadi, itu tandanya masyarakat masih berada dalam susunan kapitalis, betapa pun demokratisnya, dan belum berada dalam susunan sosialis! Manipol pun sudah menetapkan bahwa “Revolusi Indonesia harus mendirikan kekuasaan gotong royong, kekuasaan demokratis yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang menjamin terkonsentrasinya seluruh kekuatan nasional, seluruh kekuatan rakyat”. Dalam mendefinisikan “seluruh kekuatan nasional” ini Manipol mengatakan: “
“Seluruh rakyat Indonesia dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai
kekuatan pokoknya. Jadi: kekuasaan gotong-royong… yang menjamin
terkonsentrasikannya seluruh kekuatan nasional, seluruh kekuatan rakyat…dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokoknya.”
Argumentasi bagi garis Manipol ini bahkan sudah diberikan Bung Karno tujuhbelas tahun yang lalu dalam pidato yang saya tak jemu-jemu menyebutkannya, yaitu “Lahirnja Pantja Sila”, yang antara lain berbunyi: “Jikalau saya peras yang lima (Pancasila) menjadi tiga, dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong.’ Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”. Demikianlah Bung Karno merumuskan cita-citanya. Tidaklah perlu saya berikan redenasinya, tentulah Sosialisme Indonesia di lapangan politik sedikitnya harus menjalankan asas Sukarno tentang kenegaraan ini.

Bagaimana Sosialisme Indonesia di lapangan kebudayaan? Ketika pemuda-pemuda revolusioner yang bekerja ilegal di jaman Jepang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia mendatangi Sutan Sjahrir di hari-hari Agustus 1945, Sjahrir mengatakan bahwa Indonesia “belum matang” buat merdeka, bahwa “paling sedikit dibutuhkan lima tahun sampai rakyat Indonesia bisa merdeka”. Melihat keadaan yang belum baik sekarang ini, mungkin ada orang yang akan berkata, “Kalau begitu Sjahrir betul juga sudah enambelas tahun lebih kita merdeka, kita belum bisa membereskan ekonomi dan soal-soal lain”. Pikiran begini adalah pikiran berbahaya sekali! Sebelum kita bicarakan ekonomi beres atau tidak beres, pertama-tama dan di atas segala-galanya harus kita persoalkan: kalau Proklamasi 17 Agustus 1945 ditunda apakah sekarang ini akan ada Republik Indonesia! Saya tak tahu apa akan jadinya Indonesia ini dalam hal begitu, tetapi kalau pun tidak Jepang atau Belanda menjajah kita kembali, maka imperialis-imperialis lain seperti Inggris,Amerika, Pernacis, Belgia, Portugal dan Jerman Barat, kalau tidak salah satu dari mereka menjajah kita, semuanya menjajah kita bersama-sama. Sehingga, Indonesia ini merupakan suatu polikoloni, menjadi ajang penjajahan kolektif oleh kaum imperialis, mungkin langsung, mungkin pula
dengan bendera PBB seperti halnya di Korea Selatan atau Kongo sekarang. Bung Karno, dalam pidatonya ijinkanlah saya mengutipnya lagi “Lahirnja Pantja Sila”; berkata: “Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet Rusia Merdeka, telah mempunyai Dnieprpetrovsk, dam yang mahabesar di sungai Dniepr? Apa ia telah mempunyai redio-stasion, yang menyundul angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis?

Tidak, tuan-tuan yang terhormat!

Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-stasion, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan creche, baru mengadakan Dnieprpetrovsk! Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan njelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka… apakah saudara-saudara (sekarang) akan menolak serta berkata; “Mangke rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka.!. Dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghiilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya”. Demikianlah Bung Karno tujuhbelas tahun yang lalu.

Sekarang, sudah ada plan buat memberantas butahuruf sampai tahun 1964, dan Manipol pun mengatakan bahwa “kita bergerak tidak karena ‘ideal’ saja, kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, ingin cukup tanah, ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup meminum seni dan kultur – pendek kata kita bergerak karena ingin perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagiannya dan cabang-cabangnya”. Dan saya kira Presiden Sukarno tidak salah, bila beliau berkata kemudian dalam Manipol itu pula bahwa “perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus prosen, bilamana masyarakat sudah tidak ada lagi kapitalisme dan imperialisme”, jadi, bilamana sudah terselenggara masyarakat sosialis.

Demikianlah “sosialisme”; yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia, ”itu tidak mungkin berarti diingkarinya ciri-ciri umum sosialisme, seperti penghapusan pengisapan oleh manusia atas manusia, perbaikan nasib… 100% dsb. Mengingkari sifat-sifat khusus Sosialisme Indonesia berarti bahwa ia bukan sesuatu yang bersifat Indonesia; mengingkari sifat-sifat umum Sosialisme Indonesia berarti, bahwa ia bukan sosialisme sama sekali. Kekhususannya harus diintroduksikan, tetapi
keumuannya harus dipertahankan. Beginilah dan hanya beginilah kita bisa berbicara tentang Sosialisme Indonesia.

Apakah sosialisme sebagai perspektif Revolusi Indonesia itu terjamin akan tercapai? Ketua CC PKI dan Ketua Dewan Kurator UNRA, Bung Aidit, menerangkan bahwa perspektif Revolusi Indonesia tak mungkin lain daripada Sosialisme, “karena Revolusi Indonesia pada tingkat sekarang adalah ditandai oleh kebangunan sosialisme dunia dan kehancuran kapitalisme dunia”. Ini dinyatakan Bung Aidit dalam bukunya Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (MIRI), yang oleh ahli sejarah dan Kepala Arsip Negara, Drs. Moh. Ali dinamakan suatu buku sejarah modern Indonesia “yang tegas”. Tentang jaminan akan tercapainya perspektif
revolusi itu, Bung Aidit dalam bukunya tersebut menunjukkan, bahwa benar Revolusi Nasional-Demokratis akan menyingkirkan perintang-perintang bagi perkembangan kapitalisme, benar kapitalisme nasional sampai batas-batas tertentu akan berkembang, tetapi ini hanya satu segi dari masalahnya, sedang segi lainnya adalah bahwa akan ada juga “perkembangan faktor-faktor sosialis seperti pengaruh politik proletariat yang makin lama makin diakui kaum tani, intelegensia dan elemen-elemen burjuasi kecil lainnya; perusahaan-perusahaan negara dan koperasi-koperasi kaum tani, kaum kerajinan tangan, nelayan dan koperasi-koperasi rakyat pekerja lainnya.
Semua ini adalah faktor-faktor sosialis yang menjadi jaminan bahwa hari depan Revolusi Indonesia adalah Sosialisme dan bukan Kapitalisme.

”Bagaimana sekarang menyelenggarakan sebaik-baiknya Sosialisme Indonesia itu?”. Dalam “Amanat Presiden tentang Pembangunan Semesta Berentjana,”, yang berarti juga “Djarek”; dan “Membangun Dunia Kembali”, oleh MPRS telah disahkan sebagai pedoman pelaksanaan Manipol, Presiden Sukarno dengan keras mengritik di satu pihak golongan “evolusionis”, karena “teori yang demikian itu adalah salah”, dan pihak lain golongan “melompat”; atau “fasensprong”; karena “teori yang demikian itu pun tidak benar”. Saya menyokong kritik terhadap di satu pihak “evolusionisme”; dan di pihak lain “fasensprong” ini, karena yang pertama akan berarti penyelewengan ke kanan, oportunisme kanan atau reformisme, sedang yang kedua akan berarti penyelewengan ke kiri, oportunisme kiri atau radikalisme. Baik yang pertama maupun yang kedua akan membikin perjuangan mandek di jalan, sosialisme tidak tercapai dan revolusi gagal. “Evolusionisme”; berarti tidak mengganti sarana-sarana lama dengan sarana-sarana baru, berarti tidak menjebol kekuasaan lama dan mendirikan yang baru, berarti “sumonggo dawuh dan monggo kerso serta sendiko dalem alias menyerah-isme”. Perjuangan harus revolusioner, dan tidak evolusioner,tidak reformis “Fasensprong”; berarti melompati apa yang tidak boleh dilompati, yaitu fase revolusi nasional-demokratis, berarti memimpikan yang tidak-tidak, berarti antirealis, alias avonturisme.

Perjuangan harus obyektif dan tidak subyektif, tidak acak-acakan atau awur-awuran. Kita sekarang berada dalam fase revolusi nasional dan demokratis, artinya, revolusi melawan imperialisme dan melawan feodalisme. Fase revolusi ini tidak boleh kita takuti, dia harus kita tempuh. Perincian “Djarek” menegaskan: “Jelaslah, ada dua tujuan dan dua tahap Revolusi Indonesia: Pertama, tahap mencapai Indonesia yang merdeka penuh, bersih dari imperialisme-dan yang demokratis-bersih dari sisa-sisa feodalisme. Tahap ini masih harus diselesaikan… Kedua, tahap mencapai Indonesia ber-Sosialisme Indonesia, bersih dari kapitalisme dan dari exploitation del’homme par l’homme. Tahap ini hanya bisa dilaksanakan dengan sempurna setelah tahap pertama sudah diselesaikan seluruhnya. “Bisakah dipikirkan perumusan yang lebih gamblang daripada ini? Baiklah saya bahas tahap pertama, yang di satu pihak tak boleh ditakuti dan di pihak lain tak boleh dilompati itu. Mengapa sasaran revolusi kita sekarang imperialisme dan feodalisme? Ini mudah dipahami jika orang suka mengingat bahwa 20% dari wilayah tercinta kita, yaitu Irian Barat, masih diduduki kaum imperialis. Juga jika diingat bahwa sebagian penting dari perekonomian kita, terutama minyak, masih dikuasai oleh kapital imperialis BPM-Shell, Stanvac dan Caltex. Andaikata kapital imperialis sudah tidak ada lagi di Indonesia, tentulah Manipol tidak mengancam “semua modal Belanda, termasuk yang berada dalam perusahaan-perusahaan campuran, akan habis tamat riwayatnya sama sekali di bumi Indonesia”. Andaikata kapital imperialis sudah tidak ada lagi di Indonesia, tentulah Manipol tidak mengancam modal monopoli asing yang bukan Belanda akan diperlakukan “sama dengan modal yang asalnya dari negeri Belanda”; artinya juga dibikin “habis tamat riwayatnya sama sekali di bumi Indonesia. “Antievolusionisme” berarti harus melaksanakan ketentuan Manipol ini. Jika sebaliknya, jika ketentuan-ketentuan Manipol ini tidak dijalankan dan jika kita tidak membikin habis tamat riwayatnya kapital imperialisme asing di bumi Indonesia, maka kita sesungguhnya-sadar ataupun tak sadar-menjalankan evolusionisme, menjalankan reformisme atau oportunisme kanan, kita sesungguhnya menjadi takut kepada kemenangan revolusi!

Demikian yang mengenai imperialisme. Yang mengenai feodalisme pun demikian pula. Andaikata feodalisme sudah habis, tentulah tidak ada perlunya dibikin Undang-undang Bagi Hasil dan Undang-undang Pokok Agraria atau Undang-undang Landreform. Ya, andaikata feodalisme sudah habis, tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa “Revolusi Indonesia tanpa landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi“, tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa ”melaksanakan landreform berarti melaksanakan satu bagian mutlak dari Revolusi Indonesia, dan tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa “tanah tidak boleh menjadi alat pengisap”; “Djarek” tidak hanya berhenti di sini. Seakan-akan khawatir kalau politik landreformnya tidak akan dituruti oleh golongan-golongan tertentu, maka Presiden Sukarno dalam “Djarek” itu juga menegaskan: ”Gembar-gembor tentang Revolusi, Sosialisme Indonesia, Masyarakat Adil dan Makmur, Amanat Penderitaan Rakyat, tanpa melaksanakan landreform, adalah gembar-gembornya tukang penjual obat di Pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen”! Jelaslah, bahwa antievolusionisme harus berarti setuju dan melaksanakan landreform. Jika tidak setuju, dan tidak menjalankan landreform, maka disadari atau tidak orang sudah menjalani evolusionisme, reformisme atau oportunisme kanan, orang sudah takut kepada kemenangan revolusi. Pendeknya kita harus awas-awas terhadap orang-orang yang “revolusi yes, landreform no”, atau “revolusi okay”, “menghabisi riwayat kapitalis imperialis tunggu dulu”. Di Sumatera Utara agak sering terjadi orang-orang berangkat ke luar negeri, pulang memakai jubah dan kupiah haji, padahal dia tidak ke Mekkah, cuma ke Singapura… inilah yang di Medan disebut “lebai Singapura”-mereka lebai-lebai palsu. Begitulah tidak semua orang yang menyebut dirinya “revolusioner” adalah sesungguhnya revolusioner, ada juga revolusioner palsu, ada revolusioner gadungan!

Saya sudah menguraikan perkara “evolusionisme”; di dalam praktek. Bagaimana “fasensprong”; di dalam praktek? Fasensprong tidak mau tahu akan revolusi nasional dan demokratis. Fasensprong mau langsung ke sosialisme, sekalipun syarat-syarat untuknya belum tersedia. Fasensprong mengobrak-abrik pengusaha-pengusaha nasional dan pengusaha-pengusaha kecil, tetapi membiarkan pengusaha-pengusaha imperialis seperti BPM-Shell, Stanvac, Caltex dan Unilever. Mereka lebih hebat daripada “sosialisme dengan kemiskinan”; – mereka mau “sosialisme dengan imperialisme”! Terhadap masalah tanah, fasensprong tak mau ambil perduli terhadap
perlunya pemilikan perseorangan oleh kaum tani atas tanah: mereka mau langsung “pengkoperasian” pertanian, atau yang tak kalah seringnya, mereka mau “menasionalisasi tanah-tanah”. Jelaslah, bahwa fasensprong sebetulnya tak lain daripada sabotase terhadap revolusi.

Bagaimana hubungannya antara tingkat revolusi yang pertama dengan tingkat yang kedua? Bung Aidit dalam karyanya Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia menulis bahwa; ”Dua tingkat revolusi, yang demokratis dan yang sosialis (adalah) dua proses revolusioner yang berbeda dalam watak, tetapi yang satu dengan yang lainnya berhubungan. Tingkat pertama ialah persiapan yang diperlukan untuk tingkat kedua, dan tingkat kedua tidak mungkin sebelum tingkat pertama selesai”. Menyelesaikan “tingkat pertama”; bukan hanya berarti menyelesaikan tugas-tugas ekonominya yang pokok-pokok, terutama terhadap kapital imperialis dan monopoli tuan tanah atas tanah. Menyelesaikan “tingkat pertama”; harus berarti juga dikerjakannya hal-hal yang mendesak sekali seperti mempraktekkan dan bukan hanya menyerukan semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional”. Jika penghasilan negara terutama didapat dari pajak-pajak, langsung maupun tak langsung, jika pajak-pajak yang sudah ada dinaikkan dan pajak-pajak baru diadakan, dan jika tarif-tarif transpor, telekomunikasi dsb. dinaikan, juga jika harga minyak, gula, dan lain-lainnya dinaikkan, dan jika sebaliknya perusahaan-perusahaan negara tidak memberikan sumbangan yang sepertinya kepada kas negara, apalagi jika karena belum diberantasnya yang dikatakan Presiden Sukarno dalam Manipol “syaitan korupsi”; dan “syaitan garuk kekayaan hantam kromo”, maka semua ini menandakan semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional”; baru semboyan yang diserukan dan
belum semboyan yang dipraktekkan. Ketika memasuki tahun ke-2 Manipol, Presiden Sukarno berkata: “Kita harus dengan lebih tegap melangkah untuk secara konsekuen melaksanakan Manipol dan dalam tahun ke-2 Manipol Usdek ini kita harus sungguh-sungguh nanpakken soal retooling ini benar-benar”. Kita sekarang sudah berada di tahun ke-3 Manipol, tahun batas bagi pelaksaan triprogram kabinet, bagi kabinet sendiri, bagi keadaan bahaya juga. Jika dalam tahun ke-2 Presiden Sukarno sudah begitu menekankan mutlaknya melaksanakan secara konsekuen Manipol dan nampakken soal retooling benar-benar,”apalagi sekarang di tahun ke-3 Manipol ini! Beberapa patah kata tentang Pancasila. Harus jelas bagi siapa pun, bahwa Pancasila itu sesuatu keutuhan integral yang tidak boleh direnggut-renggut satu-satu silanya dari sila-sila lainnya, dan bahwa Pancasila itu alat pemersatu. Jika Pancasila direnggut-renggut, maka bisa nanti atas nama “Kebangsaan”; misalnya orang menentang “Ketuhanan Yang Mahaesa”; atau “Kemerdekaan Beragama”; misalnya orang menentang “Kedaulatan Rakyat”; atau “Demokrasi Sosialisme di mana pun di dunia menjamin kemerdekaan beragama”.

Sosialisme Indonesia tak terkecuali. Sdr. KDH Sudjarwo dengan tepat menganjurkan “Pancasila” secara ilmiah setaraf dengan interpretasi penciptanya,”; yaitu Bung Karno. Memang kalau kita bertolak dari “Lahirnja Pantja Sila”, pidato 1 Juni 1945 Bung Karno yang sudah banyak saya kutip itu, dalam mebicarakan sila “Ketuhanan Yang Mahaesa”; Bung Karno menekankan “hormat-menghormati satu sama lain”, “yang berkeadaban”, “yang berkebudayaan”; “yang tidak onverdraagzaam”, dan dengan tegas beliau kemudian berkata: “Segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya”; UUD’45 dalam pasal
29 yang mengenai “Ketuhanan Yang Mahaesa”; menegaskan bahwa “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya”. Dalam “Djarek”, Presiden Sukarno menggasak “hantu kebencian”, membela “toleransi politik”; Dan dalam “Membangun Dunia Kembali”; atau pidato PBB-nya yang terkenal itu, Presiden Sukarno menerangkan bahwa sila “Ketuhanan Yang Mahaesa”; dalam Pancasila berarti: “hak untuk percaya”, bukan kewajiban untuk percaya kepada Tuhan, dan berkatalah Presiden: “Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama”. Kemudian Presiden menunjukkan bahwa “bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun; diliputi oleh “toleransi”.

Pernyataan Presiden ini tepat sekali, karena sesungguhnya “yang tidak menganut sesuatu agama”; atau “yang tidak percaya kepada Tuhan pun”; adalah bangsa Inndonesia-mereka rakyat Indonesia. Dan tentulah kita semua belum lupa pada canang yang dipukul Presiden dalam “Resopim”, bahwa Pancasila adalah alat pemersatu, bahwa Pancasila tidak boleh dijadikan alat pemecah-belah, dan bahwa barang siapa menjadikan Pancasila alat pemecah-belah, sesungguhnya dia itu-dalam istilah Presiden Sukarno sendiri “sinting”

Sampailah saya sekarang pada alat yang terpenting, yang terbaik, dan yang satu-satunya untuk menyelenggarakan Sosialisme Indonesia melalui penyelesaian fase pertama, fase revolusi nasional-demokratis, yaitu persatuan nasional. Persatuan nasional ini dengan Nasakom sebagai porosnya, bukan hanya sesuatu yang sudah resmi dan maka itu harus dituruti mutlak oleh setiap warganegara dari golongan politik maupun karya, sipil maupun militer, tetapi dia pun syarat yang tak boleh tidak jika kita mau menyelesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi ’45 dengan perbuatan dan tidak dengan lipservice atau lamis-lamis bibir saja. Presiden Sukarno mengatakan dalam “Resopim”; bahwa menolak Nasakom berarti bertentangan dengan UUD’45, dan dalam “Djarek”; beliau berpesan, “Bangsa” kita harus menggembleng dan menggempurkan persatuan dari segala kekuatan-kekuatan revolusioner, – menggembleng dan menggempurkan de samenbundeling van alle revolutionaire krachten in de natie.

Demikianlah secara pokok-pokok Sosialisme Indonesia-ilmu dan amalnya: ilmu dan amal pengakhiran pengisapan oleh manusia atas manusia. Saya
anjurkan kepada para siswa UNRA dan para peminat lainnya yang mau memperdalam soalnya-supaya mempelajari buku Bung Aidit, Sosialisme Indonesia dan Syarat-syarat Pelaksanaannya.

Penegasan saya sebagai kesimpulan:
Tanpa Persatuan Nasional dengan kaum buruh dan tani sebagai kekuatan pokoknya dan Nasakom sebagai porosnya, takkan ada pelaksanaan Manipol secara konsekuen, sedang tanpa pelaksanaan Manipol secara konsekuen, takkan ada Sosialisme Indonesia.

~ Comrade Nyoto ~


D.N. Aidit, Di Antara Dua Buku yang Berseberangan


Aidit Murad Aidit menuangkan kesaksiannya terhadap sang kakak dalam buku Aidit Sang Legenda. Ia melukiskan Achmad Aidit alias Dipa Nusantara Aidit sebagai aktivis yang habis-habisan membesarkan partai palu arit. Begitu sibuknya, Aidit kurang memperhatikan segala kesulitan yang ia hadapi. ”Bang Amat,” begitu Murad memanggil Aidit, ”adalah kakak yang sungguh tak dapat diharapkan.”

Ia mencontohkan saat meminta uang biaya pernikahan, ia sama sekali tak diberi. Tapi, pada saat yang lain, rasa kesal dan benci kepada Bang Amat tandas ketika Murad tergolek lemah akibat TBC. Dokter memberi Murad obat TBC terbaru dari Swiss, yang belum beredar di Indonesia. Adalah Aidit yang mendapatkan obat itu, mengandalkan jaringan pertemanannya di luar negeri. Cerita pun mengalir. Aidit kali ini disebut sebagai kakak yang sempurna.

Inilah sepenggal kisah haru-biru hubungan kakak-beradik yang ditulis dalam buku 264 halaman yang terbit dua tahun lalu. Tak cuma Murad. Sobron Aidit, adik sepupu Aidit, juga menulis beberapa buku. Begitu pula Ibarruri, putri tertuanya. Iba menyebut sang ayah dalam buku Ibarruri Putri Alam yang terbit tahun lalu sebagai ”manusia yang paling kucintai”.

