Melihat Dengan Kacamata Berbeda……

Posts tagged “Surabaya

SAAT GARUDA DI DADA ANAK MUDA


Hari itu, 29 Desember di kantor ada acara nobar dengan fasilitas slide seadanya. Orang-orang malas pulang karena waktunya tak akan nuntut untuk menonton peristiwa paling ditunggu: final AFF yang menghadirkan Timnas Indonesia melawan Malaysia. Satu hal yang mengherankan bahwa orang yang tak biasa nonton maupun menyukai bola pun jadi bergairah menonton. Mungkin karena rasa nasionalisme yang membara.

Babak pertama gol sering kali lewat begitu saja, teman-teman sampai dibuat gemes dan geram. Lalu disusul babk kedua Markus Horizon kebobolan gawangnya. Teman perempuan saya yang duduk di sebelah saya langsung berdiri dan teriak: “guoblog Kus Markus, bisanya megang susu thok, megang bola gak enthos!” lalu bertubi-tubi orang-orang  “misuh”…..Pokoknya berbagai ekspresi kegemasan, gregetan, sampai yang “misuh-misuh” ala Suroboyoan-lah. Sampai mendengarnyapun rasanya mau ketawa aja. Ada-ada saja! Hingga berakhir pertandingan dengan gol 2-1 Indonesia. Wow, sungguh mengagumkan! Bisa dibayangkan kalau Timnas saat itu kalah total, mungkin bisa saja terjadi kerusuhan luar biasa. Kemarahan penonton atau supporter yang gila, semuanya bisa saja terjadi. Baru setingkat Surabaya aja Bonex (supporter bolanya Suroboyo) sering bikin aparat kewalahan. Lha ini seantero Indonesia….whew!

Tragedi kerap terjadi, kita bisa mencari alasan dengan menyalahkan orang lain. Tapi sudahlah itu tidak penting, tragedi sudah terjadi. Seterusnya kita enyahkan rasa pedih itu. Kita membangun kembali! Untaian kalimat ini dituturkan oleh novelis Brazil Paulo Coelho (1996) dalam karyanya The Fifth Mountain ketika dia menceritakan ulang kisah Nabi Elia dalam epos biblikal saat ia membangkitkan semangat warga kota Akbar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat peperangan yang kejam.

Kutipan dari Paulo Coelho ini sepertinya tepat melukiskan suasana mental yang harus terus dipegang oleh Timnas Indonesia yang menyandang Burung Garuda didadanya yaitu Bambang Pamungkas, Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Ahmad Bustomi, Firman Utina, Markus Horison dan kawan-kawan. Melalui jerih payah kerja keras, hentakan kaki dan ayunan langkah mereka kebanggan dalam ke-kita-an sebagai bangsa tidak saja tumbuh namun mereka mengajarkan kita, seluruh entitas republik, termasuk para pemimpin bagaimana seharusnya sikap yang terhormat membela Sang Dwi Warna semestinya dilakukan.

Saat jagat politik Indonesia menghadapi tragedi krisis kepemimpinan republik yang tak berkesudahan, saat perilaku politik narsistik berkali-kali disodorkan kehadapan publik dan kepemimpinan republik kerapkali tersandera oleh kepentingan kelompok politik maupun uang, jajaran Timnas memberikan teladan (virtue) bagi kita semua bahwa atas nama kebanggaan berjuang bagi republik tidak boleh ada kata menyerah dalam menghadapi siapapun untuk kepentingan bangsa dan negara.

Simaklah orasi Bambang Pamungkas di kamar ganti pemain sesaat setelah kalah oleh Tim Malaysia lalu. Rekan-rekan kekalahan ini harus berhenti di ruangan ini. Kita tidak memerlukan pembahasan yang lebih panjang mengenai apa yg terjadi malam ini, tidak ada saling menyalahkan tentang apa yang terjadi di lapangan tadi. Kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah bersama-sama. Mental pemenang dan tak mudah menyerah tertoreh jelas terlontar melalui kalimatnya. Dan sepertinya semangat berbangsa, semangat mengemban tanggung jawab dalam hidup berepublik inilah yang pelan-pelan luntur dan harus kita siram kembali menyuburkan bumi Indonesia yang tengah gersang oleh semangat teladan kepemimpinan politik.

