Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Lima

MENGISLAMKAN ORANG ISLAM


Lima belas tahun yang lalu, ketika saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo melalui jalur UMPTN, saya berkenalan dengan Islam yang belakangan saya dengar disebut orang sebagai Islam Fundamentalis.

Sebelumnya, saya sudah Islam sejak lahir, ditempa dengan keras oleh Bapak dengan pendidikan Islam yang feodalistik. Betapa segala tingkah laku, tindak tanduk sangat diatur dengan tatacara Jawa khas priyayi. Saya tak boleh sembarangan bergaul dengan anak tetangga atau memerima pemberian orang lain. Diumur tiga tahun, saya masih ingat ketika itu sholat Maghrib. seperti biasa, Bapak mengimami seluruh keluarga melakukan sholat berjamaah. Dasar anak kecil, selepas sholat saya langsung pergi aja main walaupun yang lain masih wiridan. Saya tak menyangka hal itu membuat Bapak marah, menghampiri saya dan memukul pantat saya, katanya saya belum boleh meninggalkan jamaah seblum selesai wirid. Lalu betapa sering saya kena pukul bilah bambu karena keasyikan main dan lupa sholat atau sekedar tak mau mengaji selepas sholat Maghrib. Saya dan kakak perempuan saya waktu itu setiap hari harus menyetor satu hafalan surat dalam Al Qur’an plus satu hafalan doa yang diajarkan oleh Bapak.

Di SMA pun kegiatan rokhani saya terus berlanjut. Karena tempaan Islam yang begitu keras oleh Bapak, lama kelamaan saya pun mencintai Islam. Sehari-hari kegiatan saya tak lepas dari masjid, mulai yang ngajar ngaji anak-anak, sampai menjadi remaja masjid. Dengan begitu saya merasa sudah Islam.

Begitu di bangku kuliah saya juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dibanding dengan menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah. Sampai saya tak sadar telah mengalami brain washing yang begitu hebat. Dalam setiap kajian mentoring, saya dijejali dengan kajian-kajian pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Qutub dll. Yang intinya tetang penegakan khilafah, jihad dan segala tetek bengeknya. Saya sering diperdengarkan ceramah dari Kyai Abdullah Sungkar (sekarang sebagai pelarian di Malaysia) dan tak jarang saya diajak temen satu jamaah ngaji  Ustadz Abubakar Baasyir. Tak ada yang salah dengan ceramah beliau, cuma isinya mengenai kafir dan iman. Padahal buat saya,

Religion should focus more on promoting tolerance, social justice & peace in society, & less on condemning others!

Dan lagi menurut Imam Abu Hanifah seorang Muslim tidak boleh dinyatakan kafir atau murtad meskipun dia mengucapkan atau melakukan suatu yang mengandung kemungkinan dia melakukan tindakan seperti yg dituduhkan. Meski jika ucapan/tindakan yg dilakukan tergolong pada kekafiran dengan kadar 99 persen (dikutip dari Muhammad Hashim Kamali dalam Freedom of Expression in Islam).

Dari sejumlah indroktrinasi, saya memutuskan keluar dari kungkungan ekslusifisme, yang merasa paling benar sendiri, paling Islam, dan paling berhak memiliki kapling di surga. Saya terus terang tak merasa nyaman apalgi adem dan tenang karena sehari-hari dijejali dengan kata-kata ‘jihad’, ‘kafir’, ‘kufur’, negara Islam dan sebagainya yang sering membuat darah maupun otak saya panas. Saya bilang ekslusif karena diluar kelompok mereka dianggap orang yang masih perlu diluruskan akidahnya, perlu di-Islamkan lah kehidupannya. Mereka merasa diberikan hak prerogratif untuk merasa paling benar. Sehingga sering kejadian cara mereka pun disertai dengan tindak kekerasan demi kata-kata ‘pemurnian akidah!’

Rumi sendiri juga pernah bilang ; “Be certain that the religion of Love there are no believers ΆƝƉ unbelievers. LOVE embrace all”.

Batapa lembut dan hangat agama itu.

I believe that all religions were sent down to mankind by Allah and most of them carried the same message: Oneness of Allah. Along the line and for some reason some of them changed, but Islam maintained its original words and to this day the Quran is in its true form, Mashallah. But here we are talking about the love for Allah and His love for His beings…….