Buku-buku dari lingkaran terdalam keluarga Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia itu tak mungkin bisa kita baca sepuluh tahun lalu. Kendati sudah mulai ditulis belasan tahun lalu, buku-buku itu hanya teronggok di laci penulis. Kini, di era reformasi, kata sejarawan Asvi Warman Adam, ”Kita bisa lebih mengenal sosok Aidit dari sudut pandang personal.”

Ketika mendengar berita kepastian tewasnya sang Ayah, misalnya, Iba menuliskan, ”Di masa aku remaja, aku tiba-tiba kehilangan manusia yang paling kucintai, kukagumi, yang menjadi teladan dalam cita-cita.” Ibarruri adalah nama pemberian Aidit yang diambil dari nama pemimpin gerakan Komunis Internasional asal Spanyol, Dolores Ibarruri. Dolores terkenal dengan aksi menentang diktator Spanyol, Jenderal Franco.

Meski memuji setinggi langit sang ayah, Iba menyebut Aidit sebagai ayah yang tak mengerti merawat anak. Suatu kali di masa kecil, ia pernah menangis. Aidit yang tak tahu kenapa anaknya menangis terus memberi minum hingga perutnya kembung.

Sejak Soeharto tumbang, buku-buku yang berusaha ”membersihkan” sosok Aidit bebas beredar. Tak hanya tulisan saudara dan anak—yang jelas lebih banyak memunculkan sosok manusia Aidit dan dibumbui emosi karena kedekatan pada sang tokoh—tapi juga penulis atau peneliti yang tak ada hubungan apa pun dengan Aidit. Buku Menolak Menyerah; Menyingkap Tabir Keluarga Aidit (2005) karya Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah boleh dikelompokkan dalam buku yang tak boleh terbit di masa Orde Baru.

Dalam buku itu, tak ada kesan dalang pembunuhan kejam dan bengis—sifat yang tertanam pada sebagian besar benak orang Indonesia karena dijejali buku-buku sejarah yang memojokkan Aidit—pada sosok politisi yang dikenal dekat dengan Soekarno ini. Buku tersebut bahkan memuat informasi bahwa Aidit terkucilkan dari peristiwa besar G30S/PKI. ”Yang terjadi adalah peristiwa di luar skenario Aidit,” tulis Budi dan Yani. ”Terjadi penyingkiran ke Halim, yang mengakibatkan terputusnya komunikasi.”

Kebanyakan buku yang terbit di era Orde Baru memperkenalkan Aidit sebagai sosok yang pantas dimusnahkan. Buku Pergolakan Politik Tentara Sebelum dan Sesudah G30S/PKI yang ditulis Todiruan Dydo pada 1989 menyebut Aidit sebagai pemimpin partai licik dan oportunis yang khawatir Angkatan Darat akan berkuasa setelah Soekarno meninggal. Maka Aidit meniupkan isu adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta. Aidit pula yang memerintahkan penangkapan para jenderal.

Buku ini menyebut Aidit sebagai sosok yang amat dekat dengan Soekarno, dan memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingannya sendiri. Aidit dituding sebagai orang yang selalu menjelek-jelekkan tentara di hadapan Soekarno. Ia bahkan dituding sebagai sosok yang menyaring informasi yang akan disampaikan kepada Presiden. Ketika itu, Presiden tidak bisa mengandalkan informasi intelijen karena dalam kalangan tentara sendiri terjadi kesimpang-siuran akibat penyusupan orang-orang PKI.

Aidit adalah dalang G30S/PKI. Demikian buku kontroversial Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai yang dikarang Soegiarso Soerojo pada 1988. Dituliskan bahwa Aidit sebenarnya baru akan merencanakan kudeta pada 1970. Namun dokumen yang berisi instruksi agar seluruh pimpinan PKI bersiap memuluskan rencana itu bocor. ”Seperti disambar geledek di siang bolong, D.N. Aidit yang ketahuan belangnya menjadi sangat marah,” tulis Soegiarso. Inilah yang membuat Aidit mempercepat kudeta menjadi 1965.

Soetopo Soetanto dalam kumpulan tulisan Kewaspadaan Nasional dan Bahaya Laten Komunis menyebutkan kelihaian Aidit memanfaatkan tentara untuk membunuh para jenderalnya sendiri. ” Bahwa cara kerja PKI harus konspiratif,” demikian buku ini mengutip konstitusi PKI yang merupakan ide Aidit. Pemimpin Politbiro PKI ini pun memerintahkan infiltrasi ke tubuh militer. Para tentara yang sebelumnya memiliki latar belakang PKI didekati dan dipakai untuk melancarkan kudeta 1965.

Dalam Rangkaian Peristiwa Pemberontakan Komunis di Indonesia, Aidit digambarkan sebagai sosok yang anti-Tuhan. Koran-koran berhaluan komunis memproklamasikan Pancasila tanpa sila pertama. ”Juga dalam kesempatan berpidato di depan peserta Pendidikan Kader Revolusi 1964, D.N. Aidit berkata bahwa sosialisme, kalau sudah tercapai di Indonesia, maka Pancasila tak lagi dibutuhkan sebagai alat pemersatu,” begitu tertulis dalam buku keluaran Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan, Jakarta.

Tribuana Said dan D.S. Moeljanto dalam Perlawanan Pers Indonesia BPS Terhadap Gerakan PKI menceritakan buntut panjang pidato Aidit itu. Pers pun terbelah, berbagai golongan mengecam Aidit. Pro-kontra berakhir setelah Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh memerintahkan semua pihak menghentikan polemik pidato tersebut. Aidit pun sempat mengatakan bahwa pidatonya dipelintir harian Revolusioner, padahal ia tidak bermaksud mengatakan bahwa Pancasila tak lagi diperlukan.

Ini tak jauh berbeda dengan buku-buku pelajaran sekolah yang memuat versi pemerintah Orde Baru. Buku Sejarah Nasional Indonesia, misalnya, jelas-jelas menyebut PKI dan Aidit sebagai dalang tunggal peristiwa 1965. Buku yang antara lain dikarang oleh Nugroho Notosusanto itu menuai kontroversi karena menghujat Soekarno dan menyanjung Soeharto sebagai penyelamat bangsa. Di buku itu, juga buku-buku pelajaran lain, digambarkan sosok Aidit yang kejam, bengis, dan tak percaya pada Tuhan alias ateis.

Dalam suatu kesempatan, Aidit mengemukakan prinsip dan pilihan hidupnya kepada Murad. ”Kau tahu, aku memang tidak akan menjadi pahlawan keluarga. Pahlawan keluarga itu terlalu sederhana dan amat egois. Kita harus menjadi pahlawan bangsa.” Kita tahu, ucapan Aidit ini tak berujung sebagaimana yang ia harapkan. Ia tak akan pernah tercatat sebagai pahlawan.

Sumber: TEMPO, No. 32/XXXVI/01-07 Oktober 2007, “Buku-buku Soal D.N. Aidit: Setelah Keluar dari Laci Penulis”


Membincang Kekerasan Dalam Beragama; Merasa Diri Paling Benar??


“Orang takwa sejati tidak pernah menggunakan agama sebagai sebab perpecahan. Orang takwa percaya bahwa agama adalah wahana mempertemukan ummat manusia. Kalau ada orang suka mempertentangkan ajaran agama, apalagi sesama agama ia pasti belum sampai derajat takwa. Sama halnya orang yg mencari perbedaan dan sangat sensitif melihat perbedaan lalu menggunakannya untuk memecah belah ummat. Orang seperti ini belum sampai derajat takwa. Orang yg takwa adalah toleran pada orang seagama dan pada pemeluk agama lain (Jalaluddin Rakhmat 2008)”

Kekerasan atas nama agama masih –bahkan semakin- marak di negeri ini. Padahal, terlepas dari berbagai kontroversi yang mengitari sebuah isu, khususnya isu-isu keagamaan, maka kekerasan sama sekali tak diperbolehkan menjadi sarana untuk menyelesaikan kontroversi atau pun masalah umat. Sebab, metode penyelesaian masalah dengan jalur kekerasan bukan tuntunan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Salah satu isu yang biasanya dianggap menjadi pemicu konflik antar umat beragama yakni isu perbedaan ajaran dan pandangan, baik antara umat beragama atau antar sesama Muslim. Isu kerukunan umat beragama di Indonesia masih didominasi masalah kekerasan yang melibatkan agama. Meski disetiap negara bercorak plural seperti Indonesia boleh dibilang wajar mengalami benturan atau ketegangan-ketegangan dalam masyarakat, akantetapi dalam kasus kekerasan yang terjadi menurut studi tidaklah wajar. Ketidakwajaran itu ditenggarai oleh kejadian yang berulang-ulang sehingga muncul indikasi pemerintah seolah diam saja dalam melihat masalah tersebut. ada dua hal penting yang memboncengi tindak kekerasan yang terjadi, yakni soal keberadaan rumah ibadah dan adanya pembatalan acara yang diinisiatifkan lembaga-lembaga seperti LGBT ((Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?

Pertanyaan “mengapa” itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun marilah kita mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran:“Wa qul jâ’a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa” (dan katakanlah: “kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna). Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Pak Alwi Shihab sempat menyampaikan, bahwa salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya—berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, adalah debat tentang pemberlakuan syariat Islam. “Syariat Islam yang mana yang akan diterapkan di sini?” Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab yang kita anut: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral dan paling benar, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Quote: 

“If people knew their own religion, how tolerant they would become, and how from any grudge againts the religion of others.”


Harapan adalah perlawanan terhadap ketidakmungkinan


English: Red star, symbol of the Socialist Par...

English: Red star, symbol of the Socialist Party of Indonesia Esperanto: Ruĝa stelo, simbolo de la Socialista Partio de Indonezio Bahasa Indonesia: Bintang merah, simbol Partai Sosialis Indonesia Nederlands: Rode ster, symbool van de Socialistische Partij van Indonesië (Photo credit: Wikipedia)


[dibawah ini adalah catatan pinggir goenawan mohamad, yang paling saya sukai, membangkitkan harapan.bagi teman-teman yang belum pernah membaca…bacalah, ini merupakan perlawanan terhadap ketidakmungkinan]

Mikro politik

goenawan mohamad

[dimuat di kolom catatan pinggir~Majalah Tempo Edisi. 20/XXXVII/07 – 13 Juli 2008~]

 

Soal paling serius dalam politik hari ini adalah harapan.

Haruskah kita terus berjuang dalam politik untuk perubahan, ketika hampir semua hal sudah diucapkan secara terbuka, tapi Indonesia hanya berubah beberapa senti? Atau begitukah nasib dunia: sejarah adalah repetisi kesalahan yang tak kita sadari? Atau sejarah sebenarnya tak punya tujuan, apa pun yang dikatakan Hegel dan Marx?

Rahman Tolleng kini 70 tahun: ia mungkin tak akan menjawab pertanyaan di atas. Tapi ia saksi yang bisa menunjukkan, kalaupun sejarah hanya sebuah cerita acak-acakan, tak berarti ia sia-sia. Kalaupun akal budi tak kunjung menang, seperti dicitakan Hegel, tak berarti manusia takluk. Kalaupun kebebasan tak berhasil terbentang penuh di dunia, seperti diperhitungkan Marx, tak berarti ia tak layak diperjuangkan.

Entah mengapa, selalu ada orang-orang yang bersedia bekerja untuk menjaga agar sejarah, yang tujuannya tak jelas, tak bergerak jadi arus yang berakhir dengan pembinasaan—khususnya pembinasaan mereka yang tak berdaya.

Pada 1 Juni yang lalu saya bertemu Rahman Tolleng di halaman depan Galeri Nasional, Jakarta. Orang-orang, termasuk anak-anak, berkumpul di sana. Mereka menghindar dari Taman Monumen Nasional, setelah sejumlah orang dari mereka yang sedang akan memeriahkan Hari Lahir Pancasila diserbu dan dipukuli sampai berdarah-darah oleh sepasukan orang seakan-akan hendak menunjukkan, ”Kami Islam, sebab itu Kami berhak memukul!”

Hari itu Rahman di tengah orang-orang yang dipukuli itu. Ia tak kelihatan letih. Ini tahun 2008. Saya coba mengingat, kapan saya bertemu pertama kali dengan dia. Mungkin pada 1962. Seingat saya, ia muncul di halaman sebuah hotel besar di Bandung yang lampunya hanya setengah menerangi ruang. Kami diperkenalkan oleh seorang teman. Saya mahasiswa baru dari Jakarta. Ia sudah aktivis terkemuka Gerakan Mahasiswa Sosialis di Bandung. Tahun-tahun itu ia harus setengah bersembunyi—terutama karena ia tak mau dibungkam. GMSOS organisasi yang dekat rapat dengan Partai Sosialis Indonesia yang dilarang Presiden Soekarno. Para pemimpinnya dipenjarakan.

Setelah itu saya jarang sekali melihatnya. Beberapa orang teman, antara lain Soe Hok Gie (ia juga aktivis GMSOS), memberi tahu saya bahwa Rahman terus menghimpun dan memproduksi tulisan yang diam-diam diedarkan dan didiskusikan di antara mahasiswa di Bandung. Ketika pada 1966 mahasiswa di Bandung dan Jakarta turun ke jalan, mengguncang ”demokrasi terpimpin” yang melahirkan otokrasi, Rahman tak lagi besembunyi. Ia memimpin mingguan Mahasiswa Indonesia.

Dari sini pula saya menduga apa gerangan yang menyebabkan ia bergerak, menulis, membentuk kelompok. Politik, baginya, adalah sebuah tugas.

Tapi itu tugas yang murung, agaknya. Seperti tiap orang segenerasinya, Rahman Tolleng tahu yang terjadi pada 1908 sampai 2008: gerakan antikolonial yang terkadang menyempit jadi xenofobia, revolusi yang meletus dan segera jadi Negara yang mau mengendalikan segala hal, perubahan yang berakhir jadi teror, reformasi yang melambungkan harapan tapi segera kelihatan betapa terbatas jangkauannya. Adakah harapan?

Setelah 1998, kita berusaha percaya bahwa demokrasi konstitusional, dengan parlemen yang dipilih, adalah jalan perbaikan yang pantas dan rendah hati. Radikalisme hanya bagus buat pidato.

Tapi kini perangai partai-partai politik mirip tikus besar-kecil yang merusak padi di sawah kita. Atau, lebih buruk lagi, mirip ”vampir”, seperti kata editorial Media Indonesia, pelesit yang menghisap darah dari tubuh demokrasi.

Kini parlemen, pengadilan, polisi, kejaksaan, dan media nyaris jadi sederet bordello, di mana si kaya bisa membeli sukma dan raga manusia. Kini suara rakyat yang diberikan kepada sang presiden seakan-akan sia-sia: sang presiden tetap tak yakin dan terus-menerus menunggu mandat. Kini para mahasiswa mencoba mengulang heroisme angkatan sebelumnya, seakan-akan sejarah bisa diulangi. Di manakah harapan?

Tapi siapa yang menggantungkan politik pada harapan lupa bahwa harapan tak pernah datang sebelum perbuatan. Siapa yang menggantungkan politik pada harapan akhirnya hanya akan terpekur, karena harapan selalu samar. Atau sebaliknya, ia akan membuat harapan sebuah obat yang serba mujarab, dan membikin agenda melambung-lambung.

Dengan modal harapan semacam itu, politik justru akan mati—”politik” dalam arti the political: gerak dan gairah melawan kebekuan yang represif.

Saya melihat ke Rahman Tolleng: politik adalah tugas, sering murung karena fana tapi juga tak terhingga. Saya ingat anjuran Alain Badiou: ”Dalam politik, mari kita berusaha jadi orang militan dari aksi yang terbatas”. Kita tahu dunia tak akan jadi surga; hanya di surga kita bisa tahu apa yang akan kita capai. Tapi sebab itu kita tak bisa berhenti.

Bukan karena kita Sisiphus yang perkasa. Kita bukan si setengah dewa yang dengan gagah menanggungkan hukuman itu: mengangkut batu besar ke puncak gunung, dan segera sesudah itu akan menggelundung kembali. Kita hanya makhluk yang dituntut, dipanggil, terus-menerus oleh sesuatu yang tiap saat menyatakan diri berharga. Dalam hal ini, berharga bagi harkat liyan, bagi liyan yang juga sesama. Simon Critchley menyebut sesuatu yang ”infinitely demanding”, dan saya kira dengan itulah politik adalah ”ethik” dalam perbuatan.

Di situlah ”mikropolitik” punya makna: ia ”militansi dari aksi yang terbatas”. Ia bukan rencana mengubah semesta berdasarkan wajah sendiri. Tapi ia tak takut kepada yang mustahil.

Dan harapan? Mungkin bukan itu soalnya. Politik bisa dengan harapan, bisa tidak. Sebab ia perlawanan yang membuat hidup kita—di sebuah tempat, di suatu waktu, bersama yang lain—tak sia-sia. Juga pada usia 70.


The Wandering Who?


Oleh Ahmad Syafii Maarif

Inilah karya terbaru Gilad Atzmon yang menggegerkan Zionisme global. Judul lengkapnya, The Wandering Who? A Study of Jewish Politics Identity (Siapa Tersesat? Sebuah Kajian tentang Identitas Politik Yahudi). To wander dalam bahasa Inggris dapat berarti “bergerak/mengembara tanpa arah”; dapat pula diartikan “mengeluyur” atau “pergi tersesat.” Saya pilih yang terakhir ini. Karena pengalaman getir selama terpasung dalam lingkaran Zionisme rasis, Gilad merasa sebagai manusia tersesat sampai ia muncul sebagai seorang humanis yang terbangunkan kemudian.

Karya ini direncanakan terbit akhir September 2011 oleh penerbit Zero Books, tetapi karena ancaman demikian hebat agar jangan muncul dalam format cetak, maka sampai saat ini (15 Oktober) saya tidak tahu pasti apakah sudah beredar atau belum. Tetapi, apa isi pokok buku itu sudah beredar di dunia maya sejak Agustus tahun ini. Saya juga sudah baca beberapa resensinya, termasuk dari intelektual Yahudi kelas hiu, seperti Richard A Falk dari Universitas Princeton, Prof Mearsheimer dari Universitas Chicago. Yang terakhir adalah penulis buku The Israel Lobby and US Foreign Policy (2007) bersama Prof Stephen M Walt dari Universitas Harvard. Ketiganya memberi dukungan kepada The Wandering agar segera diterbitkan.

Dalam wawancara panjang dengan wartawati Swiss Silvia Cattori pada akhir September yang lalu, Gilad menjelaskan apa substansi karyanya itu. Terutama dari hasil wawancara ini saya menangkap pemikiran Gilad tentang politik identitas Yahudi yang mengacaukan peradaban manusia global. Selain sumber ini, saya telah mengikuti Gilad sejak lebih dua tahun yang lalu, sebagaimana telah terbaca beberapa kali di ruang resonansi ini.

Dengan demikian, para pembaca tentu tidak asing lagi tentang sosok Gilad Atzmon ini yang kiprah geraknya semakin menggoncangkan Israel dengan risiko maut yang mungkin menyergapnya setiap saat. Saya pernah mengingatkan Gilad agar ekstra hatihati terhadap serba kemungkinan ini, tetapi tekadnya untuk melawan Zionisme dan membela Palestina sudah tidak mungkin lagi ditawar. Dia sudah sampai pada point of no return(titik berpantang surut). Amat langka penulis yang bersedia berjibaku seperti tokoh kita ini.

Untuk pertanyaan Cattori, “Apa makna di belakang judul yang provokatif ini?,” Gilad memberikan jawaban, “ The Wandering Who? berupaya mencari sebuah pemahaman yang lebih mendalam tentang kultur Yahudi dan identitas politik Yahudi. Di situlah harus dipecahkan beberapa isu yang sebagian besar kita memilih untuk menghindar. Tiga tahun yang lalu sejarawan Israel Shlomo Sand telah menerbitkan karya terobosan penting tentang sejarah Yahudi. Dengan begitu ia telah membongkar cerita sejarah Yahudi yang sarat khayal.

Dalam karya ini, saya mencoba maju selangkah lagi dari pencarian Sand dan mengurai sikap orang Yahudi yang problematik terhadap sejarah, masa silam, dan kekinian pada umumnya. Lima tahun yang lalu, aka demisi Amerika Mearsheimer dan Walt telah mener bitkan kajian penting tentang Lobi Ya hudi di Amerika Serikat. Lagi saya coba mengisi celah hasil penelitian mereka di mana yang kurang. Saya berusaha menjelaskan mengapa pekerjaan lobi melekat dalam politik dan kultur Yahudi. Dalam The Wandering Who? saya mencoba menggoyang setiap persepsi umum tentang politik identitas Yahudi.”

Artinya, Gilad dengan keberaniannya yang luar biasa telah membongkar segala kepalsu an, kecurangan, dan kejahatan yang telah, sedang, dan akan dilakukan kaum Zionis demi mendemonstrasikan keangkuhan klaimnya sebagai manusia pilihan, unggul, dan tak tertundukkan. Jika The Isreal Lobby telah menjadi buku terlaris oleh harian New York Times, karya Gilad ini mungkin akan melebihi itu sebab yang dibongkar adalah akar pokok Zionisme sebagai kanker peradab an yang telah berhasil mengelabui dunia selama lebih enam dasawarsa.

Dukungan yang semakin meluas terhadap The Wandering Who? pasti akan berekor panjang pada persepsi dunia terhadap Zionisme yang kini berlindung di bawah jubah Israel atau Israel di balik jubah Zionisme. Mungkin saatnya sudah mulai tiba di mana umat manusia tidak lagi mau menelan kicauan Israel yang mengaku sebagai satu-satunya negara demokrasi di Asia Barat dan Afrika Utara. Kepalsuan tidak mungkin bertahan selamanya. Ini adalah sebuah aksioma sejarah, di mana pun.