Dalam drama persepakbolaan yang baru saja usai, bagi saya bukan soal juara atau tidak juara yang paling penting untuk disimak, namun tak disangka-sangka kita menemukan mental sportif dan kepemimpinan justru bukan dari para elite politik tapi pada kaum muda, Timnas sepakbola kita. Semangat kerja keras untuk Indonesia ini mengingatkan saya kepada naskah Bung Hatta pada tahun 1928 berjudul Tentang Nama Indonesia saat dia menguraikan bahwa bagi kami Indonesia adalah sebuah istilah politik, tanah air di masa depan tempat tiap-tiap orang yang merasa menjadi bagian didalamnya bekerja keras dengan segenap kemampuan dan fikirannya untuk mewujudkan bersama.

Ketika kemarau semangat berbangsa tengah meluas, dan tanah ibu pertiwi telah kering merangas oleh semangat kekitaan sebagai bagian dari republik, semangat Timnas dan berbagai elemen muda tengah tumbuh dalam merawat kembali kebaikan bersama dalam solidaritas kehidupn berrepublik.

Dalam bayangan kolektif kaum muda, kita dapat menghimpun dan menyimak semangat mereka akan Indonesia kedepan adalah Indonesia yang optimis dalam memandang masa depannya, optimisme yang sudah semestinya didukung oleh komitmen negara menjaga kedaulatan , antusiasme yang lahir dari semangat tiap-tiap warga akan kebutuhan untuk mencapai sesuatu, berprestasi dan berkompetisi. Optimisme seperti ini adalah optimisme yang lahir dari kesadaran akan pentingnya sebuah orientasi perubahan. Orientasi akan masa depan segenap tiap-iap orang untuk maju dan antusiasme warga untuk berprestasi yang mensyaratkan kepercayaan atas komitmen negara bekerja untuk melayani warganya.

Penyegaran Bernegara

Kegigihan semangat Timnas adalah momentum, awal dari pentingnya penyegaran dalam kehidupan berbangsa dan berepublik. Di gelanggang sepakbola telah terbukti bagi kita semua saat kaum muda diberi tanggung jawab mengemban nama bangsa, ternyata mereka menjalankannya dengan penuh hasrat dan komitmen. Saat mereka sadar bahwa menjadi juara hampir tertutup kemungkinannya mereka terus gigih bertarung karena mereka sadar kehormatan bangsalah yang mereka emban. Pada wilayah yang lebih luas seperti pada dunia politik, inilah saatnya kita berefleksi bahwa kepemimpinan politik kaum muda adalah sesuatu yang mendesak untuk kita gulirkan, besera inovasi dan penyegarannya. Belajar pada Amerika Serikat abad ke-19, saat pertumbuhan ekonomi belum berjalan merata dan pembangunan serta mobilitas sosial belum menyebar di wilayah Amerika bagian Barat, Horace Greely dalam editorialnya New York Tribune tahun 1865 berseru dengan lantang “Go West, Young Man!”. Seruan itu membawa penyegaran dan semangat dari warga Amerika Serikat untuk bermigrasi dan mencari nafkah sekaligus menyetarakan akselerasi pembangunan antar wilayah dengan menaklukkan sisi Barat Amerika yang liar dan belum terjamah.

Cerita inovasi untuk merambah wilayah Barat dari Amerika Serikat ini dapat kita ambil contoh untuk menjawab bagaimana inovasi dan penyegaran menjadi penting untuk mengelola wilayah Indonesia dibawah kepemimpinan kaum muda. Selama 64 tahun Indonesia prioritas pembangunan ekonomi masih terpusat di sebagian wilayah Barat Indonesia khususnya wilayah Jawa, terutama Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi sekaligus politik. Meskipun desentralisasi telah berjalan, namun Indonesia Timur masih tetap dipandang sebagai wilayah tertinggal. Bukankah salah seorang personil Timnas andalan kita Oktovianus Maniani berasal dari tanah Papua, wilayah Indonesia Timur yang mempersembahkan warganya sebagai olahragawan, cendekiawan anak SMA pemenang olimpiade Fisika bagi keharuman bangsa Indonesia.  Langkah penyegaran dan inovasi menjadi penting diambil oleh kepemimpinan kaum muda. Seruan “Go East, Youngster!” menjadi hal menarik yang dapat melahirkan antusiasme setiap warganegara.

