Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Singapura

Menyangga Kepercayaan Diri Dengan Operasi Plastik


Menyimak maraknya  berbagai pemberitaan tentang artis-artis kita yang gemar menjalani operasi plastik; diantaranya Krisdayanti , Titi DJ, dan yang akhir-akhir ini jadi berita gosip di sejumlah media infotainment adalah Dewi Perssik yang konon melakukan operasi plastik untuk mengembalikan selaput daranya dan operasi untuk mempermak dagu, hidung dan pipi atau Syahrini yang konon memperbesar bokongnya dan melakukan sedot lemak pada beberapa bagian tubuhnya. Tapi gosip itupun dibantah oleh keduanya.

Berbeda dengan Dewi Perssik dan Syahrini, Krisdayanti dan Titi DJ terang-terangan mengakui telah melakukan sejumlah operasi plastik serta sedot lemak disana-sini. Hal tersebut secara blak-blakan diakui oleh Krisdayanti dalam bukunya My Life My Secret yang ditulis oleh Alberthiene Endah:

Lima tahun silam saya melakukan operasi plastik di Bangkok, ditemani Anang.”

“Yang menangani Dr. Pitchet. Caranya dengan menambahkan cairan implansebanyak 320 ml. Prosesnya hanya berjalan dua jam. Dan hasilnya, saya mempunyai payudara yang indah dan menyembul.”

Lalu dalam pengakuannya yang lain:

“Ketika saya membuka baju dan bugil di depan cermin saya bersyukur. Iapi, hamil dua kali masing-masing naik 30 kilogram. Memang kemudian bisa menguruskan badan tapi ada struktur-struktur lemak yang tersisa.”

sebelum dan sesudah operasi

Operasi yang dijalaninya tidak hanya sekali, tapi berkali-kali melakukan pembenahan pada payudaranya di Singapura. Serta melakukan suntik botox pada wajahnya. Untuk sekali pembenahan pada payudaranya Krisdayanti konon merogoh kocek yang lumayan mahal untuk membeli penampilan yang terkesan dipaksakan untuk sempurna. Yah, itu sih sepenuhnya haknya dia yang mau buang-buang uang….hehehe.

Perempuan masa kini sepertinya sudah bosan tampil sederhana, apa adanya dan alamiah saja. Mereka ingin mencitrakan diri sebagai sosok yang cantik, menarik dan bercahaya.

Konotasi atau terjemahan tampil cantik, menarik dan bercahaya itu bagi perempuan adalah tampil dengan segenap kesadarannya, dengan segenap daya tarik lekak-lekuk tubuhnya yang seksi dan menawan. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya artis yang tampil seronok mempertontonkan belahan dadanya, keindahan bahunya, dada, pinggang, pinggul dan betis serta pahanya dengan tampilan yang transparan menerawang atau dengan busana yang ‘tampaknya’ kurang bahan. Bukankah dengan begitu, betis dan pahanya serta kekenyalan payudaranya jadi bersinar-sinar menawan ratusan atau ribuan mata pemirsa di kursi-kursi duduknya. Bukankah dengan begitu membuat laki-laki berdesir seraya mengakui kelebihan perempuan dalam sensualitas keindahannya?!

Hal ini pada akhirnya membawa industri kosmetika dan fashion menjadikan mereka sebagai sasaran tembak produknya. Dan tanpa disadari oleh perempuan, cara pandang yang mengedepankan kekuatan femininitas ini menggiring mereka pada pemitosan cantik bercahaya, langsing dan seksi yang sengaja diciptakan untuk mendukung struktur kapitalisme. Karena kekuatan femininitas bertumpu pada daya tarik kekenyalan, keindahan dan kelembutan garis-garis tubuh perempuan.