Peresensi Paul J Balles menulis: “The Wandering WHO?” melayari antara pemikiran yang menggusarkan dalam pengalaman pribadi dan isu-isu yang bercorak sejarah dan filsafat. Dalam karya inilah Gilad menggali pengalaman-pengalaman awalnya sebagai seorang Zionis Israel dan kemudian kebangkitannya sebagai seorang humanis, lanjut Balles. Gilad menulis: “Zionisme bukanlah sebuah gerakan kolonial yang punya perhatian atas Palestina, sebagaimana pendapat beberapa sarjana. Pada hakikatnya, Zionisme adalah suatu gerakan global yang dibakar oleh solidaritas kesukuan yang unik .…”

Balles lalu mengutip Gilad: “Perampokan dan kebencian termuat dalam ideologi politik modern Yahudi, baik sayap kanan maupun sayap kiri. Orang Israel merampok atas nama ‘pulang ke rumah,’ Yahudi progresif atas nama ‘Marx’, dan pembunuh intervensionis moral atas nama ‘demokrasi’. Dalam realitas, orang Israel sebenarnya dikejutkan oleh tindakan kekerasan yang dilakukannya sendiri.”

Ironisnya, rakyat Palestina dikorbankan dengan dalih orang Yahudi dibantai Hitler pada masa Perang Dunia II. Holocaust (malapetaka) yang dialami orang Yahudi di Eropa pada era tersebut, menurut Gilad, telah dijadikan semacam agama oleh kaum Zionis. Oleh sebab itu, jika ada orang yang dianggap menyangkal holocaust, langsung dipukul sebagai anti-Semit. Gilad telah dijadikan sasaran tembak untuk itu sekalipun tidak ada bukti penyangkalan atas holocaust itu. Senjata anti-Semit selalu saja ditembakkan terhadap siapa saja yang melawan Zionisme Israel.

Dalam tulisan-tulisan terdahulu di koran ini, saya pernah mengutip Gilad bahwa Zionisme sebagai ideologi politik Yahudi tidak mungkin berdamai dengan kemanusiaan karena memang bukan bagian dari kemanusiaan itu.

Fakta semacam inilah yang gagal ditangkap oleh Barat, terutama Amerika Serikat, sehingga Israel tetap saja seperti berada di atas angin, termasuk melecehkan keputusan-keputusan PBB. The Wandering Who? adalah testimoni penting untuk dibaca secara luas oleh siapa saja yang ingin perdamaian dunia tanpa Zionisme.

The Wandering Who? telah mengupas tuntas apa dan untuk apa judaisme (agama Yahudi), keyahudian (Jewishness), kultur Yahudi (Jewish culture), dan ideologi Yahudi (Jewish ideology). Yang diserang habis oleh Gilad adalah kultur dan ideologi Yahudi, aspek-aspek buruk kesukuan yang terdapat dalam wacana sekuler Yahudi, baik Zionis maupun anti-Zionis.

Gilad mempertanyakan mengapa orang Yahudi diaspora mengidentifikasikan dirinya dengan Israel dan berafiliasi dengan politiknya. Itulah sebabnya karena kita merasakan suasana dunia yang semakin menghancurkan sekarang ini telah membawa tuntutan segera bagi sebuah perubahan konseptual dalam sikap intelektual, filosofikal terhadap politik, serta identitas politik dan sejarah. The Wandering Who? merupakan upaya serius dari seorang mantan Zionis untuk mengurai semuanya itu.

Yang dikritik keras Gilad sebenarnya bukan suku (tribe), melainkan paham kesukuan (tribalism) yang berorientasi rasis yang menjadi inti setiap bentuk politik identitas Yahudi. Kita turunkan lagi penuturan Gilad sebagaimana yang disampaikan kepada Cattori: “Sebenarnya yang merisaukan saya terutama menyangkut ideologi. Saya sangat dicemaskan oleh lobi Yahudi yang selalu memburu (lawannya) dan kekuatannya yang mengguncangkan secara global. Adalah fakta bahwa AJC (American Jewish Committee) menganjurkan perang terhadap Iran yang sungguh sangat mencemaskan.”

Sebagaimana yang pernah saya kutipkan dalam tulisan terdahulu, Gilad dengan gemas sampai mengatakan bahwa jika dunia ini mau aman dan damai, Zionisme harus dipindahkan ke planet lain. Akhirnya, mari sama-sama kita ikuti bagaimana ujungnya nanti perjalanan Zionisme ini dan dampak buruknya bagi perjalanan sejarah umat manusia.


MENGISLAMKAN ORANG ISLAM


Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

Batapa lembut dan hangat agama itu.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku..

Akhirnya, bila boleh menyimpulkan agama yg benar adalah:

1. Agama yg mengajarkan cinta kpd sesama bukan agama benci.

2. Agama yg mengusung akal sehat dan akal budi, berpikir logis rasional, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, inquiry mind, dialogis. Bukan sebaliknya yaitu anti rasional, anti dialog, menolak logika & akal.

3. Agama yg menjunjung tinggi akhlakul karimah/budi pekerti/etika yang agung dan mulia, yang fondasinya adil (etika sosial) dan baik/ihsan: membalas keburukan dengan kebaikan (etika individual). Yg prinsip umumnya mengajarkan kita utk tdk memperlakukan orang dengan perlakuan yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Jika anda tidak mau disesatkan/dikafirkan jangan sembarang menyesatkan/mengafirkan orang lain.

4. Agama yang menjunjung tinggi prinsip Hanif: jujur, lurus, murni dan Samhah: lapang, toleran, menghargai pluralitas. Memangnya hanya mereka/kita yg berhak mengklaim kebenaran, orang laintidak boleh.

Dalam Al Qur’an pun kita mengenal ayat yang menjunjung tinggi hubungan silaturahim:
Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi harus yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu melihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!

Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan kita dalam bingkai kemanusiaan dalam keberagaman untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

*Didedikasikan untuk ISACS : Institute Study Agama dan Civil Society

Salam Pluralisme!!

Malika Assaif


Life is About Moving


Imam Syafi’i pernah berkata:

“Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan.
Seandainya mengalir dia menjadi jernih,
jika tidak dia akan keruh menggenang.

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan,
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan.

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.
Anak panah jika tidak dilepaskan busur tak kan kena sasaran.

Jika saja matahari tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang”

Untuk itu..BERGERAKLAH..sahabatku !

Sekalipun besok hari kiamat,
kita diperintahkan untuk tetap bergerak dan beraktifitas.

Baginda Rasululllah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنْ قَامَتِ السَّاعَة ُوَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَة ٌفَاسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يُغْرِسَهَا فَلْيُغْرِسْهَا فَلَهُ بِذاَ لِكَ أَجْرٌ

“Jika Kiamat datang, sementara di tangan salah seorang diantaramu ada sebuah biji Kurma, lalu ia mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum Kiamat terjadi, maka hendaklah ia tanamkan, karena dengan demikian ia akan mendapatkan pahala.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Abdil ‘Aziz dlm al-Muntakhab dg isnad yg hasan dari Anas ra.
Juga kitab ‘Umdatul Qari’ fi Syarhin Shahihil Bukhari oleh Syaikh Badaruddin al ‘Aini, bab al-Hartsu waz Zira’ah)

Ketika kita bergerak, kemudian mengalami benturan “BADAI”,
itu sesuatu yang wajar sahabat…

Grace Hopper mengatakan :
“A Ship in port is safe, but this not what ships are built for!”.
Memang aman kalau kapal cuma bersandar di pelabuhan,
Namun bukan untuk itu dia diciptakan !!!

BADAI ujian adalah sesuatu yang sangat wajar,
Sebagaimana juga kita sekolah.
Maka kita juga pernah mengalami “BADAI” ujian.
Setelah badai berlalu, maka nikmat “KELULUSAN” akan kita dapatkan

Semakin banyak rintangan dalam bergerak,
Semakin TANGGUH dan TEGARLAH kita.
Semakin banyak kesedihan yang kita jumpai,
Semakin LEMBUTLAH kita…
Dan semakin banyak PAHALA, ILMU dan CAHAYA kita dapatkan.

Semakin banyak BERGERAK dan semakin banyak LULUS badai ujian,
maka juga akan membuat semakin CEMERLANG pribadi kita…
Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang BERCAHAYA…
Bukankah kita sering melihat SINAR OBOR yang begitu cemerlang…
dari para tokoh setelah mereka bergerak dan mengalami badai ujian.

Boleh jadi kita belum bisa seterang OBOR para tokoh,
Namun minimal bisa seperti KUNANG-KUNANG…
yang mampu membuat malam menjadi semakin INDAH.


Bal-Balan Politik


Origin of da word POLITICS is quite funny! It’s Latin & made up of two words; ‘POLI’ means ‘many’ & …’TICS’ means ‘Blood sucking Creatures’ How True !!!

Akhir-akhir ini saya tertarik mengamati bola; bentuknya yang bundar dan gerakan fleksibel yang memantul membuat kita senang menendang dan melempar serta memainkannya. Bosen main-main dengan bola, saya ingin menonton pagelaran yang digelar di lapangan bola. Sesekali penonton berteriak; “huuuuuuu”, penonton kecewa……yang sering terjadi adalah lontaran makian dan ‘pisuhan’ melengkapi kegusaran dan kekecewaan penonton. Sesekali pula, penonton ‘ngakak’ tertawa dan bertepuk tangan jika ada badut yang badannya melebar ke seantero panggung. Dan akan bersorak kegirangan jika ada pendekar: ‘pendek-mekar’ muncul tiba-tiba…

Bahwa siapa yang tahu bahwa di balik itu terjadi pementasan yang sesungguhnya???

Pada hari itu sebuah kongres sebuah federasi di Pekanbaru dilaksanakan. Sebuah kongres dari sebuah federasi yang sangat sangat korup dan banyak unsur politis bernama PSSI. Sejak awal, saya memang tak respek dengan adanya kongres ini. Dari mulai sosok ketum yang ‘ngeyel’, pemilihan tempat yang memberikan kesan adanya kekhawatiran akan adanya “kelompok reformis”, timbulnya fitnah, pelanggaran aturan pasal statuta, hingga dugaan adanya back up-an dari salah satu orang nomor satu sebuah parpol besar.

Entah kenapa, kongres yang seharusnya berjalan aman, tertib, dan damai itu dirusak oleh suatu skenario. Sebuah skenario yang memang sengaja dibuat untuk melanggengkan kekuasaan kubu Nurdin Halid cs. Dugaan adanya praktek suap di salah satu kamar hotel menjadi pemicunya. Dan apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan kita sebagai insan sepakbola Indonesia. Muncullah orang-orang berjumlah 78 orang, yang hari ini kita kenal sebagai Kelompok 78 atau K78, yang menginginkan adanya perubahan di tubuh PSSI. Bahkan waktu itu, saking paranoidnya kubu Nurdin cs, maka ke-78 orang itu harus rela berteriak-teriak di luar hotel karena hak mereka dicabut.

Puncaknya, kongres ricuh. K78 yang haknya diambil oleh kubu statusquo, masuk ke dalam hotel untuk menuntut kebenaran yang mereka bawa, agar pasal statuta PSSI diubah sehingga Nurdin tidak menyalonkan diri lagi. Untuk diketahui, K78 memperjuangkan hak mereka untuk mengubah statuta PSSI yang menyatakan bahwa “… seseorang dapat menjadi Ketua Umum PSSI apabila tidak terkait tentang hukum pidana pada saat berlangsungnya kongres …” yang sama sekali berbeda dari statuta FIFA, yang menghendaki bahwa seorang narapidana ataupun mantan narapidana memimpin sebuah federasi sepakbola. Ini yang saya sebut sebagai dualisme sikap FIFA.

Pro kontra bermunculan. Media-media milik statusquo mulai menyebar berita bahwa orang-orang militer adalah penyebab kekacauan di kongres PSSI di Pekanbaru. Bahkan ada yang benar-benar memelintir berita, yang mengatakan bahwa Nurdin tetap bisa maju sebagai calon Ketua Umum PSSI. Sementara media-media netral lain, menanggapi hal secara obyektif.

Cara pandang obyektif memang jarang kita dapati dalam banyak pemberitaan media. Karena memang media-media itu berusaha membangun opini publik seolah-olah kelompok 78 adalah public enemy dengan menjuluki mereka sebagai gerombolan pengacau, deadlockers, malah yang ekstrim menganggap mereka teroris. Saya mencoba berasumsi, yakni: Pertama, uang yang ada di PSSI terlalu besar sehingga statusquo ingin lama-lama berkuasa. Kedua, ada indikasi dan target tertentu dari seseorang atau golongan untuk merebut kursi kepemimpinan RI di tahun 2014 dengan cara menduduki PSSI terlebih dahulu. Sah-sah saja wong namanya asumsi. Kecurigaan-kecurigaan tersebut tentu saja beralasan. Kan tema utama kita adalah: MISTERI.

Jumat (21/5), terjadi kembali sebuah Kongres PSSI. Namun dengan wayang yang berbeda. Agum Gumelar, yang dipercaya FIFA sebagai Ketua Komite Normalisasi, memimpin Kongres PSSI. Ada juga perwakilan FIFA, Thierry Regenass dan juga perwakilan dari AFC, yang datang sebagai observer.

Kongres yang semestinya selalu menuruti keinginan peserta konggres, malah dilanggar sendiri oleh Agum Gumelar, sang tokoh utama dalam cerita ini. Apa yang menjadi pokok pembicaraan untuk mencapai sebuah kebenaran, selalu dialihkan. Ini malah menyebabkan pamor dan kharisma seorang Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi sekaligus sebagai ketua sidang merosot drastis. Tampaknya ada sebuah skenario besar di balik semua ini.

Pertama, saya menyesalkan sikap dari komplotan statusquo (ini sama artinya dengan kata ‘Gerombolan 78′ ala Cocomeo News) yang tidak mau legowo untuk menyerahkan kursi-kursi yang mereka duduki di PSSI ke orang lain. Bukti yang ada sudah di depan mata. Kita lihat calon ketua umum PSSI, belakangan ini semakin tercium aroma statusquo. Achsanul Qosasih, Agusman Effendy, dan lain-lain adalah antek setia era Nurdin Halid. Pun demikian dengan anggota Exco. Mayoritas suara yang didapat lebih besar untuk komplotan statusquo macam Iwan Budianto, Yosep Erwiyantoro, dan lain-lain.

Yang membuat saya penasaran, bagaimana seorang Agum Gumelar bisa disetir oleh kelompok tertentu? Lebih penasaran lagi dengan alasan Agum adalah alasan Agum untuk mengganti 5 anggota Komite Normalisasi dengan alasan terlibat LPI (Liga Primer Indonesia), namun pada kenyataannya LPI, pada surat FIFA, harus dirangkul oleh Komite Nasional. Hal ini menguatkan asumsi bahwa dengan kelompok statusquo masih berniat dan masih mencari cara untuk tetap berada di tubuh PSSI.

Kedua, penolakan kandidat Arifin Panigoro dan George Toisutta jelas tak bisa dijadikan alasan untuk tak bisa bersaing di panggung bursa Ketua Umum PSSI. Kalau berkaca pada statuta FIFA, tidak pernah ada ceritanya seseorang yang “menciptakan” liga breakaway, ditolak untuk menjadi calon ketua umum sebuah federasi, di manapun itu berada. Justru jika kita melihat pada negara-negara yang pernah menciptakan liga breakaway seperti Australia, Inggris, dan Jepang, FIFA akan menyoroti kinerja federasinya. Apa yang salah dengan federasi tersebut, sehingga menimbulkan rasa tidak puas oleh anggotanya dan membentuk liga breakaway. Namun kenapa tidak bisa terjadi di Indonesia? Justru seorang Nurdin Halid pun terkesan dilindungi FIFA walaupun saat itu jelas-jelas melanggar statuta FIFA dengan memimpin PSSI dari balik jeruji besi.

Dan dalam catatan saya George Toisutta, tidak termasuk orang yang terlibat dalam liga breakaway (LPI). Nama George Toisutta baru mencuat ke permukaan selama 4-5 bulan terakhir ini. Tidak pernah ada ceritanya GT mengurusi LPI. Namun, pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat FIFA sekelas Thierry Regenass itu saya pikir cukup menimbulkan suatu tanda tanya besar. Bahkan yang bisa membuat saya geli adalah, Regenass yang notabene pejabat teras di FIFA, seharusnya cukup hafal tentang pasal-pasal Statuta FIFA dan Electoral Code FIFA pun tidak bisa memberikan jawaban tentang statuta mana dan electoral code bagian mana yang dilanggar oleh pasangan GT-AP. Dan Regenass hanya garuk-garuk kepala. Lalu mantan pimpinan Kopassus seperti Agum menghentikan kongres secara sepihak dengan alasan yang konyol : tidak kuat lagi menghadapi peserta kongres yang menuntut haknya dipenuhi.

Skenario selanjutnya, ini yang perlu kita waspadai. Kelompok statusquo yang diback up oleh sebuah partai besar, kali ini mulai menggiring opini publik lewat media-media yang dimilikinya untuk memusuhi K78 yang berniat menghilangkan segala kekotoran yang ada dalam tubuh PSSI. K78 yang semula berniat untuk merevolusi PSSI, dan mencegah agar akar-akar dari komplotan Nurdin tidak kembali merajai PSSI, kini malah diputarbalikkan faktanya menjadi sebuah kelompok yang perusak, sok reformis, dan terkesan perusuh serta pemecah belah sepakbola nasional. Penggiringan opini publik ini tampaknya akan menuju ke sebuah keberhasilan di mana saat ini banyak tokoh mulai simpatik ke salah satu televisi yang dimiliki salah satu orang yang mencalonkan diri maju ke Pilpres 2014. Beritanya mulai tidak berimbang, bombastis, dan provokatif. Menggelar talk show pun yang diundang adalah orang-orang yang pro terhadap pemberitaan mereka. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, masyarakat kini mulai diajak untuk memusuhi K78, menjadikannya sebagai public enemy, memusuhi Arifin Panigoro dan George Toisutta yang pernah jadi orang yang membuka pintu masuk kepada kita untuk merevolusi PSSI dengan dalih tidak legowo, terlalu ambisius, dan lain-lain.

Maka menjadilah K-78 sebagai pubic enemy yang selalu dikaitkan dengan yang namanya sanksi. Padahal tuntutan sanksi itu bagi saya sama sekali tidak mendasar karena tidak ada sama sekali pasal Statuta FIFA maupun Electoral Code FIFA yang dilanggar Indonesia.

Saya menganalogikan sanksi itu seperti menakut-nakuti anak kecil tanpa memberikan alasan logis yang jelas; misalnya: “adik jangan main jauh-jauh lho ya, bahaya!” Dan media pro statusquo terus-terusan menggembar-gemborkan sanksi….sanksi sanksi….seolah-olah sanksi itu ‘momok’ menakutkan dan penyebabnya adalah gerombolan pengacau K78. Aneh!!! Betul-betul aneh bin ajaib! Ada yang bilang di televisi; “demi kepentingan bersama sebaiknya kelompok 78 mundur!”……Kepentingan bersama siapa? Lalu mereka beralasan; kalau sanksi benar-benar dijatuhkan, kasihan rakyat dong! Mereka tak bisa jualan kaos, jualan bakso, dan lain-lain….hahaha…sangat lucu! Toh saya lihat, para penjual kaos maupun bakso sehari-hari juga bisa jual kaos di sekitar stadion atau pasar rakyat di Tugu Pahlawan. Lalu yang disebut kepentingan rakyat itu yang mana? Rakyat yang mana? Setelah puas menakut-nakuti rakyat, Agum Gumelar tampil sebagi pahlawan yang seolah-olah menjadi pendekar yang meloby FIFA supaya tidak menjatuhkan sanksi. How smart!

Lebih tidak logis lagi karena K78 tidak sopan, melontarkan kata-kata kasar pada utusan FIFA dan tidak beretika. Maka kalau boleh dijawab: ini kan bukan KONGRES ETIKA! Memang hal ini kelemahan K78 tapi apa yang mereka lakukan tidak pernah menyalahi statuta FIFA.

Dari sejumlah Negara yang pernah mengalami sanksi FIFA, penyebab jatuhnya sanksi karena:

(1)    pelanggaran statuta

(2)    intervensi pemerintah

Dan sebenarnya, masalah sanksi itu masalah lobi saja. Di tahun 2007, sewaktu Nurdin Halid menjabat dari balik jeruji besi, seharusnya Indonesia terkena sanksi. Tetapi karena lobi-lobi yang kuat dari kelompok Nurdin, maka sanksi itu tidak terjadi. Bahkan kemarin sewaktu Pemerintah melalui Menegpora ikut mengintervensi PSSI, seharusnya juga kan kita kena sanksi. Tapi nyatanya? Nothing!!

Padahal, jika toh memang kita disanksi FIFA, maka gugatan CAS (Komite Arbitrase Olahraga) akan masuk, yakni menggugat FIFA sebesar 500 juta Euro per hari. Tentunya FIFA juga tidak bodoh dengan sembarangan memberi sanksi untuk Indonesia karena benar-benar tak ada aturan yang dilanggar. Bahkan FIFA sendiri yang melanggar aturan tersebut dengan menolak pencalonan GT-AP tanpa dasar.

Konggres PSSI tempo hari benar-benar menyisakan banyak tanda tanya. Silakan mengambil kesimpulan sendiri dan mari kita tunggu pertunjukan selanjutnya!

***********

Kemayoran,20110528

Malika Assaif


Kelompok 78 Tidak Tercela, Salahkan Agum yang Tak Mengerti Konstitusi


Apa yang akan anda lakukan jika tamu di rumah anda mengacak-acak isi kulkas anda? Pasti anda tidak akan rela…

Analogi diatas sesuai sekali untuk memberikan penilaian pada kehadiran FIFA di konggres PSSI. Mengapa kita harus merelakan diri diintervensi oleh FIFA? Kehadiran FIFA dengan membentuk komite normalisasi PSSI tidak efektif sama sekali. Saya pikir campur tangan FIFA justru membentuk konflik baru, dan membuat keadaan semakin runyam.

Hal ini diperparah oleh posisi Agum Gumelar sebagai ketua normalisasi PSSI yang memimpin konggres yang berakhir ricuh dan tidak membuahkan hasil kemaren. Permasalahan dipicu oleh tidak puasnya kelompok 78 atas keputusan pimpinan sidang Agum Gumelar.