Dapat kita bayangkan, ketika kepemimpinan kaum muda berani mengambil langkah fundamental dengan menggeser orientasi pusat pembangunan ke Timur Indonesia bahkan pusat ibukota ke Indonesia Timur, maka berbagai tantangan kedepan akan terjawab. Mulai dari persoalan ketidakadilan yang memunculkan aspirasi untuk memisahkan diri, redistribusi pendapatan yang lebih baik, percepatan pembangunan wilayah, perubahan orientasi Indonesia dari agraris dan inward looking menuju maritim dan outward looking sampai strategi geopolitik untuk mendekatkan diri pada wilayah pasifik, Jepang dan Amerika Serikat sebagai masa depan strategi pembangunan luar negeri. Disinilah pentingnya inovasi kebijakan dari para pemimpin muda kedepan agar arah pembangunan dan pengelolaan negara tidak kering dan terjebak oleh rutinitas keseharian. Agar kaum muda mampu menyegarkan keindonesiaannya.

Setelah optimisme dan inovasi menjadi ruh dari masa depan Indonesia kedepan, ada baiknya bagi para kaum muda calon pemimpin republik menyimak renungan Jean Jacques Rousseau bahwa saat nilai kebajikan hadir dalam benak kita, ia akan selalu berkonflik dengan nafsu keserakahan dan kepentingan personal. Tanggung jawab para pemimpin muda adalah memegang teguh nilai kebajikan publik sesuai amanah proklamasi, agar tidak larut dalam kultur dekaden politik seperti para pendahulunya.


HIT AND RUN!!


Hari Jumat, sehabis makan siang ada janji ketemu klien di Pasar Pabean. Dari pembicaraan ditelepon, ia seorang pedagang besar  kopi dan rempah-rempah. Kelihatannya sepele, dagang komoditas kopi dan rempah-rempah tapi omzetnya ternyata wah. Terbukti dia juga punya sejumlah rumah di Citraland, salah satu perumahan elit di Surabaya. Anak-anaknya kuliah di Singapura, dan istrinya entah kemana. Saya ngga mau terlalu mengorek kehidupan pribadinya.

 

Jam 2 lebih lima belas menit saya tiba di stand tempat dia berjualan di pasar Pabean. Dari kesan pertama terlihat, orang  ini masih muda, mungkin selisih 8-10 tahun lebih tua dari umurku. Maka kuputuskan untuk memanggilnya ‘Kokoh. Menurut penuturannya, ia pengin menginvestasikan sebagian dananya di Bursa Berjangka. Ia menyebut angka 1 M sebagai modal awal atau margin awal. Wow! Pikir saya surprised banget. Jarang-jarang ada yang punya kesadaran berinvestasi sebesar itu. Biasanya Cuma 100-300 juta saja. Ia bercerita punya lebih dari itu, tapi sayangnya bukan dana nganggur, tapi duwit yang harus ia putarkan untuk bisnisnya. sebagian disisihkan sebagai deposito di bank. Katanya, jangan meletakkan telor dalam satu keranjang. Jika satu telor pecah, maka pecahlah telor satu keranjang. tapi letakkanlah telor dalam banyak keranjang, jika satu telor pecah, masih ada telor di keranjang yang lain. Hmm…boleh juga falsafahnya, tapi kalau keranjangnya bolong gimana?

 

Menurut saya, 1 milyar itu punya keleluasaan mengambil resiko dibanding dengan uang 100 juta. Ibarat menembak musuh menggunakan sekotak peluru dibandingkan dengan mengunakan beberapa butir peluru saja kan lebih mantab yang pake sekotak. Mau nembaknya sambil merem-merem atau ngawur, pasti kenanya, itu kelebihannya. Tapi kalo ngawur-ngawur banget ya kebangeten namanya, apalagi kalo sampe habis peluru….sial dong! Berbeda dengan memakai sedikit peluru, orang akan berpikir 100 kali untuk menembak, karena harus tepat sasaran…hampir tanpa resiko. karena kalo ngga tepat sasaran, kan cepet habis tuh peluru. Diantara dua perbandingan itu sebenarnya besar kecilnya dana sebenarnya sama saja. Sekotak peluru bisa membuat orang ceroboh, tapi sedikit peluru bisa membuat orang lebih hati-hati. Jadi, besar atau kecil ngga ada bedanya, tergantung cara mengelolanya.