Dan perempuan diyakinkan dengan banyaknya iklan produk fashion dan kosmetik bahwa mereka akan cantik mempesona bila memerahkan bibirnya dengan lipstick A, atau akan tampak bercahaya dan molek bila memutihkan wajah dan tubuhnya dengan krim pemutih B. Dan rambut sebagai mahkota akan tampak lembut berkilau jika direbonding dan diwarnai dengan produk kosmetik rambut C. Bahkan banyak dari perempuan yang kepercayaan dirinya perlu disangga oleh implantasi silikon di bagian-bagian organ femininnya, bedah plastik dan suntik botox yang menelan biaya yang tidak murah. Karena penafsiran cantik pada umumnya adalah pipi bak pauh dilayang, mata bak bintang kejora, rambut bak mayang terurai, bibir merah bak delima merekah atau alis yang bak semut berbaris yang dalam istilah Jawa;’ irunge mblongkang semende’, ‘mripate mbawang sabungkul’, ‘lambene nyigar jambe’, ‘untune miji timun’, lan ‘rambute ngandhan-andhan’….dan masih banyak ungkapan untuk melukiskan makna cantik dan feminin. Dan setiap mata memandang, pasti akan terpesona dengan gemerlap fisik perempuan. Padahal secara alami, gemerlap fisik seorang perempuan adalah layaknya gemerlap riak-riak air di danau yang memantulkan cahaya bulan saat purnama.

Dalam pandangan ini, yang menentukan keindahan air itu adalah sinar bulan dan bukan air itu sendiri; apalah artinya riak air tanpa cahaya bulan? Dan pada hakikatnya, bukankah sinar bulan berasal dari pantulan sinar matahari?

Jika seseorang terpesona memandang riak air di danau seraya berteriak kagum:

Lihat air itu, alangkah indahnya!” maka hal yang wajar dilakukan. Tetapi jika seseorang memandang riak air di danau seraya berteriak: “Lihat sinar matahari itu!” pasti dia akan  dianggap gila dan tidak normal. Padahal sebenarnya mataharilah yang paling layak dan berhak untuk dikagumi karena dia sumber kekuatan yang bisa memancarkan keindahan riak air di danau.

Jadi, gemerlapnya fisik perempuan adalah kegemerlapan terlemah, karena ia sepenuhnya bergantung pada cahaya jiwa perempuan itu sendiri. Sedangkan cahaya jiwa perempuan itu bergantung sepenuhnya pada kesanggupannya memantulkan cahaya keilahian. Maka, bagaimana mungkin perempuan-perempuan itu rela menghamburkan uangnya HANYA UNTUK MENGAGUMI KELEMAHANNYA SENDIRI??

Semoga kita selalu bersyukur!

*****

Kemayoran20110906

Salam Cantik,

Malika Assaif


HIT AND RUN!!


Hari Jumat, sehabis makan siang ada janji ketemu klien di Pasar Pabean. Dari pembicaraan ditelepon, ia seorang pedagang besar  kopi dan rempah-rempah. Kelihatannya sepele, dagang komoditas kopi dan rempah-rempah tapi omzetnya ternyata wah. Terbukti dia juga punya sejumlah rumah di Citraland, salah satu perumahan elit di Surabaya. Anak-anaknya kuliah di Singapura, dan istrinya entah kemana. Saya ngga mau terlalu mengorek kehidupan pribadinya.

 

Jam 2 lebih lima belas menit saya tiba di stand tempat dia berjualan di pasar Pabean. Dari kesan pertama terlihat, orang  ini masih muda, mungkin selisih 8-10 tahun lebih tua dari umurku. Maka kuputuskan untuk memanggilnya ‘Kokoh. Menurut penuturannya, ia pengin menginvestasikan sebagian dananya di Bursa Berjangka. Ia menyebut angka 1 M sebagai modal awal atau margin awal. Wow! Pikir saya surprised banget. Jarang-jarang ada yang punya kesadaran berinvestasi sebesar itu. Biasanya Cuma 100-300 juta saja. Ia bercerita punya lebih dari itu, tapi sayangnya bukan dana nganggur, tapi duwit yang harus ia putarkan untuk bisnisnya. sebagian disisihkan sebagai deposito di bank. Katanya, jangan meletakkan telor dalam satu keranjang. Jika satu telor pecah, maka pecahlah telor satu keranjang. tapi letakkanlah telor dalam banyak keranjang, jika satu telor pecah, masih ada telor di keranjang yang lain. Hmm…boleh juga falsafahnya, tapi kalau keranjangnya bolong gimana?