Seperti dilansir VIVAnews (http://bola.vivanews.com/news/read/220242-kronologis-kisruh-pssi-jilid-ii):

Berikut Babak per Babak Kisruh PSSI Jilid II

1 April  2011
FIFA memutuskan pembentukan Komite Normalisasi untuk mengambil alih kepengurusan Nurdin Halid di PSSI. Keputusan ini dipublikasikan di situs resmi FIFA pada tanggal 4 April. Komite ini dipimpin oleh Agum Gumelar dan dibantu tujuh anggota, yakni Djoko Drijono (CEO BLI), Hadi Rudiatmo (Ketua Persis Solo), Sukawi Sutarip (Ketua Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nuzanah (Direktur Arema), Samsul Ashar (Ketua Persik Kediri), H. Satim Sofyan (Ketua Pengprov PSSI Banten), Dityo Pramono (Ketua PSPS Pekanbaru). Lima nama terakhir merupakan anggota Kelompok 78.

FIFA juga melarang empat nama yakni, Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisuta untuk maju pada pemilihan pengurus PSSI,

Tugas Komite Normalisasi :
– Mengatur pelaksanaan pemilihan pengurus baru PSSI periode 2011-2015 paling lambat 21 Mei.
– Menempatkan Liga Primer Indonesia di bawah kendali PSSI atau membubarkannya.
– Menjalankan tugas keseharian PSSI.

11 April 2011
Komite Normalisasi bertemu dengan pemilik suara PSSI yang mayoritas dihadiri oleh Kelompok 78. Kedua pihak sepakat untuk menggelar Pra Kongres pada 14 April 2011.

12 April 2011

Pendaftaran bakal calon ketua umum PSSI, wakil ketua umum PSSI, dan anggota komite exco PSSI periode 2011-2015 resmi dibuka.

14 April 2011
Pertemuan dengan pemilik suara di Hotel Sultan, Jakarta berubah jadi Kongres PSSI. Selain membentuk Komite Pemilihan, Kongres ‘dadakan’ ini juga membentuk Komite Banding Pemilihan.

19 April 2011
Ketua Komite Normalisasi bertolak ke Zurich, Swiss menemui Presiden FIFA, Sepp Blatter. Dalam pertemuan ini, Agum melaporkan hasil pertemuan dengan pemilik suara pada 14 April 2011. Agum juga berusaha melobi FIFA agar tiga kandidat, Arifin Panigoro, George Toisuta, dan Nirwan Bakrie diizinkan mengikuti pemilihan pengurus PSSI periode 2011-2015.

21 April 2011

FIFA mengirim surat kepada Komite Normalisasi. Dalam suratnya, FIFA menegaskan agar Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta tidak diperkenankan maju pada bursa pemilihan PSSI. FIFA juga tidak mengakui Komite Pemilihan yang dibentuk pada pertemuan 14 April 2011. Sedangkan Komite Banding yang terdiri atas Umuh Muchtar, Ahmad Riyadh dan Rio Danamore tetap diperkanankan menjalankan tugasnya. Keputusan kini langsung menuai protes dari kubu George Toisutta dan Arifin Panigoro.

23 April 2011
Pendaftaran bakal calon ketua umum PSSI, wakil ketua umum PSSI, dan anggota komite exco PSSI periode 2011-2015 resmi ditutup. Meski dilarang FIFA, kubu George dan Arifin tetap menyerahkan berkas pendaftarannya ke sekretariat PSSI.

29 April 2011

Komite Normalisasi yang juga berfungsi sebagai Komite Pemilihan mengumumkan hasil verifikasi terhadap bakal calon pengurus PSSI 2011-2015. Komite Normalisasi menolak memverifikasi berkas pendaftaran George Toisutta dan Arifin Panigoro.

3 Mei 2011

Pendukung George Toisutta dan Arifin Panigoro menggelar demonstrasi di depan kantor KONI. Mereka memprotes keputusan Komite Normalisasi yang menolak pencalonan kedua kandidat tersebut.

5 Mei 2011

Ketua Komite Banding Pemilihan, Ahmad Riyadh mengaku telah menerima berkas banding George Toisutta dan Arifin Panigoro. Pihaknya berniat memprosesnya bersama berkas lainnya mulai 9 Mei 2011.

6 Mei 2011

FIFA melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro mengajukan banding. FIFA bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia bila tetap memproses banding kedua kandidat tersebut.

9 Mei 2011

Kelompok 78 yang diwakili Wisnu Wardana, Usman Fakaubun, Hadiyandra, Imron Abdul Fatah, dan Sarluhut Napitupulu meminta Agum Gumelar mundur dari jabatannya sebagai ketua Komite Normalisasi. Mereka juga mengancam mengubah Kongres PSSI 20 Mei 2011 menjadi ajang untuk melengserkan Agum.

12 Mei 2011

-Komite Banding Pemilihan akhirnya mengabulkan banding George Toisutta dan Arifin Panigoro. Keduanya dianggap boleh mencalonkan diri saat Kongres PSSI pada 20 Mei 2011.

-FIFA menyetujui usulan reshuffle Komite Normalisasi. FIFA akhirnya mengganti lima annggota Komite Normalisasi, yakni Sukawi Sutarip (Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nuzanah (Arema), Samsul Ashar (Persik Kediri), Satim Sofyan (Pengprov PSSI Banten) dan Dityo Pramono (PSPS Pekanbaru). Mereka digantikan oleh Rendra Krisna (Presiden Kehormatan Arema FC), Sumaryoto (mantan Ketua Pengprov PSSI Jawa Tengah), Baryadi (Ketua Pengprov PSSI Sumatera Selatan) dan Sinyo Aliandoe (mantan pelatih timnas Indonesia).

Yang aneh adalah pelarangan George Toisutta untuk menjadi calon ketua PSSI dengan alasan yang tidak jelas. Padahal persyaratan untuk menjadi ketua PSSI diantaranya adalah; tidak pernah dipenjara atau berurusan dengan masalah hukum, aktif dalam organisasi PSSI dan berumur lebih dari 30 tahun. George Toisuta memenuhi semua kriteria FIFA, tapi entah mengapa FIFA bersikeras melarang pencalonan George Toisuta. Kita diharuskan tunduk pada aturan FIFA tapi kenyataan FIFA sendiri yang sering melanggar aturannya yang dibuatnya sendiri, terbukti dengan terpilihnya Nurdin Halid sebagai ketua PSSI selama 2 periode. Jadi perlu dipertanyakan sikap FIFA sebenarnya; maunya apa sih? Mengobok-obok persepak bolaan Indonesia?

Kaitannya dengan Agum Gumelar, Agum tidak punya suara karena beliau tidak mencalonkan diri. Jadi kekuasaannya sebagai ketua normalisasi juga seharusnya bergerak pada konstitusi PSSI, bahwa ia akan mengambil keputusan berdasar pada suara terbanyak. Bukan pada suka dan tidak sukanya FIFA, like or dislike is my PSSI, seharusnyalah Agum menyadari hal ini. Kalaupun ada perasaan itu, maka gantilah kelompok 78, dari daerah-daerah upayakan tidak memilih mereka, bisakah? Dengan catatan, semua biaya dan tetek bengeknya dalam tanggungan yang tidak suka! Kalaupun ada pihak-pihyang menuding mereka (kelompok 78) itu yang menjadi biang kerok kericuhan kongres PSSI rasanya tidak fair aja. Kalau kelompok 78 dibilang ‘penjahat’ maka saya sepakat mengatakan bahwa mereka adalah penjahat yang pintar karena bergerak dan bertindak sesuai statuta atau konstitusi yang berlaku…Lalu dimanakah kesalahan mereka???

**********

PS: terimakasih untuk Moch Assaif  B (suami saya yang hebat) untuk percakapan bermutunya di dapur pagi ini

19thfloor,20110523

Malika Assaif

*******************************************

Komentar:
  • 23 May 2011 12:15:47

    seppp banget bung, setuju. kebenaran dan keadilan sebuah proses hrs kita tunjukkan. keberanian untuk “MELAWAN STANDART GANDA YG TELAH DITUNJUKKAN OLEH FIFA ADALAH KEHARUSAN” SETELAH MENUNJUKKAN KESALAHAN FIFA MAKA LANGKAH BERIKUTNYA ADALAH PUBLIKASI KEPADA DUNIA PERSEPAK BOLAAN INTERNASIONAL BAHWA FIFA TELAH BERMAIN-MAIN DENGAN STATUTA /KEBIJAKAN FIFA BILA PERLU KAMPANYE BAHWA FIFA BERPOLITIK INTERNASIONAL

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:12:47

    sepakat Bung! Malah akhir2 ini ada kecenderungan membelokkan opini publik untuk mengambing hitamkan kelompok 78. Padahal apa yang mereka lakukan sudah sesuai statuta

    Suka
  • 23 May 2011 16:32:41

    Agar standard ganda bisa dihapus, berarti standard yang salah harus dianulir. Masalahnya, standard yang salah dulunya juga atas ’sepengetahuan’ FIFA. Kalau FIFA menganulir, berarti FIFA mengakui bahwa dulu FIFA salah. Dan rasanya agak mustahil deh FIFA mau begitu, karena bisa jatuh wibawanya. Makanya kayaknya mereka juga lg pusing musti ngapain jadi dibuatlah KN untuk membereskan dan mereka ‘mengawasi’ saja dan berharap semoga urusan beres dan muka tetap terjaga. Atau cara lain, belaga lupa yg dulu dan pakai patokan yg benar sekarang so bisa back on track and forget the past, tapi sialnya orang Indonesia daya ingatnya kuat 2x . . . peace . . .

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 12:16:38

    lha wong PSSI mengikuti aturan dan anggota dari FIFA, kok malah nyalahin FIFA ikut campur…kompetisi sepakbola dunia semuanya di bawah FIFA, lha kok bisa2nya bilang FIFA gak boleh ikut campur persepakbolaan Indonesia…klo mau PSSI gak diacak2 FIFA, ya keluar aja dari keanggotaan FIFA…lucu lo…

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:10:04

    tidak masalah kita diatur oleh FIFA asala sesuai statuta, lagian FIFA kan sekedar wadah sepak bola dunia. Yang menjadi masalah adalah jika pengaturan FIFA sendiri melanggar statuta. Pertama: ketika Nurdin terpilih jadi ketua PSSI padahal melangga statuta, apa yang dilakukan FIFA? mendiamkan saja kan? Kedua: konflik lanjutan, FIFA menciptakan konflik baru dengan tidak meloloskan George Toisutta sebagi calon Ketua PSSI dengan alasan tidak jelas. Yang patut anda tanya seharusnya FIFA:APA MAUMU???

    Suka
  • 23 May 2011 13:30:44

    KITA IKUT ATURAN FIFA SETUJU BRO TP TIDAK DENGAN SURAT SAKTI FIFA YANG GAK ADA DI ATURAN FIFA MUNGKIN OKNUM FIFA TAKUT RAHASIANYA KEBONGKAR KL GT/AP MAJU KIRA2 GT SO YG CALON KETUA UMUM KMAREN GAK ADA YG BAKAL BERANI NGUSUT SMUA SKANDAL D PSSI COBA TANYA SAPA YG BERANI CALON KMAREN KARENA AKAN MENGUSUT DIRINYA SENDIRI SAMA AJ JERUK MINUM JERUK BUNG

    Suka
  • 23 May 2011 16:35:56

    jeny yang baik..surat fifa tidak memiliki kekuatan hukum tetap masih inget 2007 suratt untuk nurdin halid contohnya ..googling aja dech biar bisa mengerti dengan sendirinya ..bukti surat FIFA tidak memiliki daya..malah statuta pun di telanjangi oleh nurdin dan oknum fifa

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 12:28:53

    nah itu dia – petanyaan kunci adalah ” FIFA” adalah organisasi yg mengatur kehidupan bersama organisasi sepak bola yg ada didalamnya melalui statuta atau perangkat hukum organisasinya menurut derajat pengambilan keputusannya. disaat sudah ada aturan sep yg saya sebutkan diatas, maka itu adalah aturan yg dibuat secara bersama oleh para oraganisasi yg ada didalamnya. para pemimpin FIFA bertindak hanya menjalankan sistem oraganisasi yg ada dialamnya. —- jd dari penuturan diatas/ dr tulisan ibu kita Malika dan berita viva news yg menjadi referensi —- BISAKAH KITA TERAPKAN SEBUAH ATURAN DENGAN STANDART GANDA ? KALAUPUN ATURAN ITU MAU KITA TERAPKAN, apa argumentasi yg sangat memungkinkan yg sesuai dan sejalan dgn aturan-aturan diatas ? sudahkah kita mengambil keputusan dengan FAKTA SESUAI ATURAN YG ADA ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:11:29

    Jadi ada apa dengan FIFA ya??

    Suka
  • 23 May 2011 13:01:02

    Ketauan banget gak nonton kongres kemarin yah. Nonton dulu deh di youtube. Liat dulu baik 2x, dengar dulu kata 2x makian kebon binatangnya, liat betapa ngototnya ingin diberi hak bicara tapi tak memberi orang bicara, liat bagaimana tata tertib dan cara beradab diabaikan. Kalau sudah lihat, dan masih dibilang tidak tercela, anggap saja saya hidup di dunia yang salah . . .

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:17:14

    kesalahan sebenarnya pada ketok palu Agum bukan pada kelompok 78. Saya bukan mendukun apa yang mereka lakukan, tapi siapa yang akan rela jika diperlakukan seperti mereka di kongres kemaren? yang namanya konggres ya begitu Bung! soal ribut-ribut itu biasa, memaki itu biasa….memang jamannya Pak Harto, semua satu komando, tanpa ribut-ribut. Lha rupanya AgumGumelar masih terbiasa dengan didikan militernya, yang terbiasa 1 komando, 1 suara…ketemu sama George Toisutta, sama militernya…itulah jadinya: Batu ketemu batu> Sekali waktu anda berorganisasi dan mengalami keributan konggres oke!

    Salam kenal, no hurt feeling!

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:26:54

    seandainya FIFA dan Agum Gumelar bisa menjelaskan apa kesalahan NB_ AP_GT yg membuat mereka tidak bisa ikut pemilihan ketua PSSI, pasti keruwetan ini akan segera terselesaikan…….
    belum berperang kok sudah disuruh legowo….please dech..
    masak anak negeri sendiri gak boleh memperbaiki olahraga sepak bolanya sendiri…..
    toh FIFA juga bukan organisasi yg bersih kan…

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:29:56

    makanya, yang membuat semua ini menjadi konflik sebenarnya siapa? Ruwet karena ulah siapa? Pastinya tamau yang tiba-tiba datang mengaca-acak kulkas kita kan?!

    Suka
  • 23 May 2011 13:57:32

    Sebenarnya sudah dijelaskan, hanya khan tidak mau menerima. Seperti anak kecil bertanya kenapa dihukum, dan kita jawab karena kamu mencuri. Dia akan tidak puas dan menuntut dijelaskan kenapa mencuri harus dihukum ? Kenapa mencuri itu salah ? Dan dari kriteria mana saya dibilang mencuri . . . Toh saya cuma ngambil dan bawa pulang hp teman saya . . . (jadi ingat betapa bingungnya saya menjelaskan ke anak saya kenapa tindakannya dibilang nakal . . . )

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:07:07

    hayooo Bung Marveen, penjelasan tidak bolehnya harus sesuai statuta bukan karena faktor like or dislike. ya kan, jangan karena alasan itu lalu melarang, namanya melanggar HAM lho! kalau Bung Marveen tahu kesalahan mereka, buat dong reportase atau opini sanggahan/tandingan gitu…hehehe…jadi orang awam seperti saya juga biar tau

    Suka
  • 23 May 2011 14:27:22

    FIFA telah menegaskan bahwa GT AP tidak boleh maju karena mereka adalah pelopor LPI yang merupakan Breakaway League ( bahasa yang sangat sopan saya kira, daripada Illegal League ) dimana di suatu negara hanya boleh ada 1 Liga Premier dan klub sepakbola harus bersaing dalam sistem promosi – degradasi untuk mencapai ke sana. LPI tiba 2x muncul dengan kekuatan uang, dan langsung mengklaim sebagai Liga Premier ( yang paling utama ), dimana hal ini merupakan sebuah penyelewengan sistem kompetisi diman klub baru berdiri saja langsung bisa masuk LPI dan mengklaim sebagai Liga tertinggi. Dalam hal ini jelas bahwa LPI hadir dan merusak sistem kompetisi yang ada, yang mana juga berlaku di seluruh negara di dunia. GT-AP adalah para penggagasnya, dan saya rasa wajar jika FIFA melarang mereka maju, karena belum jadi ketua saja sudah memporak porandakan sistem, apalagi jika sudah jadi ketua.

    Ambil contoh sederhana : Ibu punya anak, sekolah dari TK, lalu SD kelas 1,2,3,4,5,6, sampai SMA. Tiba 2x muncul sekolah baru dimana dengan kekuatan uang anak yang sekolah disana gak perlu masuk SD bisa langsung lulus SMA. Apakah menurut Ibu, sekolah baru tersebut tidak melecehkan begitu banyak siswa yang berjuang dari dasar hingga puncak waktu demi waktu ? Nah kurang lebih seperti itulah gambaran dalam pikiran saya mengenai LPI yang dijadikan alasan penolakan FIFA, walaupun saya akui mungkin sistem keuangan klub yang diadopsi LPI adalah mungkin yang lebih baik, tapi caranya itu menurut saya tidak begitu baik …. Apa kata dunia kalau Indonesia punya 2 juara ? Siapa yang akan mewakili Indonesia sebagai juara kalau ada 2 liga utama yang legal ? Tar pake acara ribut lage rebutan jatah )

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:41:43

    persoalannya bukan masalah calonnya Bung. Karena sebagai catatan: George Toisutta tidak mempelopori LPI, hanya Arifin Panigoro. lagian apakah distatuta FIFA punya aturan begitu? Saya rasa tidak!

    Lalu apakah permasalah lantas selesai dengan mengabaikan suara kelompok 78? Dari 103 peserta, 78 peserta kecewa….separuh lebih yang kecewa. Hal ini akan memicu konflik tak berkesudahan. Bukankah sebaiknya kita biarkan George Toisutta memimpin dulu lalu kita lihat kinerjanya; kalu tidak sesuai, baru kita ngomong : “nah itu lho pilihan kalian.” (saya ngomong begini bukan dalam kapasitas saya mendukung George Toisutta), saya hanya beropini, alangkah damainya jika semuanya menaati statuta yang berlaku.

    Suka
  • 23 May 2011 15:10:38

    Bung Marveen, sebelum kongres digelar Ketua Normalisasi bilang LPI sudah dibawah kontrol PSSI, artinya alasan LPI sudah tidak berlaku lagi…

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 15:32:27

    Yup begitu sih katanya, tapi under control itu seperti apa belum diputuskan. Apakah akan dibubarkan atau diakui sebagai liga utama kedua ? Apakah sudah ada kelanjutan, kita juga gak begitu tau karena sibuk dgn yg lbh seru ^^v. Dibawah kontrol bisa jadi hanya sekedar mengetahui dan dalam pengawasan, tapi statusnya tetap dianggap Breakaway League. Kalaupun dianggap kontrol penuh, LPI menjadi under PSSI yang mana berarti lepas dari GT AP, tapi tetap saja akan menjadi track record buruk bagi mereka sebagai pencetus The Breakaway League dimana track record buruk pun dapat menjegal . . .

    Btw, thx to PSSI saya jadi gak bosan di waktu senggang, jadi banyak bacaan dan menambah pengetahuan dari banyak sisi pemahaman ^^v

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:39:23

    sedih ane ..oleh bangsanya sendiri kita di takuti oleh hantu yang namanya sanksi FIFA ..FIFA sendiri bingung alasan apa untuk bisa menjatuhkan sanksi kepada indonesia ?

    FIFA sendiri harus menghitung untung ruginya karena sudah pasti akan berhadapan dengan CAS

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:40:57

    JIKA kalah fifa dalam sidang CAS SETELAH fifa menjatuhkan sanksi paling tidak FIFA harus menggelontorkan dana besar untuk kerugian yang di tanggung indonesia.. dari sebanyak sanksi FIFA kepada puluhan negara tapi indonesia yang berbeda..ada apa ya dengan regennass mmm mungkin maksudnya wani piro ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:45:43

    Untuk George Toisutta, saya kira jenderal yang satu ini tidak bisa termasuk dalam orang yang berkecimpung dalam liga breakaway (LPI). Padahal, nama George Toisutta baru mencuat ke permukaan selama 4-5 bulan terakhir ini. Tidak pernah ada ceritanya GT mengurusi LPI. Namun, pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat FIFA sekelas Thierry Regenass itu saya rasa cukup menimbulkan suatu tanda tanya besar. Bukan tanpa alasan Regenass melontarkan pernyataan seperti itu. Bahkan yang bisa membuat saya tersenyum adalah, Regenass yang notabene adalah pejabat teras di FIFA, yang seharusnya cukup hafal tentang pasal-pasal Statuta FIFA dan Electoral Code FIFA pun tidak bisa memberikan jawaban tentang statuta mana dan electoral code bagian mana yang dilanggar oleh pasangan AP-GT. Dan Regenass hanya berkeringat sambil garuk-garuk kepala. Dalam hal ini, K78 yang benar.
    Kongres di ballroom Hotel Sultan yang ricuh kemarin pun, tampaknya sudah merupakan sebuah skenario dari salah satu pihak yang terkesan legowo, tetapi sesungguhnya dia menjadi dalang dari berbagai kejadian baru-baru ini. Agum Gumelar, Djoko Driyono, bahkan Thierry Regenass adalah wayangnya. Sangat di luar nalar jika mantan pimpinan Kopassus seperti Agum menghentikan kongres secara sepihak dengan alasan yang konyol : tidak kuat lagi menghadapi peserta kongres yang menuntut haknya dipenuhi. Sangat di luar nalar apabila Thierry Regenass tidak bisa menjelaskan pasal statuta mana yang dilanggar oleh pasangan Arifin Panigoro dan George Toisutta.