 

Ngomong-ngomong soal mengelola dana, yang jelas si pengelola harus punya management resiko yang baik. jika resiko yang mampu ditanggung pemodal hanya 25% saja, maka ia harus disiplin dengan batasan resiko itu, tentunya dia juga harus berpikir tentang perencanaan. Misalnya, memakai time frame berapa, mau short term atau long term. Karena hal ini akan berkaitan dengan batasan resiko dan ekspektasi keuntungan. bagi modal kecil, sebaiknya main “day trade” (short term) aja dengan time frame 5-15 menit. artinya, ditime frame tersebut ia bisa melakukan ‘hit and run‘, ‘nggepuk trus lari.’ kelemahan sistem ini, keuntungan tidak bisa maksimal, hanya berkisar 30-50 points. kalu market lagi volatile atau fluktuatif bisa agak lumayan sih sampai 100-200 points, bisa saja. Tapi memang modal kecil ya jangan terlalu berharap keuntungan yang besar, ‘low risk-high return‘ yang ada juga ‘high risk-ya high return‘ to.

 

Keuntungan yang besar bisa didapat dengan cara bertransaksi dengan time frame 4 hours, daily, weekly bahkan monthly. Apalagi dipasar indeks regional Asia yang bernama Hangseng itu mengenal adanya gap (lompatan) harga karena pengaruh indeks Amerika (Dow Jones). Dan kalau sudah nge-gap, ngga tanggung-tanggung….bisa sampai 1.600 points, wuihhh!! gila…..! Kalu posisi nginepnya (over night) bener, bisa jadi a huge profit lho, panen raya-lah pokoknya!Lha kalo salah posisi gimana? Ya kebalikannya to, bisa loss, rugi alias amsiong. Makanya perlu dipertimbangkan masak-masak untuk memutuskan over night atau tidaknya. seorang pengelola dana harus tahu benar arah pasar esok hari atau beberapa hari kedepan. Dengan prediksi yang bener kita ngga akan salah masuk posisi.

 

Baru serius-seriusnya menjelaskan soal salah posisi, si Kokoh berceloteh, “eh Mba, enak juga kali ya kalo tradingnya ditemenin Mba sambil ‘klesedan‘(santai, tidur-tiduran)…”

Hah! Dapurmu iku! batinku…orang lagi serius kerja malah dikasih guyonan nakal.

“Bener lho Mba, kayaknya aku mau gitu deh! Soalnya denger-denger dari temenku, banyak yang rugi tuh!udah biasa kok kalo kita invest ya dikasih servis plus-plus….”

Kampret si Kokoh!

“Ayo lek berani, tak kasih 1 M tapi ya gitu deh…servis ranjang!”

Sudah kuduga, jurusannya pasti kesitu. Batin saya misuh-misuh, kok? Kurang ajar…!!!

“Berani tah? Nanti ditentuin ndek mana gitu…” si Kokoh semakin provokatif menggiringku. Sejurus kemudian kupandangi si Kokoh, serius ngga sih nih orang. Soalnya lama berkecimpung dibidang ini lama-lama harus bisa baca orang juga. Suami saya bilang, dari 1000 laki-laki di Surabaya hanya ada 1 saja yang baik, yaitu dia, selebihnya buaya….itu gombalan dia aja kali ya! saya ngga tahu sudah ada survei atau belum, yang jelas suami pernah ngomong begitu…he..he…

 

Walah 1 M? ternyata gak gratis! buntutnya ya ke seks juga, tiwas saya ke-ge-er-an. “Oalah Koh, ngomong kek dari tadi. Kadung saya ngoceh-ngoceh serius, Kokoh bercanda.”

“Lhoh beneran ini! mau tah? Lek rugi gak po-po wis! yang penting aku ndapetin kamu..yok opo?”

Ini orang, guoblok bener ya. Dengan 1 M kan dia bisa beli perempuan muda dan cantik, bukan sebaliknya….

“Gini Koh, nanti kalo Kokoh investnya segitu dapet bonus laptop, separuhnya dapet Blackberry. Tapi ada syaratnya,” terangku masih berusaha mengalihkan.

Emoh lek laptop ato Blacberry. Aku isa beli dhewek kok.”

