Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Islam

IR SUKARNO, NAMAMU TIADA AKAN MATI


soe5 Soekarno bukanlah orang yang sibuk oleh ‘teori-teori agama’, namun beliau bisa spontan menangis sedih ketika melihat bangunan masjid di Leningrad-Rusia (sekarang namanya St Petersburg) hanya difungsikan sebagai gudang. Dunia mungkin bertanya-tanya, lobi-lobi apa yang dilakukan Soekarno sehingga pemimpin Uni Sovyet pada waktu itu, Nikita Kruschev, bersedia mengabulkan keinginan Soekarno untuk mengembalikan fungsi masjid di kota tersebut sebagai tempat ibadah, tanpa syarat! Dan jika anda berkesempatan untuk berkunjung ke St Petersburg, anda akan mengetahui betapa berterimakasihnya kaum Muslimin Rusia terhadap jasa-jasa Soekarno.

Soekarno adalah manusia pertama dalam sidang PBB yang berani secara lantang membacakan ayat Alquran yang berbicara tentang persamaan derajad sesama manusia, ketika beliau mengutip QS 49 (13) : “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Boleh jadi pada saat itu pemimpin-pemimpin dunia Arab merasa tercoreng wajahnya, melihat seseorang dari negeri nun jauh disana-negeri dunia ketiga, ternyata lebih memiliki nyali untuk berbicara tentang ajaran yang diyakininya, dibandingkan mereka yang mengklaim ‘lebih dekat’ dengan ajaran Islam, namun negerinya sibuk berperang satu sama lain, dan para ulamanya sibuk memproduksi fatwa-fatwa halal dan haram.

Ketika dunia harus terbagi dan berkiblat ke salah satu blok penguasa dunia, yaitu Blok Barat (yang dipimpin AS) dan Blok Timur (yang dipimpin Uni Sovyet),Soekarno dengan berani mempelopori gerakan Non-Blok, mempersatukan bangsa-bangsa dunia di dalamnya, menyadarkan merekabuntuk tidak larut dalam permusuhan yang dikobarkan para imperialis, dan menjunjung tinggi perdamaian dunia. Ketika dunia kebingungan menentukan ideologi mana yang lebih baik, antara ideologi kapitalisme (yang dipelopori AS dan sekutunya) dan ideologi sosio-komunisme (yang dipelopori Uni Sovyet dan China), hanya satu orang di dunia ini yang penuh percaya diri menawarkan ‘ideologi alternatif’ yaitu Pancasila, yang banyak mengambil nilai-nilai ajaran Islam, agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh bangsa-bangsa sedunia. Dialah Soekarno!

Tidak ada yang bisa mengelak dari fakta bahwa negeri-negeri Eropa yang kaya raya dan makmur saat ini sebagian besar adalah hasil dari merampok dan menjarah kekayaan negeri-negeri dunia ketiga di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Sebaliknya, tidak ada yang bisa mengelak bahwa telah lahir negeri-negeri dunia ketiga, yang sebelumnya terjajah selama berabad-abad oleh bangsa Eropa, telah mendapatkan kembali kehormatan dan jati dirinya sehingga berani memerdekakan diri, tidak lepas dari andil ‘provokasi’ Soekarno, seorang putra Nusantara!

Inilah salah satu manifestasi dari ajaran Islam yang bahkan oleh Alquran disebut-sebut sebagai perjuangan yang sangat berat, yaitu membebaskan manusia dari perbudakan, sebagaimana disebutkan dalam QS 90(12-13) : “ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) membebaskan budak (manusia) dari perbudakan “. Perbudakan tidak hanya ada di abad pertengahan, namun akan terus ada sepanjang waktu dalam berbagai dimensi kehidupan. Indonesia, yang (katanya) berpenduduk ‘Muslim’ terbesar di dunia ternyata belum berhasil memerdekakan manusia dari perbudakan. Nasib bangsa ini masih diperbudak oleh kepentingan elit politik penguasa negeri ini. Negeri kita yang katanya gemah ripah loh jinawi ini masih menjadi budak atas kepentingan asing, sehingga kekayaan alam milik kita secara terang-terangan dijarah dan dieksploitasi secara sistemik di depan mata kita sendiri, tanpa ada daya bagi kita untuk menghentikannya. Di negeri ini masih banyak ‘budak’ yang bekerja di bawah standar upah kerja minimum, sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar.