    Suka
  • 23 May 2011 16:49:19

    Sebenarnya, masalah sanksi itu masalah lobi saja. Di tahun 2007, sewaktu Nurdin Halid menjabat dari balik jeruji besi, seharusnya Indonesia terkena sanksi. Tetapi karena lobi-lobi yang kuat dari antek-antek Nurdin, terutama Komplotan Statusquo, sanksi itu tidak terjadi. Bahkan kemarin sewaktu Pemerintah melalui Menegporaa ikut mengintervensi PSSI, seharusnya juga kan kita kena sanksi. Tapi nyatanya? Nol.
    Skenario penggiringan opini publik inilah yang mengkhawatirkan adanya revolusi di sepakbola nasional. Kita tahu bersama, saat ini, media-media milik Komplotan Statusquo sedang gencar-gencarnya menghancurkan K78 dan selalu menebar teror dengan adanya sanksi FIFA. Padahal, jika toh memang kita disanksi FIFA, maka gugatan CAS (Komite Arbitrase Olahraga) akan masuk, menggugat FIFA sebesar 500 juta Euro per hari. Tentunya juga FIFA tidak bodoh sembarangan memberi sanksi untuk Indonesia karena benar-benar tak ada aturan yang dilanggar. Bahkan FIFA sendiri yang melanggar aturan tersebut dengan menolak pencalonan AP-GT tanpa dasar.

    Salam VIVA PSSI!

    Suka
  • 23 May 2011 13:49:50

    ironis khan sebenarnya. Kalau menurut saya, yg acak 2x kulkas kita sebenarnya sesama penghuni rumah juga. Trus ribut 2x di rumah gak karuan, sampai akhirnya Pak RT hansip datang karena ributnya kita sudah cukup mengganggu ketertiban lingkungan. Trus kita tetap saja ribut, dan mulai menyalahkan Pak RT dan hansip memperkeruh keributan kita dan lama 2x mulai jadi kambing hitam pemicu keributan kita dan dibilang melanggar kedaulatan kita di rumah . . . Hehehe kurang lebih seperti itulah kalau yg saya lihat terjadi . . . (sumpe saya ngos 2xan neh ngetik ini . . . )

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 13:58:02

    hahaha…saya mengahargai ngos-ngosan anda Bung Marveen. Seluruh penghuni rumah ribut gara-gara ada penghuni rumah tercela akrena ia mencuri dan merampok mencoba menguasai rumah dan Pak RT maupun Hansip tutup mata….lalu ada pemilihan kepala rumah tangga, Pak RT ngriwuk-i karena ngga suka. Jadi, bahasa ekstrimnya: Pak RT melanggar HAM salah satu penghuni rumah hanya karena faktor tidak suka. Harusnya kalau tidak suka, pindahkan penghuni rumah itu dulu. Baru berupaya memilih penghuni baru, ya to.Ini sekedar opini sih Bung Marveen, benar tidaknya wallahu ‘alam…

    Suka
  • 23 May 2011 14:32:06

    Hayoo ada yang tahu arti kata NGRIWUK-I gak? Goleki ndek kamus KBBI gak ono kuwi. Do buingung …
    Saya sepemahaman dengan mbak Malika. Sejak Agum kehilangan jati diri pasca ’sowan’ ke FIFA. Padahal awalnya saya mendukung dan berharap Agum bisa menjadi tokoh yang dihormati untuk menyelesaikan ini. Ternyata akhirnya begini. Sambil iseng2 boleh mampir ke sini Mbak!
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/04/19/fifa-pun-harus-belajar-dan-mau-mendengarkan-agum-si-jalak-harupat-muda-gumelar/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/04/28/fifa-kah-sumber-kemelut-sepak-bola-kita/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/05/13/kn-pak-agum-masihkah-bisa-diharapkan/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/05/13/komite-normalisasi-masih-normalkah-siapa-yang-normal-dan-siapa-yang-tidak-normal/
    http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/05/22/fifa-agum-kn-penanggungjawab-kegagalan-kongres-pssi-janganlah-kita-terpecah-belah/
    Kalau kebanyaken, hapus aja mbak. Nggak papa kok. Ini sekedar berbagi saja,karena seperti kronologis yang mbak sampaikan, jadi biar prosesnya terlihat.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:45:34

    @Tri Hatmoko: terimakasih sudah mampir dan mengapresiasi tulisan saya. Semoga kita bisa saling berbagi informasi dan mencerahkan, amin.

    Salam Kenal!

    Suka
  • 23 May 2011 14:49:02

    LPI pada dulunya didirikan bukan dgn orientasi duit secara penuh – namun didirikan hanya untuk menjungkirbalikkan kepemimpinan NH yg selalu didukung penuh oleh FIFA. keputusan menjungkirbalikkan ini diambil krn ada pihak2 yg peduli dgn nasib persepakbolaan RI ini yg dalam anggapan mereka FIFA sudah bermain mata dgn melanggar statuta yg ada. — dalam prespektif ini FIFA tau dirinya salah dan PSSI NH tau diri bersalah tidak berani “pamer kekuatan” terhadap pengelola LPI. ——– sekarang adalah waktu bagi FIFA untuk bermain dan menggiring bola dgn permainannya tuk menolak AP dan GT, terbukti dgn fakta suratnya ke K Normalisasi — yg tanpa memberithukan dasar kesalahnnya tidak layak untuk masuk bursa calon. — kondisi ini ditambah lagi dgn komite banding yg memperbolehkan AP dan GT untuk ikut bursa pencalonan — — jalan keluar terlihat buntu jk AP dan GT serta kelompok pendukungnya tetap ngotot —- mengapa harus ngotot ? menurut hemat saya karena memang mereka jg melaluinya sesuai aturan yg ada — sebenarnya siapa pihak yg paling bermasalah dalam kisruh PSSI ini ? jawaban saya adalah FIFA — siapa yg menginginkan situasi ini terjadi begini ? jawaban saya adalah ” NH dan pendukungnya”. — pentingkah kita keluar dari FIFA ? jawaban saya adalah penting untuk mengingatkan FIFA agar jgn bermain-main dikemudian hari kepada negara mana saja untuk melakukan standart ganda statuta FIFA

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 14:57:06

    BRAVO Bung Safrudin Siahaan!

    Terkena sanksi FIFA tidak masalah, hal ini bisa dimanfaatkan untuk konsolidasi ke dalam. Dan biarlah ini jadi pembelajaran buat FIFA kedepannya, amin

    Suka
  • 23 May 2011 15:21:39

    Btw, kalau mau dibenerin memang harusnya banned sekalian, bubarkan PSSI, bangun lagi dari nol biar bebas dari kuman 2x yg masih menempel. Hanya saja, sejak ricuh kongres saya rajin buka situs FIFA, blm ada kabar berita. Disinggung aja nggak . . .

    Feeling saya sih FIFA sendiri kebingungan, karena blundernya jaman NH dulu sekarang mau diperbaiki pun tak bisa karena kesalahan tsb dijadikan pedoman kalangan tertentu di sini. Sepertinya saking sakit hatinya, rakyat Indonesia tidak terlalu bisa melupakan dan tiap kali diungkit 2x lagi kenapa dulu begini begitu, dan kesalahan yg keterusan lama 2x jadi pembenaran . . .

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:08:03

    Suspensi FIFA

    Apa, mengapa dan bagaimana Federasi anggotanya bisa dijatuhi hukuman? (Seperti ditulis oleh: Jusak Soenarjo pada 22 Mei 2011 jam 11:58 di catatan Facebooknya)

    1. BOSNIA

    Federasi Sepakbola Bosnia-Herze-govina (FFBH/NSBiH) telah diberhen-tikan sementara oleh FIFA hingga pem-beritahuan selanjutnya. Keputusan ini dianggap perlu karena Kongres FFBH tidak mengadopsi statutanya sesuai dengan persyaratan FIFA dan UEFA. Eksekutif Komite FIFA pada tanggal 28 Oktober dan UEFA pada tanggal 4 Oktober 2010 telah meminta FFBH untuk mengadopsi statutanya sesuai dengan persyaratan minimum dari FIFA dan UEFA paling lambat pada tanggal 31 Maret 2111, atau FFBH akan secara langsung dan otomatis diberhentikan sementara.

    Kongres FFBH yang diselenggarakan di Sarajevo pada tanggal 29 Maret 2011 tidak mencapai korum yang diper-lukan untuk mendukung diadopsi-nya Statuta FFBH, karena hanya 22 dari 54 dari pemilik hak suara yang mendu-kung untuk mengadopsi Statuta FFBH. Konsekwensinya FFBH telah kehilang-an hak keanggotannya yang berlaku seketika hingga adanya pemberita-huan selanjutnya. Perwakilan dan klub FFBH tidak mempunyai hak lagi untuk ikut serta pada kompetisi internasional terhitung tanggal 1 April 2011 hingga diselesaikannya persoalan di atas. Hal ini juga berarti bahwa sejak tanggal 1 April 2011 tidak ada perwakilan atau oficial FFBH dapat berpartisipasi pada setiap pertandingan atau kegiatan internasional. FIFA dan UEFA sangat menyayangkan bahwa keputusan ini harus dilakukan dan akan segera me-lakukan pertemuan untuk membica-rakan langkah yang lanjutan yang di-perlukan untuk mengembalikan FFBH menjadi anggota komunitas sepakbola sesegera mungkin.

    2. ETHIOPIA

    FIFA Emergency Committee telah memutuskan untuk memberhentikan sementara Federasi Sepakbola Ethopia (EFF), karena EFF tidak memenuhi roadmap yang telah disetujui pada bulan Pebruari 2009 oleh FIFA, CAF dan AFF untuk mengembalikan EFF menjadi normal. Salah satu unsur uta-ma yang ditentukan di dalam roadmap adalah penyelenggaraan dari Kongres luar biasa untuk menyelesaikan ma-salah usul pemberhentian. Sebagai tambahan, kepengurusan EFF harus diserahkan kepada pemimpin yang diakui dari EFF. Meskipun telah diper-ingatkan beberapa kali yang dikirimkan FIFA di dalam beberapa bulan bela-kangan, tidak ada satu langkahpun yang ditentukan di dalam roadmap te-lah dilakukan. Pemberhentian semen-tara EFF dan konsekwensinya seba-gaimana ditentukan Pasal 14 ayat 3 Statuta FIFA berlaku pada hari ini, Selasa, 29 Juli 2008, hari dimana EFF telah secara resmi diberitahukan ten-tang pemberentian sementara.

    3. CHAD

    Mempertimbangkan situasi dewasa ini antara Sudan dan Chad, FIFA telah memutuskan untuk memberhentikan sementara dari pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia 2010 antara Sudan dan Chad, yang rencananya akan dilakukan pada tanggal 31 Mei 2008. Kasus ini akan disampaikan se-gera kepada Biro dari Organizing Com-mittee Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, yang akan menentukan keputusan final mengenai pertandingan dan setiap tin-dakan yang mungkin dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku bagi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

    FIFA Emergency Committee telah memutuskan untuk mencabut pember-hentian sementara yang dijatuhkan Komite Eksekutif FIFA terhadap Aso-siasi Sepakbola Chad (FTFA) pada tanggal 28 Maret 2008 karena campur tangan pemerintah di dalam urusan internal dari FTFA dan pada persepak-bolaan Chad (lihat http://en/. fifa.com/-aboutfifa/media). Emergency Commit-tee mencatat dengan memuaskan bahwa Menteri Olahraga Chad telah mengeluarkan keputusan menteri pada tanggal 3 Mei 2008 yang membatalkan keputusan menteri yang terdahulu yang mengakibatkan sanksi dari FIFA. Kare-na ketertiban statuta telah dipulih-kan pada FTFA dan badan-badan yang sah telah dikembalikan, FIFA Emergency Committee memutuskan untuk menca-but pemberhentian sementara atas Asosiasi Sepakbola Chad sejak hari ini, Rabu, 7 Mei 2008.

    4. IRAK

    Pada hari pertama pertemuannya di Sydney, Komite Eksekutif FIFA telah memutuskan untuk memberhentikan sementara Asosiasi Sepakbola Irak (IFA) sejak tanggal 26 Mei 2008, kare-na adanya keputusan pemerintah yang dilakukan pada tanggal 20 Mei yang membubarkan NOC Irak dan semua federasi olahraganya, termasuk IFA. Komite Eksekutif FIFA juga memutus-kan bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat 1 Statuta FIFA, kasus IFA akan disampaikan kepada Kongres FIFA pada tanggal 30 Mei untuk diber-hentikan sementara sampai Kongres 2009 FIFA, yaitu selama satu tahun. Akan tetapi, pemberhentian sementara yang diputuskan hari ini dapat diangkat apabila FIFA tanggal 29 Mei, tengah malam (waktu Sydney), 16.00h CET, konfirmasi tertulis dari Pemerintah Irak yang me-nyatakan keputusan itu telah dibatalkan.

    FIFA Emergency Committee hari ini, 20 November 2009 telah memutuskan untuk memberhentikan sementara IFA karena campurtangan pemerintah. FIFA mengetahui bahwa pada tanggal 16 November NOC Irak telah memba-talkan keanggotaan IFA dan aparat keamanan pemerintah telah mengam-bil alih kontrol kantor pusat IFA. Pada hari yang sama, FIFA telah memberi-tahukan kepada IFA bahwa apabila keputusan itu tidak dibatalkan di dalam waktu 72 jam dan apabila kantor pusat IFA tidak dikembalikan di dalam jangka waktu yang sama, kasus itu akan di-sampaikan kepada FIFA Emergency Committee. Tenggat waktu telah bera-khir tanpa pembatalan keputusan dari NOC Irak dan kantor pusat IFA tidak dikembalikan. FIFA Emergency Com-mittee karenanya telah memutuskan untuk seketika memberhentikan se-mentara IFA sampai keputusan NOC Irak dibatalkan dan kantor pusat IFA dikembalikan. Sesuai dengan keten-tuan Statuta FIFA, klub-klub dan tim perwakilan Irak tidak lagi diperbolehkan untuk ambil bagian pada pertandingan internasional, apakah kompetisi atau persahabatan. Lebih lanjut IFA diha-puskan haknya votingnya pada setiap kongres yang diselenggarakan oleh badan internasional dan tidak lagi berhak menerima bantuan keuangan. Akan tetapi FIFA Emergency Commit-tee telah menyetujui untuk memper-bolehkan tim perempuan Irak untuk mengambil bagian pada U-16 pestival sepakbola regional yang diselenggara-kan oleh Asosiasi Sepakbola Norwegia di Jordan pada tanggal 22-29 Novem-ber. Tindakan yang dilakukan oleh NOC Irak dan aparat keamanan tidak dapat diterima FIFA karena secata keseluruhan bertentangan dengan Sta-tuta IFA dan Statuta FIFA. Para ang-gota dari Komite Eksekutif IFA yang menjabat adalah satu-satunya yang diakui oleh FIFA, dan FIFA mengha-rapkan bahwa mereka secara cepat dipulihkan agar mereka dapat bekerja dengan persetujuan bahwa mereka akan melakukan perubahan atas sta-tuta dan menyelenggarakan pemilihan.

    FIFA Emergency Committee pada hari ini, Kamis, 29 Mei 2008, telah memu-tuskan untuk sementara dan bersyarat membatalkan pemberhentian semen-tara yang dikenakan terhadap Asosiasi Sepakbola Irak (IFA) pada tanggal 26 Mei dikarenakan adanya campur ta-ngan pemerintah setelah keputusan no. 184/2008 tertanggal 20 Mei telah mem-bubarkan badan yang berlaku dari Komite Olimpiade Nasional (NOC) Irak dan seluruh federasi olahraga nasional, termasuk IFA, serta membentuk suatu “komite interim” yang dipimpin oleh Menteri Olahraga. Sejak itu, keadaan berubah. Kemarin, tanggal 28 Mei 2008, FIFA menerima surat dari Sekre-tariat Jenderal Dewan Menteri Republik Irak, yang menyatakan bahwa IFA te-lah “dilepaskan” dari keputusan terse-but di atas, yang karenanya membuat kembali keputusan undang-undang atas asosiasi Irak dan para pemim-pinanya, yang akan “melanjutkan kegi-atan mereka dalam dan diluar negara Irak hingga pemilihan sah [dalam IFA]“. Surat ini merupakan langkah positif, tetapi tidak sepenuhnya menjawab se-mua masalah FIFA mengenai langkah pemerintah untuk mengendalikan fede-rasi Irak dan Komite Olimpiade Nasio-nal. Oleh karenanya, FIFA telah memutus-kan untuk menarik pemberhentian sementara yang dikenakan terhadap IFA, tetapi secara sementara dan ber-syarat, yang berarti bahwa FIFA:

    – dapat segera mengenakan kembali pemberhentian tersebut apabila Pasal 17 FIFA Statutes dilanggar kembali;

    – akan mengundang delegasi yang terdiri dari Konfederasi Sepakbola Asia Football Confederation (AFC), IFA dan perwakilan pemerintah Irak ke Zurich sesegera mungkin untuk menjelaskan seluruh masa-lah yang belum terselesaikan;

    – akan terus mengkoordinasi lang-kah-langkah yang telah diambilnya sehubungan dengan IFA, suatu badan yang merupakan anggota penting dari Komite Olimpiade Nasional Irak, dengan upaya yang diambil oleh IOC untuk menjamin bahwa Olympic Charter berlaku atas seluruh Olimpiade Irak dan gerakan olahraganya.

    5. CHAD

    FIFA Emergency Committee telah me-mutuskan memberhentikan semen-tara Asosiasi Sepakbola Chad (FTFA). Di dalam sejumlah keputusan tanggal 13, 14 dan 17 Maret 2008, Menteri Pemu-da dan Olahraga Chad membubarkan eksekutive komite dari FTFA dan mem-bentuk suatu komite dengan tugas “pempersiapkan Kongres FTFA” dan mengangkat para anggota dari badan itu. Keputusan ini adalah melanggar prinsip dari Statuta FIFA, khususnya Pasal 17, yang menjamin kemandirian dari asosiasi anggota FIFA. Dengan situasi yang sama, berdasar-kan ayat 2 dan 3 Pasal 17 itu, FIFA dapat tidak mengakui badan-badan yang diangkat yang melanggar ketentuan Pasal 17 ayat 1 (“Komite” yang disebutkan di atas) atau setiap keputusan yang di-buatnya, seperti organisasi pemilihan dan hasil-hasilnya, Pemberhentian sementara FTFA dan konsekwensinya sebagai-mana diatur pasal 14 ayat 3 Statuta FIFA berlaku sejak hari ini, Jumat, 28 Maret 2008.

    6. MALAGASI

    FIFA telah diberitahukan keputusan yang diambil oleh Mahkamah Agung Ma-dagaskar untuk menolak Asosiasi Sepakbola Malagasi (FMF) untuk me-nunda perintah kementerian yang membubarkan FMF. Sebagai akibat-nya, pemberhentian sementara terha-dap FMF dan tindakan-tindakan yang ditetapkan dalam Pasal 14.3 FIFA Sta-tutes telah berlaku hari ini, Rabu 19 Maret 2008, sebagaimana diputuskan oleh Komite Eksekutif FIFA pada tang-gal 14 Maret. Sebaliknya baik „delegasi khusus‟ Menteri Olahraga tidak ber-maksud membentuk maupun setiap keputusan badan ini tidak diambil pada akhirnya, akan dikenal oleh FIFA, sesu-ai dengan Pasal 17 ayat 2 dan 3 Sta-tuta yang sama.

    7. NIGERIA

    FIFA Emergency Committee memutus-kan hari ini tanggal 4 Oktober 2010, untuk memberhentikan Federasi Se-pakbola Nigeria (NFF) yang berlaku se-ketika atas dasar intervensi peme-rintah. Keputusan ini menyusul peristi-wa terakhir yang terkait dengan NFF, seperti tindakan pengadilan terhadap anggota Komite EKsekutif NFF yang dipilih, yang mencegah mereka melak-sanakan fungsi dan tugasnya, turunnya Sekretaris Jenderal NFF yang menja-bat atas instruksi Komisi Olahraga Nasional, keputusan Menteri Olahraga untuk memulai Liga Nigeria tanpa ada-nya relegasi dari musim sebelumnya, serta fakta bahwa Komite Eksekutif NFF tidak dapat bekerja sebagaimana layaknya dikarenakan adanya inter-vensi tersebut. Pemberhentian semen-tara tetap berlangsung hingga terhen-tinya tindakan dari pengadilan dan Komite Eksekutif NFF yang dipilih da-pat bekerja tanpa adanya intervensi. Selama masa pemberhentian semen-tara, NFF tidak akan dapat diwakili da-lam kompetisi wilayah, benua atau internasional, termasuk tingkatan klub, serta tidak juga dalam pertandingan persahabatan. Disamping itu, baik NFF maupun setiap anggota atau officialnya tidak dapat mengambil keuntungan dari program, kursus atau pelatihan pe-ngembangan dari FIFA atau CAF sementara federasi sedang diberhenti-kan. FIFA Emergency Committee memutuskan hari ini tanggal 8 Oktober 2010, untuk sementara mencabut pember-hentian sementara Federasi Sepakbola Nigeria (NFF). Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan situasi yang membaik dewasa ini, dengan pembanding menanggapi tindakan pengadilan kepada umum berjanji menarik kembali tuntutan bandingnya, Sekretaris Jenderal NFF yang menjabat kembali kepada kedudukannya pada tanggal 5 Oktober 2010 dan kasus Liga Nigeria diserahkan sepenuhnya ke tangan NFF. Pemberhentian semen-tara telah dicabut sementara hingga tanggal 26 Oktober 2010, setelah me-ngetahui bahwa sidang berikutnya di hadapan pengadilan dijadwalkan untuk tanggal 25 Oktober 2010 dan hanya pada saat itu hakim dapat membebas-kan perintah pengadilan. Namun, apa-bila NFF masih terikat pada putusan pengadilan atau perkara lain yang mencegahnya untuk melakukan apa-pun secara bebas pada tanggal terse-but, maka pemberhentian sementara dengan sendirinya dinyatakan hingga seluruh perkara telah diselesaikan sepenuhnya.