 

Menurut saya, 1 milyar itu punya keleluasaan mengambil resiko dibanding dengan uang 100 juta. Ibarat menembak musuh menggunakan sekotak peluru dibandingkan dengan mengunakan beberapa butir peluru saja kan lebih mantab yang pake sekotak. Mau nembaknya sambil merem-merem atau ngawur, pasti kenanya, itu kelebihannya. Tapi kalo ngawur-ngawur banget ya kebangeten namanya, apalagi kalo sampe habis peluru….sial dong! Berbeda dengan memakai sedikit peluru, orang akan berpikir 100 kali untuk menembak, karena harus tepat sasaran…hampir tanpa resiko. karena kalo ngga tepat sasaran, kan cepet habis tuh peluru. Diantara dua perbandingan itu sebenarnya besar kecilnya dana sebenarnya sama saja. Sekotak peluru bisa membuat orang ceroboh, tapi sedikit peluru bisa membuat orang lebih hati-hati. Jadi, besar atau kecil ngga ada bedanya, tergantung cara mengelolanya.

 

Ngomong-ngomong soal mengelola dana, yang jelas si pengelola harus punya management resiko yang baik. jika resiko yang mampu ditanggung pemodal hanya 25% saja, maka ia harus disiplin dengan batasan resiko itu, tentunya dia juga harus berpikir tentang perencanaan. Misalnya, memakai time frame berapa, mau short term atau long term. Karena hal ini akan berkaitan dengan batasan resiko dan ekspektasi keuntungan. bagi modal kecil, sebaiknya main “day trade” (short term) aja dengan time frame 5-15 menit. artinya, ditime frame tersebut ia bisa melakukan ‘hit and run‘, ‘nggepuk trus lari.’ kelemahan sistem ini, keuntungan tidak bisa maksimal, hanya berkisar 30-50 points. kalu market lagi volatile atau fluktuatif bisa agak lumayan sih sampai 100-200 points, bisa saja. Tapi memang modal kecil ya jangan terlalu berharap keuntungan yang besar, ‘low risk-high return‘ yang ada juga ‘high risk-ya high return‘ to.

 

Keuntungan yang besar bisa didapat dengan cara bertransaksi dengan time frame 4 hours, daily, weekly bahkan monthly. Apalagi dipasar indeks regional Asia yang bernama Hangseng itu mengenal adanya gap (lompatan) harga karena pengaruh indeks Amerika (Dow Jones). Dan kalau sudah nge-gap, ngga tanggung-tanggung….bisa sampai 1.600 points, wuihhh!! gila…..! Kalu posisi nginepnya (over night) bener, bisa jadi a huge profit lho, panen raya-lah pokoknya!Lha kalo salah posisi gimana? Ya kebalikannya to, bisa loss, rugi alias amsiong. Makanya perlu dipertimbangkan masak-masak untuk memutuskan over night atau tidaknya. seorang pengelola dana harus tahu benar arah pasar esok hari atau beberapa hari kedepan. Dengan prediksi yang bener kita ngga akan salah masuk posisi.

 

Baru serius-seriusnya menjelaskan soal salah posisi, si Kokoh berceloteh, “eh Mba, enak juga kali ya kalo tradingnya ditemenin Mba sambil ‘klesedan‘(santai, tidur-tiduran)…”

Hah! Dapurmu iku! batinku…orang lagi serius kerja malah dikasih guyonan nakal.