“Lha trus Kokoh maunya apa?”

“Yo yang gak isa tak beli gitu, yok opo?”

“Maksudnya Kokoh ini apa ya?”

“Mosok lu gak tau…”

Saya sih bener-bener tahu, cuma berupaya negoisasi sambil ngulur-ngulur waktu aja.

“Maksud Kokoh servis yang kayak temene Kokoh itu tah? Yo wis Koh, saya setuju…Servisnya habis transfer lho Koh!” Duh saya bener-bener gila apa, kok bisa-bisanya mutusin. Tapi dalam otak saya berkembang cara untuk ngakalin si Kokoh. Tetep dapet clossingan, tapi tidak dengan cara gituan….

 

Seminggu setelah pertemuan, si Kokoh sign agreement dan transfer esok harinya. Hari itu juga saya trading-kan dengan cara DQ (dirrect quote/out cry)-phone trading sebanyak 90 lots. Lebih dari BEP (Break Even Point) sedikit langsung likuidasi. Masuk lagi 90 lots, lebih dari BEP cepet-cepet saya likuid. yang penting si Kokoh ngga rugi, malah lebih duwitnya! Saya cuma meminjamnya saja sebentar! Sungguh, cuma pinjem sebentar….

 

Malam hari si Kokoh telpon ngajak janjian di hotel bintang 4, saya tenang-tenang saja.

“Koh, sudah terima statement ya? Tadi siang ada transaksi, untung dikit sih…”

Dikejauhan si Kokoh nagih janji, “iya kali, ngga tak liak tuh! Kamu dateng kesini yo, udah tak tunggu….”

“Mo ngapain Koh? Kok pake booking kamar segala? Oh iya, saya ngga akan kesana Koh, walau sampe kiamat pun saya ngga akan kesana….Kokoh bisa ambil kok duwit Kokoh, besok form withrawal-nya tak fax. Sorry ya…” batin saya menang! Horeee!!Ngga peduli si Kokoh melontarkan pisuhan di telepon…..“jancukk koen!!!” Emang gue pikirin………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


LAG-LAGI, Penjahat Kelamin!


Memperbincangkan PK (Penjahat Kelamin) sudah tentu tidak akan ada habisnya. Beberapa hari yang lalu seorang klien minta ditemui di sebuah restoran dengan ruang karaoke. Maksudnya tentu saja pengin ngajak makan siang sekalian berkaraoke. Tetapi syaratnya saya ngga boleh bawa PR alias sendirian. Tanpa prasangka buruk, sayapun berangkat hanya diantar sopir kantor. Tanpa prasangka buruk karena Bapak ini terdengar baik-baik saja ditelepon, jadi saya okey saja ketika beliau bilang, “okey, mbak bisa ketemu saya nanti di Nur Pacific sekalian makan siang, nanti bisnis kita bicarakan disana sambil nyanyi-nyanyilah.”

Walhasil, saya berhasil ketemu dengan si Bapak. Keluar dari Harier penampilannya dandy, dengan celana jeans dan kaus bermerk mahal. Informasi yang sempat saya kumpulkan bahwasanya orang ini pernah hampir menjadi kandidat walikota Surabaya. Selain itu, beliau juga pengurus salah satu lembaga keagamaan di kota Surabaya dan baru-baru terpilih jadi ketua partai pemenang Pemilu. Di depan namanya ada gelar Haji, Insinyur dan Doctor, lalu masih ada sederet gelar pendidikan di belakang namanya. Itu simbol luarnya, dalamnya saya belum tahu. Sebelum keluar mobil, sopir kantorku mewanti-wanti, “Bu jangan mau diajak ke ruang karaoke. Takutnya kalau Ibu masuk trus dikunci dari dalam, Ibu ngga bisa teriak, soalnya ruangannya kan kedap suara. Ntar Ibu diapa-apain lagi.” Wah, bener juga ya. Rasanya saya bersyukur banget ada orang yang ngingetin. Dan memang, begitu sudah berhadapan, Bapak ini menatapku dari ujung rambut ke ujung kaki dengan pandangan liar bak menelanjangiku. Saya risih banget dibuatnya. Dipersilakannya saya duduk di sebelahnya, masih dengan tatapan liarnya.