    8. SALVADOR

    FIFA Emergency Committee memutus-kan kemarin, 11 Mei 2010, untuk mem-berhentikan sementara Asosiasi Se-pakbola Salvador (FESFUT) dengan adanya campur tangan pemerintah. Keputusan oleh FIFA ini berdasarkan fakta bahwa statuta yang disahkan oleh sidang umum FESFUT pada bulan Agustus 2009 belum secara resmi dimasukkan dalam daftar resmi negara tersebut, dan bahwa pemerintah tidak mengakui wewenang dibentuknya Nor-malisation Committee untuk mewakiliFESFUT. Alhasil, FIFA berpendapat bahwa tidak mungkin bagi FESFUT untuk menyelenggarakan sidang umum pemilihan sejalan dengan rencana tindakan yang telah dibuat dan telah memberhentikan sementara FESFUT hingga pihak berwenang Salvador se-cara resmi menerima keabsahan Ko-mite Normalisasi yang dibentuk oleh FIFA dan menandatangani statuta baru yang ditentukan oleh sidang umum FESFUT pada bulan Agustus 2009.

    Apabila pihak berwenang Salvador tidak mempertimbangkan kedudukan mereka pada siang hari (GMT) tanggal 8 Juni 2010, Komite Eksekutif FIFA akan mengajukan kepada Kongres FIFA bahwa FESFUT dikenakan pem-berhentian sementara. Apabila Kong-res menerima pengajuan ini, maka mungkin bagi FIFA untuk membatalkan pemberhentian sementara tersebut hingga Kongres FIFA selanjutnya pada bulan Juni 2011. Selanjutnya, selama masa pemberhentian sementara, FES-FUT tidak dapat diwakilkan dalam seti-ap pertandingan wilayah atau interna-sional. Sebagai contoh, tiga wasit yang dipilih bagi Piala Dunia FIFA tahun 2010 di Afrika Selatan tidak dapat ber-partisipasi dalam kompetisi ini apabila FESFUT tetap diberhentikan semen-tara. Walaupun bersifat seriusnya situ-asi ini, Komite Eksekutif FIFA telah me-nunjukkan dukungan bagi Komite Nor-malisasi FESFUT, pihak berwenang yang terakhir yang diterima oleh FIFA.

    Dikarenakan dua ketentuan yang diatur oleh FIFA telah dipenuhi, maka FIFA Emergency Committee hari ini tanggal 27 Mei 2010 mencabut pemberhentian sementara Asosiasi Sepakbola Salva-dor (FESFUT) yang berlaku seketika. Setelah adanya penolakan dari pihak berwenang Salvador untuk mengakui keabsahan Normalisation Committee yang diberlakukan oleh FIFA dan ke-mudian mendaftarkan statuta FESFUT yang baru, maka FIFA Emergency Committee telah memutuskan pada tanggal 10 Mei 2010 untuk member-hentikan sementara FESFUT yang ber-laku seketika hingga pihak berwenang secara resmi menerima keabsahan Normalisation Committee dan mendaf-tarkan statuta FESFUT yang baru. Pada tanggal 17 Mei 2010, Parlemen Salvador mengeluarkan keputusan untuk mengubah undang-undang yang berlaku bagi pihak berwenang untuk memenuhi permintaan FIFA. Pada tanggal 20 Mei 2010, Normalisation Committee FESFUT kemudia secara resmi mengakui dan statuta yang baru didaftarkan oleh Ministerio de Gober-nación (menteri dalam negeri).

    9. PERU

    FIFA telah memberhentikan sementara Asosiasi Sepakbola Peru (FPF) yang berlaku seketika sejak tanggal 25 No-vember, sesuai dengan Pasal 14 Sta-tuta FIFA dan menjatuhkan sanksi yang diatur dalam ayat 3 Pasal terse-but, yaitu pemberhentian sementara seluruh hubungan keolahragaan inter-nasional bagi klub, tim nasional, wasit dan officialnya.

    Dalam sidangnya tertanggal 23 dan 24 Oktober, Komite Eksekutif FIFA memu-tuskan untuk memberikan kesempatan kepada asosiasi sepakbola Peru (FPF) hingga 21 November untuk mengkon-firmasi kepada FIFA dan CONMEBOL bahwa asosiasi telah memberlakukan kembali keputusannya sesuai dengan undang-undang keolahragaan interna-sional dan prinsip FIFA. FPF tidak da-pat melakukan hal tersebut, namun, walaupun jangka waktu diperpanjang hingga dua hari karena libur nasional setempat. FIFA menyesali bahwa ba-dan keolahragaan pemerintah Peru tidak pernah menanggapi sejumlah undangan untuk melakukan pembi-caraan yang telah diperpanjang oleh FIFA, CONMEBOL dan the FPF de-ngan itikad baik hingga lebih daripada dua tahun untuk mencapai solusi konstruktif bagi persepakbolaan Peru. FIFA berharap melakukan penjelasan bahwa FPF hanya akan diizinkan untuk kembali ke dunia dan komunitas perse-pakbolaan Amerika Selatan dengan adanya perundingan dengan Presiden dan Badan dari FPF yang dipilih pada bulan Oktober 2007. Pemberhentian sementara atas FPF akan dibicarakan dalam sidang Komite Eksekutif FIFA selanjutnya, yang dijadwalkan pada tanggal 19 dan 20 Desember di Tokyo, Jepang.

    10. ALBANIA

    FIFA Emergency Committee telah me-mutuskan mencabut pemberhentian sementara yang dikenakan oleh Komite Eksekutif FIFA terhadap Asosiasi Se-pakbola Albania (FSHF) pada tanggal 14 Maret 2008 setelah adanya inter-vensi dari pemerintah dalam urusan internal FSHF dan persebakbolaan Albania (lihat http://en.fifa.com/ aboutfifa/media) Setelah melewati pembicaraan yang melibatkan FIFA, UEFA, FSHF dan pihak berwenang Albania, statuta baru FSHF akhirnya ditandatangani oleh Menteri Olahraga Albania, Ylli Pango, dan mendaftarkan-nya secara layak pada pengadilan Albania setelah Menteri Olahraga Alba-nia menghentikan proses hukum yang diambilnya. Selanjutnya, kelompok ker-ja empat pihak yang terdiri dari FIFA, UEFA, FSHF dan Kementrian Olahraga kemudian dibentuk. Sehubungan de-ngan fakta ini dan setelah mengkon-sultasikan dengan UEFA, FIFA memu-tuskan untuk mencabut pemberhentian sementara terhadap Asosiasi Sepak-bola Albania pada hari ini, Selasa 29 April 2008.

    11. KUWAIT

    Hari ini tanggal 9 November 2007, FIFA Emergency Committee mem-batalkan secara bersyarat pemberhen-tian sementara yang dikenakan terha-dap Asosiasi Sepakbola Kuwait (KFA) oleh Komite Eksekutif FIFA pada tang-gal 29 Oktober 2007 (lihat peluncuran media disebelah kanan). Pada tanggal 4 November 2007, sidang umum luar biasa KFA menyatakan bahwa penun-jukan dewan direksi pada tanggal 9 Oktober 2007 batal demi hukum. Juga telah sepenuhnya dibentuk kembali komite transisi yang telah dibentuk FIFA pada tanggal 12 Maret 2007. Selanjutnya, KFA setuju untuk menge-sahkan statuta baru yang disetujui oleh FIFA pada tanggal 26 November 2007. Persetujuan ini kemudian termasuk keputusan yang diberikan oleh Komite Eksekutif FIFA pada tanggal 27 Mei 2007, yang menetapkan bahwa dewan direksi harus terdiri dari lima anggota, yaitu ketua, wakil ketua dan tiga perwa-kilan lainnya. Akhirnya, KFA telah ber-janji mengadakan pemilihan baru bagi dewan direksinya, sejalan dengan sta-tuta baru dan keputusan FIFA. Sehu-bungan dengan adanya tanggapan baik atas situasi ini, FIFA Emergency Committee memutuskan, atas usul Presiden FIFA dan menurut kesepa-katan dengan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC), bahwa Emergency Com-mittee akan membatalkan pemberhen-tian sementara yang dikenakan terha-dap KFA. Tetapi, keputusan ini bersifat bersyarat atas komitmen yang dibuat oleh KFA yang berlaku seluruhnya, sebaliknya FIFA akan segera member-hentikan sementara KFA kembali.

    12. KENYA

    FIFA Emergency Committee pada hari ini (Jumat, 9 Maret 2007) memutuskan untuk melakukan pencabutan bersyarat atas pemberhentian sementara yang dikenakan terhadap Federasi Sepak-bola Kenya (KFF) pada tanggal 24 Oktober 2006. Keputusan ini yang merupakan rekomendasi dari Konfe-derasi Sepakbola Afrika (CAF) dan di-minta oleh ketua ad interim KFF, Moha-med Hatimy, menjadi mungkin dengan adanya perkembangan positif yang baru dilakukan, khususnya dengan kunjungan ke Nairobi oleh delegasi CAF.

    Delegasi ini, yang terdiri dari dua ang-gota Komite Eksekutif CAF, Dr Amos Adamu (Nigeria), yang juga merupakan anggota Komite Eksekutif FIFA, dan Celestin Musabyimana (Rwanda), yang menjamin hal-hal sebagai berikut:

    – pernyataan dari menteri olahraga untuk selanjutnya tidak mencam-puri lebih lanjutnya berjalannya KFF;

    – menghargai perjanjian yang di-capai dengan FIFA (khususnya, perjanjian yang ditandatangani di Kairo pada bulan Januari 2006), serta dipenuhinya Statuta dan prinsip FIFA;

    – pembubaran segera atas normali-zation committee yang dibentuk oleh menteri olahraga dan jaminan bahwa KFF akan dijalankan de-ngan struktur yang diterima oleh FIFA dan diketuai secara ad inte-rim oleh Mohamed Hatimy;

    – penarikan proses hukum apapun.

    Delegasi FIFA akan mengunjungi Nairobi dari tanggal 14 hingga 16 Maret 2007 dengan maksud untuk melak-sanakan agenda bagi diluncurkannya kembali sepakbola Kenya yang akan berdasarkan hal-hal tersebut berikut: penyelesaian kantor pusat KFF dan pu-sat teknis sebagai bagian dari proyek Gol, pengenalan sistem manajemen keuangan transparan, pemilihan tem-pat bagi lapangan buatan dan pembi-caraan dengan KFF menyangkut pro-gram untuk mendukung Liga Primer Kenya (KPL) berdasarkan kesepakatan yang dicapai sebelum musim 2005-06 tentang pengurangan jumlah tim yang berpartisipasi hingga menjadi 18 orang dan prinsip promosi dan relegasi. Dua hal tersebut terakhir akan diajukan sebagai bagian dari Win in Africa atas inisiatif Afrika. FIFA kemudian akan mengajukan agenda bagi normalisasi sepakbola Kenya, yang termasuk me-nyelenggarakan sidang umum dan perubahan statuta KFF sesuai dengan instruksi yang dikirimkan kepada 207 asosiasi anggota FIFA.

    Sebagai kesimpulan, FIFA Emergency Committee telah memberhentikan se-mentara KFF pada tanggal 24 Oktober 2006 akibat adanya intervensi dari pemerintah secara berulang dalam ma-salah persepakbolaan setempat serta tidak dipenuhinya kesepakatan yang dicapai dengan FIFA di Kairo dan prin-sip keolahragaan mendasar seperti integritas dan prinsip promosi dan rele-gasi. Pemberhentian sementara telah ditegaskan dalam sidang Komite Ekse-kutif di Zurich pada tanggal 5 dan 6 Desember 2006.

    Pada sidang di Zurich hari ini (Jumat, 6 Agustus), FIFA Emergency Committee sementara membatalkan pemberhen-tian sementara yang dikenakan terha-dap Federasi Sepakbola Kenya pada tanggal 2 Juni 2004. Selain itu, komite juga menyetujui pembentukan struktur organisasi operasional khusus Piala Dunia FIFA tahun 2010 di Afrika Se-latan. Sehubungan dengan Undang-undang Anti Doping Sedunia (World Anti-Doping Code), anggota secara kategori menekankan bahwa UU terse-but hanya akan diberlakukan berda-sarkan deklarasi yang dibuat di Kong-res FIFA di Paris oleh ketua WADA, Richard W. Pound. Setelah mende-ngarkan laporan dari pengurus FIFA, Emergency Committee sementara membatalkan pemberhentian semen-tara yang dikenakan terhadap Federasi Sepakbola Kenya, karena Normalisa-tion Committee yang dipimpin oleh Kipchoge Keino, Ketua Komite Olim-piade Nasional Kenya, telah memenuhi seluruh ketentuan yang diperlukan. Selama dua kali perundingan meja bundar dengan perwakilan dari sepak-bola Kenya dan Pemerintah Kenya, telah disepakati abwah akan melaku-kan kembali kegiatannya, klub pem-bangkang akan bergabung kembali kedalam liga resmi dan statuta KFF akan diubah kembali. Karena pember-hentian sementara tidak lagi berlaku, tiga putaran pertandingan awal Piala Dunia FIFA tahun 2006 yang tertunda di Kelompok Afrika 5 (Guinea, Maroko dan Tunisia) kini dapat dibentuk kemBALI.

    Menghadapi Piala Dunia FIFA tahun 2010 di Afrika Selatan, Emergency Committee menyepakati bahwa FIFA, yang kini mempunyai peranan lebih penting daripada pada pertandingan sebelumnya, harus tidak hanya men-jamin bertukarnya pengetahuan, tetapi juga menetapkan keberadaaannya di negara tuan rumah. Dengan pemikiran seperti ini, FIFA memiliki mitra, MATCH AG, untuk menggabungkan pengetahu-an di wilayah kunci dalam hal mana-jemen, akomodasi, penjualan tiket dan masalah TI. Sebagai awalnya, FIFA akan mendirikan kantor di Afrika Selatan pada awal tahun 2005, sebe-lum menentukan sumber daya selan-jutnya kepada negara tuan rumah setelah Piala Dunia FIFA tahun 2006 telah selesai.

    Sehubungan dengan World Anti-Doping Code, anggota Emergency Committee menyatakan kekecewaan mereka terhadap fakta bahwa walau-pun adanya deklarasi tertentangan de-ngan yang dikirimkan oleh ketua WA-DA Richard Pound kepada Kongres FIFA di Paris pada tanggal 21 Mei, WADA tetap memaksa penerimaan ti-dak bersyarat atas UU tersebut. Dalam Kongres di ibukota Perancis itu, yang juga dihadiri oleh Presiden IOC, Jac-ques Rogge, Pound telah menegas-kan bahwa WADA akan sepenuhnya menghargai seluruh masalah khusus FIFA, termasuk manajemen dan flek-sibilitas perkara perorangan bilamana dikenakan sanksi. Sebaliknya, WADA diberikan hak untuk mengajukan ban-ding ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga (CAS) di Lausanne dan disepakati bah-wa segala perubahan selanjutnya ter-hadap UU tersebut dilakukan dengan membicarakannya dengan federasi olahraga. Sebagai hasil dari deklarasi ini, FIFA secara resmi menyetujui World Anti-Doping Code pada tanggal 2 Juli. Tetapi, dalam surat tertanggal 20 Juli, WADA menekankan bahwa FIFA menerima UU ini sepenuhnya, tanpa termasuk konsesi yang dibuat di Paris. Namun bagaimanapun, FIFA tetap pa-da pendiriannya dengan deklarasi yang disepakati di Paris.

    KEPUTUSAN SELANJUTNYA

    – Kongres Biasa FIFA ke 55 akan diselenggarakan di Zurich dalam kurun waktu tanggal 25 hingga tanggal 29 Oktober 2005.

    – Sesuai dengan Peraturan Pertan-dingan tahun 2004, yang menya-takan bahwa pertandingan sepak-bola dapat dimainkan di atas la-pangan buatan, dengan ketenutan bahwa hal ini diatur dalam masing-masing peraturan pertandingan, peraturan bagi Piala Dunia FIFA tahun 2006 juga telah diubah. Sebagai akibatnya, permainan da-lam pertandingan awal kini dapat dimainkan di lapangan buatan yang memenuhi persyaratan Konsep Kualitas FIFA bagi keadaan terse-but. Namun, untuk menjamin bah-wa tim tidak mendapat kesulitan, pengajuan untuk bermain pada lapangan buatan harus dilakukan kepada FIFA sekurangnya dua bu-lan sebelum pertandingan termak-sud dimulai. Disamping itu, sebagai bagian proses “aklimatisasi”, tim jauh tersebut juga akan mempunya hak atas sekurangnya dua sesi latihan penuh diatas lapangan. Emergency Committee menekan-kan bahwa pertandingan pada kompetitsi final Piala Dunia FIFA hanya dapat dimainkan pada la-pangan rumput asli.

    – – Pada sidangnya tanggal 5-6 Okto-ber 2004, Komite Studi Strategi FIFA akan menangani lima masa-lah utama, dengan secara khusus memfokuskan pada kalender per-tandingan internasional yang ter-koordinasi.

    – Dalam hal lain, FIFA Emergency Committee mensahkan keputusan yang dicapai oleh Organizing Com-mittee bagi FIFA Confederations Cup, dan menyatakan bahwa Argentina, yang telah memperolah posisi kedua di Copa America baru-baru ini, akan menyelesaikan urutan tim yang berpartisipasi di Jerman tahun depan. Tim-tim lain adalah Jerman (sebagai tuan ru-mah), Brazil (sebagai juara dunia), Tunisia (sebagai juara Afrika), Yu-nani (sebagai juara Eropa), Mexico (sebagai pemernang CONCACAF Gold Cup), Jepang/RRC (sebagai pemenang Asian Cup; akan ber-main di final pada tanggal 7 Agus-tus) dan baik Australia atau Solo-mon Islands (sebagai pemenang OFC Nations Cup; yang akan ber-main di final pada tanggal 13 Okto-ber).

    – Akhirnya, FIFA Emergency Com-mittee juga menyatakan perkara klub Paraguay Olimpia Asunción, dan memutuskan untuk mengaju-kan perkara tersebut kepada Komi-te Disiplin untuk tindakan selan-jutnya. Emergency Commit-tee, yang sebelum sidang hari ini hanya menyatakan via korespondensi da-lam siklus empat tahun terakhir,memenuhi susunan berikut sekitar dua setengah jam yang dipimpin oleh Joseph S. Blatter: Lennart Johansson (wakil ketua, UEFA), Issa Hayatou (wakil ketua, CAF), Jack Austin Warner (wakil ketua, CONCACAF), Ricardo Terra Tei-xeira (anggota, CONMEBOL, me-wakili Dr Nicolas Leoz) dan ‘Ahongalu Fusimalohi (anggota, OFC). Tidak ada perwakilan dari Asia di Zurich dengan berjalannya Asian Cup. Komite juga mengada-kan pengheningan cipta atas korban-korban kebakaran dalam pusat perbelanjaan di Asunción dan atas official sepakbola Nigeria Patrick Okpomo.

    13. IRAN

    FIFA secara resmi menginformasikan Federasi Sepakbola Iran IR (IRIFF) kemarin (19 Desember 2006) bahwa pemberhentian sementara yang di-kenakan terhadap federasi tanggal 23 November 2006 telah dibatalkan. Oleh karena itu, IRIFF dan klubnya, wasit, official dsb dapat berpartisipasi dalam seluruh kegiatan dan kompetisi sepak-bola internasional yang segera berlaku. FIFA Emergency Committee, yang ter-diri dari Presiden FIFA dan satu wakil masing-masing enam konfederasi, mengambil keputusan untuk memba-talkan pembekuan pada tanggal 18 Desember sebagai hasil dari rangkai-an perundingan kerja sama antara FIFA, Konfederasi Sepakbola Asia (AFC), IRIFF dan Organisasi Pendi-dikan Fisik (PEO) dari Republik Islam Iran. Perundingan dihasilkan dengan dibentuknya Dewan Transisi (’Haiet Raiseh Enteghali’ di Farsi) dari IRIFF, yang secara bersama-sama diakui oleh FIFA dan PEO, dengan tugas-tugas sebagai berikut:

    o Kepengurusan sepakbola Iran ting-kat nasional dan internasional;

    o Pembuatan dan pengesahan statuta baru IRIFF berdasarkan FIFA Stan-dard Statutes;

    o Pelaksanaan pemilihan bagi kepe-mimpinan IRIFF dimasa menda-tang, berdasarkan statuta baru dan atas dukungan dari FIFA dan AFC.

    Dewan Transisi terdiri dari Mr Mohsen Safaei Farahani sebagai ketua, Mr Qumars Hashemi sebagai wakil ketua dan Mr Mohammad Hassan Ansarifar, Dr Hassan Ghafiri, Dr Mohammad Khabiri and Mr Ali Reghbati sebagai anggota (disusun sesuai dengan abjad bahasa Inggris). Direncanakan bahwa seluruh proses transisi akan disele-saikan pada tanggal 31 Maret 2007. Dengan komitmen ini, IRIFF kini bera-da dalam posisi untuk menormalisa-sikan struktur dan statutanya berdasar-kan peraturan FIFA dan AFC. Perkem-bangan ini menandai bahwa kepriha-tinan yang diajukan oleh FIFA, yang menyebabkan pemberhentian semen-tara terhadap IRIFF, telah dicabut.