Terlebih sekarang marak kasus-kasus kekerasan dalam beragama; kasus penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dan sejumlah konflik yang mewarnai pendirian  gereja, juga pembakaran pesantren yang diduga merupakan pesantren Syiah di Sampang Madura. Hal yang terpikir oleh saya adalah, mengapa kita tak bisa menghargai perbedaan? Toh perbedaan itu sendiri adalah rahmat (dari hadits mashur) dan lagi agama Allah ini adalah agama cinta. Kita berdoa δεηƍαη bahasa cinta. Kita sholat artinya kita melapor bahwa kita patuh dan taat kepadaNya kǝrεnǝ cinta dan δεηƍαη bahasa cintaNya pula. Saat kita mengaku mencintaiNYA, mengapa disaat Ўanğ sama kita menganiaya hamba-hambaNYA Ўanğ tak sama paham cintanya…

Dalam hal beragama Rasulullah pun memberikan toleransi luar biasa terhadap pemeluk agama lain. Saya jadi ingat sejarah hijrah Rasullulah dan isi dr Piagam Madinah…
“…aku tidak akan mengislamkan negeri ini (jazirah Arab) tapi aku akan mengislamkan hati penduduk disini,barang siapa yang menganiaya penduduk non muslim,maka sama saja dia telah menganiayaku dan meludahi agamaku..

Akhirnya, bila boleh menyimpulkan agama yg benar adalah:

1. Agama yg mengajarkan cinta kpd sesama bukan agama benci.

2. Agama yg mengusung akal sehat dan akal budi, berpikir logis rasional, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, inquiry mind, dialogis. Bukan sebaliknya yaitu anti rasional, anti dialog, menolak logika & akal.

3. Agama yg menjunjung tinggi akhlakul karimah/budi pekerti/etika yang agung dan mulia, yang fondasinya adil (etika sosial) dan baik/ihsan: membalas keburukan dengan kebaikan (etika individual). Yg prinsip umumnya mengajarkan kita utk tdk memperlakukan orang dengan perlakuan yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Jika anda tidak mau disesatkan/dikafirkan jangan sembarang menyesatkan/mengafirkan orang lain.

4. Agama yang menjunjung tinggi prinsip Hanif: jujur, lurus, murni dan Samhah: lapang, toleran, menghargai pluralitas. Memangnya hanya mereka/kita yg berhak mengklaim kebenaran, orang laintidak boleh.

Dalam Al Qur’an pun kita mengenal ayat yang menjunjung tinggi hubungan silaturahim:
Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wat taqullaaha la’allakum turhamuun (Q.49:10) “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara2mu itu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kitab suci umat Islam diturunkan untuk semua manusia, orang-orang beriman dan orang-orang yang berpikir! Maka sungguh mulia orang-orang yang manusiawi, beriman, berpikir! Persaudaraan tertinggi adalah antar sesama umat manusia, lalu atas nama seagama dan sebangsa selain sedarah, seinti, sebatih, seplasma! Beriman maknanya; Walau kamu tak mampu melihat Tuhan, tetapi harus yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu melihat kamu setiap saat, setiap detik, sepanjang hidup, agar kamu selalu berbuat kebajikan serta tercegah dari pelanggaran dan dosa!

Mau dan mampukah kita mempraktekkan keberimanan kita dalam bingkai kemanusiaan dalam keberagaman untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, damai, adil, makmur dan sejahtera menuju kehidupan bahagia bersama secara manusiawi?

*Didedikasikan untuk ISACS : Institute Study Agama dan Civil Society

Salam Pluralisme!!

Malika Assaif

Iklan

Menyangga Kepercayaan Diri Dengan Operasi Plastik


Menyimak maraknya  berbagai pemberitaan tentang artis-artis kita yang gemar menjalani operasi plastik; diantaranya Krisdayanti , Titi DJ, dan yang akhir-akhir ini jadi berita gosip di sejumlah media infotainment adalah Dewi Perssik yang konon melakukan operasi plastik untuk mengembalikan selaput daranya dan operasi untuk mempermak dagu, hidung dan pipi atau Syahrini yang konon memperbesar bokongnya dan melakukan sedot lemak pada beberapa bagian tubuhnya. Tapi gosip itupun dibantah oleh keduanya.

Berbeda dengan Dewi Perssik dan Syahrini, Krisdayanti dan Titi DJ terang-terangan mengakui telah melakukan sejumlah operasi plastik serta sedot lemak disana-sini. Hal tersebut secara blak-blakan diakui oleh Krisdayanti dalam bukunya My Life My Secret yang ditulis oleh Alberthiene Endah:

Lima tahun silam saya melakukan operasi plastik di Bangkok, ditemani Anang.”

“Yang menangani Dr. Pitchet. Caranya dengan menambahkan cairan implansebanyak 320 ml. Prosesnya hanya berjalan dua jam. Dan hasilnya, saya mempunyai payudara yang indah dan menyembul.”