Iklan

Membincang Kekerasan Dalam Beragama; Merasa Diri Paling Benar??


“Orang takwa sejati tidak pernah menggunakan agama sebagai sebab perpecahan. Orang takwa percaya bahwa agama adalah wahana mempertemukan ummat manusia. Kalau ada orang suka mempertentangkan ajaran agama, apalagi sesama agama ia pasti belum sampai derajat takwa. Sama halnya orang yg mencari perbedaan dan sangat sensitif melihat perbedaan lalu menggunakannya untuk memecah belah ummat. Orang seperti ini belum sampai derajat takwa. Orang yg takwa adalah toleran pada orang seagama dan pada pemeluk agama lain (Jalaluddin Rakhmat 2008)”

Kekerasan atas nama agama masih –bahkan semakin- marak di negeri ini. Padahal, terlepas dari berbagai kontroversi yang mengitari sebuah isu, khususnya isu-isu keagamaan, maka kekerasan sama sekali tak diperbolehkan menjadi sarana untuk menyelesaikan kontroversi atau pun masalah umat. Sebab, metode penyelesaian masalah dengan jalur kekerasan bukan tuntunan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Salah satu isu yang biasanya dianggap menjadi pemicu konflik antar umat beragama yakni isu perbedaan ajaran dan pandangan, baik antara umat beragama atau antar sesama Muslim. Isu kerukunan umat beragama di Indonesia masih didominasi masalah kekerasan yang melibatkan agama. Meski disetiap negara bercorak plural seperti Indonesia boleh dibilang wajar mengalami benturan atau ketegangan-ketegangan dalam masyarakat, akantetapi dalam kasus kekerasan yang terjadi menurut studi tidaklah wajar. Ketidakwajaran itu ditenggarai oleh kejadian yang berulang-ulang sehingga muncul indikasi pemerintah seolah diam saja dalam melihat masalah tersebut. ada dua hal penting yang memboncengi tindak kekerasan yang terjadi, yakni soal keberadaan rumah ibadah dan adanya pembatalan acara yang diinisiatifkan lembaga-lembaga seperti LGBT ((Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?

Pertanyaan “mengapa” itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun marilah kita mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran:“Wa qul jâ’a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa” (dan katakanlah: “kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna). Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Pak Alwi Shihab sempat menyampaikan, bahwa salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya—berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, adalah debat tentang pemberlakuan syariat Islam. “Syariat Islam yang mana yang akan diterapkan di sini?” Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab yang kita anut: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral dan paling benar, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Quote: 

“If people knew their own religion, how tolerant they would become, and how from any grudge againts the religion of others.”


MENGISLAMKAN ORANG ISLAM


Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

Batapa lembut dan hangat agama itu.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku..

Akhirnya, bila boleh menyimpulkan agama yg benar adalah:

1. Agama yg mengajarkan cinta kpd sesama bukan agama benci.

2. Agama yg mengusung akal sehat dan akal budi, berpikir logis rasional, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, inquiry mind, dialogis. Bukan sebaliknya yaitu anti rasional, anti dialog, menolak logika & akal.

3. Agama yg menjunjung tinggi akhlakul karimah/budi pekerti/etika yang agung dan mulia, yang fondasinya adil (etika sosial) dan baik/ihsan: membalas keburukan dengan kebaikan (etika individual). Yg prinsip umumnya mengajarkan kita utk tdk memperlakukan orang dengan perlakuan yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Jika anda tidak mau disesatkan/dikafirkan jangan sembarang menyesatkan/mengafirkan orang lain.

4. Agama yang menjunjung tinggi prinsip Hanif: jujur, lurus, murni dan Samhah: lapang, toleran, menghargai pluralitas. Memangnya hanya mereka/kita yg berhak mengklaim kebenaran, orang laintidak boleh.

Dalam Al Qur’an pun kita mengenal ayat yang menjunjung tinggi hubungan silaturahim:
Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi harus yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu melihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!

Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan kita dalam bingkai kemanusiaan dalam keberagaman untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

*Didedikasikan untuk ISACS : Institute Study Agama dan Civil Society

Salam Pluralisme!!

Malika Assaif


CINTA DAN PENAFSIRAN YANG BERBEDA



Lupakah kau bahwa kita berdoa itu artinya kita sedang bicara tentang cinta, dan dengan bahasa cinta-Nya pula? Kita sedang melapor bahwa kita taat, tunduk dan patuh semata karena cinta kita pada-Nya. Kau pikir layakkah kita bicara tentang cinta kita pada-Nya tetapi diam2 diluar itu semua, kita membenci, bahkan menganiaya hamba-Nya? Cinta macam apa jadinya yang kita bicarakan itu? Harus diakui, diam-diam kita memiliki standar kita sendiri mengenai cinta. Dan tiap diri diantara kita pun diam2 punya cara tersendiri dalam mewujudkan makna cinta itu.

Di dalam lagu-lagu, cinta selalu berarti tuntutan, “berikan daku cintamu dsb.” Pendeknya, cinta bukan sebuah pengorbanan. Cinta pada seseorang pada dasarnya adalah potret egoisme: cinta pada bayangan diri sendiri , yang terpantul pada sikap, jiwa dan perilaku lain, cinta adalah potret Narciscus, tokoh legenda Yunani itu. Minimal jelas tak pernah terpantul corak yang altruistik sifatnya. Hal ini mungkin karena cinta didalam lagu-lagu selalu bersifat possesive. Kau juga tahu, cinta lebih sering kita lihat sebagai sifat menuntut. Atau mungkin mengemis terus menerus dan bukannya tampil sebagai pengorbanan yang tulus. “Berilah saya rezeki yang banyak ya Allah, pangkat yang tinggi, derajat yang luhur,” misalnya. Dengan begini, sebenarnya diam-diam kita selalu ‘merampok’ Tuhan yg kita cintai dan mencintai kita. Dalam takaran pribadi mungkin itu tak salah. Tapi bila hal ini jadi tatanan sosial yg baku, tidakkah kita takut akan dampaknya, yaitu menjadikan kita malas, fatalistis dan kurang gairah dalam usaha? Bukannya Tuhan pun menyuruh kita untukmenjadi arsitek bagi nasib kita sendiri?

Dalam hidup kita sehari-hari, kita menyaksikan bagaimana ruwetnya persoalan tentang cara kita harus menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Memang kita bicara tentang cinta dengan bahasa cinta cinta sebagaimana yg kita pahami. Dengan begitu, manifestasi cinta itu sekali lagi beragam. Dan bahwa keragaman ‘warna’ cinta itu muncul karena tafsir dan penalaran kita berbeda. Pluralisme semacam itu mungkin baik sejauh TIDAK MENGKLAIM YANG PALING BENAR. Jadi? Mekarlah seribu ‘bunga’ tafsir. Berkembanglah sejuta makna sejauh tetap sadar bahwa makna yang kita pegang hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang benar. Bahkan kita tahu, salah satu kemungkinan yg salah. Karena tak ada yang diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk bertindak sebagai hakim agar mengadili pihak lain yang tak sama paham cintanya dengan kita. DERAJAT KITA SAMA, SAMA-SAMA PESAKITAN YG MENUNGGU PENGADILAN TUHAN!! Maka mendengar ada anggota Islam fundamentalis mencela pecinta yang lain (yang mereka sebut dengan penganut Islam sekuler, Islam liberal(JIL), Islam nasionalis, pluralis ato apalah) yang jelas berbeda paham cintanya, aneh rasanya.

Kalau benar kita sedang berusaha mencintai Tuhan dengan cara kita sendiri, mengapa pada saat yang sama kita juga ‘memusuhi’ hambaNya?

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman facebook yang kebetulan dari kelompok Islam fundamentalis. Saya sakit hati karena mereka mengatai kelompok Islam yang mereka sebut sebagai Islam pluralis, liberalis dll sadalah keledai, banci dan monyet. Sesungguhnya, yang mengatai demikian belum tentu lebih baik Islamnya….