    14. YUNANI

    FIFA Emergency Committee memutuskan hari ini (12 Juli 2006) untuk membatalkan pemberhentian sementara terhadap Federasi Sepakbola Hellenic (HFF) setelah menerima konfir-masi bahwa Parlemen Yunani telah menyetujui suatu perubahan terhadap legislasi nasional yang berkaitan de-ngan keolahragaan untuk disesuaikan dengan ketentuan FIFA Statutes dan peraturan UEFA terkait. Emergency Committee telah memberhentikan se-mentara HFF pada tanggal 3 Juli 2006 setelah menetapkan bahwa situasi federasi Yunani tidak memenuhi prin-sip-prinsip FIFA Statutes mengenai independensi asosiasi sepakbola dan tata cara pengambilan keputusan me-reka. Perundingan selanjutnya diada-kan antara FIFA dan HFF, serta antara tersebut terakhir dan pihak pemerintah Yunani. Sebagai akibatnya, Parlemen Yunani mengambil suara pada tanggal 11-12 Juli malam untuk mengajukan perubahan berikut kepada legislasi nasional mengenai keolahragaan:

    “Secara khusus, untuk olahraga sepakbola, seluruh pihak fungsional dan penyelenggaraan olahraga, Fede-rasi Sepakbola Hellenic dan para ang-gotanya diatur sendiri oleh HFF dan badan-badannya, sesuai dengan statu-ta dan peraturannya, serta yang diten-tukan oleh Union des Associations Européennes de Football (UEFA) dan Fédération Internationale de Football Association (FIFA), bahkan apabila peraturan berbeda diatur dalam undang-undang 2725/1999, karena berlaku dalam legislasi atletik. Dalam hal audit subsidi yang diterima oleh HFF dari negara, maka kendali lega-litas, tata tertib dan keselamatan umum menjadi wewenang eksklusif negara.” Sehubungan dengan perubahan ini, FIFA Emergency Committee mengang-gap bahwa HFF kini berada dalam po-sisi untuk menghargai statuta dan peraturan FIFA dan juga UEFA. Seba-gai akibatnya, pemberhentian semen-tara yang dikenakan sebelumnya ter-hadap Federasi Sepakbola Hellenic telah dicabut sejak hari ini.

    15. YAMAN

    Pemberhentian sementara yang dikenakan terhadap Asosiasi Sepakbola Yaman (Y.F.F.) pada tanggal 12 Agus-tus telah sementara dicabut. FIFA Emergency Committee memberikan keputusan ini awal minggu ini melalui korespondensi. Keputusan mereka ber-dasarkan laporan yang diajukan oleh Mohamed bin Hammam, anggota Ko-mite Eksekutif FIFA dan Presiden Kon-federasi Sepakbola Asia (AFC), setelah mengunjungi Yaman pertengahan bu-lan September. Sebagai hasil keputus-an ini, Y.F.F. kembali berhak berparti-sipasi dalam pertandingan-pertanding-an FIFA dan seluruh bentuk kerja sama dapat diadakan kembali. Dalam men-capai keputusan mereka, Emergency Committee mempertimbangkan berda-sarkan fakta bahwa pihak politis Ya-man, yang dipimin oleh Menteri Pemu-da dan Olahraga, telah memberikan dukungan merkea dan persetujuan tertulis mereka terhadap seluruh upaya yang diperlukan, dimana paling penting termasuk dibentuknya normalization committee, penyelesaian dan penyesuaian statuta revisi di kongres luar biasa Y.F.F., serta pemilihan presiden dan komite eksekutif selambatnya tanggal 28 Februari 2006. Namun, pemberhentian sementara akan dike-nakan kembali apabila Y.F.F. tidak da-pat memenuhi agenda ini. FIFA Emer-gency Committee telah mengenakan pemberhentian sementara dengan sejumlah pengajuan yang tidak berhasil dari FIFA dan AFC untuk Kementrian Pemuda dan Olahraga Yaman untuk mematuhi prinsip dasar independensi, demokrasi dan proses hukum FIFA bagi asosiasi anggotanya.

    16. AZERBAIJAN

    FIFA Emergency Committee telah mencabut pemberhentian sementara terhadap Asosiasi Federasi Sepakbola Azerbaijan (AFFA), yang telah dikena-kan pada tanggal 15 April 2003. Kepu-tusan ini, yang tercapai atas kerjasa-ma dengan UEFA, dibuat setelah pene-muan positif dari kunjungan ke Baku pada tanggal 14 Mei oleh delegasi ga-bungan FIFA/UEFA untuk mengadakan per-temuan dengan Komite Eksekutif AFFA, klub divisi pertama negara ter-sebut, dan Kementrian Olahraga, Pe-muda dan Pariwista Azerbaidjan. Sela-ma pertemuan ini, seluruh pihak yang hadir sepakat untuk mematuhi keten-tuan-ketentuan perjanjian yang mereka tandatangani di Zurich pada tanggal 20 September 2002. Komitmen ini segera menghasilkan sejumlah perkembang-an, termasuk diadakannya kembali ke-juaraan nasional pada tanggal 17 Mei 2003, yang merupakan salah satu pa-sal kunci dari perjanjian Zurich. Segala penyimpangan ketentuan Perjanjian ini dapat menyebabkan diberlakukan kem-bali pemberhentian sementara.

    17. TAJIKISTAN

    Setelah mempelajari laporan yang disampaikan oleh anggota dari delegasi FIFA/AFC yang menghadiri Kongres Federasi Nasional Sepakbola Tajikistan pada tanggal 5 Oktober 2002, FIFA Emergency Committee telah memutuskan hari ini untuk mengangkat pemberhentian sementara yang dijatuhkan kepada federasi pada tanggal 8 Agustus 2002. Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada presiden yang baru dari federasi, Jenderal Sukhrob Kosimov, Presiden FIFA Joseph S. Blatter menulis, “Kami mengucapkan selamat kepada Anda dan para anggota dari eksekutif komite Anda atas terpilihnya dan kami yakin bahwa anda akan mengambil setiap semua langkah yang perlu demi kemajuan sepakbola di Tajikistan. Dalam hal ini, kami akan sangat bergembira untuk membantu anda dalam kerangka yang berhu-bungan dengan sejumlah program kami.

    KESIMPULAN

    Dari sejumlah Negara di atas yang pernah alami sanksi FIFA maka penyebab jatuhnya hukuman ini karena:

    (1) PELANGGARAN STATUTA

    (2) INTERVENSI PEMERINTAH

    Artinya, jika FIFA konsisten jalankan amanat Statuta-nya, mestinya PSSI sudah dijatuhi sanksi FIFA ketika Nurdin Halid dengan status terpidana tetap memimpin PSSI. Standar ganda ini yang harus dijelaskan kepada public. Jangan berpangku tangan dan menerima begitu saja argumentasi tanpa tahu dasar penerapan hukuman dan mekanismenya.

    Suka
  • 23 May 2011 16:08:07

    hihi tahu ngak mabak sanksi FIFA itu seperti apa? pasti ngak tahu ya… atau ada kali teman teman yang lain yang ngerti banget tentang FIFA dan sanksi yang diberikan kepada negara negara yang pernah dapat sanksi biar mbak ini yang suaminya TNI bisa baca….salam.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:13:02

    hahhahaha….maaf suami saya bukan TNI Bung! Itu diatas sudah saya jelaskan negara mana saja yang pernah kena sanksi FIFA beserta alasannya. Salam kembali!

    Suka
  • 23 May 2011 16:44:33

    saya termasuk penggemar LPI ..kebetulan saya sudah 10 tahun tidak mengikuti perkembangan sepakbola indonesia maklum jujur saja saya malu dengan kualitas sepakbola apalagi di bawah nurdin yang namanya liga super indonesia..selain tidak profesional ternyata masih mengandalkan dana pemerintah..saya 100 % menyukai konsep LPI sangat bagus untuk era sepakbola industri..saya rasa LPI adalah patut di acungi jempol walaupun belum ada hasilnya tapi kita sudah berani maju 10 langkah ke depan..tak sia sia saya mengikuti LPI hanya melalui streaming online mengingatkan saya akan liga primer spanyol…maju terus LPI

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 20:26:50

    Maju terus persepak bolaan Indonesia!!

    Suka
  • 23 May 2011 15:38:00

    http://bola.vivanews.com/news/read/210133-daftar-8-negara-yang-terkena-sanksi-fifa
    kesimpulan diatas;
    1. krn intervensi pemerintah
    2. krn politisasi
    3. perseteruan federasi dgn pemerintah
    4. tidak mengindahkan peraturan FIFA
    dan dari itu semua terlihat waktu / lamanya di kenai sanksi. — waktu dr sanksi itu tidaklah lama — jika bangsa ini bersatu melawan FIFA, terkonsolidasi pecinta sepak bola melawan FIFA maka hasilnya jika di BAN — justru Pecinta bola negeri ini melakukan PROPAGANDA DIDUNIA INTERNASIONAL ATAS PERILAKU FIFA —

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 15:58:31

    Iya bener Bung< Artinya, jika FIFA konsisten jalankan amanat Statuta-nya, mestinya PSSI sudah dijatuhi sanksi FIFA ketika Nurdin Halid dengan status terpidana tetap memimpin PSSI. Standar ganda ini yang harus dijelaskan kepada public. Jangan berpangku tangan dan menerima begitu saja argumentasi tanpa tahu dasar penerapan hukuman dan mekanismenya.

    Suka
  • 23 May 2011 16:15:48

    Yang saya ngerti bahwa Inggris, Jerman, Italia, Brasil, Argentina, Perancis, spanyol adalah sekian dari sekian banyak negara negara yang sepakbolanya banyak jadi panutan para pesepakbola tanah air dan mereka tunduk serta patuh pada aturan FIFA . Prestasi mereka pun ok okehhhh….. aha lalu Indonesia? hehe prestasi enggak…. jadi badut aja diduluin…. lucu. salam.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:57:52

    Itu hebatnya Indonesia, politisasi dimana-mana bahkan sepak bola pun bisa jadi ajang politik. Barangkali anda juga harus melihat faktor ini Bung Nata, jadi tidak ngasal…sampai mengira saya bagian dari kelompok 78 dan bahkan mengira suami saya militer, bukan sama sekali. Hanya berupaya mendudukkan pada proporsinya, dan ini opini. Kira-kira begini lanjutan skenarionya:

    Skenario selanjutnya, ini yang perlu kita waspadai. Komplotan statusquo yang didalangi oleh sebuah partai besar, kali ini mulai menggiring opini publik lewat media-media yang dimilikinya untuk memusuhi K78 yang berniat menghilangkan segala kekotoran yang ada dalam tubuh PSSI. K78 yang semula berniat untuk merevolusi PSSI seperti yang didengungkan banyak pihak, dan mencegah agar akar-akar dari komplotan Nurdin tidak kembali merajai PSSI, kini malah diputarbalikkan faktanya menjadi sebuah kelompok yang perusak, sok reformis, dan terkesan perusuh serta pemecah belah sepakbola nasional. Penggiringan opini publik ini tampaknya akan menuju ke sebuah keberhasilan di mana saat ini banyak tokoh mulai simpatik ke salah satu televisi yang dimiliki salah satu orang yang mencalonkan diri maju ke Pilpres 2014. Dalam waktu tidak sampai setengah tahun, masyarakat kini mulai diajak untuk memusuhi K78, menjadikannya sebagai public enemy, memusuhi Arifin Panigoro dan George Toisutta yang pernah jadi orang yang membuka pintu masuk kepada kita untuk merevolusi PSSI dengan dalih tidak legowo, terlalu ambisius, dan lain-lain.
    Sungguh terlalu. Di saat banyak orang tertidur, terbuai dalam mimpi-mimpi rezim Nurdin Halid, orang yang berusaha mendobrak tradisi buruk era Nurdin sekarang justru dimusuhi oleh masyarakat luas dan dijadikan sebagai musuh bersama seperti seorang teroris, dan selalu dikaitkan dengan yang namanya sanksi. Ya, sanksi. Sebuah pernyataan tanpa data yang asal njeplak. Mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, tuduhan sanksi itu bagi saya sama sekali tidak mendasar karena tidak ada sama sekali pasal Statuta FIFA maupun Electoral Code FIFA yang dilanggar Indonesia.

    No hurt feeling ya Bro,Salam Damai Pecinta PSSI!

    Suka
  • 23 May 2011 16:24:15

    Ethiopia sama Salvador kayaknya kasusnya mirip sama kita yah ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:47:24

    dari sekian banyak sanksi FIFA yang di jatuhi dari puluhan negara adalah karena intervensi pemerintah dan pelanggaran statuta …kalau indonesia STATUTA mana yang di langgar ? dari 2007 sudah terjadi pelanggaran STATUTA belum pernah kita mencicipi sanksi FIFA…sebuah misteri bukan ? hanya orang bodoh yang tidak tau jawabnnya

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 16:58:34

    Ermmm … tanya dong … Kalo kena sanksi FIFA, Indonesia tetap boleh siarin Liga Inggris, Piala Champion, UEFA, dan Piala Dunia gak seh ?

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 19:58:14

    @Marveen: hahaha…tak perlu takut sama sanksi Bung! sanksi bisa berupa penyelenggaraan konggres kembali, bisa disuspense sehari dua hari…dll. Soal nonto dan menayangkan sy pikir ngga masalah.Intinya kita tak boleh takut sama sanksi daripada kita menjadi kontra produktif dengan perspak bolaan sendiri. Bersikeras melarang George Toisutta atau kelompok 78 akan menimbulkan masalah berkepanjangan, dan biaya politik yang dikeluarkan akan sangat banyak. Sekali lagi, biarkan kelompok mayoritas memimpin, baru kita lihat kinerjanya. OK

    Hidup Persepak Bolaan Indonesia!

    Suka
  • 23 May 2011 17:53:40

    CMIIW & IMHO, setiap organisasi punya aturan: AD/ART, statuta atau apa lah
    namanya. Ini lebih tinggi dari semua keputusan ketua umum, sekjen, atau
    rapat-rapat komite eksekutif dst. Kalau ada sengketa, yang dipegang AD/ART atau
    statuta itu. Pastinya ini universal, bukan cuma di Indonesia. Orang-orang yang
    aktif berorganisasi pasti tau ini.
    Masalah kongres PSSI kemarin muncul ketika wakil FIFA nggak pakai 1 pasal pun
    dari statuta FIFA untuk penjelasannya, ya jelas lah ada anggota PSSI sampai
    ngomong ‘memalukan’. Memang dia dewa-nya organisasi sampai boleh ngomong
    seenaknya tanpa dasar? Wong dasarnya suatu organisasi itu aturan dasarnya.
    Ditambah lagi Pak Agum koq ya mantan ketum PSSI nggak mengerti aturan PSSI
    (kecuali ada tujuan/maksud lain).
    Biar dia ketua KN, ingat itu kongres PSSI yang pakai aturan PSSI yang mengacu ke
    statuta FIFA. Masa dia nggak tau kalau voting yang nggak memilih orang harus
    terbuka? Jelas lah saya saja kalau ada rapat macam ini bakal minta diganti
    pimpinan sidangnya karena ngaco.
    Orang nggak mungkin bisa adil kalau ada beban atau titipan, ini yang saya lihat
    dari Pak Agum. K-78 menurut saya kesalahannya terlalu emosi & nafsu. Ahmad
    Riyadh dkk dari komisi banding yang baru lebih ‘mantap’ karena dia bisa
    memberikan dasar keputusannya sesuai aturan organisasi, sementara Tjipta Lesmana
    dkk yang ngawur, ambil keputusan tanpa dasar aturan organisasi.
    Kalau FIFA konsekuen pada aturan organisasinya, nggak akan ada sanksi pembekuan
    pada PSSI. Apalagi mereka sedang dibuat pusing oleh kasus suap pemilihan tuan
    rumah WC-2022. Paling yang repot adalah kalau ada yang buat laporan ngawur ke
    FIFA seperti di zaman NH. NH dulu bisa pimpin PSSI dari penjara karena
    laporan-laporan ngawur tersebut.
    Sebetulnya dari pengalaman saya ikut organisasi internasional, rata-rata
    organisasi internasional itu punya anggota negara atau asosiasi nasional.
    Organisasi internasional nggak peduli asosiasi nasional anggotanya punya ketua
    siapa asal tetap bayar iuran & ikut aturan mereka.
    Kesalahan PSSI itu terlalu cepat libatkan FIFA sampai mereka buat KN. KN pun
    terlalu merasa super, padahal secara organisasi mereka hanya diminta membantu
    PSSI dapat pengurus baru, nggak beda dengan penyelenggara ‘Indonesian Idol’.
    Dipikir mereka diberi ‘cek kosong’ untuk itu, padahal ya tetap keputusan ada di
    peserta kongres.
    Apa salahnya memberi kesempatan bicara pada komisi banding sesuai permintaan
    peserta kongres? Apalagi komisi banding itu pun disetujui KN. Buat apa mereka
    ada kalau nggak dipakai kerjanya atau didengar?
    Memang FIFA atur sampai detil jadwal acara? Pastinya cuma diminta di kongres itu
    ada 3 hal: pemilihan ketua, wakil ketua, & komite eksekutif. Selain itu tetap
    boleh lah, kumpulkan orang sebanyak itu nggak gampang & nggak murah, jadi
    sekalian kalau mau ada hal-hal lain.
    Kisruh PSSI ini sebetulnya sederhana. Soal GT-AP, nggak masalah jadi
    ketua-wakil, tinggal kirim surat ‘ngaco’ saja macam surat yang dulu bisa buat NH
    tetap bisa jadi ketua di penjara. Toh sebetulnya itu urusan intern organisasi,
    selama aturan nggak ada yang dilanggar ya jalan terus.

    Hapus | Balas | Anda telah merating komentar ini
  • 23 May 2011 19:59:34

    terimakasih Bung Billy. Komentar anda melengkapi jawaban pertanyaan2 diatas

    Salam Damai!

    Suka

SAAT GARUDA DI DADA ANAK MUDA


Hari itu, 29 Desember di kantor ada acara nobar dengan fasilitas slide seadanya. Orang-orang malas pulang karena waktunya tak akan nuntut untuk menonton peristiwa paling ditunggu: final AFF yang menghadirkan Timnas Indonesia melawan Malaysia. Satu hal yang mengherankan bahwa orang yang tak biasa nonton maupun menyukai bola pun jadi bergairah menonton. Mungkin karena rasa nasionalisme yang membara.

Babak pertama gol sering kali lewat begitu saja, teman-teman sampai dibuat gemes dan geram. Lalu disusul babk kedua Markus Horizon kebobolan gawangnya. Teman perempuan saya yang duduk di sebelah saya langsung berdiri dan teriak: “guoblog Kus Markus, bisanya megang susu thok, megang bola gak enthos!” lalu bertubi-tubi orang-orang  “misuh”…..Pokoknya berbagai ekspresi kegemasan, gregetan, sampai yang “misuh-misuh” ala Suroboyoan-lah. Sampai mendengarnyapun rasanya mau ketawa aja. Ada-ada saja! Hingga berakhir pertandingan dengan gol 2-1 Indonesia. Wow, sungguh mengagumkan! Bisa dibayangkan kalau Timnas saat itu kalah total, mungkin bisa saja terjadi kerusuhan luar biasa. Kemarahan penonton atau supporter yang gila, semuanya bisa saja terjadi. Baru setingkat Surabaya aja Bonex (supporter bolanya Suroboyo) sering bikin aparat kewalahan. Lha ini seantero Indonesia….whew!

Tragedi kerap terjadi, kita bisa mencari alasan dengan menyalahkan orang lain. Tapi sudahlah itu tidak penting, tragedi sudah terjadi. Seterusnya kita enyahkan rasa pedih itu. Kita membangun kembali! Untaian kalimat ini dituturkan oleh novelis Brazil Paulo Coelho (1996) dalam karyanya The Fifth Mountain ketika dia menceritakan ulang kisah Nabi Elia dalam epos biblikal saat ia membangkitkan semangat warga kota Akbar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat peperangan yang kejam.

Kutipan dari Paulo Coelho ini sepertinya tepat melukiskan suasana mental yang harus terus dipegang oleh Timnas Indonesia yang menyandang Burung Garuda didadanya yaitu Bambang Pamungkas, Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Ahmad Bustomi, Firman Utina, Markus Horison dan kawan-kawan. Melalui jerih payah kerja keras, hentakan kaki dan ayunan langkah mereka kebanggan dalam ke-kita-an sebagai bangsa tidak saja tumbuh namun mereka mengajarkan kita, seluruh entitas republik, termasuk para pemimpin bagaimana seharusnya sikap yang terhormat membela Sang Dwi Warna semestinya dilakukan.

Saat jagat politik Indonesia menghadapi tragedi krisis kepemimpinan republik yang tak berkesudahan, saat perilaku politik narsistik berkali-kali disodorkan kehadapan publik dan kepemimpinan republik kerapkali tersandera oleh kepentingan kelompok politik maupun uang, jajaran Timnas memberikan teladan (virtue) bagi kita semua bahwa atas nama kebanggaan berjuang bagi republik tidak boleh ada kata menyerah dalam menghadapi siapapun untuk kepentingan bangsa dan negara.

Simaklah orasi Bambang Pamungkas di kamar ganti pemain sesaat setelah kalah oleh Tim Malaysia lalu. Rekan-rekan kekalahan ini harus berhenti di ruangan ini. Kita tidak memerlukan pembahasan yang lebih panjang mengenai apa yg terjadi malam ini, tidak ada saling menyalahkan tentang apa yang terjadi di lapangan tadi. Kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah bersama-sama. Mental pemenang dan tak mudah menyerah tertoreh jelas terlontar melalui kalimatnya. Dan sepertinya semangat berbangsa, semangat mengemban tanggung jawab dalam hidup berepublik inilah yang pelan-pelan luntur dan harus kita siram kembali menyuburkan bumi Indonesia yang tengah gersang oleh semangat teladan kepemimpinan politik.

Dalam drama persepakbolaan yang baru saja usai, bagi saya bukan soal juara atau tidak juara yang paling penting untuk disimak, namun tak disangka-sangka kita menemukan mental sportif dan kepemimpinan justru bukan dari para elite politik tapi pada kaum muda, Timnas sepakbola kita. Semangat kerja keras untuk Indonesia ini mengingatkan saya kepada naskah Bung Hatta pada tahun 1928 berjudul Tentang Nama Indonesia saat dia menguraikan bahwa bagi kami Indonesia adalah sebuah istilah politik, tanah air di masa depan tempat tiap-tiap orang yang merasa menjadi bagian didalamnya bekerja keras dengan segenap kemampuan dan fikirannya untuk mewujudkan bersama.

Ketika kemarau semangat berbangsa tengah meluas, dan tanah ibu pertiwi telah kering merangas oleh semangat kekitaan sebagai bagian dari republik, semangat Timnas dan berbagai elemen muda tengah tumbuh dalam merawat kembali kebaikan bersama dalam solidaritas kehidupn berrepublik.