Lalu dalam pengakuannya yang lain:

“Ketika saya membuka baju dan bugil di depan cermin saya bersyukur. Iapi, hamil dua kali masing-masing naik 30 kilogram. Memang kemudian bisa menguruskan badan tapi ada struktur-struktur lemak yang tersisa.”

sebelum dan sesudah operasi

Operasi yang dijalaninya tidak hanya sekali, tapi berkali-kali melakukan pembenahan pada payudaranya di Singapura. Serta melakukan suntik botox pada wajahnya. Untuk sekali pembenahan pada payudaranya Krisdayanti konon merogoh kocek yang lumayan mahal untuk membeli penampilan yang terkesan dipaksakan untuk sempurna. Yah, itu sih sepenuhnya haknya dia yang mau buang-buang uang….hehehe.

Perempuan masa kini sepertinya sudah bosan tampil sederhana, apa adanya dan alamiah saja. Mereka ingin mencitrakan diri sebagai sosok yang cantik, menarik dan bercahaya.

Konotasi atau terjemahan tampil cantik, menarik dan bercahaya itu bagi perempuan adalah tampil dengan segenap kesadarannya, dengan segenap daya tarik lekak-lekuk tubuhnya yang seksi dan menawan. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya artis yang tampil seronok mempertontonkan belahan dadanya, keindahan bahunya, dada, pinggang, pinggul dan betis serta pahanya dengan tampilan yang transparan menerawang atau dengan busana yang ‘tampaknya’ kurang bahan. Bukankah dengan begitu, betis dan pahanya serta kekenyalan payudaranya jadi bersinar-sinar menawan ratusan atau ribuan mata pemirsa di kursi-kursi duduknya. Bukankah dengan begitu membuat laki-laki berdesir seraya mengakui kelebihan perempuan dalam sensualitas keindahannya?!

Hal ini pada akhirnya membawa industri kosmetika dan fashion menjadikan mereka sebagai sasaran tembak produknya. Dan tanpa disadari oleh perempuan, cara pandang yang mengedepankan kekuatan femininitas ini menggiring mereka pada pemitosan cantik bercahaya, langsing dan seksi yang sengaja diciptakan untuk mendukung struktur kapitalisme. Karena kekuatan femininitas bertumpu pada daya tarik kekenyalan, keindahan dan kelembutan garis-garis tubuh perempuan.

Dan perempuan diyakinkan dengan banyaknya iklan produk fashion dan kosmetik bahwa mereka akan cantik mempesona bila memerahkan bibirnya dengan lipstick A, atau akan tampak bercahaya dan molek bila memutihkan wajah dan tubuhnya dengan krim pemutih B. Dan rambut sebagai mahkota akan tampak lembut berkilau jika direbonding dan diwarnai dengan produk kosmetik rambut C. Bahkan banyak dari perempuan yang kepercayaan dirinya perlu disangga oleh implantasi silikon di bagian-bagian organ femininnya, bedah plastik dan suntik botox yang menelan biaya yang tidak murah. Karena penafsiran cantik pada umumnya adalah pipi bak pauh dilayang, mata bak bintang kejora, rambut bak mayang terurai, bibir merah bak delima merekah atau alis yang bak semut berbaris yang dalam istilah Jawa;’ irunge mblongkang semende’, ‘mripate mbawang sabungkul’, ‘lambene nyigar jambe’, ‘untune miji timun’, lan ‘rambute ngandhan-andhan’….dan masih banyak ungkapan untuk melukiskan makna cantik dan feminin. Dan setiap mata memandang, pasti akan terpesona dengan gemerlap fisik perempuan. Padahal secara alami, gemerlap fisik seorang perempuan adalah layaknya gemerlap riak-riak air di danau yang memantulkan cahaya bulan saat purnama.

Dalam pandangan ini, yang menentukan keindahan air itu adalah sinar bulan dan bukan air itu sendiri; apalah artinya riak air tanpa cahaya bulan? Dan pada hakikatnya, bukankah sinar bulan berasal dari pantulan sinar matahari?

Jika seseorang terpesona memandang riak air di danau seraya berteriak kagum:

Lihat air itu, alangkah indahnya!” maka hal yang wajar dilakukan. Tetapi jika seseorang memandang riak air di danau seraya berteriak: “Lihat sinar matahari itu!” pasti dia akan  dianggap gila dan tidak normal. Padahal sebenarnya mataharilah yang paling layak dan berhak untuk dikagumi karena dia sumber kekuatan yang bisa memancarkan keindahan riak air di danau.

Jadi, gemerlapnya fisik perempuan adalah kegemerlapan terlemah, karena ia sepenuhnya bergantung pada cahaya jiwa perempuan itu sendiri. Sedangkan cahaya jiwa perempuan itu bergantung sepenuhnya pada kesanggupannya memantulkan cahaya keilahian. Maka, bagaimana mungkin perempuan-perempuan itu rela menghamburkan uangnya HANYA UNTUK MENGAGUMI KELEMAHANNYA SENDIRI??

Semoga kita selalu bersyukur!

*****

Kemayoran20110906

Salam Cantik,

Malika Assaif