Saya kemudian memprolog pertemuan hari itu dengan penjelasan company profile. Baru saja mulai, Bapak ini menukas, “sudahlah mbak, saya sudah tahu bisnis ini. Kita ngobrol yang lain aja ya sambil nyanyi-nyanyi di dalam.” Mati saya! Gimana ya menolaknya…Tiba-tiba dia meraih tangan saya, “wih! kamu banyak bulu juga ya, pasti terminalnya lebih tebal lagi..” katanya terkekeh. Saya benar-benar kaget karena tak menyiapkan pembelaan apapun, cekatan kutarik tanganku, “Bapak ini apa-apaan sih? Saya ini ngga jualan bulu Pak, maaf!! Mungkin sebaiknya saya kembali ke kantor sekarang! Permisi..!” Saya marah dan jengkel dilecehkan seperti itu. “lho-lho sebentar, kamu pemarah banget ya, sorry. Maksudku begini aja, kalau kamu pengin aku invest, kamu mesti entertain aku dulu. Kalau kamu setuju, nanti kucarikan tempat yang lebih romantislah!” Gila banget sih orang ini, tapi saya harus bisa atasi. Kutatap lurus mata ketiganya, “Okey, berapa Bapak mau invest?” Nekat saya ngomong begitu. “1 M gimana? tapi kalau sampai rugi meskipun itu hanya 3 jt, kamu ‘ nempuhi , mau? Kalau ya, kamu mesti tanda tangan di depan notaris, gimana?” tantangnya. “Okey! Saya sanggup! Kapan Bapak transfer?” Masih dengan nekat kutantang dia sekalian. Paling-paling dia cuma omong doang. “Begini aja, besok kamu telepon aku ya!” jawabnya gugup. “Okey, saya telepon Bapak besok. Kayaknya saat ini ngga kondusif untuk bicara bisnis, saya permisi.” Buru-buru saya kemasi tas dan map kerja saya dengan jengkel, lalu pamit. Pengin rasanya kuledakkan kepala Bapak ini (jika Noordin M Top berkenan meminjamkan bomnya). Belum selesai berkemas, Bapak ini pun beranjak mau pergi juga, “Saya juga mesti balik kantor nih, contact-contact besok ya jangan lupa,” katanya sambil ngeloyor pergi dan hampir saja menabrak pintu, rasain.

Itu sekelumit kisah pelecehan sexual yang seringkali saya alami. Saya wajib bersyukur, karena apapun itu menjadi sebuah sarana pemrosesan diri supaya menjadi lebih bersyukur dan lebih baik, dan tentusaja mendewasakan saya. Hal itu juga membuat saya ingat ayat pertama surah An Nisa yang menakjubkan tentang penciptaan manusia yang pada hakikatnya berasal dari diri yang satu. Dengan kata lain, laki-laki dan wanita adalah satu diri dalam tataran spiritual, tetapi dua fisik yang berbeda dalam tataran material. Maka pada tingkat spritual, pelecehan seksual sesungguhnya tidak hanya merugikan perempuan tetapi juga laki-laki. Dengan memandang perempuan hanya sebagai object yang bisa menyegarkan badan dan pikiran seperti es jeruk atau novel picisan, secara tidak langsung, seorang laki-laki telah memandang seluruh dirinya hanyalah benda yang tergantung pada pemuasan bendawi yang semu, sementara dan melatenkan frustrasi spiritual jangka panjang.

Mungkin juga ada satu catatan yang penting: jangan terlalu percaya simbol. Sebab dipakai oleh siapapun, persoalannya tetap sama: simbol ya simbol – bukan hakikat. Lagipula, gelar haji bukankah bisa dipakai oleh siapa saja yang mampu pergi ke Mekkah? Dan bukankah haji bisa juga jadi hajingan? (bajingan-red). Lagipula, jubah kyai atau kerudung bukankah cuma kain biasa, dan bukankah kain juga bisa jadi gombal? Gombale Mukiyo, kata orang Ngawi. Suami saya pernah bilang, “Na, selama orang tetap orang, dia pasti punya sisi-sisi yang menjengkelkan. No body’s perfect, tak ada orang ideal. Walaupun simbol luarnya ini dan itu, jangan mengira apa yang tampak diluar sama dengan isi didalam. Makanya jangan percaya simbol….” Saya pun tersentak, ” Iya, bener Mas…….”