Dalam bayangan kolektif kaum muda, kita dapat menghimpun dan menyimak semangat mereka akan Indonesia kedepan adalah Indonesia yang optimis dalam memandang masa depannya, optimisme yang sudah semestinya didukung oleh komitmen negara menjaga kedaulatan , antusiasme yang lahir dari semangat tiap-tiap warga akan kebutuhan untuk mencapai sesuatu, berprestasi dan berkompetisi. Optimisme seperti ini adalah optimisme yang lahir dari kesadaran akan pentingnya sebuah orientasi perubahan. Orientasi akan masa depan segenap tiap-iap orang untuk maju dan antusiasme warga untuk berprestasi yang mensyaratkan kepercayaan atas komitmen negara bekerja untuk melayani warganya.

Penyegaran Bernegara

Kegigihan semangat Timnas adalah momentum, awal dari pentingnya penyegaran dalam kehidupan berbangsa dan berepublik. Di gelanggang sepakbola telah terbukti bagi kita semua saat kaum muda diberi tanggung jawab mengemban nama bangsa, ternyata mereka menjalankannya dengan penuh hasrat dan komitmen. Saat mereka sadar bahwa menjadi juara hampir tertutup kemungkinannya mereka terus gigih bertarung karena mereka sadar kehormatan bangsalah yang mereka emban. Pada wilayah yang lebih luas seperti pada dunia politik, inilah saatnya kita berefleksi bahwa kepemimpinan politik kaum muda adalah sesuatu yang mendesak untuk kita gulirkan, besera inovasi dan penyegarannya. Belajar pada Amerika Serikat abad ke-19, saat pertumbuhan ekonomi belum berjalan merata dan pembangunan serta mobilitas sosial belum menyebar di wilayah Amerika bagian Barat, Horace Greely dalam editorialnya New York Tribune tahun 1865 berseru dengan lantang “Go West, Young Man!”. Seruan itu membawa penyegaran dan semangat dari warga Amerika Serikat untuk bermigrasi dan mencari nafkah sekaligus menyetarakan akselerasi pembangunan antar wilayah dengan menaklukkan sisi Barat Amerika yang liar dan belum terjamah.

Cerita inovasi untuk merambah wilayah Barat dari Amerika Serikat ini dapat kita ambil contoh untuk menjawab bagaimana inovasi dan penyegaran menjadi penting untuk mengelola wilayah Indonesia dibawah kepemimpinan kaum muda. Selama 64 tahun Indonesia prioritas pembangunan ekonomi masih terpusat di sebagian wilayah Barat Indonesia khususnya wilayah Jawa, terutama Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi sekaligus politik. Meskipun desentralisasi telah berjalan, namun Indonesia Timur masih tetap dipandang sebagai wilayah tertinggal. Bukankah salah seorang personil Timnas andalan kita Oktovianus Maniani berasal dari tanah Papua, wilayah Indonesia Timur yang mempersembahkan warganya sebagai olahragawan, cendekiawan anak SMA pemenang olimpiade Fisika bagi keharuman bangsa Indonesia.  Langkah penyegaran dan inovasi menjadi penting diambil oleh kepemimpinan kaum muda. Seruan “Go East, Youngster!” menjadi hal menarik yang dapat melahirkan antusiasme setiap warganegara.

Dapat kita bayangkan, ketika kepemimpinan kaum muda berani mengambil langkah fundamental dengan menggeser orientasi pusat pembangunan ke Timur Indonesia bahkan pusat ibukota ke Indonesia Timur, maka berbagai tantangan kedepan akan terjawab. Mulai dari persoalan ketidakadilan yang memunculkan aspirasi untuk memisahkan diri, redistribusi pendapatan yang lebih baik, percepatan pembangunan wilayah, perubahan orientasi Indonesia dari agraris dan inward looking menuju maritim dan outward looking sampai strategi geopolitik untuk mendekatkan diri pada wilayah pasifik, Jepang dan Amerika Serikat sebagai masa depan strategi pembangunan luar negeri. Disinilah pentingnya inovasi kebijakan dari para pemimpin muda kedepan agar arah pembangunan dan pengelolaan negara tidak kering dan terjebak oleh rutinitas keseharian. Agar kaum muda mampu menyegarkan keindonesiaannya.

Setelah optimisme dan inovasi menjadi ruh dari masa depan Indonesia kedepan, ada baiknya bagi para kaum muda calon pemimpin republik menyimak renungan Jean Jacques Rousseau bahwa saat nilai kebajikan hadir dalam benak kita, ia akan selalu berkonflik dengan nafsu keserakahan dan kepentingan personal. Tanggung jawab para pemimpin muda adalah memegang teguh nilai kebajikan publik sesuai amanah proklamasi, agar tidak larut dalam kultur dekaden politik seperti para pendahulunya.


NASEHAT TEMAN SOAL KRISIS EKONOMI


Nostalgia 1 Mei 2006 untuk 28 Januari 2010

Teman2, agak serius dikit ya.

Sebetulnya ini agak telat, tapi sorry karena pikiranku kesita banget ama kerjaan. Barusan aja aku kepikiran untuk share ama kalian di milist ini.Aku sendiri juga kelimpungan jawab pertanyaan dari orang2 soal ini. Ini bukan nakut2in tapi kenyataan dan aku nulis ini supaya kalian tahu apa yang harus dilakukan. Aku kerja di bidang investasi dan keuangan dan aku dah tahu duluan tentang hal ini. Aku dah tahu dan ngerasain krisis ini dari awal tahun tapi kan belum ngefek ke real sector, berhubung sekarang udah menjalar dan kalian akan segera merasakannya maka aku tulis ini. Krisis ini bisa lebih buruk dari krisis 98, tapi kondisi ekonomi kita lebih kuat sekarang. Krisis yang sekarang asalnya dari luar bukan dari dalam negeri. So, aku minta kalian benar2 baca tulisan aku ampe selesai. Terserah kalian akan ikutin atau tidak, yang jelas aku punya license nasional dan pemahaman yang membuat tulisan aku di bawah ini suatu penjelasan dan saran yang bisa diikuti, bukan nakut2in. Bila ada pertanyaan bisa menghubungi aku di 08qqqqqqqqq, free of charge. Ini juga bukan iklan, gue ngga butuh. Please feel free. Tapi please jangan marah kalo gue ngga jawab karena kantor juga kacau abis.

Singkatnya gini deh:

Kondisi ekonomi:

1. Krisis keuangan di AS sangat sangat sangat parah. Tidak ada yang selamat. Ini sistem yang hancur.

2. Krisis itu telah menjalar ke seluruh dunia, sekali lagi tidak ada yang selamat. Kalo ada rumor yang mengatakan bahwa negara ini bakal kuat, bakal jadi pemimpin, jangan percaya.

3. Banyak negara sudah memasuki masa resesi, seperti Inggris dan Singapur. Sebenarnya banyak sekali negara sudah masuk resesi tapi secara definisi belum karena dalam definisi ekonomi suatu negara dinyatakan resesi bila pertumbuhan ekonominya negatif 2 kuartal berturut2. Jadi yang tinggal di Singapore, Inggris dan US benar2 harus melakukan perubahan cara hidup mulai sekarang.

4. Krisis ekonomi sudah menjalar ke sektor real artinya akan kita rasakan. Sekarang sebenarnya sudah tapi tidak banyak orang awam yang benar2 sadar dampaknya. Ekspor kita sudah melambat, harga2 komoditas kita sudah jatuh, eksportir2 kita sudah memecati karyawan, impor ilegal sudah masuk.

Pertumbuhan ekonomi kita bisa negatif.

5. Sektor2 yang paling dulu terkena imbasnya adalah properti, manufaktur, pertambangan, perkebunan.. ..sebenarnya sekarang udah terasa. Jadi tahun depan jangan harapkan perusahaan kalian kasih bonus besar lagi atau kasih kenaikan gaji tinggi lagi,

Artinya : Semua orang, semua negara sedang dalam perang memperebutkan cash.

Siapa yang punya cash nantinya punya kemampuan lebih untuk bertahan

Saran dari aku:

1. Gaji dan semua income jangan dibelikan investasi lagi. PEGANG CASH. Buat kalian yang pas2an sekali, aku saranin, akumulasi cash dalam bentuk hard cash yaitu rekening tabungan (yang bisa ditarik dengan ATM). So, gaji masuk jangan belanja apa2.

2. Barang2 tertier terutama yang bakal dibeli pake kredit nanti dulu deh, pegang cash dulu. Barang2 akan mahal, susu anak mahal…so, pegang cash.

3. Bila kalian dengar harga emas naik dan sebagainya, jangan tergiur. Emas memang naik, tapi sangat volatile. Contoh temanku, beli emas, niatnya mau jualan,….eh telat, sekarang turun lagi. Lagian percaya deh, sulit jualnya karena semua orang dalam kondisi pengin jualan. Kalian bisa beli kemungkinan besar susah jualnya

4.Investasi tunda dulu deh. Kalo memang ada duit lebih deposito saat ini yang paling cocok, itu juga near to cash walaupun ada jatuh temponya.

Nah untuk deposito aku saranin:

4.a. Masukkan ke bank yang aman, buat kalian aku sarankan kalo bisa bank pemerintah.

4.b Bunga penjaminan pemerintah hanya 10%. Artinya bila deposito kalian mendapat bunga di atas 10% maka uang kalian tidak akan dijamin oleh pemerintah. Bila, bank itu kolaps, maka uang kalian bisa saja hilang….lang lang. Terus nominal yang diganti hanya maksimal 2 M. Mungkin kalian tidak ada yang punya sebanyak itu tapi informasi ini bisa dishare ke bokap atau nyokap.

5. Jangan panik lalu ikut2an beli emas atau dollar. Dollar justru tinggi2nya. Udah Rp 10,000 an. Dollar yang tinggi ini karena investor asing menarik uangnya dari Indonesia, mereka kan butuh dollar supaya bisa dibawa ke negara mereka. Jadi bukan karena kondisi ekonomi kita yang jelek.

Rumor:

1. Ekonomi Indonesia kuat, jauh lebih kuat daripada Singapore bahkan. Singapore sudah masuk resesi, 2 kuartal berturut2 -6%. Indonesia masih tumbuh 6%. Bila ada rumor yang mengatakan bahwa krisis kali ini disebabkan oleh pemerintah kita yang payah jangan percaya. Tim ekonomi kita sekarang ini tangguh. Cara mereka menanggulangi krisis sudah on track. BI mungkin membuat kebijakan yang mengejutkan tapi Menkeu tidak. I am objective di sini karena aku pelaku pasar bukan orang politik.

2. Jadi, bila ada rumor yang mengajak kalian menggulingkan pemerintah sekarang seperti zaman Soeharto, jangan terpancing.

3. Hutang luar negeri kita sangat2 kecil saat ini dan cadangan devisa kita jauh lebih kuat daripada tahun 97/98. Dulu hutang luar negeri kita 100% dan cadangan devisa kita nol. Saat ini kita juga tidak ada hubungan lagi dengan IMF. Semua hutang kita itu independent.

Tindakan:

1. Selain menyediakan cash untuk keperluan kita dan keluarga, mulai sekarang belilah dan pakailah produk dalam negeri. Aku ngga sok idealis, ini ada logikanya. Logikanya gini. Sekarang semua negara butuh cash, istilahnya ngga ada yang beli dagangan mereka, semua negara maunya jualan produk mereka supaya dapat cash. Nah, ngapain coba kita ngasih rakyat negara lain pendapatan dengan membeli produk2 mereka? Rugi amat. So, pake semua produk lokal. Kita mulai dari diri kita sendiri. Belanja ke Singapore nya ntar dulu. Travelling ke Phuket nya ntar dulu. Beneran….

2. Produk impor yang menggiurkan sudah masuk menyerbu ke Indonesia. Itu sebenarnya dagangan negara2 lain yang tidak laku di USA karena USA dan negara2 kaya dan maju sudah bangkrut sehingga ngga minat lagi. Harga barang2 itu murah tapi sekali lagi, ngapain kasi makan negara lain sementara negara2 itu sudah tidak punya kapasitas lagi kasih makan kita. Ini bukan kondisi normal lagi ketika perdagangan antar negara terjadi karena saling membutuhkan, ini sih negara yang jualan udah ngga bisa timbal balik beli barang kita. Dong kan? Lagian ati2, mereka masuk dengan barang2 palsu kaya telur palsu dari bahan kimia.Yang sudah masuk sih barang2 dari China karena ekspor mereka tidak terserap oleh US makanya dibuang ke Asia. Dan ingat walaupun ekonomi China masih tumbuh 10% dan cadangan valas mereka terbesar di dunia, duit mereka juga sudah banyak ketanam di AS sehingga mereka juga merasakan dampak krisis ini.

3. Sekarang udah ngga pada kondisinya deh ngributin masalah politik dan ideologi, so jangan terpancing.. ..amakan dulu perut.

Investasi:

1. Bagi kalian yang punya reksadana di saham, kalo nilai investasi kalian sudah di bawah 50%, biarkan saja, jangan dijual karena kalo kalian jual maka uang kalian benar2 akan tinggal dikit. Biarkan saja nanti balik lagi…tapi kali ini memang lama….minimal 2 tahun bahkan lebih. Sekali lagi ini krisis yang sangat besar, terbesar sepanjang masa ekonomi dunia modern.

2. jangan beli asuransi dengan link lagi. Bila ada asuransi dengan link di dalamnya aku jamin hasil investasi kalian kecil sekali. Kalo belum lama belinya tanya ke agennya bisa tidak diswitch ke murni asuransi.

2. Kalo memang ada duit lebih, masukkan saja ke deposito. Sekarang yieldnya lagi tinggi tapi ingat penjelasan ku tentang deposito di atas.


LAG-LAGI, Penjahat Kelamin!


Memperbincangkan PK (Penjahat Kelamin) sudah tentu tidak akan ada habisnya. Beberapa hari yang lalu seorang klien minta ditemui di sebuah restoran dengan ruang karaoke. Maksudnya tentu saja pengin ngajak makan siang sekalian berkaraoke. Tetapi syaratnya saya ngga boleh bawa PR alias sendirian. Tanpa prasangka buruk, sayapun berangkat hanya diantar sopir kantor. Tanpa prasangka buruk karena Bapak ini terdengar baik-baik saja ditelepon, jadi saya okey saja ketika beliau bilang, “okey, mbak bisa ketemu saya nanti di Nur Pacific sekalian makan siang, nanti bisnis kita bicarakan disana sambil nyanyi-nyanyilah.”

Walhasil, saya berhasil ketemu dengan si Bapak. Keluar dari Harier penampilannya dandy, dengan celana jeans dan kaus bermerk mahal. Informasi yang sempat saya kumpulkan bahwasanya orang ini pernah hampir menjadi kandidat walikota Surabaya. Selain itu, beliau juga pengurus salah satu lembaga keagamaan di kota Surabaya dan baru-baru terpilih jadi ketua partai pemenang Pemilu. Di depan namanya ada gelar Haji, Insinyur dan Doctor, lalu masih ada sederet gelar pendidikan di belakang namanya. Itu simbol luarnya, dalamnya saya belum tahu. Sebelum keluar mobil, sopir kantorku mewanti-wanti, “Bu jangan mau diajak ke ruang karaoke. Takutnya kalau Ibu masuk trus dikunci dari dalam, Ibu ngga bisa teriak, soalnya ruangannya kan kedap suara. Ntar Ibu diapa-apain lagi.” Wah, bener juga ya. Rasanya saya bersyukur banget ada orang yang ngingetin. Dan memang, begitu sudah berhadapan, Bapak ini menatapku dari ujung rambut ke ujung kaki dengan pandangan liar bak menelanjangiku. Saya risih banget dibuatnya. Dipersilakannya saya duduk di sebelahnya, masih dengan tatapan liarnya.

Saya kemudian memprolog pertemuan hari itu dengan penjelasan company profile. Baru saja mulai, Bapak ini menukas, “sudahlah mbak, saya sudah tahu bisnis ini. Kita ngobrol yang lain aja ya sambil nyanyi-nyanyi di dalam.” Mati saya! Gimana ya menolaknya…Tiba-tiba dia meraih tangan saya, “wih! kamu banyak bulu juga ya, pasti terminalnya lebih tebal lagi..” katanya terkekeh. Saya benar-benar kaget karena tak menyiapkan pembelaan apapun, cekatan kutarik tanganku, “Bapak ini apa-apaan sih? Saya ini ngga jualan bulu Pak, maaf!! Mungkin sebaiknya saya kembali ke kantor sekarang! Permisi..!” Saya marah dan jengkel dilecehkan seperti itu. “lho-lho sebentar, kamu pemarah banget ya, sorry. Maksudku begini aja, kalau kamu pengin aku invest, kamu mesti entertain aku dulu. Kalau kamu setuju, nanti kucarikan tempat yang lebih romantislah!” Gila banget sih orang ini, tapi saya harus bisa atasi. Kutatap lurus mata ketiganya, “Okey, berapa Bapak mau invest?” Nekat saya ngomong begitu. “1 M gimana? tapi kalau sampai rugi meskipun itu hanya 3 jt, kamu ‘ nempuhi , mau? Kalau ya, kamu mesti tanda tangan di depan notaris, gimana?” tantangnya. “Okey! Saya sanggup! Kapan Bapak transfer?” Masih dengan nekat kutantang dia sekalian. Paling-paling dia cuma omong doang. “Begini aja, besok kamu telepon aku ya!” jawabnya gugup. “Okey, saya telepon Bapak besok. Kayaknya saat ini ngga kondusif untuk bicara bisnis, saya permisi.” Buru-buru saya kemasi tas dan map kerja saya dengan jengkel, lalu pamit. Pengin rasanya kuledakkan kepala Bapak ini (jika Noordin M Top berkenan meminjamkan bomnya). Belum selesai berkemas, Bapak ini pun beranjak mau pergi juga, “Saya juga mesti balik kantor nih, contact-contact besok ya jangan lupa,” katanya sambil ngeloyor pergi dan hampir saja menabrak pintu, rasain.

Itu sekelumit kisah pelecehan sexual yang seringkali saya alami. Saya wajib bersyukur, karena apapun itu menjadi sebuah sarana pemrosesan diri supaya menjadi lebih bersyukur dan lebih baik, dan tentusaja mendewasakan saya. Hal itu juga membuat saya ingat ayat pertama surah An Nisa yang menakjubkan tentang penciptaan manusia yang pada hakikatnya berasal dari diri yang satu. Dengan kata lain, laki-laki dan wanita adalah satu diri dalam tataran spiritual, tetapi dua fisik yang berbeda dalam tataran material. Maka pada tingkat spritual, pelecehan seksual sesungguhnya tidak hanya merugikan perempuan tetapi juga laki-laki. Dengan memandang perempuan hanya sebagai object yang bisa menyegarkan badan dan pikiran seperti es jeruk atau novel picisan, secara tidak langsung, seorang laki-laki telah memandang seluruh dirinya hanyalah benda yang tergantung pada pemuasan bendawi yang semu, sementara dan melatenkan frustrasi spiritual jangka panjang.

Mungkin juga ada satu catatan yang penting: jangan terlalu percaya simbol. Sebab dipakai oleh siapapun, persoalannya tetap sama: simbol ya simbol – bukan hakikat. Lagipula, gelar haji bukankah bisa dipakai oleh siapa saja yang mampu pergi ke Mekkah? Dan bukankah haji bisa juga jadi hajingan? (bajingan-red). Lagipula, jubah kyai atau kerudung bukankah cuma kain biasa, dan bukankah kain juga bisa jadi gombal? Gombale Mukiyo, kata orang Ngawi. Suami saya pernah bilang, “Na, selama orang tetap orang, dia pasti punya sisi-sisi yang menjengkelkan. No body’s perfect, tak ada orang ideal. Walaupun simbol luarnya ini dan itu, jangan mengira apa yang tampak diluar sama dengan isi didalam. Makanya jangan percaya simbol….” Saya pun tersentak, ” Iya, bener Mas…….”



PENJAHAT KELAMIN


Betapa kagetnya saya karena semenjak bekerja dan banyak ketemu orang, banyak dari mereka yang kebanyakan bapak2, om-om atau koko-koko mengajukan tawaran untuk ‘dugem’. Mereka bilang untuk memperlancar urusan/bisnis, katanya, “mbak bisa nemuin saya nanti malam jam 10 di Hugo’s, ya sambil ngobrol nanti saya traktir minum.” “Temui saya di 777 ya nanti malam, saya pengin sekalian rileks.” Atau …”kamu suka dugem ya? Dugem yuk nanti di Collour’s pub.” Yang lebih gila lagi, “kamu bisa prospek aku di luar kota, di Tretes misalnya? Kita kan bisa santai2 sambil ngobrol, bobok sianglah…kamu kan capek juga kerja terus..” Atau, “kalau kamu pengin sharing informasi, bisa temui saya di kamar 332 hotel Hyat?” atau yang sering, “kamu mau aku invest berapa sih sayang? Tapi kamu kan tahu caranya..”

Hii, ngeri juga, emang saya ini apaan? Dikirain pekerja sex komersial apa? Berat bener pekerjaanku..heran ya, setiap perempuan bekerja di sektor publik seringkali menerima pelecehan. Jika dia menjual sesuatu, dianggap sama dengan menjual diri. Dengan santai biasanya saya jawab, “aduh maaf pak, saya ngga biasa kerja malam. Jam kantor saya kan cuma sampai jam 5 sore, jadi saya temui bapak kapan2 aja ya?” ceklek tutup telepon, pusing! atau dengan halus biasanya kujawab, “saya ini menikah, lalu bagaimana saya harus memenuhi hasrat bapak? kadang2 kalau sudah kebangetan saya ngomong begini, “pak, saya ini jual konsep, bukan jual diri! maaf, bukan kapasitas saya untuk meng-entertain bapak.”

Nasib….nasib….apes banget diriku ini. God, set me free from my painful job and loss making money…
Laki2 kalau ada uang, pikirannya selalu iseng, ngga inget anak istri di rumah. Di agendaku, orang2 seperti itu selalu kuberi label PK : PENJAHAT KELAMIN!