“Bener lho Mba, kayaknya aku mau gitu deh! Soalnya denger-denger dari temenku, banyak yang rugi tuh!udah biasa kok kalo kita invest ya dikasih servis plus-plus….”

Kampret si Kokoh!

“Ayo lek berani, tak kasih 1 M tapi ya gitu deh…servis ranjang!”

Sudah kuduga, jurusannya pasti kesitu. Batin saya misuh-misuh, kok? Kurang ajar…!!!

“Berani tah? Nanti ditentuin ndek mana gitu…” si Kokoh semakin provokatif menggiringku. Sejurus kemudian kupandangi si Kokoh, serius ngga sih nih orang. Soalnya lama berkecimpung dibidang ini lama-lama harus bisa baca orang juga. Suami saya bilang, dari 1000 laki-laki di Surabaya hanya ada 1 saja yang baik, yaitu dia, selebihnya buaya….itu gombalan dia aja kali ya! saya ngga tahu sudah ada survei atau belum, yang jelas suami pernah ngomong begitu…he..he…

 

Walah 1 M? ternyata gak gratis! buntutnya ya ke seks juga, tiwas saya ke-ge-er-an. “Oalah Koh, ngomong kek dari tadi. Kadung saya ngoceh-ngoceh serius, Kokoh bercanda.”

“Lhoh beneran ini! mau tah? Lek rugi gak po-po wis! yang penting aku ndapetin kamu..yok opo?”

Ini orang, guoblok bener ya. Dengan 1 M kan dia bisa beli perempuan muda dan cantik, bukan sebaliknya….

“Gini Koh, nanti kalo Kokoh investnya segitu dapet bonus laptop, separuhnya dapet Blackberry. Tapi ada syaratnya,” terangku masih berusaha mengalihkan.

Emoh lek laptop ato Blacberry. Aku isa beli dhewek kok.”

“Lha trus Kokoh maunya apa?”

“Yo yang gak isa tak beli gitu, yok opo?”

“Maksudnya Kokoh ini apa ya?”

“Mosok lu gak tau…”

Saya sih bener-bener tahu, cuma berupaya negoisasi sambil ngulur-ngulur waktu aja.

“Maksud Kokoh servis yang kayak temene Kokoh itu tah? Yo wis Koh, saya setuju…Servisnya habis transfer lho Koh!” Duh saya bener-bener gila apa, kok bisa-bisanya mutusin. Tapi dalam otak saya berkembang cara untuk ngakalin si Kokoh. Tetep dapet clossingan, tapi tidak dengan cara gituan….

 

Seminggu setelah pertemuan, si Kokoh sign agreement dan transfer esok harinya. Hari itu juga saya trading-kan dengan cara DQ (dirrect quote/out cry)-phone trading sebanyak 90 lots. Lebih dari BEP (Break Even Point) sedikit langsung likuidasi. Masuk lagi 90 lots, lebih dari BEP cepet-cepet saya likuid. yang penting si Kokoh ngga rugi, malah lebih duwitnya! Saya cuma meminjamnya saja sebentar! Sungguh, cuma pinjem sebentar….

 

Malam hari si Kokoh telpon ngajak janjian di hotel bintang 4, saya tenang-tenang saja.

“Koh, sudah terima statement ya? Tadi siang ada transaksi, untung dikit sih…”

Dikejauhan si Kokoh nagih janji, “iya kali, ngga tak liak tuh! Kamu dateng kesini yo, udah tak tunggu….”

“Mo ngapain Koh? Kok pake booking kamar segala? Oh iya, saya ngga akan kesana Koh, walau sampe kiamat pun saya ngga akan kesana….Kokoh bisa ambil kok duwit Kokoh, besok form withrawal-nya tak fax. Sorry ya…” batin saya menang! Horeee!!Ngga peduli si Kokoh melontarkan pisuhan di telepon…..“jancukk koen!!!” Emang gue pikirin………..